...༻◐༺...
Setibanya di kantor direktur, Gamal mencegat kepergian Elena. Menanyakan sesuatu hal yang sejak tadi ingin ditanyakan.
"Cleaning service yang di lobi tadi. Itu namanya siapa ya?" Gamal memastikan. Dia takut apa yang dilihatnya hanyalah halusinasi. Selama tujuh tahun terakhir hal seperti itu sudah beberapa kali terjadi. Tidak jarang Gamal menanggung malu atas hal tersebut. Itulah sebabnya tadi dia mengabaikan Zara mentah-mentah. Seolah apa yang dilihatnya adalah angin lalu.
"Cleaning service?" Elena menguak memori dalam otak sejenak. Setelah berhasil mengingat, dia berucap, "Ah... yang di lobi tadi itu namanya Zara. Kenapa ya Tuan?"
Deg!
Sekali lagi jantung Gamal berdegub kencang. Kepastian tentang Zara membuatnya menghela nafas. Ia sempat membisu dalam sesaat.
"Tuan?" Elena yang penasaran, masih menanti jawaban Gamal. Panggilannya itu sukses menyadarkan keterpakuan Gamal.
"Eh... nggak apa-apa kok. Dia cuman mirip sama kenalanku aja. Tapi ternyata aku salah," kilah Gamal sembari memaksakan diri untuk tersenyum. "Ya sudah, kamu bisa pergi!" suruhnya.
"Kalau ada apa-apa, Tuan bisa memanggilku. Kursiku ada di luar, dan..." Elena mengaitkan anak rambut ke telinga. Menampakkan bagian rahang terbaiknya. Dia jelas sedang berusaha merayu Gamal. Elena juga menyilangkan kakinya, agar kedua pahanya yang mulus terlihat lebih menggoda. Ia kebetulan mengenakan rok ketat yang memiliki belahan cukup tinggi.
"Bukankah ini hari pertamaku? Apa pantas kau bersikap begini?" tukas Gamal ketus. Memancarkan pelototan yang tak pernah Elena duga.
"Ma-maaf, Tuan..." ungkap Elena. Dia menundukkan kepala. Bergegas memperbaiki rambut serta pakaian.
Ponsel Gamal mendadak berdering. Elena lantas berpamitan keluar dari ruangan. Saat itulah Gamal mengangkat panggilan telepon yang tidak lain dari Afrijal.
"Gamal, bagaimana hari pertamamu? Papah nggak sabar lihat kamu memimpin perusahaan yang sedang jatuh itu," ujar Afrijal dari seberang telepon.
"Aku sedang berusaha, Pah..." jawab Gamal seraya duduk menghempas ke kursi kerjanya.
"Kamu tidak lupa dengan janji jam tujuh malam nanti bukan?"
"Tentu, Pah. Gimana aku bisa lupa. Papah nggak usah khawatir, sekarang aku kan sudah berubah. Kali ini aku akan..." Gamal ragu untuk melanjutkan. Ingatannya tentang keberadaan Zara membuat pikirannya tidak karuan.
"Gamal? Kenapa kamu tiba-tiba diam?" imbuh Afrijal. Menyebabkan lamunan Gamal buyar seketika.
"Ada sesuatu yang aku pikirin, Pah. Nggak penting kok." Gamal memberikan alasan asal.
"Ya sudah, pokoknya jangan sampai kecewakan Selia. Setahuku dia gadis berpendidikan dan berasal dari keluarga Aksara. Papah yakin kamu akan menyukai Selia."
"Baiklah, Pah..." Gamal menjawab seadanya. Pembicaraan mereka berakhir, saat Afrijal mengakhiri panggilan lebih dulu.
Gamal mengusap kasar wajahnya. Dia tidak habis pikir. Kenapa Zara kembali muncul di waktu yang tidak tepat? Tekad Gamal yang tadinya ingin menuruti keinginan Afrijal, goyah begitu saja.
Sekali lagi Gamal berkutat pada ponsel. Mencoba menghubungi Raffi. Tidak perlu menunggu lama untuk menunggu panggilan terjawab.
"Cie... Pak Direktur. Gimana? Enak nggak, bisa beneran jadi bos?" sambut Raffi dari seberang telepon. Dia dan Gamal memang tidak pernah memutuskan kontak. Bahkan ketika sama-sama berada di luar negeri sekali pun.
"Baru juga aku datang ke perusahaan! Oh iya, aku nemu sesuatu yang mengejutkan di sini!" seru Gamal.
"Apaan?"
"Zara, Raf! Aku ketemu Zara!"
"Beneran? Dia kerja di tempatmu? Jangan bilang dia jadi sekretaris?" Raffi terdengar begitu kaget.
"Nggak tuh. Dia jadi OB. Anjir! Aku nggak nyangka!" keluh Gamal. Berjalan bolak-balik tidak karuan. Elena yang dapat menyaksikan dari luar, hanya bisa mengernyitkan kening.
