Tidak ada yang istimewa dengan pekerjaan Anang hari ini di perumahan, selain jam makan siang yang diselingi dengan cerita Mandor dengan kepala tukang, yang hampir saja berperang.
Anang dengan beberapa rekannya yang lain, hanya menonton adegan saling bentak antara kedua lelaki itu.
Pertengkaran Mandor dengan kepala tukang hanya gara-gara masalah sepele. Keduanya mau mencari muka kepada si pemilik rumah, yang datang memeriksa perkembangan pekerjaan renovasi rumahnya.
Lauk ikan asin goreng dengan sayur asem, jadi pengganjal perut Anang, dan rekan pekerja lain, dibumbui dengan caci maki ekstra pedas perkataan Mandor dan kepala tukang.
Tontonan yang sama sekali tidak menyenangkan. Kalau mereka berdua tidak berhenti bertengkar, pekerjaan Anang dan rekan yang lain akan terancam diberhentikan.
Salah satu rekan pekerja Anang, mencoba melerai pertengkaran kedua orang itu, tapi malah ikut mendapat umpatan kasar dari kedua lelaki yang bersitegang itu.
Entah apa yang merasuki mereka.
Anang dan rekan pekerja yang lain hanya bisa berharap, cekcok antara Mandor dengan kepala tukang, bisa segera berakhir.
"Parah! Kan mandor juga, yang kemarin menyuruh kita membuat pancuran duluan?! Hari ini kok malah marah-marah lagi?" celetuk salah satu rekan kerja Anang, sambil dengan tangan kurusnya menyuap makanannya ke mulutnya.
"Biasa, lah! ... Pasti begitu, kalau Nyonya datang. Seolah-olah dia yang paling sibuk. Padahal biasanya, kita sibuk bekerja, dia hanya bersantai di bawah pohon," sahut salah satu rekan Anang, yang lainnya lagi.
"Husstt! ... Sudah! Paling-paling satu jam nanti, mereka berdua sudah akur lagi," kata salah satu tukang cadangan, yang terlihat sudah berumur, dengan rambutnya yang sudah penuh dengan uban.
Anang hanya mendengarkan pembicaraan mereka di situ, tanpa mau ikut berkomentar.
Anang khawatir kalau sampai harus berhenti bekerja, maka Anang akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya lebih dari biasanya.
Anang berdiam diri, dan memilih untuk menghabiskan makan siangnya, sebelum mereka bekerja lagi, saat jam istirahat siang berakhir.
Anang bisa bernafas lega, pekerjaan mereka bisa dilanjutkan, tanpa ada tambahan adegan drama pertengkaran lagi. Meski sang Mandor dan kepala tukang, masih saling memasang muka masam saat berpapasan.
Sampai jam kerja berakhir, Anang bisa bekerja tanpa mengalami kendala yang berarti.
Seperti biasanya, Anang pulang ke tempat tinggalnya, dan langsung menuju rakit untuk mencuci dan mandi, ditemani anak-anak yang bermain air di sungai.
Setelah selesai berpakaian, Anang tidak berminat mendatangi kamar Santi.
Bukannya Anang tidak mau menikmati pertempuran mereka di ranjang, hanya saja, rasa enggan mendatangi kamar Santi, lebih besar daripada keinginan Anang untuk mencelup teh di cangkir Santi.
Sambil duduk di kasurnya, Anang memakai earphone, lalu mulai mencoba menghapal lagu baru, untuk pentas pertunjukannya nanti malam.
Satu lagu, dua lagu, Anang merasa mudah menghapal lagu-lagu baru yang baru saja dia dengarkan, dengan iringan gitarnya yang nyaris tidak pernah meleset.
Ketika Anang sedang asyik melatih kemampuannya, pintu kamar Anang yang memang tidak dikuncinya, tiba-tiba terbuka.
Anang menoleh ke arah pintu, dan dia melihat Santi yang memakai tanktop dan rok mini, masuk ke kamarnya.
Buru-buru Anang melepas earphone dari telinganya, dan menyandarkan gitar tuanya ke dinding.
Tanpa sempat bicara apa-apa, Santi langsung mendorong Anang yang masih duduk di kasurnya, lalu menindih Anang sampai terbaring terlentang, dan menutup mulut Anang dengan tangannya.
"Kenapa kamu nggak pergi ke kamarku?" tanya Santi sambil berbisik, dengan matanya yang merah berkaca-kaca.
Santi lalu melepas tangannya dari mulut Anang, kemudian buru-buru membuka tanktop dan br* nya.
