Kami berlari menuju ke arah desa untuk memberitahukan kepada penduduk desa bahwa akan terjadi banjir bandang akibat debit air yang semakin tinggi dan arus air sungai yang semakin cepat.
Kami berlomba dengan air sungai yang sekarang sudah menyentuh sepatu kami, kami tidak berani melihat tanggul sungai yang mungkin kondisinya sudah dilewati air
Air sungai sudah semata kaki sepatu kami, kami sudah bisa melihat gapura desa, kami percepat lari kami hingga kami masuk ke desa yang dalam keadaan sepi, karena memang saat malam disana tidak ada aktivitas yang berarti.
“Mas Agus, lebih baik kita ke rumah almarhum mbah Karyo saja karena disana pasti masih ada warga yang melekan”
Kami lari menuju ke rumah mbah Karyo yang tidak jauh dari tempat kami berdiri, setiba disana memang masih ada beberapa warga yang melekan hingga pagi.
“Pak!…. air sungai meluap!,.... air sungai meluap pak!” teriak Mamad dari depan rumah mbah Karyo
“Masa Iya mas Mamad, dari mana mas Mamad tau?”
“Lebih baik bapak lihat sendiri saja, ajak beberapa warga juga pak, agar cepat informasi ke warga lainya pak”
“Kami tunggu disini saja pak, kami capek sekali hufff” kata Mamad yang kemudian terduduk di bangku panjang depan rumah
Beberapa warga menggunakan motor dan lampu senter kemudian menuju ke arah sungai yang letaknya tidak jauh dari desa. Tidak lama mereka yang meninjau sungai kembali dengan membawa kabar yang mengejutkan,
“BANJIR BANDAAANG!… SIARKAN KE WARGA YANG ADA DISINI SEMUA!” teriak salah satu warga setelah melihat sungai yang ada disamping dusun
Suara kentongan yang berbunyi empat kali pukulan pendek secara terus menerus dibunyikan oleh warga yang ada di sini, suara kentongan itu sahut menyahut hingga seluruh desa memukul kentongan itu.
Berduyun duyun warga dusun mengemasi barangnya dan berlarian menuju ke dataran yang lebih tinggi dari posisi dusun disini, aku dan Mamad juga ikut warga yang berlarian sambil membawa obor menuju ke daerah yang lebih tinggi.
Suasana makin rame dengan anak-anak kecil yang berteriak menangis, kami berdua tidak kalah paniknya, karena baru saja kesini malah ada kejadian seperti ini.
Ternyata tidak jauh dari desa ada sebuah tanah yang cukup tinggi, rata-rata penduduk perempuan berlarian kesana , sementara yang laki- laki tetap ada di desa sambil mengawasi keadaan desa.
“Mad, ada baiknya kita ada bersama penduduk laki-laki yang sedang mengawasi ketinggian air sungai, kita jangan disini Mad”
“Iya mas, saya tadi juga berpikir seperti itu mas, kita ke desa saja bersama dengan penduduk laki-laki yang lainya mas”
Akhirnya kami berdua turun dari dataran tinggi yang sebagian besar adalah ibu-ibu dan anak mereka, sementara bapak-bapaknya tetap ada di desa untuk melihat ketinggian air yang meluap.
Aku dan Mamad berjalan turun ke jalan desa yang becek , bukan karena akibat banjir tetapi karena akibat dari hujan lebat yang datang sebelumnya.
Keadaan desa ramai dengan penduduk laki-laki yang berjaga di tiap rumah, kadang mereka bergerombol tetapi ada juga yang sendirian di depan rumah, mungkin yang sendirian itu rumah dia sendiri yang dijaga.
Kami hampiri bapak-bapak yang sedang bergerombol di tengah jalan dan kelihatannya sedang membicarakan tentang sungai yang meluap tadi.
“Bagaimana pak sungainya apa masih meluap pak”
“Ah ada pak Agus dan mas Mamad. Untung tadi kalian berdua segera kabari kami, kami tidak mengira kalau sungai sebelah desa itu akan meluap” Kata bapak-bapak yang memakai peci dan membawa senter besar
“Apakah sungai itu pernah meluap sebelumnya pak, ataukah baru kali ini saja sungai itu meluap?”
