...༻◐༺...
Raffi dan Elsa masuk ke restoran sambil bergandengan tangan. Sebagian besar orang langsung menyapa mereka.
"Kalian itu tambah tua bukannya makin keriput, tapi malah tambah bening coba. Nggak adil banget tahu nggak," sapa seorang lelaki berambut ikal. Namanya Royan. Merupakan teman satu kelas Raffi dan Gamal dulu.
"Nggak usah berlebihan kali!" Raffi yang gemas mengacak-acak rambut ikal Royan. Meskipun begitu, keduanya sama-sama terkekeh geli.
"Elsa! Sini!" teman-teman Elsa tiba-tiba memanggil. Mereka tidak lain adalah Ratna, Citra, dan Tari. Sahabat Elsa yang selalu menerima Elsa di berbagai keadaan.
"Aku izin ke sana dulu ya." Elsa berbisik ke telinga Raffi. Lalu bergabung bersama ketiga temannya.
Raffi lantas melanjutkan obrolannya bersama Royan. Beberapa teman lelaki yang lain juga mulai angkat bicara.
"Gamal mana? Bukannya dia baru balik dari luar negeri ya?" tanya Royan sembari celingak-celingukan ke segala penjuru.
"Katanya mau datang sih. Biar aku telepon dulu." Raffi mengambil ponsel dari saku celana. Ia segera menghubungi Gamal. Tidak perlu waktu lama untuk menunggu panggilan di angkat.
"Aku kayaknya nggak bisa datang deh." Seolah tahu akan ditanyai apa, Gamal langsung memberitahu.
Raffi berdecak kesal dan menjawab, "Astaga... nggak seru kalau nggak lengkap. Katanya reuni hari ini bakalan banyak yang datang loh. Makanya restoran yang disewa juga tempat berkelas."
"Gimana ya... aku ada janji sama Selia hari ini," sahut Gamal.
Raffi memutar bola mata jengah. Dia berjalan menjauh dari keramaian. Hingga sebuah ide terlintas dalam benak. Raffi menarik sudut bibirnya ke atas.
"Gila! Zara datang, Mal!" seru Raffi. Sengaja memanas-manasi Gamal.
"Apa?! Kau nggak bercanda kan?!" tanggap Gamal. Merasa tak percaya.
"Astaga, dia datang bareng cowok tampan, Mal! Biar Zara kerja jadi tukang bersih di perusahaanmu, tapi kayaknya hidup dia nggak seburuk itu deh." Raffi berusaha keras menahan tawa. Dia hanya ingin Gamal dapat menghadiri acara reuni.
"Sialan kau! Itu pasti bohong!" Gamal tidak percaya.
"Makanya cepat datang ke sini. Kalau perlu, ajak calon tunanganmu ikut. Biar nggak kalah telak sama Zara!" balas Raffi. Lalu segera mematikan panggilan telepon lebih dulu.
"Tapi--" Gamal tidak sempat bicara lagi. Dia hanya bisa menggertakkan gigi dengan kesal.
"Arrgghh!!" Gamal menghempaskan handphone ke sofa. Kemudian duduk sambil memegangi kepala.
Gamal memang ada janji dengan Selia. Gadis itu mengajaknya makan malam di rumah jam tujuh nanti.
Awalnya Gamal tidak peduli terhadap reuni yang diadakan. Sebab dia sudah beberapa kali hadir di tahun-tahun sebelumnya. Tetapi setelah mendengar kabar tentang Zara, Gamal jadi penasaran setengah mati.
'Siapa gerangan cowok yang bersama Zara? Apa dia pacarnya? Tapi bukannya selama ini Zara nggak pernah hadir di acara reuni?' segala pertanyaan muncul dalam benak Gamal.
Tanpa pikir panjang, Gamal langsung menghubungi Selia. Mengajak calon istrinya itu untuk ikut dengannya ke acara reuni.
"Sel, makan malamnya nanti aja ya. Aku lupa kalau hari ini ada acara reuni sekolah. Kita makan malam di sana aja ya," pungkas Gamal.
"Em... maaf ya, Mal. Aku tadi baru aja mau telepon kamu. Tiba-tiba ada rapat mendesak di kantor aku. Jadi kemungkinan aku nggak bisa ikut kamu," ungkap Selia yang terdengar seperti benar-benar menyesal.
"Begitu ya?" entah kenapa Gamal merasa kecewa. Bukan karena penolakan Selia. Melainkan karena dia tidak akan bisa memamerkan pasangannya kepada Zara.
"Sekali lagi maaf ya, Mal. Pokoknya di reuni selanjutnya aku akan ikut denganmu. Aku janji!" Selia berusaha menghibur Gamal.
"Ya udah, aku pergi sendiri aja kalau gitu." Pembicaraan Gamal dan Selia berakhir.
