...༻◐༺...
Gamal dan Zara saling beciuman cukup lama. Sesekali mereka merasakan sesuatu yang menggelitik di perut. Sesuatu yang tentu saja membuat setiap sentuhan terasa candu.
Zara melepas ciumannya dan berucap, "Langsung? Kau bahkan nggak ngajak aku bicara dulu gitu."
"Aku udah nggak sabar, Ra. Mending sekarang kau diam!" sahut Gamal. Dia ingin memadukan bibirnya dengan mulut Zara lagi.
Zara menghindar. Ia mencoba mendorong Gamal sekuat tenaga. Akan tetapi usahanya tidak langsung berhasil.
Karena tahu Zara bersikeras, Gamal sengaja melemah. Kini gadis itu sukses membuat Gamal terduduk ke lantai. Untung saja ubin yang dijatuhi Gamal dibalut dengan karpet berbahan tebal dan empuk. Jadi dia tidak begitu merasakan sakit.
Zara sekali lagi mendorong Gamal. Dia membuat pria itu telentang. Lalu memberikan kecupan di bibir untuk yang kesekian kalinya.
Sekarang Zara berada di atas badan Gamal. Tangannya perlahan membuka kancing piama Gamal satu per satu.
"Kita pindah ke ranjang aja, gimana?" cetus Gamal yang telah memutuskan tautan bibirnya.
Zara tidak menanggapi sama sekali. Dia malah sibuk menciumi dada bidang Gamal. Berpegang erat ke kalung emas putih yang dikenakan lelaki itu. Apa yang dilakukannya, berhasil membuat darah disekujur badan Gamal berdesir hebat.
Bibir Zara mulai merambah area perut Gamal. Sekarang dia hendak melepas celana lelaki yang dicumbunya tersebut.
Kali ini Gamal sigap menghentikan. Ia segera membawa Zara masuk ke dalam kamar. Keduanya berjalan dengan tergesak-gesak. Seluruh kancing piama yang terbuka, memperlihatkan tubuh atletis Gamal.
Zara yang sempat oleng, agak kesulitan mengikuti pergerakan Gamal. Dia hanya bisa mengontrol nafas sebisa mungkin. Sampai akhirnya Gamal menghempaskannya ke atas ranjang.
Paru-paru yang kesulitan mengatur gebu gairah, menyebabkan Zara terengah-engah. Dia terlalu banyak bernafas melalui mulut.
"Sekarang giliranku." Gamal menyeringai. Dia membantu Zara melepas seluruh pakaian. Lalu menenggelamkan wajah di bagian dada gadis tersebut. Di saat bersamaan, satu tangan Gamal bermain jari di alat vital Zara.
Mulut Zara menganga lebar. Kedua tangannya hanya bisa mencengkeram seprei sekuat tenaga.
"Akh..." Zara mengerang lirih. Dia mendongakkan kepala. Mengernyitkan kening dalam keadaan wajah yang memerah padam. Zara menggeliatkan kaki tidak karuan. Kini tangannya memegangi kepala Gamal. Mencoba menghentikan ulah lelaki itu.
"Udah, Mal... udah..." seru Zara yang merasakan Gamal kian meliar.
Gamal akhirnya berhenti. Dia duduk sambil mengusap mulutnya dengan punggung tangan. Gamal menyurai rambut cepaknya satu kali. Mencoba mengatur nafas, tepat sebelum melakukan kegiatan inti.
"Gila, Ra. Kau sedang masa subur ya?" Gamal melebarkan kelopak matanya dan meneruskan, "di bawah sana basah banget."
"Idih! Burungmu aja udah berdiri tuh!" tukas Zara sembari merubah posisi menjadi duduk.
Ketika bersama Gamal, jati diri Zara yang sebenarnya selalu muncul. Begitu pun sebaliknya. Mereka seolah sudah terbiasa dengan sifat asli satu sama lain. Itulah alasan keduanya sangat sulit saling melupakan.
Tidak heran Gamal dan Zara dikenal sebagai pasangan nakal ketika sekolah. Keduanya tidak pernah absen mendatangi ruang BK setiap minggu. Sifat kasar dan pembulian bahkan tidak jarang mereka lakukan.
"Kalau udah begitu, waktunya digabungin dong," ujar Gamal. Perkataannya berhasil membuat Zara terkekeh geli.
"Hahaha... apanya yang digabungin coba," balas Zara. Dia yang gemas, menekan bibir bawah Gamal dengan ibu jari.
"Sok-sokan nggak ngerti juga. Bukannya kau udah tua ya!" sahut Gamal. Dia iseng menggigit ibu jari Zara yang bertengger di bibirnya.
Untuk kali kedua, kelakuan Gamal sukses membuat Zara tergelak. Tatapan matanya memancarkan binar penuh kekaguman. Sejujurnya, Zara sangat merindukan momen seperti sekarang. Rasanya dia ingin waktu berhenti saja.
Gamal ikut terkekeh, sembari melepas semua pakaian yang tersisa. Selanjutnya, barulah dia melakukan penyatuan.
