Kami berjalan dengan hati-hati karena kami takut kalau ada lubang yang banyak tersebar di jalan makadam ini.
“Di depan sana mas, rumah yang akan kita tempati”
“Wuih lumayan juga ya dari kota kecil tempat tadi bis berhenti di terminal. Kemudian masuk ke desa, kemudian kita masuk hutan Mad”
Kami percepat langkah karena rumah penggergajian kayu itu sudah dekat dan dalam keadaan gelap gulita.
“Kenapa kok gelap gitu Mad, apa kamu belum nyalakan lampu?”
“Hehehe belum mas, tadi saya pikir kita sampai sini tidak terlalu malam mas”
kulihat jam tanganku, dan sekarang ternyata sudah pukul 18.30. lumayan lama juga perjalanan ini, tapi mungkin kalau tidak ada insiden ban motor pecah tidak akan selama ini lah.
Kami akhirnya sampai juga di sebuah rumah mungil yang terletak di tengah hutan setelah berjalan kaki di tengah hutan dengan hanya berbekal senter ku saja.
Rumah ini tidak begitu besar dengan pagar yang terbuat dari kayu yang sudah diserut kasar dan ditata sedemikian rupa hingga rapi.
Pagar rumah ini mungkin hanya setinggi dadaku, sehingga mungkin yang ada di dalam rumah masih bisa melihat pemandangan yang ada di hutan.
Rumah berdinding batu bata dan sebagian kayu ini letaknya memang di tengah hutan, dan jauh dari lokasi penduduk. Tapi demi pundi-pundi untuk bekal nikah, apapun aku akan kerjakan.
Mamad mengeluarkan anak kunci yang dia kantungi, ada banyak anak kunci yang berbandul bola bekel itu. kemudian dia membuka gembok pagar.
Kuamati dengan menggunakan senterku, ternyata pagar rumah ini tidak mengelilingi rumah penuh, pagar rumah ini hanya di sekitar halaman rumah saja, sedangkan samping rumah tidak ada pagarnya, jadi dinding rumah langsung menghadap ke hutan.
“Tunggu disini dulu mas Agus, saya akan nyalakan lampu petromaksnya dulu”
“Halah, kita barengan saja nyalakan lampunya agar cepat, disini ada tiga lampu kan sesuai dengan omongan pak Wandi?” tanyaku
“Iya mas, ada tiga lampu tetapi yang satu rusak mas, mungkin karet gasnya sudah keras, harus diganti, tapi saya belum sempat mas hehehe”
Lampu petromaks yang ternyata sudah disiapkan di ruang tamu kemudian nyala juga, satu buah ditaruh di ruang tamu, sedangkan satunya dia taruh di antara dapur dan kamar mandi.
“Di dalam kamar ada lampu minyak mas, kan kalau di kamar tidak perlu cahaya yang terlalu terang kan mas”
“Iya Mad, lalu dimana tempatku tidur dan menaruh barang-barangku ini?”
“Mas Agus tidur di bekas kamar pak Wandi saja mas, sedangkan saya tidur di kamar belakang itu mas” tunjuk Mamad
Mamad menunjukan sebuah kamar yang masih gelap, tetapi karena terkena cahaya dari petromaks, kamar ini menjadi terang.
Di dalam kamar yang mungkin berukuran 3x4 meter ini hanya ada satu tempat tidur dan satu lemari pakaian yang ada di pojokan.
“Mas Agus kalau mau mandi sudah saya timbakan air mas, jadi silahkan mandi. Di rumah ini sumur letaknya ada di balik dinding kamar mandi mas, diluar yang ke arah mesin penggergajian” kata Mamad menjelaskan posisi sumur
“Ndaklah Mad, saya tidak mandi dulu, hawa disini dingin sekali soale Mad”
“Oh iya mas Agus untuk makan malam, saya sudah masakan nasi dan telor dadar di dapur, monggo kita makan malam kalau mas Agus sudah siap"
Rumah yang setelah kondisinya terang sekarang menjadi jelas, di ruang tamu hanya ada satu set meja kursi yang terbuat dari kayu dan anyaman rotan yang sudah usang, kemudian di belakangnya ada sebuah buffet kecil tua yang didalamnya hanya ada sebuah radio kaset jadul.
Di lantai bawah buffet ada sebuah accu (aki) yang berukuran besar, mungkin accu yang digunakan untuk truk karena ukuranya yang lumayan besar.
