...༻◐༺...
Zara baru saja selesai mengantar Zafran ke sekolah. Selanjutnya, dia pergi ke sebuah rumah sakit terdekat. Di sana Zara melakukan pemeriksaan terhadap kondisi janinnya.
"Maaf sebelumnya, Bu. Anda mengalami keguguran," ujar Dokter memberitahukan.
"Ah... begitu ya?" Zara memasang raut wajah datar. Seakan kabar yang didapatnya bukanlah apa-apa.
"Yang sabar ya, Bu. Masih ada banyak kesempatan buat Ibu, kok. Usia Ibu masih terbilang muda. Baru dua puluh empat tahun loh." Dokter mencoba menenangkan. Namun Zara hanya membalas dengan senyuman singkat.
Sebelum pergi, Zara tidak lupa diberikan resep obat dari dokter. Dia dipersilahkan mengambil obatnya ke apotek yang ada di bagian depan rumah sakit.
Zara berjalan dengan pergerakan berat. Langkahnya harus terhenti tatkala menyaksikan lelaki tidak asing. Lelaki itu tidak lain adalah teman dekat Zara saat SMA.
Raffi namanya. Dia adalah lelaki paling populer saat sekolah. Raffi terlihat mengenakan jas putih. Setelan yang biasanya dikenakan oleh para dokter pada umumnya. Raffi tampak sumringah dan tetap tampan seperti dulu.
Zara bergegas bersembunyi ke balik dinding. Dia tidak mau berhadapan dengan salah satu orang yang berkaitan erat terhadap masa lalu. Kebetulan Raffi bersahabat dekat dengan ayah kandung Zafran.
Zara sengaja menghindar dan memutuskan kontak dari segala hal yang berhubungan dengan ayah kandung Zafran. Dia melakukannya karena terlanjur berjanji kepada seseorang.
Raffi berjalan melewati tempat persembunyian Zara. Dia tentu tidak menyadari kehadiran Zara.
Merasa keadaan sudah aman, Zara segera berderap menuju apotek. Dia langsung pergi setelah mendapatkan obat.
Kegiatan Zara seterusnya adalah bekerja. Perusahaan di tempatnya sedang mengalami krisis. Jadi banyak karyawan yang mengalami pemberhentian kerja paksa.
Untungnya seluruh pekerja cleaning service dipertahankan pihak perusahaan. Jadi Zara tidak perlu khawatir untuk mencari pekerjaan baru.
"Kak Zara, katanya perusahaan ini udah dijual sama Pak Tio. Aku dengar penggantinya akan datang ke perusahaan hari ini," celetuk Susan. Gadis yang masih berkuliah, tetapi memilih sibuk melakukan pekerjaan paruh waktu.
"Yang bener?" tanggap Zara seraya memaju mundurkan kain pel.
"Iya, katanya masih muda loh. Kali aja bisa jadi jodohku... ckck..." Susan cengengesan sendiri. Membayangkan dengan ekspetasi tinggi.
"Elaah... selesaikan kuliahmu dulu loh. Baru mikirin nikah. Jangan sampai nasibnya kayak aku," ujar Zara. Memberikan wejangan.
"Iya deh, Kak. Tapi nggak ada salahnya kan berharap? Hehehe..." Susan tersenyum malu. Membuat Zara tidak kuasa untuk geleng-geleng kepala.
"Zara! Nanti bersihkan toilet khusus direktur itu ya! Baru kamu bisa pulang. Pinggangku encok banget," seru Irma. Wanita paruh baya yang juga merupakan rekan kerja Zara di bagian cleaning service.
"Oke... tapi bonusnya ada kan Mak?" balas Zara sambil mengacungkan jempolnya.
"Ish! Bonus mulu toh pikiranmu. Jangan pikirkan itu, aku pasti kasih kok. Yang jelas gantiin dulu kerjaanku, aku mau jemput keponakan ke terminal. Duluan ya!" Irma melambaikan tangan. Lalu beranjak masuk ke ruangan khusus cleaning service.
"Siap, Mak!" Zara dan Susan menjawab secara serempak.
"Kalian bisa tenang nggak? Karyawan-karyawan perusahaan sedang sibuk loh. Jangan bikin keributan!" tegur Wira. Petugas resepsionis yang sedari tadi memperhatikan sikap Zara dan Susan.
"Karyawan? Sebagian besar pada belum datang kok," tanggap Susan.
"Kamu kenapa ikut bersih-bersih di sini? Bukannya yang bersihin lobi tiap senin itu Kak Zara ya?" sahut Wira. Kedua tangannya menyilang di depan dada.
"Hehe... aku mau lihat direktur baru muncul dulu. Baru bersih-bersih ke lantai tiga." Susan menjawab dengan malu-malu.
