Aku duduk di kursi panjang depan rumah setelah mandi junub, terus terang tadi ketika mandi pikiran tidak kemana-mana sehingga rasa takut itu tidak nampak sama sekali.
“Sore gini biasanya Mamad sudah menyalakan lampu petromak, sakjane jam piro se iki, kok koyone sudah mulai gelap” gerutuku ketika cahaya matahari sudah semakin gelap
“Ealah tibake sudah hampir jam 18.00, mangkane kok kelihatannya gelap sekali, nek gitu ya tak nyalakan saja lampu petromaknya”
Malam hari mulai datang, suara binatang malam mulai bersahutan, keadaan malam ini sungguh berbeda jauh dengan ketika ada matahari.
Pagar depan sudah aku gembok, pintu ruang tamu dan pintu belakang juga sudah aku kunci dengan menggunakan slot saja.
Pada awalnya tidak ada pikiran apapun, hanya duduk santai di ruang tamu dan membayangkan enaknya apa yang kulakukan di pinggir sungai.
Aku duduk sendirian di ruang tamu yang memperlihatkan benda-benda lawas yang entah ada disini sejak kapan.
Kupandangi terus apa yang ada di dalam rumah ini. Semakin lama kupandangi meja kursi bufet lawas semakin timbul rasa khawatir di dalam diri.
Pikiranku yang awalnya normal perlahan-lahan dari khawatir sekarang semakin mengerucut pada rasa ketakutan. aku melongok ke arah dapur yang terang benderang, tidak ada apapun di dapur, aman
Mataku kemudian beralih ke bufet ruang tamu, bufet radio dan semua yang ada di ruangan ini makin lama makin menakutkan!
“Ya Allah…. kenapa aku semakin takut, tolong beri aku keberanian ya Allah dan jauhkan lah dari apapun yang menggangguku” gumamku
Pikiranku yang awalnya biasa saja semakin detik semakin menjadi jadi, makin lama aku tidak bisa berpikir jernih, lalu apa yang harus kulakukan?
Aku terdiam di ruang tamu, telingaku perlahan-lahan berdengung dan semakin bisa mendengarkan suatu suara yang halus sekalipun, suara binatang atau belalang diluar yang bersuara keras serta suara kodok atau apapun yang aneh mulai bisa kudengar.
Bahkan suara desisan lampu petromak rasanya seperti suara mesin diesel yang berbunyi pelan.
“APAAAA!, ada suara mesin diesel yang menyala dengan suara pelan!”
Pelan-pelan kutamatkan suara yang berdesing sangat pelan, memang betul itu adalah suara mesin. kutajam kan lagi telingaku ternyata suara itu tidak ada, yang terdengar adalah suara desisan minyak tanah untuk menyalakan lampu petromak.
“Alhamdulillah ternyata aku salah dengar karena ketakutan, ternyata yang ku dengar adalah suara gas petromak saja” sambil kulihat lampu petromak yang ada didekatku
“Tapi masak iya sih suara gas petromak seperti itu?” rasa penasaran mulai merasuki ku
“Tidak… tadi itu telingaku salah dengar karena dipengaruhi oleh suara desisan minyak tanah yang menyembur untuk menyalakan lampu Petromak”
Malam semakin larut detik demi detik waktu terasa lama sekali, saat ini baru pukul 20.00, masih lama sekali waktu menuju pagi hari.
Aku berdiri dari posisi duduk, tapi aku ndak tau mau ke mana karena rumah ini kecil sekali, hanya ada kamarku, kamar Mamad, ruang tamu kecil, dapur, dan kamar mandi, lalu aku mau kemana dengan posisi yang berdiri ini.
Aku duduk lagi di ruang tamu, tapi posisi duduk saat ini membelakangi bufet dan menghadap ke jendela luar yang menampilkan suasana gelapnya hutan.
Parahnya lagi aku selalu memperhatikan apabila ada sesuatu yang aneh di hutan depan rumah, aku selalu memperhatikan apabila ada daun yang terlihat goyang atau apabila ada gerakan binatang malam atau adanya sesuatu yang sedang melayang di luar.
Kenapa aku selalu melihat keluar, sepertinya kepalaku dipaksa untuk melihat keluar. Padahal tidak ada yang menarik di luar sana selain kegelapan hutan.
