...༻◐༺...
Keesokan harinya, Zara dan Zafran pergi dari rumah pagi-pagi sekali. Mereka sengaja meninggalkan Anton yang masih tertidur pulas.
Raut wajah Zara tampak bertekad. Dia akan menuruti kata hatinya yang terdalam. Yaitu kembali dalam pelukan Gamal.
Zara terlalu lelah. Dia benar-benar membutuhkan kebahagiaan walau hanya sesaat. Kebetulan hari ini, Zara kena giliran membersihkan toilet di kantor Gamal. Ia berencana memanfaatkan peluangnya sebaik mungkin.
Di sisi lain, Gamal baru saja masuk ke kantornya. Dia langsung mendapatkan telepon dari Selia. Tanpa pikir panjang, pria itu segera mengangkat panggilan.
"Halo, Sel. Kenapa?" sambut Gamal.
"Nggak apa-apa. Aku cuman mau pastiin sesuatu. Ini mengenai hubungan kita," ungkap Selia dari seberang telepon.
"Iya, nggak ada masalah kan?"
"Nggak kok. Aku cuman mau tanya, kamu udah merasa nyaman nggak pas sama aku? Aku takut kalau perasaanku sekarang tidak sama denganmu," tutur Selia pelan.
Gamal terdiam. Pikirannya masih sempat-sempatnya memikirkan Zara. Merasa yakin hubungannya tidak akan berlanjut dengan Zara, Gamal lantas berucap, "Nyaman kok. Banget malah! Siapa bilang yang enggak? Kamu tuh cewek yang ngangenin banget."
"Pffft... dasar! Malah gombal lagi." Selia menanggapi dengan malu-malu. Dia dan Gamal saling terkekeh dalam sesaat.
"Syukur deh, kalau kita udah saling merasa nyaman. Sampai ketemu nanti malam ya..." lanjut Selia. Mengakhiri panggilan lebih dulu.
Gamal segera meletakkan ponsel ke atas meja. Dia mengingat jadwal makan malamnya nanti. Kebetulan keluarganya dan keluarga Selia juga akan ikut. Gamal yakin, pasti ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakan. Terkait hubungan Gamal dan Selia selanjutnya.
Ceklek!
Pintu tiba-tiba terbuka. Zara datang sambil membawa peralatan kebersihan. Dia meletakkan benda-benda tersebut ke pinggir terlebih dahulu. Kemudian berderap ke hadapan Gamal.
"Kenapa?" tanya Gamal dengan dahi yang berkerut. Dagunya terangkat satu kali.
Bukannya menjawab, Zara justru berjalan semakin mendekat. Membuat jantung Gamal berdebar tidak karuan.
"Ra? Kamu..." Perkataan Gamal terjeda, saat Zara tiba-tiba memberikan kecupan singkat di bibir.
Mata Gamal sontak membulat sempurna. 'Gila! Cewek ini sejak dulu memang gila!' batinnya, merasa tak percaya.
"Mal, tentang yang kamu bilang kemarin. Aku sebenarnya--"
"Nanti aja, Ra!" potong Gamal sengaja. Dia malah menyambar bibir Zara dengan ganas. Untung saja tirai krey di kantor Gamal dalam keadaan tertutup.
Zara terpojok ke dinding. Sentuhan kecil yang diberikannya tadi, seolah membangunkan singa yang sedang kelaparan. Gamal langsung meliar begitu saja. Menarik helaian rambut Zara, lalu melumaat mulut gadis itu dengan lihai. Tangan nakalnya menyentuh setiap jengkal titik tubuh sensitif Zara.
Sama seperti Gamal. Zara tidak kuasa menahan gairah yang terlanjur membara. Mulutnya dan Gamal merekat kuat. Sesekali menimbulkan suara kecup-mengecup yang memecah keheningan di ruangan.
Nafas kian memburu. Gamal dan Zara telah larut dalam sentuhan rindu yang candu. Parahnya mereka sama-sama menginginkan sentuhan lebih dari sekedar ciuman.
"Mmph..." Zara mulai melenguh. Sudah lama dia tidak merasakan sentuhan senikmat surga. Selama tujuh tahun terakhir, dirinya hanya bisa merasakan sentuhan Anton yang terasa seperti neraka. Sakit, itulah definisi yang selalu terlintas ketika Zara bercumbu dengan Anton. Sekarang sentuhan Gamal merubah segalanya dalam sekejap.
Gamal melepas tautan bibirnya dari mulut Zara. Kini dia menenggelamkan wajah ke ceruk leher Zara. Asyik bermain mulut di sana.
Zara hanya bisa mendongakkan kepala. Matanya memejam rapat sambil terus mengangakan mulut. Ia mencengkeram kemeja Gamal sekuat tenaga.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu mendadak terdengar. Gamal dan Zara langsung menghentikan kegiatan intim mereka. Keduanya bergegas merapikan pakaian yang sedikit acak-acakan.
Zara lekas-lekas mengambil peralatan kebersihan. Lalu membawanya masuk ke dalam toilet. Dia dan Gamal bersikap seakan tidak terjadi apa-apa.
