Bab 4 - Bertemu Lagi

...༻◐༺...

Zara menunggu Gamal sambil menggigit bibir bawahnya. Dia tidak tahu kenapa dirinya mendadak gelisah. Padahal Gamal hanya sedang sibuk buang air kecil.

Pikiran Zara jadi berlarian kemana-mana. Semuanya cenderung mengarah ke masa lalu. Masa dimana dia dan Gamal masih berpacaran. Segalanya sangat indah saat itu. Dunia serasa milik berdua. Bahkan dulu Gamal rela membelikan Zara sebuah apartemen mewah. Pria tersebut dikenal tidak pelit. Wanita mana yang tidak suka dengan lelaki begitu?

Ceklek!

Suara pintu yang terbuka membuat Zara reflek berbalik. Dia memutar tubuhnya ke arah toilet.

Gamal melingus melewati Zara. Tanpa melirik, apalagi hanya untuk sekedar bicara. Entah kenapa Zara merasa kecewa akan hal itu. Dia tentu ingin Gamal menyapanya dengan ramah. Tetapi apa yang Zara harapkan? Mungkin sekarang dirinya bukan berarti apa-apa bagi Gamal.

Zara melangkah dengan kepala tertunduk. Dia segera melanjutkan pekerjaan. Sedangkan Gamal yang sedari tadi berlagak tak acuh, langsung menyandarkan punggung ke kursi.

'Sial! Dia nggak bakalan bersihin toilet tiap hari di sini kan?' batin Gamal yang merasa tersiksa dengan kehadiran Zara.

Selang sekian menit, Zara terlihat baru keluar dari toilet. Dia menarik keranjang trolly-nya dengan hati-hati. Berlalu pergi setelah membungkuk hormat.

Zara mendengus lega. Dia melanjutkan kegiatan bersih-bersih ke tempat lain. Selanjutnya, barulah Zara beristirahat bersama rekan kerjanya yang lain.

"Kak Zara! Lowongan yang Kakak cari udah tersedia. Manajer restoran hotel Angkasa Jaya lagi membutuhkan pelayan tambahan," seru Susan yang sukses membuat Zara tertarik.

"Yang bener, San?" Zara memastikan.

"Iya, beneran. Kakak bisa ikut aku saat pulang nanti. Kita pergi sama-sama ke sana!"

"Eh tapi aku harus jemput Zafran dulu ke sekolah. Nanti aku nyusul sendiri deh. Lagian aku kan tahu tempatnya dimana," ujar Zara. Susan lantas membalas dengan anggukan kepala.

Sehabis makan siang, Zara pergi ke pasar terlebih dahulu. Membeli segala hal kebutuhan untuk memasak di rumah. Dia tentu tidak lupa menjemput Zafran ke sekolah.

"Bunda, beliin aku mobil-mobilan ya!" pinta Zafran. Dia menunjuk ke arah toko mainan. Tepat ke sebuah mobil mainan yang dapat digunakan dengan remot.

"Mobil-mobilan yang itu?" Zara melirik Zafran. Raut wajahnya langsung berubah menjadi pucat. Bagaimana tidak? Uang yang dibawa Zara kemungkinan tidak akan cukup.

"Iya! Iya, Bunda! Beliin! Beliin! Beliin!" desak Zafran sambil mengguncang-guncang tubuhnya sendiri. Dia mulai merengek.

"Biar Bunda tanya harganya dulu ya," tutur Zara. Lalu melangkah memasuki toko mainan. Di sana dia menemukan harga mobil-mobilan yang di inginkan Zafran sangat mahal. Uangnya jauh dari kata cukup.

Perlahan Zara membawa Zafran keluar dari toko mainan. Kemudian berjongkok ke hadapan sang putra. Zara mencoba membujuk Zafran dengan hal lain.

