...༻◐༺...
Akibat kegiatan intim tadi, Gamal melupakan fakta bahwa Zara sudah bersuami. Kini dia mematung di tempat. Menyaksikan Zara yang baru selesai mengenakan pakaian.
"Aku nggak bisa tinggalin suamiku, Mal. Aku punya alasan yang--"
"Lalu kenapa kau datang ke sini, hah?!" timpal Gamal. Sengaja memotong perkataan Zara.
Zara membisu sejenak. Jika memikirkan hubungannya dengan Gamal, dia selalu saja teringat Afrijal. Zara sangat ingat bagaimana Afrijal memaksanya menjauh dari Gamal.
Menurut Zara, kehidupan Gamal masih terlalu bergantung kepada Afrijal. Kedua ayah dan anak itu bahkan semakin dekat. Terutama setelah Gamal menjalani pendidikan di luar negeri.
Zara tidak mau dirinya menjadi penghancur kehidupan damai Gamal. Mengingat dia bukanlah gadis yang berpendidikan. Zara tahu dirinya tidak selevel dengan Gamal. Meskipun begitu, Zara berusaha mendapatkan kebahagiaan meski hanya secuil saja.
"Aku cuman butuh pengalihan sebentar. Tapi jika kau tidak suka, aku tidak masalah. Aku akan menganggap apa yang kita lakukan barusan tidak pernah terjadi." Zara merapikan pakaian. Lalu beranjak pergi dari kamar.
Gamal terperangah. Dia bergegas mengejar. "Jadi maksudnya, kau ngajak aku untuk melakukan hubungan rahasia, gitu?" tanya-nya memastikan.
"Terlalu beresiko jika kita menjalani hubungan yang serius. Mungkin ini bukan hubungan yang akan berlangsung lama. Tapi kita bisa jalani hanya untuk sekedar saling memuaskan," jelas Zara panjang lebar.
"Kamu emang sinting, Ra!" cibir Gamal.
Zara tersenyum tipis dan berjalan ke hadapan Gamal. "Aku emang sinting! Kamu adalah satu-satunya orang yang tahu. Tapi kau harus tahu satu hal, kau sama sintingnya denganku. Aku bertaruh, cepat atau lambat kau akan setuju dengan usulanku tadi. Sejak dulu kita punya satu kesamaan. Yaitu hobi berbuat nekat!" balasnya.
Gamal mendengus kasar. Dia sama sekali tidak menampik pernyataan Zara. Gamal bahkan membiarkan Zara pergi meninggalkan apartemennya.
Kini Gamal dalam perjalanan menuju rumah Selia. Sesampainya di tempat tujuan, Gamal hanya melangkah dalam keadaan kepala tertunduk. Dia menyapa semua orang dengan senyuman yang dipaksakan.
Semua ucapan Zara tidak hanya membuat kecewa, tetapi juga terus menghantui pikiran Gamal.
"Maaf telat ya, Om. Tante..." Gamal menyapa Firman dan Cintya. Selaku kedua orang tua kandung Selia. Kebetulan mereka adalah keluarga pebisnis kaya raya. Tidak heran, Afrijal dan Tania kegirangan saat mendapat tawaran perjodohan.
"Gamal kayaknya sibuk banget deh, Pah. Mah..." Selia angkat suara. Ia mencoba menggoda Gamal. Bermaksud mencairkan suasana.
"Biasa, direktur baru lahir." Afrijal merangkul pundak Gamal. Membanggakan sang putra dengan senyuman lebar.
Jujur saja, sekarang Gamal dilanda kebingungan. Dia sebenarnya ingin bicara empat mata dengan Selia. Mengatakan kebenaran bahwa dirinya tidak mencintai gadis itu. Namun di sisi lain, Gamal tidak mau ayahnya kecewa. Terutama jika dia mengaku terlanjur mencintai gadis lain. Parahnya gadis tersebut sudah bersuami.
'Aku tidak bisa bayangin semarah apa Papah kalau tahu,' batin Gamal. Dahinya perlahan mengernyit. 'Tapi ini kan hidupku. Semuanya aku yang jalanin sendiri, dan jelas bukan Papah,' sambungnya lagi.
"Ada yang--"
"Gamal! Pertunanganmu dan Selia akan dilaksanakan lusa nanti!" imbuh Firman. Tak sengaja menjeda ucapan calon menantunya.
Mata Gamal langsung terbelalak. Dia tentu dibuat kaget. Pupus sudah keingingannya untuk mengungkapkan isi hati. Apalagi setelah melihat semua orang tersenyum bahagia. Terutama Selia.
Sekarang Gamal tidak punya pilihan selain menerima. Dia akhirnya hanya dapat berupaya keras untuk berpikir positif.
'Mungkin ini yang terbaik. Lagi pula Zara tidak berniat serius denganku. Aku tidak perlu berlarut-larut menyesali pertunangan ini bukan?' ucap Gamal dalam hati. Ia segera melempar senyuman kepada Selia.