"Ekhem... Masuklah!" titah Gamal. Selepas membersihkan tenggorokan dengan berdehem satu kali.
Elena muncul dari balik pintu. Dia memberitahukan kabar baik mengenai perusahaan. Yaitu adanya persetujuan perusahaan lain untuk bekerjasama.
Informasi tersebut tentu membuat Gamal senang. Dia menyuruh Elena dan yang lain agar bersiap melakukan pertemuan.
"Baiklak, Bos! Aku akan memberitahukan yang lain." Elena sangat bersemangat. Dia memberikan gerakan hormat kepada Gamal. Selanjutnya, barulah Elena keluar dari ruangan.
Gamal berniat menunggu Zara terlebih dahulu. Perhatiannya tidak teralihkan dari pintu toilet.
Selang sekian menit, Zara akhirnya selesai membersihkan toilet. Tatapannya langsung tertuju ke arah Gamal. Apa yang sempat dia lakukan dengan Gamal tadi, teringat jelas dalam memori.
"Ra! Aku minta nomormu. Aku mau kasih tahu sesuatu." Gamal menyodorkan ponselnya.
Zara mengangguk pelan. Dia segera memasukkan nomornya ke kontak pribadi Gamal. Perpisahan keduanya tidak menyiratkan satu kata pun. Mereka hanya bicara melalui mata. Tatapan penuh arti yang hanya dapat dipahami oleh Gamal dan Zara sendiri.
...***...
Zara berhasil menjemput Zafran lebih dulu dibanding Anton. Ia sekarang tidak berniat kembali ke rumah. Zara memutuskan pergi ke panti asuhan saja.
Drrrt...
Drrrt...
Ponsel Zara bergetar. Pertanda kalau sebuah pesan baru saja masuk. Tanpa basa-basi, Zara langsung membaca pesan tersebut.
...'Apartemen Kristal Jaya No. 125. #Gamal.'...
Deg!
Jantung Zara berdebam keras. Tepat saat melihat ada nama Gamal di akhir pesan. Hanya dengan sebuah alamat, Zara paham maksud Gamal. Kini pilihan ada di tangan Zara.
Jika ingin lanjut, maka Zara hanya tinggal mendatangi alamat yang diberikan Gamal. Tetapi bila tidak, Zara sebaiknya mengabaikan pesan dari Gamal.
Zara tidak membutuhkan waktu untuk berpikir. Perasaan yang sedang menggebu, membuatnya ingin lekas-lekas pergi.
Demi menyempurnakan penampilan, Zara mengenakan dress motif bunga simpanannya dahulu. Kebetulan Zara masih meninggalkan banyak pakaian di panti asuhan.
"Bi, aku nitip Zafran dulu ya. Ada panggilan kerja mendadak nih," kilah Zara seraya melambaikan tangan ke arah Zafran. Putranya itu tengah sibuk bermain dengan anak-anak panti.
"Ya udah, hati-hati di jalan." Wida menepuk pelan pundak Zara. Membiarkan Zara beranjak pergi.
Zara melajukan pergerakan kakinya. Entah kenapa dia ingin cepat-cepat sampai ke alamat yang dituju. Dia berlagak seolah hasratnya tidak tertahankan lagi.
Di saat begitu, Zara hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia yang merasa hidupnya menderita, berusaha mengejar kebahagiaan sebisa mungkin. Memang begitulah manusia, mereka akan bersikap egois bila sudah mendapatkan apa yang di inginkan.
Hanya perlu memerlukan waktu sepuluh menit, Zara tiba di apartemen Kristal Jaya. Dia langsung berlari menuju lantai apartemen Gamal berada.
Sekarang Zara berdiri di depan pintu bernomor 125. Sebelum memencet bel, Zara merapikan rambut dan pakaian. Ia juga tidak lupa memoles bibir dengan lipstik tipis semerah buah cherry.
Kala merasa siap, Zara segera memencet bel satu kali. Tanpa disangka, Gamal langsung membukakan pintu. Sepertinya pria itu telah lama menanti kedatangan Zara. Matanya berbinar-binar tatkala melihat kedatangan sosok yang ditunggu-tunggu.
Gamal memberikan Zara jalan untuk masuk. Keduanya sekali lagi tidak bicara. Mereka terus bicara melalui tatapan mata. Pertukaran pandang Gamal dan Zara tidak terputus sejak saling berhadapan.
Perlahan Gamal menutup pintu. Saat itulah pintu terkunci secara otomatis.
Gamal menarik Zara mendekat. Keduanya segera meneruskan aktifitas intim yang sempat terhambat tadi siang.
Gamal menyudutkan Zara ke tembok. Ia memagut bibir Zara dengan penuh semangat. Sedangkan tangannya sibuk memegang erat kedua lengan wanita pujaannya tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Nacita
lgsg saja ya d booking 🤣
2024-05-31
0
Nacita
tapi kamu suka kannnn 🤣
2024-05-31
0
Nacita
zara mode jalang on 🤣
2024-05-31
0