“Sudah dua kali ini mas Mamad, mungkin karena akibat dari penggundulan hutan yang ada di lereng gunung mas” jawab bapak yang memakai celana pendek
“Banjir bandang yang pertama dulu itu diketahui oleh almarhum mbah Karyo, dia yang melihat pertama kali kalau sungai samping desa meluap”
“Tapi waktu itu lumayan parah mas, air masuk ke desa hingga sedengkul dalamnya, tapi tidak sampai sehari air sudah surut” kata bapak yang memakai celana pendek
“Untuk yang kali ini insha allah tidak sampai menggenangi desa mas, karena sampai saat ini teman-teman yang ada di sisi sungai belum mengabari keadaan bahaya dengan menggunakan kentongan yang mereka bawa” lanjutnya
“Mad, ayo kita kesana Mad, aku kok pengen lihat sungainya”
“Bapak-bapak, kami berdua mau kesana dulu, mau lihat keadaan sungainya pak”
“Oh Monggo pak Agus,, tapi hati-hati karena disana pasti licin”
Kami menuju sungai setelah pamit dengan bapak-bapak yang sedang bergerombol di tengah jalan desa. Hujan sudah berhenti total, tidak ada gerimis sama sekali langitpun sudah cerah dengan bintang-bintangnya.
Aku dan Mamad menuju ke arah sungai untuk melihat perkembangan arus dan ketinggian air sungai, siapa tau sungai sudah tidak meluap, sehingga kami bisa pulang dengan tenang.
Di dekat sungai kami bertemu dengan beberapa bapak-bapak, mereka sedang berdiri sambil melihat ketinggian air dan aliran sungai yang sudah berkurang dari pada waktu kita ada disana.
“Bagaimana keadaan sungainya pak, apakah masih penuh dan meluap?”
“Sudah lumayan mas Mamad, tadi memang sempat meluap dan semata kaki ketika kalian berdua kabari desa kami mas”
“Tapi alhamdulilah sudah mulai berkurang jauh mas. mungkin banjir di atas sudah mulai berkurang” jawab bapak-bapak yang memegang kentongan
“Tapi untuk jembatan yang menghubungkan desa dengan rumah penggergajian kelihatannya belum bisa dilewati mas, mungkin nanti dua jam lagi baru sudah benar-benar aman mas”
“Iya pak, karena kami harus segera pulang pak, saya takut ninggal rumah terlalu lama” jawab Mamad
“Lho kenapa harus takut mas Mad, siapa yang berani bikin ulah di rumah itu, tenang saja mas, tidak ada orang yang berani macam-macam dengan rumah itu” kata bapak yang memegang kentongan itu lagi
Aneh juga, kenapa dia bilang kalau tidak ada yang berani bikin ulah di rumah itu, sebenarnya ada apa dengan rumah itu. Tapi aku tidak berani tanya, dari pada aku dengar sesuatu yang menakutkan.
Tapi kan memang berapa kali aku sempat merasakan sesuatu disana, hanya saja itu merupakan gangguan kecil yang tidak berdampak apapun bagiku.
*****
Sudah sekitar dua jam an kami ada disini, menunggu air sungai tidak meluap lagi bersama bapak-bapak yang ada disini. Tapi aku melupakan sesuatu, aku lupa kalau rumah posisinya bersebelahan dengan sungai ini.
“Eh Mad, kondisi rumah bagaimana kalau disini banjir seperti ini?”
“Waduh ndak tau mas Agus, saya juga baru kali ini mengalami banjir”
Wajah Mamad mendadak panik setelah ingat bahwa rumah penggergajian kan ada di sebelah sungai
“Tenang saja pak Agus, rumah penggergajian itu letaknya lebih tinggi dari desa kita, air yang meluap tidak akan membanjiri area sana” jawab bapak-bapak itu lagi
“Oh gitu ya pak, saya bener-bener khawatir pak” jawab Mamad
“Eh saya coba periksa jembatanya Mad, siapa tau sudah bisa dilewati, karena air disini sudah lumayan surut daripada tadi”
“Saya ikut mas Agus, kalau memang sudah surut kita sekalian seberangi juga” jawab Mamad
Setelah berpamitan, kami menuju ke arah jembatan kayu yang memisahkan rumah kami dengan desa ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
V_nee ' wife Siwonchoi ' 🇰🇷
Edaaaan mas agus gak ada rasa pingin nangisnya atau ketakutan gitu
2022-09-09
2