...༻◐༺...
Gamal menangkup wajah Zara yang cemberut. Lalu mengajak gadis itu keluar dari ruang ganti. Akan tetapi Zara lekas menolak.
"Aku belum ganti baju!" ujar Zara.
"Udah... biar pakai baju ini aja. Nggak usah dilepas lagi." Gamal menanggalkan label yang masih tersemat di dress Zara. Dia segera beranjak sambil menarik tangan Zara. Kemudian berhenti tepat di depan meja kasir.
Gamal melakukan transaksi pembayaran. Harga dress yang dia belikan untuk Zara bukan kaleng-kaleng. Zara sendiri sampai mengangakan mulut. Dia baru angkat suara saat sudah meninggalkan toko.
"Gila, Mal. Ngapain beliin baju mahal begini buat aku?" tanya Zara. Merasa tak percaya.
"Terserah aku dong. Kepo banget," sahut Gamal tak acuh. Dia memaksa Zara untuk menggandeng lengannya.
Zara mau-mau saja. Dia bahkan tersenyum sembari menyandarkan kepala ke bahu Gamal. Zara melirik pria itu lamat-lamat dari samping.
'Aku harap kamu yang jadi suamiku, Mal... apa itu bisa terjadi ya?' batin Zara penuh harap. Dia dan Gamal pergi meninggalkan mall.
Bukannya menuju apartemen, Gamal justru membawa Zara ke sebuah hotel bintang lima. Tidak tanggung-tanggung, dia memesan kamar suit mewah.
"Mal, kau sekarang udah berlebihan tau nggak? Emang uangmu nggak habis?" tanya Zara seraya memperhatikan kamar suit yang sekarang dia masuki.
"Nggak perlu cemasin uangku, Ra. Uangnya malah nambah terus." Gamal menjawab dengan santai. Ia melepas jas, lalu duduk menghempas ke sofa.
Zara menghela nafas. Dia melangkah ke balkon. Dari sana Zara dapat menyaksikan pemandangan kota saat malam hari.
Sepasang tangan mendadak melingkar di perut Zara. Gamal menenggerkan dagu ke salah satu bahunya.
"Kita nginap satu malam di sini ya..." lirih Gamal. Ia memejamkan mata. Seakan telah menemukan tempat ternyaman.
Zara merasa terenyuh. Dia tidak pernah dimanjakan seperti sekarang. Mungkin satu-satunya orang yang mau memanjakan Zara di dunia ini hanyalah Gamal.
"Emang kita mau ngapain semalaman di sini?" tanya Zara.
"Ya ampun... pakai nanya segala lagi," sahut Gamal, yang terdengar seperti mengeluh.
Zara tergelak kecil. Malam itu dia dan Gamal menghabiskan waktu di hotel berduaan. Mereka melupakan segala kegelisahan serta kejengahan akan hidup sejenak.
Ketika pagi telah tiba, Zara menjadi orang yang terbangun lebih dulu. Bola matanya langsung mendelik ke arah Gamal. Kebetulan dia dan Gamal sama-sama telanjang dibalik selimut.
Zara termangu menatap Gamal. Berulang kali jari-jemarinya yang lentik mengusap kepala pria tersebut. Ingatan tentang apa yang terjadi selama semalaman tidak pernah akan Zara lupakan. Namun ketika mengingat kalau hubungan yang terjadi merupakan angan saja, dia perlahan menundukkan kepala.
Zara yang sempat melamun, akhirnya menengok jam dinding. Dia dibuat begitu kaget ketika menyadari waktu menunjukkan jam 08.10. Gadis itu bergegas masuk ke kamar mandi.
Akibat keributan yang dibuat Zara, Gamal terbangun dari tidur. Ia mengenakan celana pendek, kemudian menyusul ke kamar mandi.
Ceklek...
Pintu kebetulan tidak dikunci. Nampaknya Zara lupa untuk menguncinya. Gamal lantas mendudukkan diri ke atas closet.
Posisi Zara dan Gamal hanya dihelat dengan dinding yang terbuat dari kaca. Keduanya sibuk dengan aktifitas masing-masing. Terutama Zara, yang baru selesai membersihkan sekujur badan dengan sabun dan shampo.
Zara langsung menoleh, ketika Gamal tiba-tiba masuk. Dia semakin terperangah tatkala mendengar Gamal memperdengarkan suara kentut yang merdu.
"Anjir, Mal. Kau itu nggak malu apa?!" timpal Zara sembari meringiskan wajah.
"Apaan sih! Bukannya kamu udah biasa dengar kentutku sejak SMA?" balas Gamal santai. Zara merupakan satu-satunya perempuan yang membuatnya nyaman.
"Ampun dah..." keluh Zara seraya bergegas keluar dari kamar mandi. Dia tidak lupa menutup hidungnya rapat-rapat.
