Ketika Anang tiba di pinggiran kota, dari kejauhan, Anang melihat kalau di tempat pedagang tahu tek-tek, tampak ramai sekali dengan pengunjung.
Semakin Anang mendekat ke situ, Anang melihat banyak anak muda tampak sebaya dengannya, dan ada yang terlihat lebih muda lagi.
Sedangkan pengunjung yang sudah berumur, tampak seperti biasa, tidak ada lonjakan jumlah yang berarti.
Anang lalu memperhatikan semua orang-orang yang ada di situ, sebelum dia meminta ijin untuk bernyanyi.
Hai Manis!
Gita terlihat sedang duduk lesehan, di antara banyaknya pengunjung muda, yang berkumpul di situ, dan dia sedang melambaikan tangan kepada Anang sambil tersenyum manis.
Manis sekali, seperti saat Anang melihatnya di video call semalam.
Anang membalas senyuman wanita itu, lalu meminta ijin untuk mulai bernyanyi.
"Nyanyi dah bang!"
"Iya. Nggak sabar dari tadi ditungguin!"
"Kami rekam ya Bang?"
Suara pemuda-pemudi di situ yang bersahut-sahutan, membangkitkan semangat Anang.
Anang kemudian bernyanyi, dengan petikan gitarnya, sambil duduk di sebuah kursi plastik, yang diberikan pedagang tahu tek-tek.
Anang melihat, kalau pengunjung-pengunjung muda di situ, memegang ponsel yang diarahkan kepadanya. Tapi, Anang tidak merasa gugup.
Dengan santainya, Anang menyanyikan lagu untuk mereka, yang tampak memang menikmati suara Anang.
Satu lagu usai, Anang tidak langsung memungut harga tiket pentasnya. Kembali dia menyanyikan beberapa lagu lagi, sampai habis.
Kalau Anang tidak salah hitung, sekitar empat lagu yang sudah dia nyanyikan, barulah Anang mengeluarkan kantong plastiknya, dan mulai mengedarkannya di antara pendengar, yang ada di situ.
Kantong plastik andalan Anang, hampir tidak mampu menampung sumbangan dari pengunjung yang ada.
Anang sempat mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam kantong plastik, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya, sebelum kembali mengedarkan kantong plastiknya lagi.
Banyak sekali yang bermurah hati, membagi sedikit rejekinya untuk Anang, dan tampaknya, tidak ada yang tidak memberi uang untuk Anang.
"Bang! Bisa nyanyikan lagu ini? Nanti aku kasih tambahannya sedikit," kata salah satu pengunjung laki-laki, yang tampaknya masih lebih muda dari Anang.
"Aku mau mengirimnya untuk pacarku. Hanya saja, suara musik di lagu ini terlalu berisik. Kalau Abang nyanyikan versi akustik, kata-katanya akan lebih jelas didengar," sambung anak muda itu, menjelaskan maksud dan tujuannya.
Anang menyanggupi permintaan anak muda itu.
Anang kemudian mendengarkan lagu, yang dimaksud laki-laki muda itu, dari ponsel anak muda itu.
Tidak butuh waktu terlalu lama bagi Anang mempelajari lagu itu. Mungkin hanya butuh sekitar lima belasan menit, Anang sudah bisa menghapal lirik, dan kunci nada petikan gitar untuk mengiringinya bernyanyi.
"Bisa! Mau dinyanyikan sekarang?" tanya Anang, dengan yakin.
"Iya, Bang! Sambil aku rekam ya?! Oh, iya, sebelum Abang bernyanyi, Abang bilang dulu, kalau lagu itu untuk (nama seorang wanita) dari (nama seorang laki-laki ), Ya, Bang?!" kata anak muda itu, menyebutkan permintaan tambahannya.
"Oke! Siap bos!" sahut Anang.
Pemuda itu kemudian mempersiapkan ponselnya, untuk merekam Anang.
"Siap Bang? Sekarang!" kata anak muda itu, memberi aba-aba.
Anang kemudian mengatakan apa yang menjadi pesan anak muda itu, kemudian mulai menyanyikan lagu sambil direkam di ponsel anak muda itu.
Anang menyanyikan lagu cinta itu dengan sepenuh hati, seolah-olah dia yang hendak memberikan lagu itu untuk kekasih hatinya sendiri.
Suara Anang, membuat pengunjung di situ tampak terpesona. Terpaku terdiam menatap Anang, yang bernyanyi sambil memejamkan matanya.
Setelah selesai Anang bernyanyi, tepukan meriah pengunjung, membuat Anang tersipu malu.
Anang memang bernyanyi sambil terbawa perasaan, meski dia tidak tahu untuk siapa, dia bisa memberikan perasaan sayang yang sedalam itu.