Kemudian dibalik buffet hanya ada dapur sederhana dan meja makan yang juga terlihat tua. Di sebelah dapur yang merangkap meja makan adalah kamar mandi.
Rumah ini mempunyai dua kamar, di depan dan di belakang. Kamar depan yang akan aku tempati sedangkan kamar belakang yang ditempati oleh Darsamad atau Mamad.
“Malam ini mas Agus istirahat dulu saja, karena pengiriman log kayu atau kayu gelondongan baru ada besok malam mas. Tapi sebelum tidur lebih baik mas Agusmakan dulu saja”
“Kamu sudah lama kerja disini Mad?”
“Saya baru dua bulan ada disini mas, saya menggantikan anak buah pak Wandi yang sakit dan akhirnya mengundurkan diri mas”
Aku mengambil piring yang ada di rak piring. Di meja makan atau lebih tepatnya meja tulis yang dibuat sebagai meja makan ada piring yang berisi dua buah telor dadar dan satu buah tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Serta ada satu teko kopi yang masih hangat.
“Ini tadi saya masak sebelum jemput mas Agus Apa kopinya mau dipanasin lagi mas?” tanya Mamad sambil memegang teko kopi
“Ndak usah Mad, ini sudah cukup kok, yang penting itu ada kopinya dan ada nasi hehehehe”
Setelah makan, aku keluarkan rokok kesayanganku yang berjenis kretek, rokok kretek yang banyak dijumpai dimanapun, baik di kota maupun di desa. Sehingga tidak sulit untuk mendapatkan rokok yang begitu nikmat ini.
“Rokok Mad. Nih ambil saja, habis makan ndak rokokan itu sama saja dengan habis ngising tidak wawik Mad heheheh. Ayo kita rokokkan di depan Mad, tadi aku lihat di depan ada bangku panjang untuk cangkruk ya”
“Eh iya mas Agus, eh tapi saya lebih suka merokok di dalam saja, karena diluar itu dingin mas”
Hmm ada apa ini, kenapa Mamad ndak mau kalau merokok di luar, masak alasanya hanya karena diluar hawanya dingin, alasan yang tidak masuk akal menurutku. Padahal di luar hawanya sejuk khas sejuknya hutan dan bau tanaman serta pohon.
Atau dia sudah bosan dengan keadaan hutan yang tiap hari dia lihat selama dua bulan ini, mungkin bagi Mamad suasana kota lebih menarik dari pada alam yang natural, beda dengan ku yang lebih suka suasana natural
“Ya sudah kalau begitu Mad. Oh iya besok ada kegiatan penggergajian?”
“Ada mas ada sekitar 10 cbm log sengon yang harus dipotong untuk dijadikan palet sesuai pesenan bos mas. Log sengon itu pembelian waktu masih ada pak Wandi disini”
“lebih baik mas Agus tidur awal dulu mas, karena besok pagi-pagi mungkin ada solar dari bos yang akan datang, Jadi mas Agus yang akan merekap solar itu, apakah sesuai dengan pesanan pak Wandi sebelumnya atau tidak, sesuai dengan buku yang direkap pak Wandi sebelumnya”
Waduh belum belum kok sudah ada hitungam solar ya heheheh, aku ini paling tidak suka dengan yang namanya hitung hitungan, tapi ya terpaksa harus bisa hitungan juga disini, karena gimana gimana aku harus cari uang untuk biaya nikah hihihihi.
“Mas, saya mau tidur dulu, karena besok saya harus bangun pagi untuk menyiapkan segala keperluan dan menunggu kiriman solar yang akan datang ke sini”
“Iya Mad, saya mau disini dulu untuk sementara waktu, saya mau menikmati udara segar hutan pada malam hari Mad”
Ku buka pintu rumah karena saat ini belum ngantuk sama sekali, yah sudah kebiasan ketika aku tinggal kampung, aku selalu tidur pada tengah malam, kubuka pintu rumah karena hawa di dalam rumah ini cukup gerah apalagi setelah aku dan Mamad selesai merokok.
Heemmm suasana hutan yang cukup menyenangkan karena berbagai suara binatang hutan yang saling bersahut sahutan cukup membuat suasana menjadi ayem. Inilah mungkin akhir dari pengangguranku heheheh, semoga aku betah tinggal disini tanpa pacarku yang akan segera kulamar.
Meskipun hanya gelap gulita yang ada di halaman depan rumah, jelas gelap wong lampu petromak hanya ada di ruang tamu dan di dekat kamar mandi saja, tapi aku cukup menikmatinya.