Wira berdecak sambil geleng-geleng kepala. Dia berusaha memaklumi gadis yang berusia satu tahun lebih muda darinya itu.
Zara terkekeh geli. Setiap bekerja, dia selalu saja dibuat terhibur oleh rekan-rekan kerjanya.
Hari sudah menunjukkan jam 07.30, barulah banyak karyawan perusahaan berdatangan. Mereka datang silih berganti.
Topik mengenai kedatangan direktur baru menjadi berita terhangat di perusahaan. Banyak yang sudah tidak sabar menanti kedatangan lelaki tersebut. Tetapi tidak untuk Zara. Dia satu-satunya orang yang tidak tertarik.
Dari kejauhan terlihat seorang pria berjalan kian mendekat. Beberapa karyawan segera berlarian ke lobi. Mereka yakin kalau pria yang datang adalah direktur baru.
Tap...
Tap...
Tap...
Suara derap langkah sepatu pantofel itu terdengar menghentak pelan. Berjalan melalui pintu berbahan kaca.
"Selamat datang, Tuan Gamal. Terima kasih sudah bersedia mengambil alih perusahaan ini. Jika Tuan tidak melakukannya, kami mungkin akan jadi pengangguran sekarang." Elena yang bertugas menjadi sekretaris menyapa lebih dulu. Mengenai informasi direktur baru, memang dia satu-satunya orang yang tahu.
"Sama-sama, tapi aku tidak menjamin bisa memimpin dengan baik. Aku terbilang masih pemula. Tapi aku akan melakukan yang terbaik," sahut Gamal yang tidak lain adalah direktur baru. Pewaris utama keluarga Laksana.
"Kenalkan semuanya! Dia direktur baru kita. Tuan Gamal Laksana!" ungkap Elena. Bersuara nyaring. Semua karyawan lantas saling berkenalan satu per satu.
Zara yang masih berada di sekitaran lobi, berhenti dari kegiatan bersih-bersih. Jantungnya berdetak kencang saat mendengar nama Gamal disebutkan.
Tanpa pikir panjang, Zara segera menoleh ke belakang. Memastikan nama Gamal yang disebutkan adalah orang yang dikenalnya atau tidak.
Pupil mata Zara membesar seketika. Mulutnya sedikit menganga. Bagaimana tidak? Gamal yang dilihatnya adalah orang yang dia kenal. Cinta sekaligus pacar pertama Zara saat masih SMA. Bukan itu saja, Gamal juga merupakan lelaki yang hingga sekarang berusaha untuk dihindarinya. Lelaki yang tidak lain adalah ayah kandung Zafran.
Zara membeku di tempat. Masih merasa tidak percaya atas apa yang terjadi. Terutama saat mata Gamal tidak sengaja bersibobrok dengannya.
Deg!
Jantung Zara semakin bertabuh tidak karuan. Meskipun begitu, dia terpaku menatap sosok Gamal. Sejujurnya ada rasa rindu yang Zara rasakan. Bayangkan saja, selama tujuh tahun dirinya tidak bertemu lelaki tersebut.
Gamal juga sempat terkesiap menyaksikan Zara. Namun itu tidak berlangsung lama. Karena Gamal disibukkan dengan para karyawan yang ingin cari muka dengannya. Ia segera beranjak menuju kantor direktur utama. Di antar oleh Elena, selaku sekretaris yang akan menemani Gamal selama bekerja.
Zara mendengus lega. Dia merasa Gamal tidak akan memperdulikannya. Lagi pula semuanya sudah berlalu. Tidak ada gunanya terus berkutat pada masa lalu. Zara juga yakin, Gamal pasti mempunyai pasangan hidup yang luar biasa.
'Aku yakin. Gamal pasti marah, terus lupain aku. Bagus deh.' Zara menyimpulkan sendiri. Ada rasa kecewa dan senang yang bercampur aduk.
Sengaja menghilang dari kehidupan Gamal, itulah yang dilakukan Zara tujuh tahun lalu. Dia terpaksa melakukannya karena melakukan perjanjian dengan Afrijal. Lelaki paruh baya yang tidak lain adalah ayahnya Gamal sendiri.
Afrijal tidak pernah menyukai Zara. Dia rela berbuat apapun untuk membuat Zara pergi dari kehidupan Gamal. Sehingga tawaran uang puluhan juta rupiah berhasil meruntuhkan cinta Zara. Perempuan itu rela menjauh dari Gamal hanya demi uang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
meris dawati Sihombing
Tatapan mata bersibobrok🤣
2025-03-04
0
Atha Nadine
2 kali baca novel ini..
2023-09-06
0
Daylily
dokter Raffi 🤩
2022-11-05
0