“Mun..mundur pe..pelan-pelan m..mas”
Aku tidak tahu bagaimana rupa pak Karyo, karena aku juga baru dua hari disini dan dua hari itu penuh dengan aneka peristiwa yang tidak pernah aku duga.
Ditambah lagi peristiwa kematian pak Karyo yang merupakan salah satu dari orang yang kerja di penggergajian ini.
Pelan-palen kuberanikan diri lagi untuk melihat lebih fokus pada apa yang ada di depan ujung jembatan sana, setelah aku menunduk karena kaget melihat sesuatu yang janggal.
Di gelapnya malam ternyata di ujung jembatan ada sosok yang sedang berdiri, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena keadaan yang sangat gelap, dan hanya ada sinar bulan saja.
Tetapi yang pasti wajah orang yang bernama pak Karyo itu putih pucat dan, hanya wajah putih pucat saja yang begitu jelas terlihat oleh ku.
Pelan-pelan aku mundur diikuti oleh Mamad, sosok yang ada di ujung jembatan itu sepertinya sedang memandang kami.
Sosok itu memakai sepertinya memakai pakaian lusuh untuk bekerja di pemotongan kayu, sosok yang tidak begitu jelas wajahnya itu hanya berdiri saja di ujung jembatan tanpa berjalan ke arah kami sama sekali.
“Jangan dilihat mas, menunduk saja dan terus mundur saja. kaki saya gemetar sekali mas”
“Tenang Mad, tapi jalan di jembatan ini kan tidak bisa cepat, cukup bahaya juga karena ada lubang-lubangnya”
Kami terus jalan pelan, selama mundur kebelakang sudah berapa surat pendek Al quran yang aku gumamkan, termasuk ayat kursi juga.
Aku hanya berani melihat ke bagian belakang jembatan saja agar tidak terperosok ke dalam sungai yang juga tidak terlihat airnya karena gelap.
Kami hanya mempunya obor sebagai penerangan saja, dari obor ini aku bisa melihat keadaan jembatan yang sedang kami lalui.
“Sebentar lagi kita akan sampai Mad, pelan-pelan saja jalannya, karena jembatan ini tidak semulus yang kita rasakan”
Akhirnya kaki kiriku menginjak rumput, yang berarti kami sudah ada di sisi jalan setapak, Mamad pun juga sudah ada di sisi jalan setapak bersamaku. Kemudian kuberanikan diri untuk melihat ke ujung jembatan lagi.
“Sosok itu sudah tidak ada disana Mad, dia hilang, apakah orang yang meninggal disini itu biasanya selalu gentayangan gini Mad?”
“Haduuh…. baru ini saya lihat hantu yang seperti nyata mas, baru ini saya merasa ketakutan sekali”
“Iya penampakan pak Karyo sudah tidak ada disana mas, apakah ini tanda kalau kita dilarang ke rumahnya untuk ikut tahlilan mas?”
“Menurut saya Mad, kita harus tetap ke sana, karena kita ini adalah atasan mereka dan juga almarhum pak Karyo jangan sampai karyawan kita merasa kita ini sombong Mad”
“Lha mas Agus apa sudah siap jalan ke sana mas, kalau mas Agus siap ya ayo mas, tapi mas Agus yang di depan”
Mamad yang mungkin masih ketakutan dengan sosok ghaib yang menyerupai pak Karyo yang biasanya kerja di penggergajian kami.
Akhirnya aku beranikan diri lagi untuk menyeberangi jembatan yang selalu berbunyi krieet krieeet apabila terinjak kaki.
Kupijakan kakiku perlahan-lahan di jembatan yang mungkin juga umurnya sudah tua ini, kami berjalan perlahan lahan hingga akhirnya kami selamat sampai di ujung jembatan tanpa ada penampakan hantu pak Karyo lagi.
Kami lanjutan berjalan kaki menyusuri pinggir sungai yang keadaanya gelap gulita, kami hanya mengandalkan nyala obor yang kami bawa saja.
Perlahan-lahan lampu-lampu yang berasal dari nyala petromak sudah terlihat dari tempat kami berjalan, berarti dusun tempat tujuan kami sudah dekat
“Ayo agak cepat Mad, takutnya acara tahlilan nya sudah selesai”
“Iya mas, ini juga kita lagi jalan cepat mas, huf huf huf”
Akhirnya kami pun masuk ke dusun dan langsung menuju ke rumah almarhum pak Karyo. Terdengar dari sini lantunan surah yasin yang sedang dibawakan oleh orang-orang yang ada disana, berarti acara sedang berlangsung.
Akhirnya kami tiba juga di depan rumah, rumah yang sekarang dalam keadaan ramai dengan orang-orang yang sedang duduk bersila di dalam, tetapi ada juga yang di luar rumah dengan menggunakan tikar sebagai alas duduk.
