Malam ini Anang merasa seperti artis terkenal. Ketika dia berjalan keluar dari daerah kumuh tempat tinggalnya, kini dia menjadi pusat perhatian.
Pandangan orang-orang kepadanya tampak berbeda, malah para penghuni kost liar, ada yang sampai mengacungi jempol kepadanya.
Anang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum, kepada orang-orang yang menyapanya, saat berlalu di antara para penghuni kost yang sedang bersantai di pinggir jalan sempit, di antara bangunan-bangunan liar, di bawah jembatan itu.
Anang memang tampak keren dengan penampilan barunya.
Apalagi ditambah dengan gitar yang menggantung di punggungnya, benar-benar terlihat seperti penyanyi terkenal yang akan naik ke atas panggung.
Begitu juga saat dia berjalan menuju tempat biasanya dia mengamen, dipinggiran kota. Saat berpapasan dengan orang-orang yang juga berjalan kaki di trotoar, Anang bisa mendapat senyum gratis dari wanita-wanita yang melihatnya.
Meski hanya memakai kaus biasa dengan celana panjang, dipadankan dengan sendal jepit seperti biasanya, tapi perubahan di rambutnya benar-benar mempengaruhi keseluruhan penampilan Anang.
Ketika dia tiba di pinggiran kota, pengunjung di situ tampaknya semakin ramai.
Anang tidak bisa lagi seperti konser terbuka saat mengamen di situ. Dia harus bernyanyi bergantian dari meja ke meja, tempat para pengunjung itu makan.
Masing-masing meja, pengunjung di situ ada yang meminta lagu khusus, ada juga yang hanya membiarkan Anang menyanyi lagu apa saja yang Anang mau.
"Bang! Aku kurang suka lagu lokal. Kalau abang tahu lagu rock barat, aku mau mendengarnya. Maaf ya bang!" kata salah seorang pengunjung di salah satu meja di tempat itu.
"Bang! Jangan lagu lawas terus! Bosan bang!" Kembali Anang mendapat penolakan dari pengunjung.
Meski ada yang mau saja dia bernyanyi, tapi penghargaan yang mereka berikan tidak seberapa.
Ketika Anang berpindah ke salah satu meja yang tampaknya terisi dengan satu keluarga, Anang mendapat sedikit informasi dari salah satu anak pengunjung itu.
"Kakak tidak pernah dengar lagu di online? Sekarang banyak lagu baru kak. Bagus-bagus. Kenapa kakak nyanyinya hanya lagu-lagu yang sudah ada sebelum aku lahir?" kata anak itu, sebelum seorang wanita dewasa, yang mungkin adalah mamanya, menegurnya, dan meminta maaf kepada Anang.
"Maaf ya mas! Maklum anakku masih kecil. Kadang ngomongnya asal saja," kata ibu itu, kemudian memasukkan uang ke dalam kantong plastik milik Anang.
"Oh! Nggak apa-apa, bu ...! Terimakasih!" kata Anang.
Penampilan Anang mempengaruhi cara orang berkomunikasi dengannya, tapi tidak dengan lagu-lagunya. Orang-orang tampaknya mulai bosan, meskipun suara Anang cukup merdu.
Memang tidak mudah untuk menghibur orang lain. Apalagi dengan kemajuan jaman, Anang tidak bisa heran. Pasti banyak perubahan di dunia hiburan, meski Anang belum tahu seperti apa.
Lagu online?
Apa itu ada di ponsel?
Anang melihat hasil mengamennya kali ini. Kurang lebih untuk satu porsi bakso.
Anang terpikir untuk mencari informasi lebih.
Meski orang-orang yang ditemuinya sekarang, terlihat sudah lebih ramah kepadanya dari pada biasanya, tapi penghasilannya tidak bertambah, malah tampak berkurang banyak.
"Pak! Saya pergi dulu! Terimakasih, ya, pak!" Anang permisi dengan pedagang tua yang berjualan di situ.
"Oh! Sudah mau pulang?" tanya pak tua itu, sambil tetap mengulek sambal kacangnya.
"Nggak pak. Saya mau mencoba mencari lagu baru. Orang-orang kayaknya sudah bosan dengan lagu-lagu yang itu-itu saja," kata Anang.
"Saya pergi dulu, ya, Pak?! ... Permisi!" sambung Anang lagi.
