Motor lawas berwarna merah buatan tahun 1987 ini bergerak pelan menuju ke dalam hutan.
Untungnya lampu motor ini masih agak terang, sehingga apapun yang ada di depan dengan jarak tidak lebih dari sepuluh meter akan terlihat meskipun tidak begitu jelas.
Dari mulai berangkat aku tidak henti-hentinya berdzikir, memang harus bisa dan harus terbiasa melewati hutan ini, karena pekerjaanku ada di daerah sini.
Selama perjalanan suara binatang-binatang malam di hutan bermunculan, suara itu cukup menghibur juga hingga bisa kurasakan bahwa aku tidak sendirian ada disini.
Tetapi anehnya semakin dalam masuk ke hutan suara-suara itu semakin berkurang, hingga saat ada di tengah hutan aku tidak mendengar suara hewan malam yang berisik, yang kadang kudengar hanya suara jangkrik saja.
Terus terang di saat seperti ini aku tidak berani ngebut di jalan tengah hutan, ngeri juga kalau ngebayangin tiba-tiba ban motor ini bocor seperti waktu aku dijemput Mamad pada waktu itu.
Lama juga perjalanan melewati hutan ini, yah mungkin karena jalan yang tidak begitu bagus, tapi tidak terasa suasana hutan mulai berkurang, lampu-lampu jalan desa yang ada di depan rumah pun sudah terlihat.
“Alhamdulillah aku bisa melewati hutan ini tanpa ada masalah apapun, sekarang harus mencari balai desa, karena wartel itu kata Mamad ada di sebelah balai desa”
“Ah disana ada sebuah warung tenda kaki lima mie ayam, lebih baik ku tanyakan saja dulu dimana balai desa itu dan setelah aku telepon bos, aku bisa makan mie ayam yang keliatannya rame sekali pembelinya”
Kuarahkah motor tua ini menuju ke warung yang menjual Mie ayam, dari beberapa motor yang terparkir di sana bisa dikatakan mie ayam ini disukai penduduk sini, Hmm lumayan juga untuk makan malam nanti.
“Nuwun sewu mas, saya mau tanya, balai desa disini dimana mas?”
Aku bertanya kepada orang yang sedang merebus mie untuk diproses dengan bumbu yang ada di dalam tiap mangkok pemesanya.
“Lho sampeyan siapa mas, kok pakai motor yang biasa dipakai pak Wandi dan Mamad?” tanya penjual itu sambil memproses mie ayam pesanan orang
“Nama saya Agus mas, saya yang menggantikan pak Wandi yang harus berhenti di tempat pemotongan kayu itu”
Senang akhirnya ada yang menjawab seperti itu, karena ternyata penjual mie ini kenal dengan Mamad dan pak Wandi
“Oalah hahaha, biasanya pak Wandi kesini setelah ke wartel mas, eh sampean mau ke wartel kan mas. Sampean lurus saja nanti ada belokan ke kiri, tidak jauh dari sana ada wartelnya mas” kata penjual mie ayam itu
“Ok mas, saya kesana dulu, nanti saya kesini lagi untuk makan mas heheheh”
“iya mas, tapi apa ndak kemalaman sampeyan telponya, biasanya pak Wandi itu ke wartel sebelum maghrib mas, lha ini sudah pukul 19.45 mas.
“Ndak papa mas, biar terlambat pokoknya harus telepon mas” kataku kemudian kutancap gas ke arah Wartel yang tidak jauh dari tempat jualan mie ayam
Wartel itu tidak jauh dari tempat jual mie ayam dan untungnya pada jam segini masih buka, jadi aku bisa segera menelpon bos untuk melaporkan semua yang ada, sekalian aku meminta anggaran dana untuk pembelian Kayu dan solar.
Kuparkir motor tua ini di depan wartel yang kebetulan dijaga oleh seorang ibu-ibu yang modis, karena alis dia yang celirit lancip mirip celurit, dan wajahnya yang agak kemerahan akibat dari obat pemutih import yang tidak jelas.
Di wartel itu hanya ada lima KBU (kamar bicara umum) yang hanya muat untuk satu orang saja di dalam. Dan untungnya didalam ada meja kecil yang cukup untuk menaruh buku dan ada juga sebuah kipas angin.
“Permisi bu, saya mau pake telepon, yang mana yang bisa saya gunakan bu?” sambil kuperhatikan sosok perempuan yang sibuk dengan menggambar ulang alisnya yang sudah cukup lancip itu
“Pakek yang nomor tiga saja mas” jawabnya singkat
Aku masuk ke KBU nomor tiga, kubuka buku yang agak usang ini dan kuputar nomor telepon bos. Aku jelaskan semua yang menjadi tugasku serta ada beberapa laporan dan permintaan dana untuk pembelian solar.
