Ternyata memang arus sungai sudah tidak segila tadi, sehingga jembatan ini bisa kami lewati meskipun agak goyang goyang ketika kami lewat diatasnya.
Maklum air sungai masih deras dan banyak sampah potongan pohon tangkai dan lainya yang tersangkut.
Setelah lewat jembatan, kami berjalan agak cepat menuju ke rumah penggergajian, kami berdua tidak memperdulikan apa pun yang mungkin kami temui di tengah jalan, seperti ular dan kodok yang banyak di jalan setapak menuju ke rumah.
Sampai rumah ternyata gerimis kembali muncul, tetapi hanya gerimis saja, bukan hujan lebat seperti tadi ketika kami ada di desa belakang sungai.
“Akan saya nyalakan dulu lampu petromaknya mas, eh tolong mas Agus juga nyalakan lampu minyak yang di kamar, agar supaya cepat” kata Mamad
“Santai saja Mad, gak usah kesusu lagian kita kan sudah ada di rumah Mad, untungnya perjalanan dari dusun kesini tidak ada halangan apa-apa”
“Mas Agus salah, dari tadi setelah melewati pohon beringin saya mencium bau busuk, pokoknya bau yang tidak pernah saya cium sebelumnya” gumam Mamad
Rumah dalam keadaan terang benderang, kami sedang ada di ruang tamu sambil merokok dan berpikir tentang kejadian tadi.
Memang kejadian banjir bandang tadi sangat menakutkan, dan sebelum banjir kenapa ada kemunculan pak Karyo.
“Mad, ada kemungkinan pak Karyo tadi itu ingin memperingatkan kita akan terjadi banjir bandang di sungai itu ya?”
“Bisa jadi mas” kata Mamad yang masih menerawang sambil menghembuskan asap rokoknya
“Oh iya mas, besok ada solar datang, tapi disini masih ada uang kok mas, solar pesanan pak Wandi sebelumnya mas. Hmm besok kemungkinan besar tidak ada kegiatan mas, karena ada personil kita yang meninggal, dan kemungkinan bisa sampai tiga hari mas”
“Ya sudah Mad kalau memang tidak ada kerjaan ya ndak papa”
“Eh mas Agus, saya besok mau minta ijin untuk balik desa sehari saja mas. Saya sudah empat minggu belum pulang ke desa mas”
Waduuuh.. Mamad akan pulang ke desa, lalu aku disini sendirian, tapi gimana lagi, pesan pak Wandi kan tidak boleh meninggalkan rumah ini dalam keadaan kosong.
Tapi kalau tidak kuperbolehkan Mamad pulang ya jelas tidak mungkin, karena dia sudah lama belum balik ke desanya, lagipula kita tidak ada kerjaan selama tiga hari.
“Ya ndak papa lah kamu pulang Mad, wong kamu lho sudah lama tidak pernah pulang sama sekali”
“Tapi mas Agus ndak papa kah saya tinggal disini sendirian?”
“Ya ndak papa Mad, namanya juga aku kan juga kerja disini, gimana-gimana ya harus berani juga kalau seandainya kamu tinggal saya sendirian”
“Yah… saya sebenarnya ndak enak ninggalkan mas Agus dan rumah ini, tapi gimana lagi sudah besok sudah waktunya saya untuk kembali pulang mas”
“Iya Mad aku ngerti kok. Besok rencananya kamu mau balik jam berapa Mad, apa perlu saya antar naik motor?”
“Ndak usah mas Agus, tapiiii kalau mas Agus tidak keberatan, bisa antar saya ke terminal tempat saya jemput mas Agus itu saja”
“Ya wis, besok pagi saya antar kamu ke terminal Mad”
Malam hari ini aku tidak bisa tidur, pikiranku melayang apabila aku ada disini sendirian. Tapi segera ku hilangkan pikiran buruk itu, lebih baik aku berdoa saja sebelum tidur.
