Sesampai di rumah hari masih menjelang siang, matahari masih sedikit di arah timur, kubuka gembok pagar rumah penggergajian yang merupakan rumah keduaku setelah rumah mbok ku di desa.
“Assalamualaikum” teriakku setelah kubuka pintu rumah yang tentu saja tidak ada yang menjawab ucapan salamku
Aku duduk di kursi panjang depan rumah setelah kuparkir motor tua ini di sebelahku. kulihat ke arah hutan dengan sinar matahari yang masuk melalui celah celah pohon.
Kuhirup udara hutan yang bersih dengan bau potongan kayu yang ada di halaman belakang rumah.
“Hmm sepi sekali ya disini, kalau aku jadi Mamad, apa yang akan aku kerjakan disini?”
Tapi semua tadi sudah dikerjakan Mamad, mulai dari menimba air hingga bersih-bersih rumah, lalu apa yang harus kulakukan lagi… hhmm oh iya, di dalam kan ada radio tua, mungkin bisa dinyalakan.
Aku pelajari dulu cara menyalakan radio kuno itu, karena radio ini menggunakan daya accu untuk menyalakan nya.
Tetapi ternyata hanya sederhana, karena ternyata sudah dibuatkan rangkaian elektroniknya, jadi aku tinggal sambungkan stop kontaknya saja.
“Hehehe percuma juga disini ada radio, tak ada sinyal radio yang bisa ditangkap, hanya suara berisik saja yang ada” gumamku kemudian matikan radio itu
“Apa yang menjadi hiburan disini kalau tidak ada radio dan tidak ada apapun disini, hhmm apakah aku harus ke desa dan ngobrol bersama bakul mie ayam, atau ke wartel mbak Tina yang aduhai itu, atau aku ke desa belakang sungai?”
Kubuka tudung saji meja makan, ternyata disana masih ada telor dadar bikinan Mamad tadi pagi dan juga nasi dingin yang ada di bakul yang terbuat dari bambu.
Lumayan bisa untuk makan siang nanti, meskipun makan siang tidak beda dengan sarapan, tapi paling tidak tidak perlu masak lagi.
Siang hari setelah makan siang di rumah tengah hutan, siang hari yang terasa membosankan di dalam rumah.
"Bgaimana bisa kerasan ya si Mamad kalau seumpama pak Wandi sedang balik ke kampung hehehe, tapi aku ya harus terbiasalah”
“Tapi aku ndak percaya kalau Mamad ada disini waktu keadaan sepi seperti ini, mungkin kalau di belakang ada kegiatan lain lagi ceritanya, masih ada yang bisa dilihat meskipun aku tidak melakukan apapun, tapi nek sepi gini dia ngapain yo” gumamku sambil menuju ke teras rumah
“Wah gawat juga angin semilir koyok gini ini malah bikin aku ngantuk ae, hahahah bisa-bisa bermalas malasan seharian disini”
Duduk di kursi kayu panjang memang berbeda rasanya apabila disertai dengan angin semilir yang bikin ngantuk apalagi disertai dengan suara dedaunan yang terkena angin.
Kursi panjang ini kelihatannya sudah lama ada disini terlihat sudah dekil di setiap sudutnya, tapi meskipun dekil yo tetep nyaman dibuat duduk. Tapi ada satu hal yang aku lupa apabila perut kenyang dan terkena angin semilir
“Juangkreeeeek wetengku loroo, aduh mosok harus ke kotak pinggir sungai bawah pohon beringin rek?”
“Athooooh makin mules aeee jeeeh”
Aku masuk ke dalam untuk mengunci pintu dan pagar rumah, setelah semua beres aku menuju ke bagian belakang rumah penggergajian, dengan berlari kecil akhirnya tidak lebih dari tiga menit aku sudah ada di samping kotak kenikmatan.
Keadaan sepi dengan angin semilir ditambah suasana sungai yang bersahabat makin menuntunku untuk segera kulakukan ritual buang hajat.
Kupandangi kotak yang asal dibuat itu, rasanya nyaman sekali kalau nongkrong disitu.
kubuka pintu kotak ajaib pelan pelan, dan kemudian aku tunaikan kewajiban enak enak ini. Cukup lama juga aku ada di kotak yang dibuat asal-asalan itu.
“Ternyata enak juga ada di sini, sepi sendiri angin semilir dan suasana alam yang natural”
“Huff siang hari yang enak dan nyaman di tengah hutan” sambil kupandang jauh dusun seberang sungai yang nampak dari sini
“Tapi meskipun keadaanya enak gini kalau sendirian ya jelas tidak enak, rasanya aneh gitu kalau sendirian menikmati alam yang asri”
Aku duduk di pinggir sungai, kunikmati tiap hembusan angin yang sejuk, tiba-tiba pikiran jorok ku muncul.
Pikiran jorok yang selalu muncul ketika sedang sendirian dan di tempat sepi, pikiran jorok ketika kubayangkan tubuh pacarku tanpa sehelai kain sama sekali.
Kadang kalau aku mulai berkhianat kepada pacarku, aku selalu membayangkan dia tanpa sehelai benang pun dan akhirnya aku tau bahwa pacarku yang terbaik daripada lainya hihihii.
“Gimana ya rasanya kalau ngochok di pinggir sungai sepi sepi lagi hihihihi”
“Disini sepi, ndak ada orang sama sekali, ada air juga” Aku tolah-toleh, siapa tau ada orang disekitar sini
Kegiatan rutin yang sekarang tidak pernah kulakukan akhirnya kulakukan juga, aku duduk santai di pinggir sungai yang saat ini airnya tenang, kemudian kukeluarkan senjata abadiku.
kuludahi tangan kiriku, dan lanjut dengan mengochok sambil bayangkan tubuh pacarku. pelan-pelan sambil mata ini mengawasi keadaan di sekitar sini.
…Aahhsshh…
Akhirnya muntah juga kentel kentel lengket di telapak tangan hihihihi.
“Ternyata enak juga ngochok di pinggir kali bawah pohon beringin hehehe, kapan-kapan lagi aaah”
Siang hari menjelang sore yang tidak terlalu panas, aku jalan pulang ke rumah, suasana yang cukup enak tadi itu pasti akan diulangi lagi kapan-kapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
novita setya
agus pikiran & perilakumu njelehi. kualaat kapook
2023-08-17
0
Liani Purnapasary
astaga dasar☹️kmu guss
2023-06-19
0
Merry Panintjo
penunggu pohon apdehh
2023-06-03
1