...༻◐༺...
Zara menunggu Gamal sambil menggigit bibir bawahnya. Dia tidak tahu kenapa dirinya mendadak gelisah. Padahal Gamal hanya sedang sibuk buang air kecil.
Pikiran Zara jadi berlarian kemana-mana. Semuanya cenderung mengarah ke masa lalu. Masa dimana dia dan Gamal masih berpacaran. Segalanya sangat indah saat itu. Dunia serasa milik berdua. Bahkan dulu Gamal rela membelikan Zara sebuah apartemen mewah. Pria tersebut dikenal tidak pelit. Wanita mana yang tidak suka dengan lelaki begitu?
Ceklek!
Suara pintu yang terbuka membuat Zara reflek berbalik. Dia memutar tubuhnya ke arah toilet.
Gamal melingus melewati Zara. Tanpa melirik, apalagi hanya untuk sekedar bicara. Entah kenapa Zara merasa kecewa akan hal itu. Dia tentu ingin Gamal menyapanya dengan ramah. Tetapi apa yang Zara harapkan? Mungkin sekarang dirinya bukan berarti apa-apa bagi Gamal.
Zara melangkah dengan kepala tertunduk. Dia segera melanjutkan pekerjaan. Sedangkan Gamal yang sedari tadi berlagak tak acuh, langsung menyandarkan punggung ke kursi.
'Sial! Dia nggak bakalan bersihin toilet tiap hari di sini kan?' batin Gamal yang merasa tersiksa dengan kehadiran Zara.
Selang sekian menit, Zara terlihat baru keluar dari toilet. Dia menarik keranjang trolly-nya dengan hati-hati. Berlalu pergi setelah membungkuk hormat.
Zara mendengus lega. Dia melanjutkan kegiatan bersih-bersih ke tempat lain. Selanjutnya, barulah Zara beristirahat bersama rekan kerjanya yang lain.
"Kak Zara! Lowongan yang Kakak cari udah tersedia. Manajer restoran hotel Angkasa Jaya lagi membutuhkan pelayan tambahan," seru Susan yang sukses membuat Zara tertarik.
"Yang bener, San?" Zara memastikan.
"Iya, beneran. Kakak bisa ikut aku saat pulang nanti. Kita pergi sama-sama ke sana!"
"Eh tapi aku harus jemput Zafran dulu ke sekolah. Nanti aku nyusul sendiri deh. Lagian aku kan tahu tempatnya dimana," ujar Zara. Susan lantas membalas dengan anggukan kepala.
Sehabis makan siang, Zara pergi ke pasar terlebih dahulu. Membeli segala hal kebutuhan untuk memasak di rumah. Dia tentu tidak lupa menjemput Zafran ke sekolah.
"Bunda, beliin aku mobil-mobilan ya!" pinta Zafran. Dia menunjuk ke arah toko mainan. Tepat ke sebuah mobil mainan yang dapat digunakan dengan remot.
"Mobil-mobilan yang itu?" Zara melirik Zafran. Raut wajahnya langsung berubah menjadi pucat. Bagaimana tidak? Uang yang dibawa Zara kemungkinan tidak akan cukup.
"Iya! Iya, Bunda! Beliin! Beliin! Beliin!" desak Zafran sambil mengguncang-guncang tubuhnya sendiri. Dia mulai merengek.
"Biar Bunda tanya harganya dulu ya," tutur Zara. Lalu melangkah memasuki toko mainan. Di sana dia menemukan harga mobil-mobilan yang di inginkan Zafran sangat mahal. Uangnya jauh dari kata cukup.
Perlahan Zara membawa Zafran keluar dari toko mainan. Kemudian berjongkok ke hadapan sang putra. Zara mencoba membujuk Zafran dengan hal lain.
"Kita beli es krim aja ya? Bunda ada lihat es krim walls keluaran terbaru. Yang warnanya kayak pelangi itu loh," tawar Zara sembari tersenyum lebar. Satu tangannya menunjuk toko kelontong terdekat.
Bukannya tersenyum, mimik wajah Zafran semakin cemberut. "Nggak mau! Aku mau mobil-mobilan itu!" tegasnya sambil berlari kembali memasuki toko mainan. Namun Zara sigap menangkapnya.
"Nanti aja ya, Zafran..." Zara berusaha memberitahu putranya baik-baik. Keributan itu sempat menarik perhatian banyak orang di sekitar.
Zafran akhirnya menangis. Cairan bening langsung berderai di pipinya. Penolakan dari sang ibu membuatnya amat begitu kecewa.
"Zara? Zafran kenapa?" seorang wanita paruh baya tiba-tiba datang. Ia tidak lain adalah penjaga panti asuhan tempat Zara tinggal dulu. Wida namanya. Sudah dianggap seperti orang tua sendiri bagi Zara.
"Dia minta yang aneh-aneh, Bi..." jawab Zara yang masih memegangi Zafran dengan kuat.
"Aneh-aneh gimana emangnya?" Wida menatap tak percaya. Dia sangat mengenal Zara. Salah satu anak yang dirinya kenal sering berbohong.
Wida akhirnya memilih bertanya langsung kepada Zafran, "Kamu kenapa, Zafran?"
Zafran perlahan berhenti menangis dan menyahut, "Aku mau mobil-mobilan itu, Nek!"
"Yang mana? Sini kasih tunjuk sama Nenek. Biar Nenek aja yang beliin." Wida menuntun Zafran kembali memasuki toko mainan.
"Bi, nggak usah repot-repot. Aku cuman lupa bawa banyak uang, makanya nggak bisa beliin Zafran mainan itu." Zara berkilah. Dia berusaha menghentikan pergerakan Wida.