Untung saja bos tidak marah denganku, di merasa senang dengan laporanku, setelah semua selesai segera ku akhiri pembicaraan telepon ini.
Kemudian aku ganti menelepon teman bosku untuk memesan solar sesuai dengan pesanan Mamad yang tertulis di buku yang agak usang itu.
Semua sudah selesai kulaporkan dan juga untuk permintaan dananya. Sedangkan untuk Solar, akan dikirim dua hari lagi, karena untuk besok pagi, katanya belum ada kiriman solar.
Dana untuk biaya operasional akan dikirim ke atm pada besok pagi, jadi aku harus ke desa ini lagi untuk mengambil uang yang ada di bank desa ini, untungnya disini ada Atm, jadi aku tidak perlu antri di depan teller.
“Bu, sampun…., berapa yang harus saya bayar bu?”
“Lho sampeyan ini pegawai baru ya, biasanya yang kesini itu kan mas Wandi” kata ibu penjaga wartel itu yang melihat motor butut yang diparkir di depan wartel
“Iya bu, saya Agus yang menggantikan pak Wandi”
“Ih gimana sih mas wandi itu, pergi kok ndak pamit-pamit sih” ibu setengah baya itu sambil berdiri dari duduknya dan menghampiri aku
“Namamu siapa mas?” dia bertanya dengan senyum anehnya
“Buseeeet, rok dia kok pendek sekali..jangkreeeek!” batinku sambil melirik ke kakinya yang lumayan mulus
“Nama saya Agus ibuu heheheh, lha nama ibu siapa bu, biar enak saya memanggilnya bu”
“Aduuuh nama kita kok sama ya mas, nama saya Agustina, tapi panggil saja mbak Tina mas. Yuk mampir dulu minum teh mas Agus” bu Tina dengan santainya akan menggandeng tanganku
“Hmm lain kali saja mbak Tina, soalnya udah kemalaman mbak, saya kurang berani kalau harus lewat hutan itu malam malam gini mbak”
Aku jawab sambil melepas gandengan tangan dia cukup keras juga, pikiranku langsung melayang ke mana-mana ketika kurasakan remasan tangan mbak Tina,
“Ya sudah mas Agus, lain kali kita minum teh ya, hhmmm ya udah untuk biaya interlokalnya hanya lima ribu rupiah saja mas”
Setelah bayar uang biaya telepon, segera saja aku pergi dari sini, hihihi agak gimana gitu sama mbak Tina itu, mungkin kalau tidak kuat iman bisa-bisa diajak minum teh di dalam rumahnya.
Kuarahkan motor ini menuju ke mie ayam, terus terang perut ini sudah tidak bisa diajak kompromi lagi ini. untungnya warung mie ayam pada jam segini belum tutup.
Untungnya pengunjung mie ayam ini sudah sepi, hanya ada satu motor yang diparkir disini, dan ternyata ada sepasang muda mudi yang sedang menikmati mie ayam ini
“Mas buatkan satu porsi besar mie ayam ya mas heheheh” sambil aku duduk di bangku panjang yang ada disini.
“Wah kok cepat sekali mas interlokal nya, kalau pak Wandi sih bisa satu jam disana mas hihihihi”
“Iya mas, kan cuma laporan saja mas. Mosok sih pak Wandi bisa sampai satu jam ada disana, apa mungkin pak Wandi sedang ngobrol panjang lebar sama bosnya mas”
“Hehehehe orak mas, telp nya cuma sebentar, yang lama itu minum teh sama mbak Tina, rondo semlohai yang ditinggal suaminya jadi TKI di Saudi mas”
“Ah mosok iyo se mas, mosok pak Wandi kui doyan sing ngono kui mas. Wong ibadahe pak Wandi kui lho banter mas, batuke kan ada hitam-hitamnya mas” kataku sambil memancing omongan yang lebih dalam lagi heheheh
“Hahahah siapa yang ndak betah nek ada di sebelahnya mbak Tina mas, pasti adem panas lah”
Wah pak Wandi ternyata ndak kuat iman juga kalau berhadapan dengan mbak Tina hihihi, tapi untungnya tadi aku bisa menolak ajakkan minum tehnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
🇲🇾WatiAsahi
apa maksudnya Thor..???tak ade translate 🤔🤔🤔
2024-01-24
1
De'Ran7
wkwk mencurigakan🤭
2022-10-29
1
Randy_Chavaladruva
mmm
2022-10-16
1