Memang pada saat malam hari ini langit mendung, dan udara lumayan panas sehingga sebagian orang yang melekan sempat melepas pakaian mereka karena ongkep kata orang disini.
Ketika kami sedang menikmati makan malam yang disediakan oleh keluarga pak Karyo hingga tiba-tiba hujan mulai menetes, makin lama makin deras.
Sebagian orang pulang meninggalkan rumah keluarga yang ditinggal pak Karyo, tetapi sebagian masih berteduh di teras rumah termasuk kami berdua.
Cukup lama juga kami ada di teras rumah menunggu hingga hujan berhenti hingga akhirnya hujan tinggal gerimis saja.
“Lebih baik kita pulang saja mas Agus, mumpung ini tinggal gerimisnya saja, Saya kepikiran sama rumah dan alat-alat penggergajian di rumah”
“Disini ndak ada payung ta Mad, kita pinjam payung mereka dulu saja Mad”
“Jangan mas, jangan meminjam milik keluarga orang yang baru meninggal, tidak baik mas”
“Lebih baik menunggu hingga gerimisnya tinggal sedikit kemudian kita pinjam pisau untuk mengambil daun pisang yang disana itu, bisa kita gunakan untuk payung”
Tetapi ternyata lima menit kemudian hujan pun berhenti, dan tinggal menyisakan rintik gerimis kecil dengan udara yang lumayan dingin disini.
Mamad masuk ke dalam rumah untuk meminjam sebilah pisau yang bisa digunakan untuk memotong daun pisang yang akan kami gunakan sebagai payung, karena kami harus jalan menuju ke rumah dengan jarak yang tidak dekat.
“Mas Mamad pak Agus, lebih baik disini saja dulu, ini sudah jam 22.00 besok pagi saja kalian pulangnya”
“Perjalanan kalian berdua ini cukup berbahaya, karena kalian harus lewat sungai yang akan airnya mengalir deras kalau setelah hujan deras seperti ini” kata kerabat almarhum
“Tidak papa pak, kami akan hati-hati, apabila memang keadaanya tidak baik kami akan balik ke sini lagi”
“Bawa sini obornya mas, saya tambahin minyak tanah dulu” kata kerabat almarhum lagi
Setelah basa-basi akhirnya kami pun berjalan menuju ke arah sungai, saat ini pukul 22.30 kami ada di sisi sungai yang saat ini berarus lumayan deras karena suara gejolak air itu terdengar kencang dan keras.
Sungai yang waktu kami berangkat tidak terdengar sama sekali suara aliranya, sekarang jelas sekali sungai itu memamerkan kesangaran setelah hujan deras tadi.
“Mad, kamu yakin kita akan melewati jembatan itu, kamu dengar kan suara airnya yang sangar itu Mad”
Saat ini tangan kiriku memegang daun pisang sebagai payung dan tangan kanan memegang obor yang tadi sudah ditambah minyaknya tanahnya.
“Yakin mas, harus yakin, karena kalau tidak yakin selalu ada saja yang akan terjadi mas”
“Mad tadi ada bu Tugiyem dan anaknya yang bernama Anik. Mereka berdua duduk di bagian dalam rumah, tadi Anik sempat tersenyum ke aku Mad hehehe”
“Hush, jangan ganggu anak bu Tugiyem mas, bisa-bisa kalau kalian berdua cocok dan mas gus juga suka, pasti akan dipaksa untuk nikah mas. lha gimana dengan pacar mas yang minta dinikahi mas”
“Aahhh aku kok sampai lupa yang ada di rumah ya Mad, tapi tadi waktu aku lihat Anik rasanya lupa dengan yang ada di kampung saya Mad heheheh”
“Asal mas Agus tau , Bu Tugiyem sekarang lagi cari calon suami untuk anaknya yang bernama anik itu mas”
“Karena sesuai kebiasaan di desa, anak seumur Anik itu sudah saatnya untuk menikah. Kalau mas Agus coba-coba deketin Anik, bisa-bisa mas Agus ditodong untuk menikahi anaknya”
“Wah ngeri juga ya Mad, kalau cuma pacaran saja apa ndak boleh Mad?”