"Bibi tahu kamu sedang bohong!" tukas Wida yang bersikeras membelikan mainan untuk Zafran. Alhasil Zara memilih mengalah. Membiarkan Wida berbuat sesuka hati.
Setelah mendapatkan apa yang di inginkan, senyuman riang terpancar di wajah Zafran. Dia memeluk mobil-mobilan sambil melompat kegirangan.
"Bilang apa sama Nenek?" tanya Zara.
"Makasih ya, Nek..." seperti anak yang patuh, Zafran segera melakukan perintah sang ibu.
"Sama-sama. Jaga mainannya baik-baik, ya." Wida mengusap pelan puncak kepala Zafran.
"Makasih ya, Bi..." ucap Zara tulus.
"Apa yang aku lakukan ini bukanlah apa-apa dibanding jasa yang sudah kau berikan pada panti asuhan," tanggap Wida sembari mengelus lembut pundak Zara.
Wida sangat ingat. Tepat tujuh tahun lalu, Zara membantu krisis yang terjadi di panti asuhan. Tempat tersebut tidak jadi ditutup karena Zara membayar seluruh ganti rugi.
Kebetulan dahulu pemilik panti asuhan yang asli akan melakukan penjualan. Orang itu memiliki kebangkrutan yang amat parah. Hingga tidak bersedia bertanggung jawab dengan semua anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan.
Bersamaan dengan itu, Zara baru saja mendapatkan uang transferan dari Afrijal. Dia menghabiskan semua uang tersebut untuk menyelamatkan panti asuhan. Namun sayang, uangnya tidak mencukupi. Sampai Zara terdesak untuk meminjam uang kepada rentenir. Lelaki yang tidak lain adalah Anton. Lelaki yang sekarang telah menjadi suami Zara.
Kini Zara menyusuri jalan trotoar bersama Wida dan Zafran. Ponsel dari dalam tasnya mendadak bergetar. Sebuah pesan masuk dari Susan diterima.
...'Kak Zara, cepat ke sini ya. Nanti keduluan orang. Banyak teman-temanku yang mau cari kerja di sini!'...
Begitulah bunyi pesan dari Susan. Zara lantas ingin cepat-cepat pergi.
"Bi, aku boleh nitip Zafran khusus hari ini nggak?" pinta Zara.
"Boleh, aku malah senang dia bisa ikut." Wida menjawab dengan senyuman.
"Makasih ya, Bi. Biar aku beliin makan siang dulu, aku--"
"Nggak usah. Biar Zafran makan masakan aku di panti. Dia pasti akan senang bisa ketemu banyak teman di sana," potong Wida. Ia dan Zafran beranjak sambil melambaikan tangan.
Zara bergegas pergi menuju restoran Angkasa Jaya. Dia diterima bekerja, setelah ditanyai beberapa pertanyaan dari manajer.
Hanya bermodalkan ijazah, kekuatan mental, wajah cantik, dan ketahanan fisik, Zara langsung diterima menjadi pelayan restoran. Meskipun begitu, dia bukanlah pelayan tetap. Zara hanya akan dipanggil jika restoran betul-betul memerlukan tenaga tambahan.
"Setiap weekend biasanya pengunjung ada banyak. Kebetulan juga, hari ini ada tiga orang pelayan yang cuti..." bisik Susan. Dia dan Zara baru selesai mengenakan seragam pelayan. "Kakak nggak kenapa-kenapa kan cuman dapat posisi cadangan doang?" Susan merasa bersalah.
"Enggak apa-apa. Yang penting duitnya lancar. Aku malah senang jadwal kerjaku nggak padat," tanggap Zara santai.
"Kalau kinerja Kakak bagus, nanti pasti naik jabatan kok. Aku dulu juga kayak gitu, sekarang udah jadi pelayan utama. Hehehe..." kata Susan. Akan tetapi Zara meresponnya dengan cubitan di pipi. Ia gemas melihat tingkah laku Susan yang kekanak-kanakan.
Sore berganti malam. Waktu menunjukkan jam 06.30. Zara masih melayani seluruh pengunjung restoran.
Manajer tiba-tiba memanggil Zara. Menyuruhnya untuk melayani seorang pengunjung VIP yang baru datang. Zara otomatis menurut saja. Kebetulan dia satu-satunya orang yang tidak terlalu sibuk.
Dengan senyuman ramah, Zara melangkah ke hadapan tamu VIP. Wajah sosok tersebut tertutupi dengan buku menu. Jelas dia tengah sibuk memilah-milih makanan dalam menu.
"Kami punya chicken light sebagai hidangan spesial dari chef Norman. Tema hari ini..." ucapan Zara terjeda tatkala sosok di hadapannya menurunkan buku menu.
Lidah Zara terasa kelu. Jantung yang berdebaran kembali menyerang. Siapa lagi yang bisa memberikan efek begitu selain dari pada Gamal? Pria rambut cepak itu langsung menatap ke arah Zara. Tatapan yang pastinya berhasil membuat Zara kian kebingungan.
'Tampan, Gamal tampan banget.' Bukannya mempromosikan hidangan utama, Zara justru terpesona akan pesona mantan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Nacita
ohhh iya iyaaa... paham aku skrg
2024-05-31
0
Nacita
ohh pasti uang yg d ksh bokap s gamal ya
2024-05-31
0
indra s
Keburukan Zara ke 2… terima uang Afrijal di kira utk bantu panti… tapi ternyata menerima dengan menjual cinta nya… baru uang itu buat bantu panti.
Awalnya suka cerita nya tapi baru baca bbrp bab, mulai ga suka dengan Zara yg ternyata bukan orang baik 😭
2023-10-11
0