...༻◐༺...
Zara berdiri di depan cermin toilet. Sedari tadi dia terus memperhatikan tanda merah yang ada di salah satu bahunya. Siapa lagi yang memberikan tanda merah itu selain dari pada Gamal.
Entah kenapa, Zara rela berlama-lama menatap tanda merah tersebut. Kemungkinan hatinya sedang berbunga-bunga.
Bertepatan dengan itu, Zara mendapatkan pesan dari Wida. Dia baru teringat kalau hari sudah malam. Zara harus segera menjemput Zafran.
Zara melangkah jauh dari lokasi perusahaan. Dia berniat menaiki bus umum. Namun sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti. Zara sontak menghentikan pergerakan kakinya. Dia tahu betul kalau pemilik mobil itu adalah Gamal.
"Mau aku anterin pulang?" tawar Gamal sembari membuka kaca jendela mobil.
Zara tersenyum lembut. Ia mengangguk dan segera masuk ke mobil Gamal.
"Rumahmu dimana?" tanya Gamal seraya menjalankan mobil dengan pelan.
"Antar ke panti asuhan aja," jawab Zara. Dia mengaitkan anak rambut ke daun telinga. Entah kenapa dirinya merasa muda lagi saat bersama Gamal.
"Hah? Kau masih tinggal di panti?" Gamal menoleh selintas. Kelopak matanya melebar. Memperlihatkan manik hitamnya lebih jelas.
Zara menggeleng. "Nggak! Aku cuman mau jemput anakku," sahutnya.
Deg!
Mendengar kata anak, Gamal sangat terkejut. Dia reflek menginjak rem mobil. Sehingga mobil berhenti dengan tiba-tiba. Gamal dan Zara tersentak bersamaan ke arah depan.
"Mal!" panggil Zara spontan. Jantungnya bergermuruh akibat dibuat panik dengan penghentian tiba-tiba.
"Kamu juga udah punya anak?" timpal Gamal memastikan. Matanya mendelik. Dia merasa tidak percaya. Sebab selama ini Zara tidak pernah membicarakan perihal anak.
"Iya, anakku cowok," ujar Zara. Ia sebenarnya sangat ingin mengatakan Zafran adalah anak Gamal. Namun tidak bisa. Zara takut Gamal akan menjadi emosional. Dia masih ingin menjalani hubungan rahasia yang tenang.
Di sisi lain, Zara belum siap menanggung resiko yang akan terjadi. Terlebih Anton dan Afrijal sama-sama ancaman baginya. Zara hanya berusaha melindungi Zafran dan Gamal sekaligus.
"Kenapa nggak pernah cerita?" Gamal kembali bertanya.
"Kamu nggak pernah tanya," jawab Zara tenang.
Gamal memejamkan mata sejenak. Ketika suara klakson terdengar bersahutan di belakang, barulah dia bergegas menjalankan mobilnya lagi.
Hening menyelimuti suasana. Fakta tambahan tentang Zara yang sudah memiliki anak, membuat hati Gamal merasa tidak enak.
"Kamu nggak mikirin anakmu, Ra? Sebelum ngajak aku masuk ke hubungan rahasia kita sekarang?" Gamal tampak memasang raut wajah serius.
"Mikirin sih. Tapi... ya gitu deh..." Zara bingung harus menjawab apa. Dia benar-benar tidak mau menceritakan segala penderitaan yang diterimanya selama ini.
"Ya gitu gimana?! Bisa jelasin ke aku nggak?" Gamal menuntut jawaban.
Zara menarik nafas dalam-dalam. Entah kenapa dia kesal terhadap desakan Gamal.
"Kalau aku nggak mau jelasin, gimana? Sudah kubilang aku melakukan hubungan denganmu untuk pengalihan. Aku tidak mau membicarakan rumah tanggaku saat bersamamu! Jangan coba tanya-tanya lagi! Kalau nggak, hubungan kita mending udahan aja!" tukas Zara yang malah berakhir mengomel.
Gamal memutar bola mata jengah. Dia terpaksa memilih mengalah. Lagi pula Gamal tidak mau hubungannya berakhir dengan Zara. Tidak untuk sekarang.
Tidak lama kemudian, Gamal dan Zara tiba di panti asuhan. Zara yang hampir keluar dari mobil, dicekal oleh Gamal.
"Kenapa lagi?" Kening Zara mengernyit. Namun Gamal malah membalas dengan sebuah kecupan di pipi.
"Sampai jumpa besok!" ujar Gamal. Berhasil membuat Zara mengembangkan senyum.
Zara mematung dalam sesaat. Dia melirik Gamal dengan rasa kagum. Walau belum siap memberitahu kebenaran tentang Zafran, tetapi pemikiran untuk mempertemukan Gamal dengan putranya sempat terlintas dalam benak.
"Mau ketemu anakku nggak? Namanya Zafran. Dia..."