"Iya, Nak!" sahut Pedagang tua itu, kemudian Anang berlalu pergi dari situ.
Anang berjalan sambil melihat-lihat ke sana kemari. Dia mencari-cari toko yang menjual ponsel, yang masih buka di sekitar situ.
Mata Anang tertuju pada sebuah toko yang tampak bersih dan terang benderang lampu yang bisa dibilang berlebihan, dengan musik yang diputar di pengeras suara yang cukup nyaring, dan memekakan telinga.
Anang berjalan mendekat, lalu memasuki tempat itu.
Lemari-lemari kaca yang tersusun rapi, memperlihatkan berbagai macam bentuk ponsel yang hampir mirip-mirip, dengan nama yang berbeda-beda.
Anang melihat-lihat di dalam etalase kaca yang memajang semua ponsel, yang dibuat tampak lebih menarik oleh pemilik toko.
"Cari apa Mas?" tanya seorang wanita, yang saat Anang masuk tadi, terlihat sedang duduk menghadap salah satu lemari kaca, kini menghampiri lemari tempat Anang berdiri.
Anang melihat wanita itu sebentar. Wanita berkulit putih dengan mata sipit, dan tampak ramah.
"Mbak saya mau melihat-lihat ponselnya dulu, bisa?" tanya Anang pelan.
"Bisa, Mas! ... Mas mau yang seperti apa? ... Nanti saya bantu," kata wanita itu ramah.
"Saya mau yang bisa untuk mendengar lagu online," kata Anang.
Wanita itu tersenyum. Tapi tidak menertawakan Anang. Mungkin dia tahu, kalau Anang benar-benar tidak mengerti tentang ponsel sama sekali.
"Mas mau yang bagus atau yang biasa saja?" tanya wanita itu.
Anang terdiam sebentar, sambil berpikir.
Semakin bagus barangnya pasti semakin mahal, dan semakin kecil kemungkinannya bagi Anang untuk bisa membelinya.
Kalau Anang bisa beli yang biasa, lalu bagaimana? Apa bisa berfungsi dengan baik?
"Kalau yang paling murah harganya berapa, ya?" tanya Anang hati-hati.
"Kalau terlalu murah, saya tidak rekomendasikan. Soalnya biasanya ketahanannya pasti kurang baik. Juga tidak ada garansinya," kata Wanita itu.
Wanita itu kemudian membuka lemari kaca dari sisi dalam tempat dia berdiri, lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam situ.
"Ini contohnya. Harganya lima lembar uang kertas merah. Tapi, garansinya tidak ada, juga spesifikasinya sangat rendah. Tidak mampu berfungsi dengan baik, kalau terlalu banyak aplikasi yang dipasang....
... Cocoknya untuk anak-anak yang hanya bermain game offline." Wanita itu menjelaskan sambil memperlihatkan ponsel, dan menunjukkan kepada Anang semua detail yang ada di ponsel itu.
Mendengar penjelasan wanita itu, meski ada beberapa yang tidak dipahami Anang, tetap saja yang Anang tangkap hanya benda itu tidak bisa berfungsi dengan baik.
Meski murah, tapi gampang rusak, sama saja buang-buang uang.
"Hmm ... Kalau yang sedang, ada? Berapa harganya?" tanya Anang makin penasaran.
Wanita itu memasukkan lagi ponsel di tangannya itu ke dalam lemari, dan meletakkannya di tempat semula.
"Yang ini sudah standar. Harganya dua puluh lembar uang kertas merah," kata wanita itu, sambil menunjukkan sebuah ponsel yang lain, yang baru saja dia ambil dari dalam lemari.
Wanita itu lalu memberikan benda itu kepada Anang agar bisa melihatnya dengan jelas.
Dengan hati-hati, Anang mengambil dan memegang ponsel sambil diputar pelan melihat warna dan memperhatikan modelnya.
"Ini sudah lumayan baik, ya?" tanya Anang masih penasaran.
"Iya. Ini juga sudah ada garansi. Kalau ada kerusakan yang memang bawaan dari ponselnya, Mas bisa datang kesini untuk klaim garansi....
... Ponsel ini lagi ada promo. Jadi kalau Mas beli ini, sudah mendapatkan kartu perdana salah satu provider jaringan seluler. Gratis internet untuk tiga bulan setelah diaktifkan," kata wanita itu, menjelaskan secara terperinci.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Siboro Putra
semngat thor
2022-08-28
0