"Bukannya kamu marah sama dia ya? Zara udah ninggalin kamu selama tujuh tahun. Tanpa kabar dan menghilang kayak ditelan bumi. Dan dia sekarang muncul pas kamu mau tunangan? Gila sih." Raffi terdengar menghembuskan nafas kasar. "Terus gimana respon dia pas lihat kamu?"
"Zara agak kaget gitu sih. Tapi seterusnya, dia biasa aja." Gamal akhirnya lelah dan memutuskan duduk di sofa.
"Abaikan aja dia, Mal. Kalau aku jadi kau, itu sudah yang aku lakukan. Lagian kamu kan udah lupain dia."
Gamal menggaruk kepalanya tanpa alasan. Lalu menyahut, "Ya iyalah! Ngapain aku masih berharap sama dia."
"Bagus deh. Kau mending fokus sama kerjaan dan rencana pertunangan. Semoga berhasil ya pertemuannya malam ini," harap Raffi. Obrolannya dan Gamal segera berakhir.
Gamal mencengkeram kepalanya sendiri. Lalu mencoba membuang jauh-jauh segala hal tentang Zara.
'Ngapain juga aku mikirin cewek itu,' batin Gamal. Dia masih belum mengetahui kalau Afrijal-lah yang telah membuat Zara pergi dari hidupnya.
Gamal menyibukkan diri untuk melihat berkas-berkas yang ada di meja. Dia mencoba mencari-cari sesuatu agar bisa membuat perusahaan Relangga Grup bisa maju lagi. Gamal cukup lama terfokus dengan berkas-berkas tersebut.
Tok!
Tok!
Pintu terdengar diketuk dua kali. Ada Zara di depan pintu. Ia membawa perlengkapan kebersihan. Dia hendak membersihkan toilet pribadi direktur.
Jujur saja, Zara sudah beberapa kali menenggak salivanya sendiri. Entah kenapa dirinya merasa gugup berhadapan dengan Gamal. Zara takut akan lupa diri. Ia terus saja menjadikan cincin pernikahannya sebagai pengingat. Cincin itu tampak selalu tersemat di jari manisnya.
"Masuk!" sahut Gamal.
"Permisi, Tuan. Aku mau bersihin toiletnya..." ujar Zara. Bersikap enggan.
"Iya, silahkan." Gamal tak acuh. Dia memilih berlagak seakan tidak mengenal.
Zara membungkuk hormat sejenak. Ia sepertinya juga memutuskan bersikap layaknya orang asing. Kemudian bergegas masuk ke dalam toilet.
Setibanya di toilet, Zara reflek mengelus dadanya berulang kali. Dia bahkan menepuk dadanya dengan perasaan kesal.
'Kamu kenapa sih?! Kenapa jadi berdebar-debar gini? Ingat, Ra! Kamu itu sudah punya suami dan anak! Biar suami kamu begitu, dia tetap suami kamu.' Zara mencoba menegur dirinya sendiri.
Hal serupa juga dirasakan Gamal dari meja kerja. Sekarang pria itu mencoba mengalihkan pikirannya dengan membuka berkas-berkas yang ada.
Tanpa disangka, Gamal malah terkena panggilan alam. Sungguh, dia sangat kesal. Alam seolah mendesaknya untuk berhadapan dengan Zara.
"Gila! Kenapa harus sekarang coba!" keluh Gamal kesal. Satu tangannya memegangi bagian alat vital. Keinginan untuk buang air kecil begitu menuntut.
"Ahh! Dari pada burungku mencuat. Lagian itu kan cuman Zara!" Gamal mencuci otaknya sendiri. Kemudian berlari masuk ke dalam toilet. Sosok Zara tentu langsung menyambut penglihatannya.
Melihat kemunculan Gamal, jantung Zara rasanya hampir copot. Dia hanya membulatkan mata seraya memegangi tongkat pel dengan erat.
"Kamu keluar dulu sana!" perintah Gamal.
Zara tidak bergeming. Ia seakan terhipnotis. Atensinya tertuju ke arah dua kancing kemeja Gamal yang terbuka. Dada bidang pria tersebut sedikit mengintip. Kalung emas putih yang sepertinya mahal, melingkar di sekitar leher Gamal.
Bukan hanya itu, badan Gamal terlihat lebih atletis dibandingkan dulu. Zara yakin selama tujuh tahun terakhir, Gamal rutin belorahraga di gym.
"Eh! Aku mau kencing loh. Mau lihat aku kencing?" tegur Gamal.
Zara tersentak. Dia bergegas keluar dari toilet dan memberikan ruang untuk Gamal. Pintu langsung ditutup pria tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Nacita
aku penasaran, uang yg d ksh bokap gamal brp besar dan d pke apa sm s zara, knp bsa kelilit utang k rentenir sih
2024-05-31
0
Bzaa
kasian Zara... sedih banget, tpi ada bagusny keguguran jdi gak ada beban dikemudian hari kl pisah sama Anton..
2023-06-25
0
Neneng cinta
bener nih......hati ga bs boong lho Mal...😁
2023-04-30
1