...༻◐༺...
Zara menikmati wedang jahe pemberian Gamal. Dia menyesapnya dengan hati-hati. Sambil terus memikirkan nama sosok yang terus mengganggu.
'Mungkin pas ketemu di lobi tadi Gamal tahu aku lagi pilek.' Benak Zara terus bertanya-tanya.
"Zara, hari ini katanya ada rapat. Kamu yang giliran bikin minuman kan?" tegur Endang. Namun Zara sama sekali tidak menanggapi.
"Zara!" panggil Endang sembari menepuk bahu Zara. Usahanya berhasil menyadarkan gadis itu dari lamunan.
"Eh maaf, Kak." Zara merasa tidak enak. Untung saja tadi dia sempat mendengar apa yang sedang dibicarakan Endang.
"Apa nggak apa-apa, aku bawain minuman dalam keadaan pilek begini? Kalau aku bersin gimana?" ujar Zara meragu.
"Pakai masker nih! Giliran tetap giliran. Kecuali kalau kau benar-benar sakit dan nggak bisa jalan," balas Endang. Dia memberikan sebuah masker kepada Zara. Endang memang dikenal tegas dalam hal pembagian tugas.
"Ish! Kak Endang sadis amat deh," komentar Susan yang merasa berempati kepada Zara.
"Ya udah kalau gitu. Rapatnya jam berapa?" tanya Zara.
"Sekitar jam sepuluh nanti," jawab Endang singkat.
"Kak Zara! Biar aku aja yang gantiin Kakak ya. Kakak lebih baik pulang ke rumah," usul Susan.
Zara dengan cepat menggeleng. "Nggak usah, San. Lagian ini cuman bikin minuman kok. Aku masih bisa," sahut Zara. Menolak dengan cara baik-baik.
"Benar. Ini kan cuman bikin minuman. Bagian pekerjaan yang lebih sederhana dibanding nyapu dan ngepel." Endang sependapat dengan Zara. Susan yang mendengar, lantas hanya bisa menggedikkan bahu.
Ketika waktu menunjukkan jam sepuluh, Zara telah menerima pesanan dari seorang karyawan. Dia diberitahu untuk membuatkan minuman berupa teh hangat.
Zara segera menyiapkan teh hangat. Dia pergi ke ruang rapat sambil membawa nampan berisi teko dan beberapa gelas.
Setibanya di ruang rapat, Zara tidak lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah dipersilahkan masuk, barulah dia membuka pintu.
Zara melangkah masuk ke ruang rapat. Atensinya langsung terfokus ke arah Gamal. Bagaimana tidak? Pria yang dia kenal bodoh saat SMA, kini terlihat sangat cerdas menjelaskan presentasi tentang bisnis.
Gamal begitu lancar menjelaskan strategi yang berkaitan dengan bangunan properti. Dia juga tidak lupa menyebut perihal investasi dan beberapa istilah yang tak diketahui Zara.
"Eh, Mbak Zara!" tegur Fani. Salah satu karyawan yang duduk tidak begitu jauh dari posisi Zara berdiri.
Zara sekali lagi termangu. Dia selalu saja lupa diri jika jatuh dalam pesona Gamal.
Panggilan Fani yang terus terdengar, justru membuat Gamal menghentikan presentasi. Kini dia menyadari kehadiran Zara. Gamal reflek menatap ke arah gadis tersebut. Akibat tatapan yang diberikannya, Zara langsung tersadar dari keterpakuan.
Zara bergegas menuang teh ke gelas satu per satu. Lalu membagikannya kepada semua orang. Termasuk Gamal.
Tidak berani menatap. Itulah yang dilakukan Zara saat berada di dekat Gamal. Entah kenapa dirinya lebih mengutamakan gengsi, dibanding perasaan yang sedang menggebu-gebu.
Berbeda dengan Gamal, dia cenderung blak-blakan dalam hal memandangi Zara. Seolah banyak sekali hal yang ingin Gamal bicarakan kepada gadis itu.
"Kita lebih baik minum dahulu. Silahkan!" titah Gamal sembari menarik kursinya. Kemudian langsung menduduki kursi tersebut. Dia dan yang lain memutuskan menyesap teh hangat buatan Zara.
...***...
Zara menunggu Zafran sambil menggedikkan salah satu kaki. Tepat di samping tukang jual mainan keliling.
"Bunda!" pekik Zafran. Memanggil dengan histeris. Dia melambaikan tangan sambil berlari menghampiri sang ibu.
Zara tertawa bahagia, tatkala Zafran masuk ke dalam pelukan. Keduanya segera beranjak pulang bersama.
Di perjalanan pulang, Zafran tiba-tiba ingin singgah ke kedai es krim. Kali ini Zara tidak menolak sama sekali. Sebab harga es krim lebih terjangkau dibandingkan sebuah mainan.
Selepas memesan es krim, Zara dan Zafran hanya perlu menunggu. Tanpa diduga sepasang ibu dan anak yang lain datang.
"Pesan es krim stroberi sama vanilanya ya, Mas!" pesan seseorang yang tidak lain adalah Elsa. Zara yang merasa tidak asing dengan suaranya, langsung menoleh.
"Zara?" bertepatan dengan penolehan Zara, Elsa balas menatap. Sehingga dirinya langsung mengenali.