"Mal, kamu ingat pas waktu pertama kita ngelakuin ini nggak?" imbuh Zara. Di sela-sela pengaturan nafas.
"Bisa diam dulu nggak? Aku kangen desaahanmu tau..." kata Gamal. Mengharuskan Zara otomatis membungkam mulut.
Suara tepukan daging terdengar. Pertanda Gamal telah memulai pergerakan. Zara lantas tak bisa membendung lenguhan. Hal yang sama juga dilakukan Gamal, walau erangannya terdengar lebih pelan.
Zara tidak lupa melantunkan nama Gamal ditengah-tengah erangan. Hal itu tentu membuat gairah Gamal terpacu. Hingga lama-kelamaan, lenguhan Zara semakin menjadi-jadi. Ia merasakan kenikmatan yang begitu dirinya rindukan. Tubuhnya terasa ringan, seringan kapas. Entah sudah berapa kali Zara mencapai gairah yang memuncak.
Sekali-kali, Gamal menyumpal mulut Zara dengan sebuah ciuman. Keduanya benar-benar tenggelam dalam naf*su. Kalung emas putih yang dikenakan Gamal, bergelayut seiring pergerakan intim.
Menit demi menit berlalu. Gamal telah berhasil mencapai puncak.
Zara yang sadar, bergegas melepaskan diri dari Gamal. Kebetulan mereka lupa menggunakan pengaman, jadi Zara tidak mau Gamal kecolongan lagi.
Kini Gamal dan Zara sama-sama sibuk telentang. Mengontrol nafas yang masih memburu. Gamal tidak lupa menaruh selimut untuk menutupi tubuhnya dan Zara.
"Gila banget... udah lama burungku nggak aktif..." ungkap Gamal seraya meletakkan satu tangan ke atas dahi.
Zara tertawa pecah. Lalu menjawab, "Bacot! Aku nggak percaya! Pasti kamu gonta-ganti pacar pas tinggal di London kan?"
"Gonta-ganti pacar, pantatmu!" bantah Gamal. Dia segera menceritakan tentang apa saja yang dilakukannya ketika di London. Gamal mengaku hanya sibuk belajar dan memperbaiki diri.
"Gara-gara kamu menghilang, aku nggak punya tujuan selain nurut sama bokap." Gamal menatap Zara dengan sudut matanya. Seolah menuntut penjelasan dari Zara.
"Aku belum siap ceritain semuanya." Zara membuang muka. Tujuannya bersama Gamal sekarang hanya bermakna sebagai pelarian.
"Maksudnya? Kamu nggak anggap serius--" ucapan Gamal terpotong, saat ponselnya tiba-tiba berdering.
Tanpa pikir panjang, Gamal berdiri dan bergegas mengenakan celana pendek. Kemudian mengambil ponsel dari atas nakas. Dia langsung mengangkat panggilan telepon.
"Gamal! Kamu kemana saja?! Satu-satunya orang yang belum datang cuman kamu loh!" timpal Afrijal dari seberang telepon.
Gamal membulatkan mata. Dia baru saja ingat kalau dirinya ada jadwal makan malam. Gamal melupakan janjinya karena terbuai menikmati waktu bersama Zara.
'Sial!' maki Gamal dalam hati.
"Aku tadi ada kerjaan mendadak, Pah. Makanya lupa. Ini aku akan segera bersiap-siap pergi ke sana!" ujar Gamal yang kini bicara melalui mulut. Ia mematikan telepon dan langsung membuka lemari.
Di belakang Gamal, Zara beringsut ke ujung kasur. Dia memperhatikan segala gerak-gerik Gamal.
"Mau kemana?" tanya Zara. Sepertinya dia tidak rela Gamal pergi.
"Aku lupa ada janji makan malam. Oh iya, ini juga bisa jadi kesempatan aku buat bilang jujur sama Selia. Aku tadi bohongin dia," ungkap Gamal. Dia terlihat sudah mengenakan kemeja dan celana panjang.
"Emang kamu ngomong apa?" Zara penasaran.
"Aku bilang kalau aku nyaman sama dia. Padahal nggak sama sekali," terang Gamal.
Mata Zara mengerjap pelan. Rasa penasarannya belum habis. "Kenapa tiba-tiba mau putusin Selia?" tanya-nya lagi.
Gamal tercengang. "Ya karena kamu lah! Emang kamu nggak anggap serius hubungan kita?" timpalnya tak percaya.
"Kamu lupa ya, kalau aku udah punya suami?" perkataan Zara membuat Gamal tertohok. Pria itu tidak bisa berkata-kata. Dia hanya memancarkan tatapan nanar. Kini Gamal tahu, kalau Zara sedang bermain-main dengan dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Bzaa
kl sampe jdi adenya zafran, seru bangettt🤣
2023-06-25
0
Kod Driyah
Zara cerita yg jujur sm Gamal tetang papahmu
2022-07-07
1
Gina Putri Yana
Thor up jangan di gantung ceritanya
penasaran Thor
2022-06-03
1