"Kita beli es krim aja ya? Bunda ada lihat es krim walls keluaran terbaru. Yang warnanya kayak pelangi itu loh," tawar Zara sembari tersenyum lebar. Satu tangannya menunjuk toko kelontong terdekat.

Bukannya tersenyum, mimik wajah Zafran semakin cemberut. "Nggak mau! Aku mau mobil-mobilan itu!" tegasnya sambil berlari kembali memasuki toko mainan. Namun Zara sigap menangkapnya.

"Nanti aja ya, Zafran..." Zara berusaha memberitahu putranya baik-baik. Keributan itu sempat menarik perhatian banyak orang di sekitar.

Zafran akhirnya menangis. Cairan bening langsung berderai di pipinya. Penolakan dari sang ibu membuatnya amat begitu kecewa.

"Zara? Zafran kenapa?" seorang wanita paruh baya tiba-tiba datang. Ia tidak lain adalah penjaga panti asuhan tempat Zara tinggal dulu. Wida namanya. Sudah dianggap seperti orang tua sendiri bagi Zara.

"Dia minta yang aneh-aneh, Bi..." jawab Zara yang masih memegangi Zafran dengan kuat.

"Aneh-aneh gimana emangnya?" Wida menatap tak percaya. Dia sangat mengenal Zara. Salah satu anak yang dirinya kenal sering berbohong.

Wida akhirnya memilih bertanya langsung kepada Zafran, "Kamu kenapa, Zafran?"

Zafran perlahan berhenti menangis dan menyahut, "Aku mau mobil-mobilan itu, Nek!"

"Yang mana? Sini kasih tunjuk sama Nenek. Biar Nenek aja yang beliin." Wida menuntun Zafran kembali memasuki toko mainan.

"Bi, nggak usah repot-repot. Aku cuman lupa bawa banyak uang, makanya nggak bisa beliin Zafran mainan itu." Zara berkilah. Dia berusaha menghentikan pergerakan Wida.

"Bibi tahu kamu sedang bohong!" tukas Wida yang bersikeras membelikan mainan untuk Zafran. Alhasil Zara memilih mengalah. Membiarkan Wida berbuat sesuka hati.

Setelah mendapatkan apa yang di inginkan, senyuman riang terpancar di wajah Zafran. Dia memeluk mobil-mobilan sambil melompat kegirangan.

"Bilang apa sama Nenek?" tanya Zara.

"Makasih ya, Nek..." seperti anak yang patuh, Zafran segera melakukan perintah sang ibu.

"Sama-sama. Jaga mainannya baik-baik, ya." Wida mengusap pelan puncak kepala Zafran.

"Makasih ya, Bi..." ucap Zara tulus.

"Apa yang aku lakukan ini bukanlah apa-apa dibanding jasa yang sudah kau berikan pada panti asuhan," tanggap Wida sembari mengelus lembut pundak Zara.

Wida sangat ingat. Tepat tujuh tahun lalu, Zara membantu krisis yang terjadi di panti asuhan. Tempat tersebut tidak jadi ditutup karena Zara membayar seluruh ganti rugi.

Kebetulan dahulu pemilik panti asuhan yang asli akan melakukan penjualan. Orang itu memiliki kebangkrutan yang amat parah. Hingga tidak bersedia bertanggung jawab dengan semua anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan.

Bersamaan dengan itu, Zara baru saja mendapatkan uang transferan dari Afrijal. Dia menghabiskan semua uang tersebut untuk menyelamatkan panti asuhan. Namun sayang, uangnya tidak mencukupi. Sampai Zara terdesak untuk meminjam uang kepada rentenir. Lelaki yang tidak lain adalah Anton. Lelaki yang sekarang telah menjadi suami Zara.

Kini Zara menyusuri jalan trotoar bersama Wida dan Zafran. Ponsel dari dalam tasnya mendadak bergetar. Sebuah pesan masuk dari Susan diterima.