Kini Gamal menghela nafas panjang. Ia terpikir untuk tidak datang ke acara reuni. Tetapi di sisi lain, rasa penasarannya terus saja berkalut dalam pikiran. Segala hal tentang Zara benar-benar membuatnya menggila. Alhasil Gamal mengikuti kata hati terdalam. Yaitu memutuskan menghadiri acara reuni.
Sebelum pergi, Gamal tidak lupa memeriksa lokasi acara reuni diadakan. Dia agak kaget, kala mengetahui tempat reuni diadakan di restoran Angkasa Jaya.
'Bukannya Zara kerja di sana ya? Apa jangan-jangan restoran itu punya pacarnya?' batin Gamal menduga. Ia menggeleng untuk menyadarkan diri. Kemudian beranjak dengan menggunakan mobil. Gamal ingin lekas-lekas sampai agar bisa secepatnya melihat bukti nyata.
...***...
Ketika sudah tiba di restoran, kedatangan Gamal memberikan kehebohan yang tak terkira. Parahnya Gamal sengaja menikmati kehebohan tersebut. Sikap kelewat percaya dirinya tidak pernah berubah.
"Wooo!!!"
"Ketos kita datang, guys!"
"Ketos paling berandal emang dia!"
Berbagai seruan menyambut pendengaran Gamal. Dia justru melambaikan tangan kepada semua temannya yang menyapa. Gamal memang dikenal sebagai ketua osis yang nakal saat SMA. Meskipun begitu, cukup banyak murid yang menyukainya, karena dia selalu mentraktir makan di kantin. Reputasi Gamal sebagai orang yang tidak pelit tak pernah memudar.
Gamal langsung menghampiri Raffi. Dia juga terus sibuk menoleh ke sana kemari. Gamal tentu berusaha menemukan kehadiran Zara.
"Strategiku berhasil. Bwahahaha..." ujar Raffi yang di akhiri dengan gelak tawa. Ia tahu Gamal sedang mencari-cari keberadaan Zara.
"Setan emang kau, Raf! Nggak perlu sampai bohong segala kali!" Gamal melingkarkan tangan ke leher Raffi dengan kesal. Dia sekarang tahu, kalau kabar yang diberikan Raffi tadi hanya dusta belaka.
"Udah, nikmati aja reuni kita!" kata Raffi sembari perlahan menjauhkan tangan Gamal dari leher.
"Cie... Pak Diretur datang. Calon istrinya nggak dibawa?" tegur Elsa sambil berjalan kian mendekat. Dia segera berhenti ke sebelah Raffi. Mengaitkan tangannya ke lengan sang suami.
"Gila, El. Akhirnya mau juga datang ke reuni. Di kasih godaan apa sama Raffi? Pisang bangkok ya?" balas Gamal. Ia tergelak kecil.
"Ish! Masih aja omonganmu jorok ya." Raffi memukul punuk Gamal. Ia sangat paham maksud pembicaraan temannya mengarah kemana.
"Punya Raffi nggak bisa disebut pisang bangkok, Mal. Tapi pisang albino! Pffft..." Tanpa diduga Elsa malah ikut-ikutan bercanda bersama Gamal.
"Elsa..." panggil Raffi sambil memasang tatapan penuh ancaman. Walaupun begitu, di akhir dia ikut-ikutan tertawa bersama Gamal dan Elsa. Mereka segera bergabung dengan teman-teman yang lain. Memilih kursi kosong untuk diduduki.
Sementara di dapur, Zara baru selesai membantu rekan kerjanya. Kini dia disuruh untuk mengantar hidangan kepada semua tamu restoran.
Dengan senyuman lebar, Zara membawa nampan berisi minuman berbagai rasa. Ia berjalan pelan memasuki ruang utama.
Zara terlalu terfokus dengan nampan yang dibawa. Sehingga dia tidak menyadari kalau orang-orang di sekitar adalah kenalannya. Zara baru sadar ketika dia berhenti di sebuah meja. Tepat ketika seseorang mendadak menyerukan namanya.
"Zara? Kamu Zara kan?" seru gadis bernama Putri. Dia kebetulan duduk di dekat Zara sedang berdiri.
Deg!
Jantung Zara serasa disambar petir. Terutama ketika menyaksikan wajah-wajah yang tidak asing. Dari mulai, Raffi, Elsa, Royan, bahkan Gamal.
Zara kaget bukan kepalang. Dia sampai mematung dan tak bisa berkata-kata. Gelagat Zara sekarang seperti orang linglung yang tidak tahu harus berbuat apa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Nacita
iya zara hadir tp jd pelayan malllll 😌
2024-05-31
0
Bzaa
semoga mereka teman2 yg menerima semua keadaan
2023-06-25
0
Shinta
asa orang Sunda punuk...
2022-06-23
1