"Nggak usah! Lain kali aja. Dan tolong ya, Ra. Jangan bicarain tentang suami sama anakmu pas bareng aku!" potong Gamal sambil mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah.
Zara lantas mengangguk saja. Dia segera turun dari mobil. Gamal otomatis beranjak pergi.
Kini Zara dan Zafran memutuskan untuk pulang. Keduanya berjalan sembari terus bergandengan tangan.
Langkah Zara terhenti, tatkala menyakasikan Anton dan beberapa temannya mabuk-mabukkan di teras rumah. Tanpa pikir panjang, Zara mengajak Zafran berbalik arah.
"Bunda kenapa kita pergi lagi?" tanya Zafran dengan mimik wajah polosnya.
"Ada yang mau Bunda beli. Kita jalan-jalan sebentar dulu ya," ucap Zara.
Zafran yang mendengar, langsung melompat-lompat kegirangan. Zara lantas tersenyum saat melihatnya.
Sementara itu, Gamal baru saja berhenti di sebuah toko perhiasan. Selia menyuruhnya untuk membeli cincin pertunangan seorang diri. Gadis itu kebetulan sedang disibukkan dengan pekerjaan. Setidaknya begitulah yang Gamal tahu.
Entah berapa kali Gamal menghela nafas berat. Dia masuk ke toko perhiasan dan meminta rekomendasi cincin yang bagus.
"Aku merekomendasikan cincin yang sedang banyak digemari orang." Seorang pramuniaga memperlihatkan sepasang cincin. Modelnya sendiri memiliki satu batu berlian yang mengkilap.
"Ya sudah aku beli yang ini saja." Gamal asal memutuskan. Ia sebenarnya tidak peduli jenis cincin untuk pertunangan nanti akan seperti apa.
"Harganya dua puluh enam juta rupiah ya, Tuan." Sang pramuniaga memberitahukan. Gamal hanya mengangguk dan merekahkan senyuman. Harga segitu tentu bukanlah apa-apa baginya.
Sekarang Gamal iseng melihat-lihat perhiasan lain. Hingga sebuah kalung berlian menarik perhatiannya.
"Mbak, tolong bungkuskan juga kalung yang itu!" titah Gamal.
"Tentu saja, Tuan. Tapi kalung itu keluaran terbaru, harganya sebesar tujuh puluh juta lebih. Apakah--"
"Aku tetap membelinya!" Gamal bersikeras. Dia sudah mengeluarkan dompet dari saku celana.
"Baiklah, Tuan. Dengan senang hati." Pramuniaga wanita itu tentu senang dengan pilihan Gamal. Dia segera membungkuskan perhiasan yang di inginkan Gamal.
Setelah selesai membeli perhiasan, Gamal keluar dari toko. Saat itulah atensinya menangkap kehadiran Zara dan Zafran. Dua ibu dan anak itu tengah asyik menikmati bakso di warung pinggiran jalan. Tempatnya sendiri berseberangan dengan toko perhiasan.
Gamal memicingkan mata. Perlahan senyumannya terukir. Terutama saat menyaksikan sisi berbeda dari seorang Zara. Gadis itu memperlihatkan sisi keibuannya. Zara menyuapi Zafran dengan hati-hati.
Perhatian Gamal sekarang tertuju ke arah Zafran. Entah kenapa dia merasa senang melihat wajah anak tersebut.
Tanpa basa-basi, Gamal melangkah untuk menyeberang jalan. Akan tetapi jalannya terhenti, ketika menyaksikan seorang lelaki menghampiri Zara.
"Ayah!" pekik Zafran. Dari sana Gamal dapat mengetahui kalau lelaki itu adalah suami Zara.
Gamal akhirnya urung mendekat. Karena tidak ingin tambah kecewa, dia langsung pergi dengan mobil.
Sementara Zara, dia bergegas memeluk Zafran. Apalagi saat menyaksikan Anton sudah duduk di kursi dengan satu kaki terlipat.
"Kamu mau berniat kabur lagi, hah?!" timpal Anton. Matanya tampak memerah. Ia jelas sedang dalam keadaan mabuk. Meskipun begitu, mabuk Anton kali ini tidak separah biasanya. Pria itu masih dapat menguasai kesadaran.
"Kita bicarakan di rumah saja, Mas." Zara mengajak Zafran beranjak meninggalkan Anton. Dia tidak mau berdebat dengan Anton. Terutama saat ada di tempat umum.
"Gitu ya kamu sama suami!" pekik Anton seraya mengeratkan rahang kesal. Ia langsung mengejar istri dan anaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Bzaa
yah aturan Gamal jgn langsung pergi
2023-06-25
0
Diah Elmawati
Kasihan Zara dapat perlakuan yang kasar terus dari Anton
2023-03-24
0
Gina Putri Yana
Thor up lgi
2022-06-06
1