...༻◐༺...
Zara menyarankan Zafran untuk bersembunyi di dalam kamar. Sementara dirinya akan menghadapi Anton yang sedang mabuk.
Kebetulan tadi Zara sempat membeli sebungkus bakso untuk Anton. Dia segera pergi ke dapur dan menuang bakso itu ke dalam mangkuk.
Bruk!
Seperti biasa, Anton selalu datang dalam keadaan membanting pintu. Dia langsung mencari Zara.
"Kenapa kau lari dariku, Dek! Kenapa baru pulang sekarang?! Kau mau cari mati, hah?!" timpal Anton yang sudah berdiri di dekat meja makan.
"Aku belikan Mas bakso. Makan dulu ya." Zara tidak menanggapi perkataan Anton. Dia hanya menyodorkan semangkuk bakso dan segelas teh hangat.
Mimik wajah Anton seketika berubah. Dia seolah menciut dengan perlakuan Zara yang lembut. Apalagi gadis itu terlihat tersenyum.
"Tumben sekali wajahmu tidak cemberut?" imbuh Anton dengan tatapan menyelidik.
"Apa istri nggak boleh senyum sama suaminya?" balas Zara. Ia menarik sebuah kursi dan segera mendudukinya.
Anton diam saja. Dia hanya meraih bakso yang diberikan Zara, kemudian melahapnya.
"Gini dong kalau sama suami. Jangan cemberut dan masak makanan sampah mulu," celetuk Anton. Di tengah-tengah kegiatan makannya.
Zara tersenyum masam. Dia hanya dapat mengepalkan tinju di salah satu tangan. Apa yang dilakukan Zara sekarang, tentu merupakan strategi saja. Setidaknya dirinya mengetahui cara menjinakkan Anton. Ia tidak tahu, usahanya akan efektif dalam berapa lama.
Gara-gara dibawakan makanan enak, hubungan Zara dan Anton malam itu berlangsung damai. Zara akhirnya dapat tidur nyenyak bersama Zafran.
Satu malam terlewati. Zara kembali bekerja seperti hari-hari biasa. Kini dia asyik bergumul dengan kain pel di lantai tujuh. Zara melakukan pekerjaannya dengan tekun dan hati-hati. Ia juga tidak lupa menyapa karyawan yang berlalu lalang.
Sosok pria yang baru keluar dari lift, menarik perhatian Zara. Jantung gadis itu langsung bedegub tidak karuan. Gamal nampak berjalan kian mendekat.
Karena merasa ada di tempat umum, Zara bergegas menundukkan kepala. Dia mencoba bersikap normal.
Bertepatan saat Gamal melewatinya, Zara merasakan bokongnya dicengkeram kuat. Dia agak kaget dan reflek membulatkan mata. Lalu menengok ke segala arah. Memastikan tidak ada orang yang melihat tangan nakal Gamal beraksi.
Zara mendengus lega, tatkala tidak menemukan siapa-siapa di sekitar. "Dasar nakal," cibirnya seraya tersenyum miring. Dia kembali meneruskan pekerjaan.
Setengah jam berlalu. Zara sudah menyelesaikan tugasnya di lantai tujuh. Ia sedang di toilet. Sibuk mencuci tangannya dengan sabun.
Ponsel tiba-tiba bergetar. Zara segera memeriksa, seusai mengeringkan tangan dengan alat pengering.
'Ra, hari ini ke apartemen aku lagi ya.' Begitulah bunyi pesan yang didapatkan Zara dari Gamal. Dia perlahan mengulas senyuman simpul.
Selepas menyelesaikan semua tugas, Zara bergegas menjemput Zafran. Dia berniat menitipkan Zafran ke panti terlebih dahulu.
"Ra, kamu jangan terlalu sering ninggalin Zafran begini. Nggak baik kalau..."
"Bi... aku kan nggak setiap hari begini. Bibi nggak perlu khawatir," tutur Zara. Dia sengaja memotong ucapan Wida secara pelan. Selanjutnya, Zara segera beranjak pergi.
Wida mengamati kepergian Zara. Dia menghela nafas kasar. Berharap Zara tidak berbuat sesuatu yang salah.
Sebagai orang yang sangat mengenal Zara, Wida merasa ada sesuatu hal ganjil. Dia tahu bagaimana sikap Zara ketika melakukan hal yang tidak-tidak. Meskipun begitu, Wida berusaha keras untuk berpikir positif. Ia akan menjaga Zafran sebaik mungkin. Terutama dari Anton.
...***...
Zara dan Gamal saling bicara ditelepon. Kebetulan Gamal baru pulang dari kantor. Dia ingin pergi ke apartemen bersama Zara. Lelaki itu telah menunggu dengan mobilnya di depan gang menuju panti.
Baru masuk ke mobil, Zara langsung mendapat serangan ciuman dari Gamal. Pria tersebut seolah tidak bisa menahan lagi.
Zara tidak berkutik. Dia memejamkan mata dan menerima segala sentuhan Gamal. Deru nafas Gamal, memberikan hawa panas yang menghantam indera perasa Zara. Terasa nyaman dan candu.