...'Kak Zara, cepat ke sini ya. Nanti keduluan orang. Banyak teman-temanku yang mau cari kerja di sini!'...

Begitulah bunyi pesan dari Susan. Zara lantas ingin cepat-cepat pergi.

"Bi, aku boleh nitip Zafran khusus hari ini nggak?" pinta Zara.

"Boleh, aku malah senang dia bisa ikut." Wida menjawab dengan senyuman.

"Makasih ya, Bi. Biar aku beliin makan siang dulu, aku--"

"Nggak usah. Biar Zafran makan masakan aku di panti. Dia pasti akan senang bisa ketemu banyak teman di sana," potong Wida. Ia dan Zafran beranjak sambil melambaikan tangan.

Zara bergegas pergi menuju restoran Angkasa Jaya. Dia diterima bekerja, setelah ditanyai beberapa pertanyaan dari manajer.

Hanya bermodalkan ijazah, kekuatan mental, wajah cantik, dan ketahanan fisik, Zara langsung diterima menjadi pelayan restoran. Meskipun begitu, dia bukanlah pelayan tetap. Zara hanya akan dipanggil jika restoran betul-betul memerlukan tenaga tambahan.

"Setiap weekend biasanya pengunjung ada banyak. Kebetulan juga, hari ini ada tiga orang pelayan yang cuti..." bisik Susan. Dia dan Zara baru selesai mengenakan seragam pelayan. "Kakak nggak kenapa-kenapa kan cuman dapat posisi cadangan doang?" Susan merasa bersalah.

"Enggak apa-apa. Yang penting duitnya lancar. Aku malah senang jadwal kerjaku nggak padat," tanggap Zara santai.

"Kalau kinerja Kakak bagus, nanti pasti naik jabatan kok. Aku dulu juga kayak gitu, sekarang udah jadi pelayan utama. Hehehe..." kata Susan. Akan tetapi Zara meresponnya dengan cubitan di pipi. Ia gemas melihat tingkah laku Susan yang kekanak-kanakan.

Sore berganti malam. Waktu menunjukkan jam 06.30. Zara masih melayani seluruh pengunjung restoran.

Manajer tiba-tiba memanggil Zara. Menyuruhnya untuk melayani seorang pengunjung VIP yang baru datang. Zara otomatis menurut saja. Kebetulan dia satu-satunya orang yang tidak terlalu sibuk.

Dengan senyuman ramah, Zara melangkah ke hadapan tamu VIP. Wajah sosok tersebut tertutupi dengan buku menu. Jelas dia tengah sibuk memilah-milih makanan dalam menu.

"Kami punya chicken light sebagai hidangan spesial dari chef Norman. Tema hari ini..." ucapan Zara terjeda tatkala sosok di hadapannya menurunkan buku menu.

Lidah Zara terasa kelu. Jantung yang berdebaran kembali menyerang. Siapa lagi yang bisa memberikan efek begitu selain dari pada Gamal? Pria rambut cepak itu langsung menatap ke arah Zara. Tatapan yang pastinya berhasil membuat Zara kian kebingungan.

'Tampan, Gamal tampan banget.' Bukannya mempromosikan hidangan utama, Zara justru terpesona akan pesona mantan.

Terpopuler

Comments

Nacita

Nacita

ohhh iya iyaaa... paham aku skrg

2024-05-31

0

Nacita

Nacita

ohh pasti uang yg d ksh bokap s gamal ya

2024-05-31

0

indra s

indra s

Keburukan Zara ke 2… terima uang Afrijal di kira utk bantu panti… tapi ternyata menerima dengan menjual cinta nya… baru uang itu buat bantu panti.