Setelah mengucapkan salam, kami duduk bersila di luar dan mengambil dua buku yasin yang tergeletak di tas kain yang ada di depan kami.
“Untung acaranya belum selesai Mad”
“Ssstt diam mas, daripada orang-orang disini tersinggung karena kita terlambat dan kita
berisik juga”
Disaat aku sedang diam dan membaca surah Yasin. tiba-tiba hidungku mencium aroma kemenyan. bau kemenyan yang hanya sebentar dan kemudian hilang.
Aku menoleh ke arah Mamad yang sedang membaca surah Yasin, tetapi Mamad diam dan tidak bereaksi. Apakah hanya aku yang mencium bau kemenyan ini?
Kami berdua ikut khusyuk di acara tahlilan hingga selesai, biasanya selesai itu akan ada sedikit sajian makanan bagi yang ikut tahlilan.
“Wah kok baru datang mas Mamad dan pak Agus?” tanya bapak-bapak yang biasa kerja di tempat kami setelah selesai, dan sekarang sedang menikmati makanan yang disediakan oleh pemilik rumah
“Tadi di jembatan kami ada masalah pak Dar, jadi kami harus tunggu beberapa saat dulu hingga keadaan aman dan kami lanjutkan perjalanan kesini” kata Mamad
“Enten nopo mas Mad” tanya orang yang ternyata dipanggil pak Dar oleh Mamad itu
“Ada penampakan di ujung jembatan pak Dar”
“Hmmm apa yang disana itu almarhum mbah Karyo?” tebak pak Dar yang membuat aku kaget
“I..Iya pak Dar..i..itu pak Karyo yang ada di ujung jembatan pak”
“Hmmm kenapa mbah Kryo belum ikhlas pergi dari dunia ini, mmm apa ada sesuatu ya” gumamnya
“Ndak papa mas, kalau seumpama mbah Karyo muncul lagi ya disapa saja, kasihan beliau, berarti beliau belum ikhlas meninggalkan dunia ini mas”
Pak Dar sambil menyeruput kopi hitam yang disediakan oleh keluarga pak Karyo, dengan wajah yang tegang.
“Nuwun sewu pak, saya mau tanya. Eh pak Karyo sedanipun kenapa ya pak?” tanyaku kepada pak Dar
“Huff kasian mbah Karyo, dia terpeleset ke sungai ketika akan buang air, kemudian tenggelam dan mayatnya ditemukan di situ , di bawah jembatan itu pak Agus”
“Sungai itu apa dalam pak Dar?” aku penasaran dengan sungai yang kita lewati tadi itu
“Iya pak Agus, dalam sungai itu mungkin sekitar dua meter an pak, apalagi kalau sedang banjir”
“Tapi maaf pak Dar, kemarin saya kan cerita kalau kemarin malam saya melihat ada makam di tengah hutan yang menuju ke rumah penggergajian, kenapa beberapa orang disini kemudian menghindari saya pak”
“Pak Agus melihat makam yang ada gapuranya itu, yang ada di tengah hutan?” tanya pak Dar dengan wajah yang kaget
“Siapapun orang yang tinggal didaerah ini, apabila melihat makam itu dan melihat rombongan obor yang menuju ke makam berarti akan ada orang yang disekitar pak Agus yang akan mati”
“Dan penduduk sini sangat mempercayainya, sehingga mereka tidak akan berani berjalan ke arah hutan itu malam hari. Penduduk sini takut kalau tiba-tiba melihat makam ghaib itu, dan akibatnya ada saja yang meninggal”
“Oh begitu ya pak Dar, tapi apa yang harus saya perbuat pak?”
“Pak Agus kan orang kota, ya tidak perlu mempercayai cerita rakyat di sini, yang penting banyak berdoa dan tidak lupa ibadah, karena pak Agus ada di tempat yang bukan asal dari pak Agus”
Selesai pak Dar bicara, kemudian acara tahlilan untuk malam ini pun selesai, beberapa warga ada yang melekan di depan rumah almarhum dan beberapa warga pulang termasuk aku dan Mamad.
“Mas Agus, kita disini dulu saja sebentar mas, nanti sekitar pukul `22.00 kita pulang mas, saya nggak enak tinggal rumah lama-lama, Disini Pun tidak enak kalau kita buru-buru pulang mas”
“Iya Mad, kita disini dulu saja Mad
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
novita setya
nek lungone barengan ngko mesin grajine dimaling uwong😊
2023-08-17
0
Inna Asmiati
sambil deg2 seeerrr bacanya, ngeri2 sedap. apalgi bc nya mlm hari kerasa banget horornya 😟😟😟
2022-12-30
0
Dharris Tio
bisa jadi itu cuman akal2annya jin aja, nyaru sama yg baru meninggal
2022-10-07
0