Ketika Anang melihat Gita yang tampak seakan terpana menatapnya, Anang jadi salah tingkah.
Anang menundukkan wajahnya, hanya sesekali mencuri-curi melihat ke arah Gita, yang masih saja menatapnya, dengan wajah tanpa ekspresi.
Anang jadi penasaran dengan apa yang dipikirkan Gita, sampai melihatnya seperti itu, tapi dia tidak berani menanyakannya.
Jangankan bertanya, menyapa wanita itu saja Anang merasa tidak percaya diri. Apalagi, Gita saat itu sedang duduk di antara orang banyak, yang mungkin adalah teman-temannya.
"Bang, Terimakasih! Bagus banget! Pacarku suka," kata anak muda tadi, sambil tersenyum lebar, tampak sangat senang dan puas dengan hasilnya.
Anang tersadar dari perhatiannya kepada Gita, karena kata-kata anak muda itu.
"Eh! Iya kah?! Baguslah, kalau pacar Adek senang," sahut Anang.
"Ini untuk Abang!" kata anak muda itu, sambil menyodorkan tangannya yang terkepal.
Anang menerimanya tanpa memperhatikan, berapa yang diberikan laki-laki muda itu, dan langsung saja dia masukkan ke kantong celananya.
"Terimakasih, ya, Bang!" sambung anak muda itu.
"Sama-sama, Dek!" sahut Anang.
Anang kemudian menggeser tempat duduknya, mendekat kepada pedagang tahu tek-tek. Tapi jadi semakin menjauh, dari tempat Gita dan teman-temannya duduk, meskipun dia masih bisa melihat Gita dari sisi sampingnya.
Anang memesan satu porsi tahu tek-tek dari pedagang, lalu mulai memakannya.
Sesekali, Anang melirik ke arah Gita.
Wanita itu masih saja menatapnya, sampai-sampai, Gita tampaknya tidak memperdulikan teman-temannya yang duduk di sekitarnya.
Setelah Anang menghabiskan makannya, dia masih duduk di situ sambil melihat layar ponselnya, untuk menghilangkan rasa groginya karena Gita masih saja melihatnya.
Tidak lama, gelembung balon muncul di layar ponsel Anang.
Anang menekannya, lalu melihat isi pesan yang masuk di situ.
'Bang, aku mau ngobrol dengan Abang', begitu isi pesan dari Gita.
'Sekarang?' Balas Anang.
'Nanti, Setelah teman-temanku pulang.' Balas Gita.
'Abang bisa menunggu? Atau abang harus ke tempat lain?' Balas Gita lagi.
'Bisa saja. Nanti saya tunggu,' Balas Anang.
Tidak ada lagi pesan masuk dari Gita. Hanya begitu saja. Anang bingung dan penasaran.
Apa ada yang salah tadi, ya?
Tapi perasaan tidak ada apa-apa.
Apa Gita marah karena Anang tidak menyapanya?
Anang bukannya tidak mau menyapa, tapi Anang hanya merasa malu saja. Apa Gita tidak bisa mengerti itu?
Anang masih melihat-lihat tampilan beranda f*cebook, yang tampak banyak foto-foto Gita yang bertebaran di situ.
Sambil melihat-lihat foto Gita, ada banyak pemberitahuan masuk di akun f*cebook milik Anang.
Anang kemudian memeriksanya.
Ternyata, banyak permintaan yang mengajaknya berteman di aplikasi itu.
Tanpa terlalu mau berpikir apa-apa, Anang menerima semua permintaan pertemanan di situ.
Perasaan, sudah banyak yang dia terima, tapi permintaan pertemanan itu seakan tidak ada habisnya.
Anang memperhatikan tampilan layar ponselnya baik-baik.
Pantas saja rasanya tidak bisa selesai-selesai. Ada lebih dari dua ribu, permintaan pertemanan baru, yang masuk di akun Anang.
Kok bisa?
Ah, Anang tidak mau terlalu memikirkannya, cuma membuatnya pusing. Terima saja. Toh, tidak ada ruginya.
Anang sibuk mengkonfirmasi pertemanan f*cebooknya, sambil meminum sebotol air mineral, sampai dia tidak menyadari kalau Gita sudah berdiri di sampingnya.
"Bang!" ujar Gita.
Anang mengangkat wajahnya. Dia yang sejak tadi hanya memperhatikan layar ponselnya, terkejut, sampai hampir tersedak air yang dia minum.
"Ehhem! ... Iya dek!" sahut Anang, sambil terbatuk-batuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
dementor
up terus author.. ceritanya bagus.. cerita orang2 pinggiran.. sr
2023-02-27
0
Penulis Jelata
Tepukan, Thor
2022-08-16
1