“Wuih sungai ini lumayan lebar ya Mad, mungkin sekitar lima meter lebih ya lebarnya”
“Iya mas Agus, dan jembatan ini juga aneh mas, karena banyak korban tenggelam dari sana itu selalu nyangkutnya di jembatan ini mas”
kata Mamad yang menunjuk ke arah hulu sungai
“Ayo kita seberangi mas, selak siang mas, ndak enak sama pekerja yang sedang takziah disana juga mas”
Kami seberangi sungai yang lumayan lebar dengan arus sungai yang tenang jembatan ini cukup serem juga kalau kita injak, karena bunyi bambu yang saling bergesekan itu menimbulkan suara kriet kriet.
Setelah seberangi sungai, kami berbelok ke kiri dan berjalan dengan agak cepat menuju ke desa tempat pekerja penggergajian itu tinggal.
Ternyata benar kata Mamad, sekitar dua puluh menit lebih akhirnya kami masuk ke sebuah gapura desa yang tidak terlalu besar.
Desa ini kelihatannya belum ada listrik masuk sehingga keseharian mereka menggunakan lampu petromak juga.
Setelah beberapa belokan, akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang sebagian dindingnya terbuat dari gedek, gedek adalah anyaman bambu yang biasanya digunakan sebagai dinding di beberapa desa yang agak terpencil.
Di depan rumah itu ada bendera kuning yang diikat di pohon yang ada di depan rumah, beberapa orang yang sedang takziah bergerombol di depan rumah.
“Untung belum diberangkatkan jenazahnya mas, kita bakal ndak enak kalau jenazah itu berangkat duluan mas, biasalah mas adat di desa itu kadang seperti ini, kita harus sering interaksi dengan mereka mas”
“Ayo kita kesana Mad, mungkin mereka sedang menunggu kita Mad”
“Dan satu lagi mas, jangan tanya-tanya kenapa orang itu meninggal mas, karena bagi penduduk sini hal itu akan melukai keluarga yang ditingal mas” kata Mamad
Suasana di dalam rumah tidak sepi, hanya ada keluarga yang sedang melantunkan ayat suci di sebelah jenazah yang sudah terbungkus dengan kain kafan. aroma kapur barus masih menyengat di sekitar jenazah.
Asap kemenyan juga masih membumbung di sekitar jenazah itu, wadah kemenyan itu ditaruh di bawah dipan jenazah mungkin agar jenazah itu tidak bau.
Setelah berbincang sebentar dengan keluarga yang ditinggalkan, kami akhirnya menuju ke depan dan membaur bersama dengan orang yang akan mengantar jenazah ke liang lahat.
“Akan dikubur dimana pak?” tanya Mamad kepada kumpulan bapak-bapak yang sedang ada di depan rumah
“DI makam panjang, makam desa yang ada di hutan itu mas” jawab salah satu dari mereka
“Oh apakah makam panjang itu yang ada di di hutan yang menuju ke rumah penggergajian itu pak?” tanyaku
Ketika aku bicara seperti itu tiba-tiba beberapa orang yang ada disitu memandangku dengan aneh, wajah mereka kurang bersahabat ketika melihatku,
Waduh apa aku salah ngomong ya?
“Eh maaf pak, apakah saya salah ngomong pak, eh apakah ada yang salah sama saya pak?” tanyaku kepada mereka
“Bapak tau tidak apa yang bapak bicarakan tadi, tentang makam di tengah hutan itu?” tanya salah satu dari mereka
“Eh tentang apa ya pak, apakah tentang makam yang ada di tengah hutan yang menuju ke rumah penggergajian kayu itu?” tanyaku tanpa rasa bersalah
Tiba-tiba bapak-bapak itu pergi meninggalkan aku dan Mamad yang sedang dalam keadaan kebingungan karena mereka tiba-tiba meninggalkan kami tanpa ada alasan yang pasti.
