...༻◐༺...
Zara berusaha tenang menghadapi Anton. Lagi pula lelaki itu tidak akan berani menyakitinya jika dia ada di dekat Zafran. Hingga kini, Zara tidak tahu apa alasannya. Yang jelas Zafran seperti malaikat kecil baginya.
"Kami berkunjung ke panti sebentar. Zafran sudah punya banyak teman di sana. Iyakan Zafran?" terang Zara sembari melangkah masuk ke rumah. Ia membiarkan Zafran berlari menghampiri Anton.
"Ayah! Aku punya mobil-mobilan baru!" seru Zafran seraya memamerkan mobil-mobilan miliknya.
"Wah... siapa yang beliin?" tanggap Anton.
"Nenek Wida," jawab Zafran dengan ekspresi polos. Dia segera di ajak Zara untuk membersihkan diri.
"Setelah Zafran tidur, kita perlu ngomong berdua." Anton menatap serius kepada Zara. Istrinya itu hanya merespon dengan anggukan kepala.
Anton Nirwana masih tergolong muda. Usianya sekarang telah mencapai tiga puluh tahun. Dia memiliki badan tegap, kulit kecokelatan, serta kumis dan jabang tipis. Anton sering dianggap rentenir tampan yang kejam.
Zara merupakan satu-satunya wanita yang pernah dinikahi Anton. Meskipun begitu, dia tidak bisa memperlakukan istrinya tersebut dengan baik. Kebiasaannya dalam hal kekerasan sampai terbawa-bawa ke rumah. Untung saja Anton belum pernah menyakiti Zafran. Seolah dia benar-benar menganggap Zafran sebagai anaknya sendiri.
Setelah sama-sama berganti pakaian. Zara mengajak Zafran tidur. Keduanya telentang bersama di kasur. Hingga akhirnya Zara tidak sengaja ikut tertidur.
Sebuah pukulan pelan dan panggilan membangunkan Zara. Dia lantas membuka lebar matanya. Kemudian merubah posisi menjadi duduk. Sosok Anton tampak menunggu.
"Ayo kita bicara di luar!" ajak Anton. Dia dan Zara segera duduk berhadapan di meja makan kecil.
"Aku dengar kamu melakukan kerja sambilan ya?" tukas Anton dengan tatapan menyelidik.
"Iya, Mas. Aku terpaksa melakukannya, karena Mas kasih uang bulanan yang tidak mencukupi." Zara mengungkapkan tanpa ragu. Ia bahkan malas menatap wajah Anton. Entah kenapa akhir-akhir ini dirinya semakin membenci sang suami.
"Banyak orang yang ngutang pada kabur. Aku dan anak buahku rugi banyak!" jelas Anton. Dia memang sedang mengalami krisis. Selain harus menyediakan uang simpanan untuk dihutangkan, dia juga harus menerima kenyataan, bahwasanya banyak sekali tukang hutang yang melarikan diri.
"Kalau begitu cari pekerjaan lain!" usul Zara. Menyebabkan raut wajah Anton seketika cemberut.
"Apa kau bilang?! Enak sekali kau bicara begitu?! Coba lihat dirimu? Berapa banyak gaji yang kau dapatkan dengan hanya menjadi tukang bersih?! Pasti melelahkan. Penghasilannya bahkan nggak sebanding sama tenaga yang kamu keluarkan!"
"Yang penting ini pekerjaan halal! Aku juga tidak mau terus-terusan makan uang harammu itu!" balas Zara ketus.
"Bwahahaha..." mendengar ucapan Zara, Anton malah tertawa terbahak-bahak. "Haram kau bilang? Hahaha..." lanjutnya, disela-sela gelak tawa.
"Nggak ada yang lucu, Mas!" Zara menggertakkan gigi.
Perlahan Anton berhenti tergelak. Lalu berkata, "Jangan sok suci! Kau pikir aku tidak tahu pekerjaan yang kau geluti dahulu?!"
Zara langsung membuang muka. Dia tidak bisa membantah. Dirinya memang sempat menjadi sugar baby saat menginjak kelas dua SMA. Zara terpaksa berbuat begitu karena ingin mempunyai banyak uang. Ketika SMA, Zara sangat tergila-gila dengan yang namanya uang.
Segalanya berubah saat Zafran lahir. Zara ingin menjadi orang tua yang baik. Zafran seperti pelita dalam hidupnya. Zara rela melakukan apapun demi membuat Zafran tumbuh menjadi anak baik. Termasuk dengan cara menggeluti pekerjaan yang halal.
"Tuh kan, kamu nggak bisa membantah? Makanya ngaca dulu sebelum sok-sokan menggurui!" tukas Anton. Tersenyum remeh.
Zara mendengus kasar. Dia beranjak kembali ke kamar. Zara tidak tahan lagi meneruskan pembicaraan dengan Anton. Ia bahkan tidak berminat membahas perihal keguguran yang dideritanya.