"Ra... kita ke mall dulu ya. Ada sesuatu yang pengen aku beli..." ungkap Gamal yang masih asyik menenggelamkan wajah ke leher Zara.
"Oke..." sahut Zara lirih. Dia memegangi kepala Gamal sembari mendongakkan kepala.
Kemesraan tak terduga itu berselang hanya dalam sekian menit. Keduanya pergi saat merasa hari sudah cukup sore.
Setibanya di mall, Gamal dan Zara mengunjungi sebuah toko pakaian. Yang mana di sana hanya terdapat pakaian wanita.
"Kamu mau beli baju wanita? Atau mau beliin seseorang?" tanya Zara. Menatap Gamal dengan sudut matanya.
"Ya iyalah buat seseorang. Ngapain aku pakai baju wanita," tanggap Gamal sembari memperhatikan satu per satu pakaian yang terpajang.
Zara membiarkan Gamal memilih. Dia terpaksa ikut sibuk melihat-lihat. Hingga sebuah dress cantik berhasil membuatnya terpaku. Dress itu berwarna hitam dan memiliki motif bunga. Berbahan kain mahal serta dipakaikan di sebuah patung manekin. Jelas dress tersebut bukanlah pakaian biasa.
"Mbak, tolong ambilkan dress hitam itu!" perkataan Gamal membuat Zara terkejut.
"Mau beli dress itu?" Zara memastikan. Dia mengira Gamal membeli dress yang disukainya untuk Selia. Sebab Zara tahu betul posisinya di mata Gamal. Ia hanyalah wanita simpanan atas pelarian Gamal dari kejenuhan.
"Iya." Gamal menjawab singkat. Pramuniaga yang bertugas segera memberikan dress itu kepada Gamal.
"Nih cobain!" suruh Gamal sembari menyodorkan dress hitam untuk Zara.
"Kau nyuruh aku pakai? Ini pasti udah cocok buat calon binimu!" tukas Zara.
"Cepat pakai!" paksa Gamal. Dia mengabaikan kesimpulan Zara.
"Dasar gundul!" Zara mengambil dress yang disodorkan Gamal. Ia segera melenggang masuk ke ruang ganti.
Setelah memasang dress, Zara menatap ke arah cermin. Tersenyum saat melihat dirinya sendiri mengenakan dress tersebut. Sungguh, Zara sangat menyukainya.
Tanpa diduga, Gamal muncul dari belakang. Pupil mata Zara sontak membesar. Ia dapat melihat kedatangan Gamal melalui pantulan cermin.
"Kenapa tiba-tiba masuk coba? Aku nggak mau mesum di sini ya!" Zara sedikit memajukan bibir bawahnya.
Gamal tidak mengatakan apapun. Dia mengeluarkan sebuah kalung dari saku celana. Lalu memakaikan kalung itu ke leher Zara.
"Eh..." Zara terpelongo. Walaupun begitu, dia memilih pasrah. Wanita mana yang tidak suka dengan perhiasan? Apalagi dengan jenis kalung berlian yang indah.
Kini Zara terpana menatap Gamal. Jantungnya tak berhenti berdebaran. Dia tidak hanya merasa luluh, tetapi sudah nyaris mencapai tahap tergila-gila. Kenapa pria berambut cepak itu sangat mempesona? Wajar saja Zara tidak mampu menahan diri untuk tidak berselingkuh.
Zara berbalik menghadap Gamal. Dia langsung menarik kerah baju lelaki itu. Kemudian memberikan sebuah kecupan yang menggebu.
Gamal tentu tak menolak. Ia dengan senang hati membalas. Satu tangannya menekan tengkuk Zara. Sesekali dia dan Zara memiringkan kepala. Mereka berciuman cukup lama.
Di waktu tertentu, Gamal melepas tautan bibirnya dari mulut Zara. Ia berucap, "Ra, sebaiknya kita harus cepat-cepat pergi ke apartemen!"
Zara terkekeh. Dia mengusap wajah Gamal dengan telapak tangan. Kemudian memberikan pelukan erat.
Gamal tersenyum tipis. Entah kenapa dia merasa pelukan Zara begitu tulus. "Dress dan kalung itu untukmu ya. Supaya nggak lusuh-lusuh amat tampilanmu," cetusnya.
Zara sontak melepaskan pelukan. Dia justru menampar pelan pipi Gamal.
"Apa kau bilang? Lusuh?!" Zara memasang pose berkacak pinggang, sambil memasang pelototan. Namun Gamal malah memecahkan tawa.
"Nggak lucu, kampret!" raut wajah Zara seketika cemberut.
"Sekarang kamu udah kayak emak-emak kalau marah," komentar Gamal. Melanjutkan tawa gelinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Nacita
heeeeeee 🤣
2024-05-31
0
Bzaa
jangan sampe Anton liat, ntar malah dijadiin modal mabok2an
2023-06-25
0
Diah Elmawati
Duh Zara knp menyambung hubungan lagi? Apa tdk berbahaya
2023-03-24
0