*****
Pagi yang cerah tanpa gangguan apapun semalaman, aku bisa tidur dengan nyenyak hingga tidak terasa sinar matahari sudah masuk melalui celah jendela kamar yang menghadap ke timur.
“Pagi mas heheheh, kayaknya tidurnya nyenyak sekali nih mas, sampai tidak dengar kalau saya sudah menyapu, memasak, timba air, dan beres beres lainya”
“Iya Mad dengaren aku bisa tidur nyenyak, mungkin karena semalam kita dalam keadaan capek ya karena harus lari-lari dan jalan cepat” jawabku sambil menuju ke kamar mandi untuk mandi pagi
“Mau berangkat sekarang to Mad, kok sudah rapi dengan pakaian kemeja putih dan jean putih gitu, koyok orang yang ngelamar kerja Mad heheheh” teriak ku dari dalam kamar mandi
“Iya mas biar rapi hehehe, berangkat pagi agar sampai di desa tidak kesiangan Mas”
“Yo wis, sik tak cepat cepat mandi dulu ini” teriakku
Kukeluarkan motor tua dari halaman rumah, kemudian setelah check gembok dan lainya, kami berangkat menuju ke terminal bus yang ada di kota kecil setelah desa tempatku makan mie ayam dan bertemu dengan Agustina.
“Mas Agus, semua kan sudah saya bereskan termasuk air sudah saya timba dan mungkin air yang ada di bak mandi bisa untuk dua hari mas, jadi mas Agus tidak usah kebelakang mas, ndak usah menimba air lagi”
“Paling mas Agus hanya masak dan bikin air minum saja mas, untuk urusan bersih-bersih biar saya kerjakan setelah saya sampai disini lagi mas” kata Mamad yang sedang aku bonceng
Pagi hari yang benar-benar menyenangkan melewati hutan yang rindang dan dengan berbagai macam ocehan burung yang tidak ada berhentinya. Hingga tidak terasa kami sudah ada di desa kecil tempat aku melakukan interlokal.
“Kita ke arah kanan saja mas, ke arah luar kota” kata Mamad memberikan petunjuk arah jalan
Tidak lama kemudian kami sudah ada di kota kecil tempat aku turun dari bus waktu aku pertama kali datang. Mamad mengarahkan agar berhenti di pinggir jalan saja agar tidak membayar uang parkir terminal.
“Saya pulang dulu mas. Oh iya nanti kalau sampai disini mas Agus gak usah jemput saya, saya akan minta antar teman saya yang ada di desa untuk mengantarkan sampai di rumah penggergajian mas.
Mamad merangkul ku beberapa saat, setelah itu dia menyalamiku.
"Hahaha koyok opo ae Mad pakek rangkul rangkul segala. kayak mau pisah aja hahahah"
Mamad tidak menjawab perkataanku, dia hanya melihatku saja.
" Ya sudah mas saya pulang dulu. Hati -hati di rumah mas Assalamualaikum”
“Ok Mad. hati-hati di jalan, waalaikumsalam”
Sekarang aku sendirian, aku sendirian pulang ke rumah penggergajian setelah dua hari disana. Aku merasa ada yang agak janggal dengan Mamad.
Tapi aku ndak berani berburuk sangka. Selama dua hari kenal Mamad dia itu hampir tidak pernah menyisir rambutnya, dan selalu berpakaian ala anak metal dengan celana robek di dengkul dan jaket jeansnya.
Tapi pagi ini sangat berbeda, rambut klimis, baju putih rapi. Ah dia rapi mungkin karena agar dilihat keluarganya di desa.
Kuarahkan motor menuju balik ke rumah penggergajian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Liani Purnapasary
apakh mamad akn ga balik lg,atau diam2 ingin ga kerja dsitu lg krena bnyk kjanggalan, duuhh ksian Agus sndirian drumah itu,dhutan pula 😨😨
2023-06-19
1
Clara Safitri
jangan2 mamad mati kali ia thor.
2023-02-09
0
kayak e mamad mo cari kerjaan lain tuh
2022-10-25
1