Awalnya suka cerita nya tapi baru baca bbrp bab, mulai ga suka dengan Zara yg ternyata bukan orang baik 😭

2023-10-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - KDRT
2 Bab 2 - Direktur Baru
3 Bab 3 - Tentang Zara
4 Bab 4 - Bertemu Lagi
5 Bab 5 - Godaan Mantan
6 Bab 6 - Acara Reuni [1]
7 Bab 7 - Acara Reuni [2]
8 Bab 8 - Acara Reuni [3]
9 Bab 9 - Terpesona Lagi
10 Bab 10 - Ungkapan Gamal
11 Bab 11 - Kalimat Yang Terngiang
12 Bab 12 - Awal Mula [Affair]
13 Bab 13 - Rindu Yang Memanas
14 Bab 14 - Resminya Hubungan Rahasia
15 Bab 15 - Cincin & Kalung
16 Bab 16 - Serasa Kembali Muda
17 Bab 17 - Tempat Ternyaman
18 Bab 18 - Hari Pertunangan
19 Bab 19 - Bertemu Zafran
20 Bab 20 - Misi Mengambil Sampel DNA [1]
21 Bab 21 - Misi Mengambil Sampel DNA [2]
22 Bab 22 - Dimabuk Cinta
23 Bab 23 - Kedatangan Selia
24 Bab 24 - Perasaan Tak Rela
25 Bab 25 - Modus Anton
26 Bab 26 - Kebetulan Yang Aneh
27 Bab 27 - Terjebak Banjir
28 Bab 28 - Lantai Tiga, Kamar No. 20
29 Bab 29 - Paksaan Anton
30 Bab 30 - Keputusan Zara
31 Bab 31 - Saling Bercurah Hati
32 Bab 32 - Strategi Zara & Gamal
33 Bab 33 - Pulang
34 Bab 34 - Berkunjung Ke Panti
35 Bab 35 - Sayang?
36 Bab 36 - Mandi Bersama
37 Bab 37 - Memberitahu Zafran
38 Bab 38 - Usulan Elsa
39 Bab 39 - Memutuskan Pertunangan
40 Bab 40 - Lampu Hijau Zafran
41 Bab 41 - Kekalahan Anton
42 Bab 42 - Sekretaris Baru
43 Bab 43 - Berita Hangat
44 Bab 44 - Kandidat Sekretaris
45 Bab 45 - Menerima Kebencian
46 Bab 46 - Permainan Ranjang Zara
47 Bab 47 - Pertumpahan Darah
48 Bab 48 - Ancaman Afrijal
49 Bab 49 - Ciuman Tulus
50 Bab 50 - Menuju Pernikahan
51 Bab 51 - Hati-Hati Di Jalan
52 Bab 52 - Hari Pernikahan
53 Bab 53 - Hukuman
54 Bab 54 - Pembalasan Gamal
55 Bab 55 - Perihal Warisan
56 Bab 56 - Tiga Buah Ranjang
57 Bab 57 - Cinta & Hujan
58 Bab 58 - Mual
59 Bab 59 - Pijit-Memijit Berujung Birah*i
60 Bab 60 - Keajaiban
61 Bab 61 - Gangguan Selia
62 Bab 62 - Berkibarnya Bendera Permusuhan
63 Bab 63 - Keputusan Afrijal
64 Bab 64 - Bertemu Bi Nur
65 Bab 65 - Persaingan Tawar-Menawar
66 Bab 66 - Akibat Perselingkuhan
67 Bab 67 - Ide Zara
68 Bab 68 - Cinta Pertama & Terakhir
69 Epilog - Pertama Kali Mengenalmu
70 Epilog - Nasib Keluarga Baskara [+Info Novel Zafran]
71 Novel Baru - Cinta Di Tengah Permusuhan
72 Novel Baru Konflik Rumah Tangga
73 Pengumuman Novel Baru
74 Novel Baru Gairah Zerin & Zidan
75 Pengumuman!
76 NOVEL WANITA KUAT
77 Novel Baru Dewasa & Perselingkuhan