“Hahahah kalau cuma pacaran saja ya sudah dari dulu saya ajak pacaran mas. Karena ibunya yang seperti itu makanya saya ndak berani mendekati anaknya mas heheheh”
Hujan yang tadinya hanya gerimis, semakin lama semakin deras, hingga api obor yang kami bawa mulai terkena air dan pelan-pelan nyala apinya mulai mengecil.
Aku berusaha menjaga agar nyala api itu tidak mati, tapi tidak berhasil dan akhirnya oborku pun mati karena apinya terkena air hujan yang semakin deras.
“Mad, jaga agar api obor tidak mati” kataku agak berteriak karena suara hujan dan air sungai yang semakin keras
“Ndak bisa mas, sebentar lagi obor ini juga akan mati mas”
Mamad berusaha melindungi api obor yang dibawa dengan menggunakan daun pisang sebisa mungkin
Tetapi pada akhirnya dua obor sudah mati, kami sekarang ada di pinggir sungai yang airnya deras dalam keadaan hujan deras tanpa mempunyai penerangan kecuali senter kecil yang ada di saku depanku.
Tidak ada yang bisa kami lakukan selain kembali ke desa atau nekat menerobos hujan untuk pulang ke rumah penggergajian kayu.
“Apa yang harus kita lakukan Mad, kita balik atau tetap nekat terobos hujan deras ini dan seberangi sungai yang airnya seperti itu?” kataku dengan suara keras
“Itu disana ada pohon yang lumayan besar mas, kita kesana saja agar tidak terlalu terkena air hujan”
Mamad berteriak kencang karena sekarang suara hujan plus suara sungai plus suara geledek bercampur jadi satu
Petir menyambar-nyambar dengan cahaya yang menyilaukan, suara geledek tidak pernah berhenti membuat kami semakin ketakutan.
Aku setuju dengan usul Mamad untuk berlindung sementara di bawah pohon yang ada di depan kami , ndak tau pohon apa itu , pokoknya daun yang ada diatasnya meskipun gelap tapi terlihat rimbun.
Kami berlari menuju ke pohon yang ada di depan untuk berlindung dari air hujan yang sangat deras, suara angin dan air hujan sangat kencang, mungkin karena kami ada di daerah terbuka sehingga angin dan hujan terasa keras sekali.
“Mungkin penampakan mayat pak Karyo di ujung jembatan ini ingin mengatakan kalau kita tidak usah kesana, karena akan terjadi hujan deras yang mengakibatkan kita tidak bisa pulang ke rumah”
Aku berteriak keras kepada Mamad di sela sela suara hujan yang kencang
“Iya mas, bisa juga seperti itu mas Agus, tapi ya kita kan tidak paham tanda yang diberikan oleh penampakan pak Karyo itu , kita kan tidak paham kalau akan ada hujan setengah badai ini mas
“Kita tunggu disini saja Mad, siapa tau sebentar lagi hujan akan berhenti dan kita bisa lanjutkan perjalanan pulang”
Memang benar, hujan mulai berhenti dan tinggal gerimis saja yang masih ada, tetapi di gelap malam tanpa penerangan ini suara sungai yang akan kami lewati ini semakin keras.
Kemungkinan besar di hulu sungai sedang terjadi hujan sangat deras, sehingga air kiriman yang sampai disini sangat melimpah dan kencang suaranya.
Iseng aku keluarkan senter kecil andalanku yang sudah membantuku dalam beberapa masalah disini. ketika menyalakan senter ini dan mulai kuarahkan cahayanya ke sungai
“Ya Allah Mad, air sungai itu sebentar lagi akan meluber dan lihatlah arus sungai yang membawa berbagai macam dahan dan ranting pohon itu bahkan ada beberapa gelondong kayu yang ikut dalam arus sungai itu”
“Permukaan sungai itu sudah tinggal beberapa cm lagi dari tanggul sungai yang berupa tanah mas, lebih baik kita menyelamatkan diri dari sini mas sebelum banjir bandang datang kesini!” jawab Mamad
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Safitri Safitri
ya ampun,, serem banget
2023-08-14
0
V_nee ' wife Siwonchoi ' 🇰🇷
Balik lagi aja deh ke rumah pak karyo...masih mikirin rumah penggergajian aja dengan kondisi seperti ini Mad
2022-09-09
1
Annisa alma
thor ini cerita nyata kah thor.
2022-07-31
0