“Iya Mad, mereka sudah tua-tua, kasihan kalau tidak disediakan makanan dari sini Mad. Meskipun tua mereka kalau kerja giat sekali ya Mad, dan mereka tidak banyak bicara juga ya”
“Ya itulah mas Agus, pekerja disini itu beda dengan di kota, disini mereka datang pagi sekali, sebelum jam 08.00, dan mereka bekerja dengan serius tanpa banyak bicara.
“Oh iya mas, mungkin nanti sore atau malam nanti waktunya mas Agus minta anggaran dana untuk pembelian log atau kayu gelondongan dan juga solar mas, jadi mas Agus harus ke desa untuk telepon bos kita”
“Iya Mad, nanti saya ke desa, biasanya pak Wandi jam berapa kalau ke desa Mad?”
“Pak Wandi kadang sore hari sebelum maghrib, nanti beliau maghrib di masjid desa, kemudian setelah maghriban, baru pak Bagus mencari wartel yang ada di dekat balai desa sana mas” kata Mamad
Siang hari ini hawanya lumayan terik, meskipun aku ada di hutan yang harusnya udaranya sejuk, tetapi karena mungkin sinar matahari tanpa ada halangan awan, maka akibatnya udara disini juga ikut menjadi panas.
Aku dan Mamad sedang duduk di amben yang dekat dengan sumur, asiknya ketika aku duduk di amben yang bersebelahan dengan sumur ini hawa disini tidak terasa panas, karena mungkin ada hawa dingin yang keluar dari dalam sumur.
Sumur yang terlihat tua dengan pinggiran sumur yang sebagian semennya dan batu batanya sudah tidak mulus lagi. diatas sumur ada kerekan atau semacam katrol dengan tali tampar yang tebal, yang gunanya untuk mempermudah mengambil atau ngangsu air dari dalam sumur.
“ASSALAMUALAIKUM” teriak suara perempuan yang masuk melalui pintu belakang.
“Waalaikumsalam” jawab kami dan para pekerja yang ada disini.
“itu adalah bu Tugiyem atau biasanya dipanggil dengan mbok Yem dan anaknya yang bernama Anik mas. Anak dia begitu cantiknya hingga mbok Yem selalu menjaga anak semata wayangnya itu dari laki-laki manapun heheheh” kata Mamad
Bu Tugiyem berjalan pelan menuju ke amben yang aku dan Mamad sedang duduki, dia membawa sebuah tas keranjang yang kelihatannya berat, mungkin di dalam nya ada makanan untuk para pekerja disini.
Sedangkan anaknya yang kata Mamad bernama Anik itu membawa sebuah ceret yang keliatanya agak berat juga, pasti kalau tidak teh ya kopi isinya.
“Oh ini yang gantikan pak Wandi ya mas?” kata bu Tugiyem kepadaku sambil tersenyum manis
“Iya bu, nama saya Agus” kusalami tangan Bu Tugiyem yang meskipun nampak sudah berumur tetapi masih terlihat kecantikan di wajahnya
“Iya pak Agus, saya Tugiyem atau panggil saja saya mbok Yem saja” kata mbok Yem masih dengan senyumnya
“Ini anak saya, namanya Anik” kata Bu tugiyem memperkenalkan anak perempuanya yang cantik kepadaku.
“Bu, jangan panggil saya pak, panggil nama saya Agus saja bu, saya ndak enak kalu dipanggil pak lho bu heheheh” kataku kepada bu Tugiyem
“Oalah nggih mas Agus, oh iya kapan mas datang kesini?” tanya bu Tugiyem
“Kemarin sore bu, saya dijemput Mamad di terminal kota bu” jawabku sambil kulirik Anik yang memang cantik khas gadis desa yang malu-malu
Anik.. nama yang singkat untuk gadis desa yang cantik, dengan rambut yang panjang sepunggung, wajah yang oval, hidung yang mancung khas orang jawa, bulu mata yang lentik dan mata yang cenderung agak sipit untuk seorang pribumi.
Cantik memang sih, apalagi kalau sudah mengenal make up, pasti kan lebih cantik lagi. Kulit kuning langsat Anik cocok sekali dengan tinggi tubuhnya yang mungkin hanya sekitar 160 cm itu.