78 Novel Impoten : Ritual Bergairah
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Bab 1 - KDRT
2
Bab 2 - Direktur Baru
3
Bab 3 - Tentang Zara
4
Bab 4 - Bertemu Lagi
5
Bab 5 - Godaan Mantan
6
Bab 6 - Acara Reuni [1]
7
Bab 7 - Acara Reuni [2]
8
Bab 8 - Acara Reuni [3]
9
Bab 9 - Terpesona Lagi
10
Bab 10 - Ungkapan Gamal
11
Bab 11 - Kalimat Yang Terngiang
12
Bab 12 - Awal Mula [Affair]
13
Bab 13 - Rindu Yang Memanas
14
Bab 14 - Resminya Hubungan Rahasia
15
Bab 15 - Cincin & Kalung
16
Bab 16 - Serasa Kembali Muda
17
Bab 17 - Tempat Ternyaman
18
Bab 18 - Hari Pertunangan
19
Bab 19 - Bertemu Zafran
20
Bab 20 - Misi Mengambil Sampel DNA [1]
21
Bab 21 - Misi Mengambil Sampel DNA [2]
22
Bab 22 - Dimabuk Cinta
23
Bab 23 - Kedatangan Selia
24
Bab 24 - Perasaan Tak Rela
25
Bab 25 - Modus Anton
26
Bab 26 - Kebetulan Yang Aneh
27
Bab 27 - Terjebak Banjir
28
Bab 28 - Lantai Tiga, Kamar No. 20
29
Bab 29 - Paksaan Anton
30
Bab 30 - Keputusan Zara
31
Bab 31 - Saling Bercurah Hati
32
Bab 32 - Strategi Zara & Gamal
33
Bab 33 - Pulang
34
Bab 34 - Berkunjung Ke Panti
35
Bab 35 - Sayang?
36
Bab 36 - Mandi Bersama
37
Bab 37 - Memberitahu Zafran
38
Bab 38 - Usulan Elsa
39
Bab 39 - Memutuskan Pertunangan
40
Bab 40 - Lampu Hijau Zafran
41
Bab 41 - Kekalahan Anton
42
Bab 42 - Sekretaris Baru
43
Bab 43 - Berita Hangat
44
Bab 44 - Kandidat Sekretaris
45
Bab 45 - Menerima Kebencian
46
Bab 46 - Permainan Ranjang Zara
47
Bab 47 - Pertumpahan Darah
48
Bab 48 - Ancaman Afrijal
49
Bab 49 - Ciuman Tulus
50
Bab 50 - Menuju Pernikahan
51
Bab 51 - Hati-Hati Di Jalan
52
Bab 52 - Hari Pernikahan
53
Bab 53 - Hukuman
54
Bab 54 - Pembalasan Gamal
55
Bab 55 - Perihal Warisan
56
Bab 56 - Tiga Buah Ranjang
57
Bab 57 - Cinta & Hujan
58
Bab 58 - Mual
59
Bab 59 - Pijit-Memijit Berujung Birah*i
60
Bab 60 - Keajaiban
61
Bab 61 - Gangguan Selia
62
Bab 62 - Berkibarnya Bendera Permusuhan
63
Bab 63 - Keputusan Afrijal
64
Bab 64 - Bertemu Bi Nur
65
Bab 65 - Persaingan Tawar-Menawar
66
Bab 66 - Akibat Perselingkuhan
67
Bab 67 - Ide Zara
68
Bab 68 - Cinta Pertama & Terakhir
69
Epilog - Pertama Kali Mengenalmu
70
Epilog - Nasib Keluarga Baskara [+Info Novel Zafran]
71
Novel Baru - Cinta Di Tengah Permusuhan
72
Novel Baru Konflik Rumah Tangga
73
Pengumuman Novel Baru
74
Novel Baru Gairah Zerin & Zidan
75
Pengumuman!
76
NOVEL WANITA KUAT
77
Novel Baru Dewasa & Perselingkuhan
78
Novel Impoten : Ritual Bergairah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!