Belum sempat melangkah jauh, Anton mendadak memanggil. Mengharuskan Zara otomatis menoleh.
"Nih aku kasih uang yang banyak! Bayar semua kebutuhan sekolah Zafran dengan ini!" Anton menghempaskan uang ratusan ribu ke atas meja.
Zara terpaksa mendekat. Berusaha mengambil uang yang diberikan Anton. Akan tetapi suaminya itu justru bermain-main. Anton sigap menjauhkan uangnya dari jangkauan Zara.
"Katanya nggak mau uang haram. Dasar!" cibir Anton. Sekali lagi dia melantunkan tawa menyebalkan.
"Memang betul, Mas! Aku hanya menggunakan uang ini untuk memberikan kamu makanan enak! Biar kamu nggak terus-terusan mukulin aku tiap hari! Kamu mau ayam? Daging? Aku bisa beliin dengan uang kamu ini!" ungkap Zara. Kesabarannya telah habis.
"Apa kau bilang?!" Anton kesal mendengar perkataan Zara. Dia segera memegangi dagu Zara dengan kasar.
"Kau bisa hidup sampai sekarang karena aku! Anak-anak yatim di panti asuhan masih bertahan juga karena aku!" geram Anton. Pelan tetapi dengan nada penuh penekanan.
Zara memilih bungkam dan memejamkan mata. Dia pasrah sekarang. Membiarkan Anton berbuat sesuka hati.
Tanpa diduga Anton tiba-tiba melepas pegangannya. Lalu menyerahkan uang ke dalam genggaman tangan Zara. "Terserah kau mau apakan uang ini! Aku hanya berusaha memenuhi tanggung jawabku sebagai kepala keluarga!" ujarnya. Lalu masuk ke dalam kamar.
Selama tujuh tahun, Zara tentu sering melakukan percobaan melarikan diri dari Anton. Tetapi tidak ada yang berhasil. Pelarian Zara selalu batal ketika Anton mengancam akan menghancurkan panti asuhan.
...***...
Satu minggu berlalu. Hubungan Zara dan Gamal masih layaknya orang asing. Mereka jarang bertemu walau berada di perusahaan yang sama. Hal itu tentu sangat wajar, mengingat posisi Zara hanya sebagai pekerja cleaning service.
Kala jam istirahat, Zara makan siang bersama rekan-rekannya. Saat itulah Susan memberitahukan kabar baik. Ia mengajak Zara ikut ke sebuah acara khusus yang akan diselenggarakan di restoran Angkasa Jaya.
"Tamu yang datang katanya ada banyak. Jadi restoran juga memerlukan pelayan tambahan," kata Susan bersemangat.
"Ya udah kalau gitu. Aku akan ke restoran setelah nitip Zafran ke Bi Wida dulu," tanggap Zara. Dia jadi ikut-ikutan bersemangat.
Zara berangkat ke restoran saat selesai mengantar Zafran. Dia dan para pelayan lain segera mendekor keadaan restoran.
"Ada acara apa sih?" tanya Zara.
"Acara reuni, Kak!" sahut Susan sembari mengembangkan senyuman tipis.
Zara hanya manggut-manggut saja. Dia dan Susan kembali sibuk bekerja.
Tidak terasa tamu mulai berdatangan. Kebetulan Zara terlalu sibuk membantu di dapur kala itu. Satu hal yang dia tidak ketahui, yaitu kenyataan kalau reuni yang akan dilaksanakan adalah acara dari sekolahnya dulu.
Orang-orang yang mungkin dikenal Zara terlihat bermunculan. Semakin lama jadi tambah banyak.
Seruan dan tepuk tangan tiba-tiba bergema. Tepat ketika ada dua sejoli yang baru saja datang. Mereka tidak lain adalah Raffi dan Elsa. Pasangan itu merupakan teman dekat Gamal dan Zara saat masih SMA. Andai ada yang ingin tahu bagaimana nakalnya gaya berpacaran Gamal dan Zara, tanyakan saja kepada Raffi dan Elsa. Mereka adalah saksi paling depan atas hubungan Gamal dan Zara.
"Mereka nggak ngejek kita kan?" bisik Elsa. Dia sebenarnya enggan ikut datang ke acara reuni. Selama beberapa tahun terakhir, hanya Raffi yang selalu datang sendirian. Elsa masih dihantui dengan aibnya. Dia menikah dengan Raffi karena mengalami hamil di luar nikah.
"Ya ampun, sayang. Jangan ngomong gitu. Mereka nggak seburuk itu," sahut Raffi. Mencoba menenangkan sang istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Nacita
yabegitulahhhh 🤣
2024-05-31
0
Bzaa
semoga gak ada yg bully pas liat zara
2023-06-25
0
Novi Yantisuherman
Resiko Ngutangin orang wkwkwk
2023-05-24
0