Anang hanya kebingungan melihatnya.
Ada apa dengan wanita ini?
Tapi, jiwa laki-laki Anang terpancing dengan tingkah Santi.
Anang tidak mau menolak yang sudah ada di depannya seperti itu. Tangannya memegang perbukitan yang menjulang menantang, dan meremasnya sepuasnya.
Santi menempelkan dadanya ke wajah Anang sampai Anang terbenam di bukit putih mulus yang padat kenyal, dengan titik puncaknya yang bisa masuk ke dalam mulut Anang.
Anang menggigit pelan dada Santi, saking gemasnya.
Sedangkan Santi menggigit bibirnya sendiri, kemudian menarik Anang agar kembali terduduk, lalu tangannya meraba-raba celana Anang, dan membukanya.
Anang yang sudah tidak bisa mengontrol pikirannya, hanya menikmati tangan Santi yang menyentuh daerah intimnya, sambil memejamkan matanya.
Anang bisa merasakan kalau Santi memasang sesuatu di bagian tubuhnya yang sudah mengeras, sebelum dia bisa merasa seakan menancap ke dalam sesuatu yang membuatnya terjepit, dan tertekan.
Santi bergerak kasar dipangkuan Anang.
***
"Kamu kenapa?" tanya Anang heran sambil menatap Santi yang masih di pangkuannya.
Anang memang penasaran, kenapa Santi mau melakukan itu dengannya, sedangkan dia tidak pernah memberikan Santi uang, seperti pelanggan-pelanggan Santi yang lain.
"Aku memang suka sensasi saat melakukan itu. Bukan lelakinya! Hanya itu saja!" kata Santi, enteng.
"Kalau aku bisa melakukan itu sambil mendapatkan uang, kan lebih baik?!" sambung Santi lagi.
Anang mengerutkan alisnya.
"Tapi, aku tidak mampu untuk memberimu uang," ujar Anang hati-hati.
"Dengan kamu itu beda. Aku puas. Makanya aku nggak minta bayaran. Kalau aku nggak butuh uang untuk bayar ini itu, aku mau kamu terus melayaniku. Kamu mau nggak?" Santi terlihat seolah-olah tidak ada beban saat bicara dengan Anang.
Anang terdiam sambil menatap Santi.
Santi berarti seorang penggila s*x.
Dalam hati Anang, ada sedikit rasa kasihan dengan wanita itu. Sayang sekali wanita dengan wajah cantik, lengkap dengan bentuk tubuh yang bagus seperti itu, malah pikirannya sakit.
"Kamu mau melayaniku, nggak?" tanya Santi sambil menatap Anang dengan sorot mata tajam.
Anang yang sejak tadi termangu, jadi gelagapan.
"Terserah kamu saja," sahut Anang asal.
Meski ada rasa iba, tapi sayang juga kalau ditolak, kan?
Hitung-hitung, Anang melakukannya untuk membantu Santi, dan....
Anggaplah sambil menyelam, Anang minum kopi ... Gratis.
"Bagus! Kalau kamu tidak ada kerjaan, dan aku belum pergi mencari uang, kamu datangi kamarku! Atau aku yang ke sini!" kata Santi tegas.
Anang menganggukkan kepalanya.
Santi terlihat senang, dan tersenyum lebar.
"Aku pergi mencari uang dulu!" ujar Santi, sambil mengedipkan sebelah matanya, kepada Anang.
Berarti benar kalau Anang membantu Santi 'kan?
Buktinya, Santi senang dengan bantuan Anang, sampai hampir meloncat kegirangan seperti anak kecil yang diberikan permen, saat keluar dari kamar Anang.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mimpi apa sampai bisa ada yang begini?
Anang harus tersadar dari mimpi. Tadi saat Santi membuka pintunya, diluar sudah mulai gelap. Anang harus buru-buru pergi ke pinggiran kota.
Anang merapikan baju dan celananya, kemudian mengambil gitarnya.
Anang kembali menyusuri sela-sela bangunan liar, dan trotoar yang panjang.
Di perjalanan, Anang teringat akan janjinya dengan Gita.
Kira-kira dia beneran datang ke sana lagi nggak, ya?
Sudahlah!
Anang sudah terlalu banyak bermimpi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Siboro Putra
Anang menang banyak
2022-08-28
1
Penulis Jelata
Hyper tu cewek, haha
2022-08-16
1
Raysonic Lans™
Ceritanya sangat bagus natural kehidupan
2022-07-03
1