"Setelah puluhan lelaki ditolak. Ternyata cuman Gamal yang berhasil bikin Selia kepincut," celetuk Cyntia. Sekali lagi semua orang tergelak. Tawa itu terkesan palsu bagi Gamal.
"Kamu pakai jurus apa sih, Mal?" tanya Firman. Menatap selidik.
"Cuman dimanja-manjain dikit kok, Om..." Gamal asal cetus saja. Entah kenapa, dia merasa seperti berada di panggung sandiwara.
Mulai besok, Gamal disibukkan dengan rencana pertunangannya. Saat itulah dia mengetahui lebih banyak tentang sikap Selia.
"Mbak! Aku tuh maunya motif bunga kecil-kecil gitu, bukannya yang gede gini. Pokoknya semua harus jadi sebelum hari H!" tegas Selia, kepada seorang pramuniaga butik.
"Udahlah, Sel. Yang ada itu juga bagus. Warnanya juga sesuai selera--"
"Tunggu ya, Mal. Aku mau angkat telepon dulu." Selia menepuk dada Gamal sekitar dua kali. Lalu beranjak sebentar meninggalkan Gamal. Kini pria itu harus bertanggung jawab mengurus gaun milik Selia. Hal tersebut terus terjadi berulang kali.
Selain disibukkan dengan rencana pertunangan, Gamal juga sedang berusaha mengurus perusahaan miliknya. Dia dan beberapa karyawan, harus melakukan lembur selama satu hari.
Ponsel Gamal berdering. Akan tetapi dia sama sekali tidak berniat untuk mengangkat. Mengingat kalau orang yang menghubungi adalah Selia. Gadis super bosy dan keras kepala.
Gamal mengacak-acak rambut frustasi. Dia sangat lelah dengan pekerjaan dan gadis yang sama sekali tidak disukainya. Hingga usulan Zara tempo hari tiba-tiba teringat dalam benak.
Tanpa diduga, gadis yang dia pikirkan muncul dari balik pintu. Zara terlihat membawakan secangkir kopi.
"Kamu belum pulang?" tanya Gamal.
"Ini baru mau pulang. Tapi sebelum pulang, aku dan rekan-rekanku berinisiatif membuatkan minuman untuk semua orang yang lembur," jawab Zara seraya sedikit membungkukkan badan. Dia kembali bersikap seperti orang asing.
Sebelum Zara pergi, Gamal dengan cepat menghentikan. Dia memutar tubuh Zara menghadap ke arahnya.
"Kau benar, Ra! Aku sama sintingnya sama kamu!" kata Gamal. Dia memegangi tengkuk, lalu segera memagut bibir Zara.
Bersamaan dengan itu, Gamal menghimpit Zara ke depan pintu. Diam-diam dirinya mengunci pintu sambil terus bermain lidah bersama Zara.
Gamal nekat membuat keputusan karena merasa sudah berada di titik jenuh. Apalagi setelah mengetahui bagaimana jati diri seorang Selia. Hanya sosok Zara yang mampu membuat hidupnya lebih berwarna.
"Tunggu dulu." Zara menghentikan sesi ciuman sejenak. "Jadi kau setuju untuk menjalani hubungan rahasia?" sambungnya. Menatap penuh tanya.
"Aku sepertinya juga butuh pengalihan," jawab Gamal. Dia dan Zara saling tersenyum. Kemudian lanjut bercumbu. Mereka bahkan sempat-sempatnya melakukan hubungan intim saat masih ada di kantor.
Zara melenguh dengan leluasa. Terutama ketika Gamal sibuk bergerak maju mundur dari belakang. Ia berpegangan erat ke meja kerja Gamal.
Tubuh Zara bergetar hebat, dalam keadaan hanya mengenakan bra dengan pengait terlepas. Bagaimana tidak? tangan nakal Gamal tidak berhenti meremaas buah dadanya.
Zara mengacak-acak rambutnya terus-menerus. Tepat saat Gamal mempercepat pergerakan. Lemas, tubuh Zara mulai terasa lemas. Energinya terkuras habis karena merasakan nikmat yang tiada tara.
Tap!
Tap!
Tap!
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Elena telah kembali dari jadwal makan malam. Itu juga menjadi sinyal berakhirnya aktifitas intim Gamal dan Zara. Keduanya bergegas mengenakan pakaian.
"Bisa suruh Elena pergi nggak? Aku takut kita akan ketahuan kalau dia masih duduk di tempatnya..." ujar Zara dengan nada pelan.
"Tenang aja, Ra. Itu hal kecil kok." Gamal segera mengambil telepon. Dia menyuruh Elena memeriksa berkas penting yang ada di bagian tim akuntansi.
Kala Elena pergi, saat itulah Zara keluar dari kantor Gamal. Untuk sekarang rencana mereka berjalan mulus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Bzaa
bener2 nekad dan memicu adrenalin 😉
2023-06-25
0
Neneng cinta
kalian bener2 nekat ya...
2023-04-30
0
Eni Rohaeni
ko..g pada bersih2 ..
2022-06-14
1