"Elsa!" balas Zara. Kali ini dia tidak bisa menghindar seperti sebelum-sebelumnya.
Elsa tersenyum haru. Lalu segera memeluk Zara dengan perasaan tulus.
"Sumpah, Ra. Aku kangen banget. Kamu kemana aja selama beberapa tahun ini?" tanya Elsa.
"Aku masih di kota ini kok. Cuman sibuk urus anak aja," jawab Zara yang perlahan melepas pelukan singkatnya dengan Elsa.
"Oh, jadi ini anak kamu?" Elsa memastikan sambil menunjuk Zafran.
"Iya, El." Zara ikut-ikutan mengalihkan pandangan ke arah anak Elsa. "Anak kamu cantik banget," pujinya seraya terus memperhatikan Ramanda. Buah hati Elsa dan Raffi.
"Anak kamu nggak kalah cakep." Elsa balas memuji. Dia dan Zara segera melanjutkan obrolan. Keduanya memilih mengunjungi taman terdekat. Duduk bersebelahan di sebuah bangku panjang. Mengamati Zafran dan Ramanda yang terlihat mulai saling berteman.
"Aku nggak tahu kenapa ya. Tapi wajah Zafran mirip banget sama Gamal," ujar Elsa. Membuat Zara otomatis merasa tertangkap basah.
Zara tertawa hambar sembari melambaikan tangan ke depan wajah. Dia berucap, "Jangan aneh-aneh deh."
Elsa tergelak kecil. "Kamu bikinnya nggak sambil mikirin Gamal kan?" candanya yang lanjut tertawa.
"Ya enggaklah. Apaan sih, El!" tepis Zara. Dia berusaha tenang atas segala praduga Elsa.
"Ngomong-ngomong, kamu dan Gamal kenapa bisa putus sih? Kamu tahu nggak? Pas ditinggalin sama kamu, Gamal sempat stress gitu. Dia cari kamu kemana-mana," ungkap Elsa.
"Aku tiba-tiba merasa nggak nyaman aja sama Gamal." Zara memberikan alasan secara asal. Elsa bahkan tak mengerti.
"Mungkin aku sama Gamal emang nggak jodoh. Aku udah punya suami sekarang loh, El. Jangan bikin aku baper sama mantan lagi dong." Zara menyenggol Elsa dengan siku. Mencoba merubah topik pembicaraan.
"Hahaha! Bener juga. Sorry, Ra." Usaha Zara sukses membuat Elsa tertawa. Keduanya terus bercerita. Mereka juga tidak lupa untuk saling bertukar nomor telepon.
Sekarang Zara memilih untuk terbuka. Ia tahu dirinya tidak bisa lari selamanya. Cepat atau lambat, Zara pasti akan mengalami pertemuan tak terduga yang berkaitan dengan masa lalu.
Zara terdiam mendengarkan cerita Elsa. Temannya itu mengatakan kalau Raffi sekarang sudah menjadi dokter bedah. Sementara Elsa sendiri berhasil menjadi juru masak di sebuah restoran yang baru saja di rintis.
"Aku nggak nyangka, orang tuanya Raffi baik banget, Ra. Aku merasa punya orang tua baru lagi," kata Elsa. Kebetulan dia juga anak yatim piatu seperti Zara. Jadi Elsa merasa sangat bahagia ketika menemukan ada orang tua yang begitu memperdulikannya.
"Kamu pantas kok mendapatkan itu semua. Aku juga pantas menerima yang aku dapatkan sekarang," tanggap Zara sembari mengembangkan senyuman kecut.
"Jangan ngomong gitu, Ra! Roda itu terus berputar. Ada masanya seseorang berada di atas atau di bawah." Elsa tidak mau Zara merasa gundah.
"Semua benar kok, El. Mungkin yang aku dapatkan sekarang adalah karma. Karena pas waktu muda aku nakalnya kebangetan," sahut Zara. Dia mengambil nafas dalam-dalam.
"Udah ah! Aku nggak mau ngomong begituan lagi." Lidah Elsa berdecak kesal. Dia tidak mau membuat Zara sedih. Selanjutnya, Elsa dan Zara segera ikut bergabung bersama anak mereka. Nostalgia dan pertemuan mereka berakhir kala hari sudah menanjak sore.
Sambil menuntun Zafran berjalan, Zara memikirkan segala pembicaraannya tadi dengan Elsa. Sungguh, dia sangat iri terhadap kehidupan Elsa yang begitu beruntung. Bisa menikahi lelaki yang dicintainya, disukai mertua, dan hidup nyaman dengan harta yang melimpah.
'Kapan ya aku bisa begitu...' batin Zara. Dia terlalu banyak melamun hari ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Bzaa
sabar Zara, seperti kata Elza, dunia terus berputar, kadang di atas dan kadang di bawah..
2023-06-25
0
TK
semoga bisa lebih panjang 😁😁✌️
2022-06-08
0
penahitam (HIATUS)
Kazian banget zara. Tapi aku yakin kok, nanti zara juga bakal bahagiaaaa.
Zafran kalo gede pacalannya sama ramanda ajah yaaa, biar onty yang jadi makcomblang 😂😂
2022-06-02
1