Kuperhatikan keadaan di halaman rumah yang gelap, tapi di depanku ini agak terang karena area di depanku terkena sedikit cahaya lampu Petromaks yang berasal dari dalam rumah.
TOK….klotak…klotak….klotak…klotak….
Tiba-tiba ada suara seperti batu atau atau apalah di atas atap rumah, awalnya aku kaget. Tapi aku berusaha berpikir logis saja… mungkin itu biji pohon yang terbawa oleh kelelawar dan jatuhnya tepat di atap rumah ini.
Atap rumah ini jelas menggunakan genting dan dengan kemiringan atap yang lumayan sehingga apabila ada benda yang jatuh di atasnya bisa menimbulkan suara kemlotak.
Ya sudahlah, cukup di luar sini untuk sementar ini, ternyata setelah menghirup udara hutan yang lembab dan dingin ini mataku semakin lama semakin tidak bisa diajak kompromi.
Setelah masuk ke dalam rumah kemudian kututup pintu depan dan sekalian kukunci….
Kuambil tas ranselku yang ada di ruang tamu dan kubawa menuju ke kamar yang ada di depan.
"Huuuff cahaya lampu teplok itu hanya bisa menerangi sedikit bagian kamar yang ada di sekitar lampu teplok itu saja"
Kubongkar tas ransel yang berisi pakaian, sabun mandi, sikat gigi dan odol.
Sebelum tidur sesuai kebiasaan di rumah aku selalu menggosok gigi. Akhirnya kutemukan juga sikat gigi
Aku keluar kamar dan menuju ke kamar mandi yang ada di belakang, tetapi masih di dalam bangunan ini.
Masih untung kamar mandi itu ada dalam bangunan ini, biasanya standar rumah di desa-desa untuk kamar mandi ada di luar bangunan utama.
Untungnya lampu petromaks ini nyalanya masih terang, berarti minyak gasnya masih penuh. Ketika akan kubuka pintu kamar mandi, aku melihat sebuah pintu, eh ternyata di bagian belakang ini ada pintu lagi, mungkin ini adalah pintu yang menuju ke tempat penggergajian.
“Ah besok pagi saja kulihat ada apa aja yang ada di balik pintu itu”
“Hmm kamar mandi ini tidak jelek juga keadaanya, meskipun lantainya agak kotor. Lumayanlah untuk berlama lama di dalamnya heheheh” gumamku sambil tersenyum
Untung bak mandi sudah terisi air, kalau tidak alamat aku harus ngangsu/nimba air dari belakang, yang penting sekarang aku harus tidur, karena besok pagi beberapa kegiatan sudah menungguku.
Setelah cuci muka dan gosok dingin dengan air yang bisa dibilang dingin sekali ini, akhirnya aku sudah ada di dalam kamar tidurku.
“Hmmm ternyata sekarang baru pukul 21.00 pantas aku belum ngantuk sama sekali, tapi suasana yang tenang dengan berbagai bunyi binatang malam makin membuatku menjadi ngantuk……” gumamku pelan
*****
Aku tiba-tiba terbangun ketika mendengar suara langkah kaki yang ada di bagian luar rumah ini. Jadi kamar ini bagian luarnya sudah hutan, tidak ada lagi pagar, hanya hutan yang gelap.
Ketika kulihat jam tangan ternyata aku baru tidur tiga jam saja, saat ini pukul 24.00. tapi siapa yang berjalan di samping rumah ini pada jam segini?
……Tap…tap…tap..kresek..kresek……
Suara langkah kaki yang menginjak daun kering terdengar lagi oleh telinga, siapa yang malam-malam gini berjalan di samping rumah. Ah mungkin itu suara langkah kaki si Mamad yang lagi mengambil sesuatu di luar sana.
Aku berusaha melanjutkan tidur lagi, tapi mataku sama sekali tidak bisa kupejamkan, mungkin ini akibat dari kopi yang disediakan oleh Mamad tadi.
Apa yang harus kulakukan di sini, aku sudah tidak ngantuk sama sekali, tapi ndak papalah, aku bisa dengar suara binatang malam yang bikin adem pikiran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
novita setya
kemproh😄
2023-08-17
0
Bintari
harus nya kalau kopinya di buat bareng sama makanan, kopinya sudah dingin
2023-07-09
1
vanilla🌻 | Novel lovers
Auto subscribe ceritanya
2023-04-07
1