"Bwahahaha!" Gamal tertawa geli melihat gelagat Zara.
Tepat di luar kamar mandi, Zara sebenarnya terkekeh. Dia jadi teringat masa-masa dulu. Sejujurnya dirinya tidak hanya sering mendengar kentut Gamal, tetapi juga mengelap muntahan perut dari lelaki itu. Kebetulan dulu Gamal cukup sering mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang.
"Suram banget hidupku..." gumam Zara. Mengomentari hidupnya sendiri. Dia baru selesai mengenakan pakaian. Zara sudah siap untuk pergi.
"Mal! Aku pulang duluan ya! Aku harus jemput Zafran. Ini sudah telat banget!" seru Zara. Dia meraih tas selempang dan beranjak dari kamar suit.
"Zara, tunggu!" cegah Gamal. Dia yang telah selesai buang air besar, buru-buru keluar dari kamar mandi. Namun sayang, dia tidak sempat mencegat kepergian Zara.
Ponsel Gamal berdering. Dia mendapat panggilan dari Selia. Dengan lidah yang berdecak kesal, Gamal mengangkat panggilan tersebut.
"Mal, kamu kemana aja? Jangan bilang kau lupa dengan acara pertunangan malam ini?" timpal Selia dari seberang telepon.
"Lupa? Enak aja. Ini aku sedang dalam perjalanan menuju tempat acara kok. Aku juga udah beli cincin untuk pertunangan kita," sahut Gamal dengan berat hati. Ia sesekali menggaruk kepalanya dengan kasar.
"Beneran? Ya udah deh. Aku tunggu ya... maaf kalau akhir-akhir ini aku sibuk banget." Selia terdengar menyesal.
"Nggak apa-apa. Aku ngerti kok," tanggap Gamal. Pembicaraannya berakhir di situ. Dia segera bersiap untuk menemui Selia.
...***...
Zara berlari tergesak-gesak memasuki panti asuhan. Ia memanggil nama Zafran berkali-kali.
"Zafran sudah aku antarkan ke sekolah!" Wida muncul dari balik pintu dapur. "Kamu kemana aja, hah?! Sampai lupa sama anak sendiri!" tukasnya, melanjutkan. Keningnya mengernyit dalam.
"Tadi malam ada lembur, Bi. Ya udah aku pulang dulu." Zara tidak berniat bicara panjang lebar dengan Wida. Ia tidak mau dicecar terlalu banyak pertanyaan.
Wida hanya menghela nafas kasar. Dia membiarkan Zara pergi. Kali ini Wida akan mempercayai Zara.
Sekarang Zara tidak punya pilihan selain pergi ke perusahaan. Dia mencoba menahan diri untuk tidak menemui Gamal. Padahal jika ingin bertemu pun Zara tetap tidak bisa bertemu. Karena Gamal sedang disibukkan dengan acara pertunangan.
"Kak Zara!" panggil Susan. Dia berlari menghampiri Zara.
"Kenapa?" tanya Zara.
"Restoran Angkasa Jaya mendapatkan pesanan untuk acara besar. Mereka membutuhkan lebih banyak pelayan! Kakak ikut kan?" ujar Susan bersemangat. Kedua alisnya terangkat secara bersamaan.
"Aku kayaknya nggak--"
"Kakak harus ikut! Acara besar itu seru banget, Kak." Susan bersikeras. Dia sepertinya bertekad memaksa Zara untuk ikut.
"Aku nggak bisa, San. Aku harus ngurus anakku. Maaf banget ya..." Zara menolak baik-baik. Dia tersenyum dan segera berlalu pergi.
Zara menjemput Zafran lebih cepat dari biasanya. Dia merasa bersalah karena melupakan putranya itu semalaman. Zara langsung memeluk erat Zafran, saat anak itu keluar dari gerbang sekolah.
"Kenapa Bunda nggak jemput aku tadi malam?" tanya Zafran seraya menggembungkan kedua pipinya.
"Maafin Bunda ya... Bunda tadi malam punya banyak kerjaan. Yang penting Bunda udah bareng kamu lagi kan?" ucap Zara. Mengulas senyuman simpul.
Sebelum pulang, Zara menyempatkan diri untuk membeli bahan makanan di sebuah kedai pinggir jalan. Bertepatan dengan itu, sebuah mobil tampak berhenti. Salah satu orang yang paling dihindari Zara di dunia ini, keluar dari mobil.
Deg!
Jantung Zara berdebam keras. Dia mematung sambil menggenggam tangan Zafran kuat-kuat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Bzaa
duhhhh.... siapa ya?
2023-06-25
0
Elly Watty
mata afrizal dimana2 zara, harusnya gamal waspada
2022-11-11
0
Noer Amifah
👍
2022-06-25
1