“Tapi apa itu!.... sepertinya tadi aku lihat bayangan yang bergerak di antara pepohonan"
Ah mungkin hanya ilusi ku saja. lebih baik tidur saja, agar tidak melihat hal-hal yang aneh diluar sana
Aku berdiri, kemudian berjalan menuju ke kamar, kubiarkan ruang depan ini terang benderang dengan dua petromak yang menyala.
Sebenarnya ada keinginan untuk buang air kecil, tapi kuurungkan karena mengingat keadaan kamar mandi yang cukup menyeramkan.
Kubuka pintu kamar depan, tapi sengaja pintu kamar tidak ditutup rapat, agar sinar lampu petromak bisa masuk ke dalam kamar yang hanya menggunakan lampu teplok saja.
Kemudian kurebahkan tubuh ke tempat tidur, aku paksa mata untuk menutup tapi rasanya ada yang memaksaku untuk tidak menutup mataku.
Sangat gelisah di atas tempat tidur, kadang membelakangi pintu, kemudian terlentang, kemudian menghadap ke pintu yang tidak ditutup rapat.
Ndak tau kenapa mata ini selalu tertuju ke arah pintu yang agak terbuka dengan sinar lampu petromak masuk ke dalam kamar, Ndak tau kenapa aku merasa aneh dengan pantulan cahaya yang masuk ke kamar.
Tiba-tiba aku kaget ketika ada suatu kelebatan yang sempat menghalangi sinar petromak yang masuk ke kamar. Seperti sesuatu yang jalan dan sempat menghalangi sinar lampu masuk ke dalam kamar meskipun sekelebatan.
“Jangkrek!... sopo iku yang jalan dari pintu depan mengarah ke belakang!” aku terduduk di pinggir tempat tidur
Tidak ada siapapun di ruang tamu, tidak ada orang lain selain aku yang ada di kamar, tidak ada kucing atau apapun yang ada di dalam rumah ini, jadi harusnya tidak ada yang lewat di depan pintu sana.
Aku duduk di tepi tempat tidur hingga beberapa saat, ya hanya bisa duduk, apa yang harus kulakukan kalau tidak duduk di sini, apakah aku harus keluar untuk lihat siapa yang ada disana? tentu saja tidak akan kulakukan.
Setelah beberapa saat tidak ada lagi sekelebatan bayangan, kuputuskan untuk merebahkan diri lagi, kini aku menatap langit-langit kamar gelap dan samar hingga beberapa saat mata ini sudah mulai ngantuk.
*****
SREK….SREK…SREK…SREK…
Mataku terbuka lebar ketika mendengar suara aneh luar rumah tepat di sebelah kamarku..
Ku toleh ke arah pintu kamar, ternyata ruang tamu sudah gelap gulita, yang ada sekarang hanya lampu minyak kecil yang ada di kamarku. Sedangkan pintu kamarku masih terbuka sedikit seperti sebelumnya.
“Suara seperti orang yang sedang menyapu, sudah hampir tengah malam ini, siapa yang sedang nyapu di luar rumah iki?”
Pikiran buruk mulai muncul lagi, keadaan ruang tamu yang gelap ditambah suara seperti orang yang sedang menyapu membuat aku tidak bisa berpikir jernih.
“Tidak….itu pasti suara binatang malam yang sedang menggali-gali tanah untuk mencari sesuatu, itu bukan suara orang yang sedang menyapu” aku berbicara pada diriku sendiri agar pikiran buruk ku hilang
Suara itu perlahan lahan pindah ke arah samping kamar Mamad, mirip dengan suara orang yang sedang menyapu kalau area yang di sapu sudah bersih pasti dia akan pindah ke area yang masih kotor.
Kutajamkan telingaku untuk berusaha mendengar suara sesuatu yang seperti orang yang sedang menyapu itu.
Tetapi ada sesuatu yang mengganggu pendengaranku saat ini. Aku sayup-sayup mendengar suara seperti langkah kaki, seperti orang yang sedang jalan meskipun suara itu samar dan pelan sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
novita setya
nek q wes kukutan balek gaseek
2023-08-17
0
Hanny
mendebarkannnnnnn thor
2023-04-12
0
Widodo Wilujeng
si mamad nyicil nyapu... karena besok gak kembali lagi hihihi
2022-11-01
0