Lain lagi dengan bu Tugiyem, memang dia sudah terlihat tua, tetapi d balik kerudungnya itu masih nampak garis wajah yang memang pernah menjadi idola pemuda di daerahnya, aku yakin itu hehehe.
“Mad, ayo pekerjanya ndang diajak lautan, ini sudah siang lho Mad” kata bu Tugiyem kepada Mamad
“Iya mbok , itu mereka sedang bersih bersih badan dari debu dan dari serbuk kayu, nanti kan mereka kesini sendiri bu” jwab Mamad
Bu tugiyem mengeluarkan beberapa bungkus makanan yang dibungkus dengan kertas coklat, setelah semua bungkusan yang berjumlah tujuh bungkus itu dikeluarkan. Dia juga mengeluarkan beberapa gelas dari tasnya.
Teko yang dari tadi dibawa oleh Anik pun dia taruh di amben, kemudian bu Tugiyem masuk ke dapur yang ada di dalam rumah, tidak lama kemudian dia membawa beberapa gelas dan teko juga.
Hhmm mungkin sistemnya teko dan gelas dia tinggal disini untuk diambil keesokan harinya, begitu secara bergantian terus menerus.
Teko yang ada di dalam dapur itu dia masukan ke dalam tas keranjangnya.
“Wis ya Mad. Saya balik dulu ya, itu teko isinya kopi yang mungkin agak pait mad, karena tadi saya ndeploknya tidak saya campuri jagung” kata bu Tugiyem
“Mas agus saya pamit dulu, besok saya kesini lagi kok seperti biasanya. Mas Agus dolan ke rumah saya kalau pas ndak ada kerjaan, atau kalau bosan ngobrol sama Mamad ” kata bu Tugiyem
Anik pun pamit kepadaku sambil salim tangan hehehe, mungkin kebiasaan penduduk disini untuk salim tangan kepada yang lebih tua. Dia melirik ke arahku sambil salim tangan, mata dia yang agak sipit itu indah sekali.
Mereka berdua berjalan keluar dari pagar seng yang ada di area penggergajian. Kedua orang yang menarik, karena baik ibu atau anaknya mempunyai senyum yang menggoda.
“Ayo ndang lautan pak, ndang makan dulu istirahat dulu” teriak Mamad kepada para pekerjanya
“Mas Agus, kita makan di dalam rumah saja mas karena bapak-bapak ini sungkan kalau kita ada disini mas” kata Mamad
Mamad mengambil dua bungkus nasi dan membawa ke dalam rumah, kemudian dia taruh nasi bungkus itu di meja makan yang agak mengenaskan bentuknya.
“Jadi semenjak dulu, kita ini catering sama bu Tugiem itu mas, jadi disini tidak repot untuk urusan masak memasak, kita cuma sediakan air minum saja mas”
“Untuk air minum galonan itu ada yang antar kesini mas, biasanya tiap dua hari sekali dari desa akan antar kesini dengan biaya lima ribu sekali antar mas”
“Pekerja lima orang itu tiap hari menghabiskan satu galon air mineral. Kita disini punya empat gallon air mineral mas” kata Mamad bercerita sambil makan
“Masakan bu Tugiem enak juga Mad, opo yo tiap hari enak gini masakan dia Mad?”
“Hehehe iya mas, mbok Yem pinter masak keliatan mas. Dia masaknya memang enak terus kok mas” jawabnya
“Kamu tau dimana rumah bu Tugiyem Mad?” tanyaku penuh selidik
“Hihihi mas Agus mau main ke rumahnya ya, mau ndolani ibuke opo anake mas heheheh” sahut Mamad
“Ora lah Mad, lha tadi kan aku diajak suruh main ke rumahnya Mad” jawabku
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Cerita Saat Hujan
Tahun segitu udah ada galon galon ternyata
2023-08-02
3
V_nee ' wife Siwonchoi ' 🇰🇷
Aku blasteran nih thor yogya - cirebon - china dikit² paham tapi ada beberapa yg agak gak bisa aku tangkap secara cepat jadilah minta bantuan si mbah geogle buat terjemahkan 🙄😅
2022-09-09
2
bellariusnovella
masih bisa ku ngrti kok bhsa nya
2022-07-19
1