Bapak-bapak dan pemuda disana masuk ke dalam rumah duka tanpa pamit padaku dan Mamad sama sekali.
“Mad, apa aku salah bicara sama mereka, apa ada yang salah sama aku Mad?”
“Ndak tau mas saya saja bingung kok mas, kenapa tadi setelah sampean bilang makan tengah hutan tiba-tiba mereka pergi meninggalkan kita berdua disini?”
“Tapi apa bener sampean melihat makam di tengah hutan itu mas, saya saja tidak pernah tau ada makam disana mas”
“Iya Mad, aku lihat disana ada makam, nanti saja aku ceritakan waktu kita balik ke rumah Mad, yang penting kita disini niatnya takziah dan ikut memakamkan pegawai kita Mad”
“Sik bentar mas, kamu disini dulu saja mas, saya tanyakan sama pekerja kita yang lagi duduk-duduk disana itu mas” kata Mamad
Aku ndak tau apa yang sedang dibicarakan Mamad, yang pasti wajah dia kelihatannya sedang serius ketika berbicara dengan mereka yang bekerja di tempat penggergajian.
Aku rasa akibat tadi aku ngomong tentang adanya makam yang ada di tengah hutan itu. Aku tadi kan belum sempat cerita ke Mamad apa yang sudah aku alami kemarin waktu dari desa sebelah itu.
Nanti saja aku akan cerita kepada Mamad apa yang semalam kualami, tapi yang penting untuk yang saat ini terjadi itu harus diketahui kenapa mereka orang-orang tua itu menghindari aku dan Mamad.
Setelah pembicaraan yang serius kemudian Mamad kembali ke tempat aku sedang menunggu.
“Mas Agus, tadi sampeyan bilang kan ada makam di tengah hutan. Itu makam yang tidak kasat mata mas, dan apabila ada yang melihat makam itu, maka akan ada orang di sekelilingnya yang akan meninggal”
“Dan mereka orang tua yang tadi liat mas Agus itu merasa kematian ini ada kaitanya dengan mas Agus yang melihat makam ghaib itu”
“Sebenarnya mas Agus itu datang jam berapa sih mas, dan apa saja yang mas Agus alami?”
“Nanti saja Mad, nanti saja kita bicara, karena mereka yang disini kelihatannya kurang bersahabat dengan kita Mad”
“Tapi kita tetap harus mengantar jenazah itu sampai ke tempat pemakaman, kalau tidak jelas kita akan dicemooh sama orang sini Mad”
“Iya benar mas Agus demi menghormati pekerja kita, kita harus ikuti proses pemakaman ini hingga selesai mas, dari pada kita ditinggal oleh pekerja kita mas”
kata Mamad yang juga bingung dengan keadaan disini.
Setelah menunggu agak lama, kemudian sekitar pukul 14.39 setelah diadakan sholat jenazah, kemudian jenazah siap diberangkatkan menuju ke makam panjang, makam desa yang katanya ada di sekitar hutan.
Anehnya suasana yang tadinya panas secara perlahan lahan menjadi mendung, harusnya mendung ini kan disyukuri karena perjalanan menuju ke makam akan lebih sejuk, tetapi tidak bagi mereka yang sedang mengantar jenazah ini.
Mereka merasa ada yang aneh dengan keadaan yang tiba-tiba mendung, orang-orang yang tua kembali melihat ke arahku lagi. seolah kematian teman mereka ini akibat dari aku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
De'Ran7
kalo dirinya gak ngalami musibah berarti orang sekitarnya
2022-10-29
0
De'Ran7
mungkin waktu itu kan gakbpernah ada orang yg lewat hutan dijam 11..kalo ada yg lewat pasti bakalan nemuin sesuatu gitu..sebagai gantinya ya orang yg ada disekitar bakalan ehm..apa yg teriak² itu si dia ya...ehm entahlah sok tau aku🤣
2022-10-29
1
Nairabunga
ceritanya keren dan berbeda dari alur cerita horror yang lain
2022-10-06
0