Meskipun pekerjaan Anang dan pekerja lain tadi sempat berhenti, tapi mereka tidak ada perpanjangan jam kerja, karena dianggap kalau itu kesalahan pemilik rumah itu sendiri.
Tetap seperti biasa, jam pulang Anang masih sama saja seperti hari-hari kemarin.
Anang berjalan pulang dengan tergesa-gesa.
Di perjalanan kembali ke tempat tinggalnya, Anang sempat teringat pesan Santi, yang menyuruhnya membeli sesuatu, agar mereka bisa melakukan sesuatu.
"Ehhem!" Tenggorokan Anang tiba-tiba terasa kering, dan gatal.
Dari kejauhan, Anang melihat minimarket yang kemungkinan menjual karet pesanan Santi.
Singgah? ... Tidak ... Singgah? ... Tidak.
Anang merasa ragu untuk masuk kedalam sana. Dia membayangkan wajah penjaga yang akan melayani pembeliannya.
Apa mungkin nanti dia akan tertawai?
Apalagi sekarang dia masih mengenakan seragam lengkap, dengan kotoran, pasir, dan sisa semen.
Anang mengurungkan niatnya untuk singgah di situ.
Anang memilih untuk membatalkan niatnya, untuk menguji coba adegan di film yang dia tonton tadi. Dia lalu berjalan hendak melewati minimarket yang ada di sisi jalan.
"Mas Anang!"
Terdengar suara wanita yang sedang memanggil Anang, dan Anang merasa kalau dia mengenali suara itu.
Santi.
Anang menoleh ke arah datangnya suara.
Benar saja, Santi tampak baru saja keluar dari dalam minimarket yang hendak dilewati Anang.
"Baru pulang kerja?" tanya Santi, saat dia sudah berdiri di dekat Anang.
"Iya," jawab Anang malu-malu.
Bagaimana Anang tidak merasa malu? Penampilannya itu loh ... Ckckck!
Kaus berlambang partai politik yang sudah pudar warnanya, terganti dengan warna abu-abu dari debu semen. Begitu juga celananya yang kotor, dan sudah kaku seperti kulit kayu.
Jangan tanya wajahnya.
Biasanya sampai lubang hidung Anang penuh dengan debu semen bercampur ingus, membentuk adonan semen yang mengeras, sampai bulu hidungnya bisa dipakai untuk menusuk balon sampai meletus.
"Sudah aku belikan tadi, sekalian. Mandi dulu, lalu datang ke tempatku, ya?! Aku ingin mencobanya," kata Santi, sambil menunjuk celana Anang dengan matanya, tanpa malu-malu.
Santi juga menggigit bibirnya sendiri, dan memperlihatkannya kepada Anang.
"I-iya!" sahut Anang terbata-bata.
"Jangan lama-lama! Pulang nanti langsung pergi mandi! Biar kita bisa lama-lama di kamarku," kata Santi, seakan sedang menggoda iman Anang.
Tergoda? Jelas!
Kucing mana yang tidak mau, kalau diberi ikan gratis, benar 'kan?!
Membayangkannya saja, lutut Anang sudah gemetar. Santi berjalan duluan jauh didepan Anang yang hampir tidak bisa berjalan.
Anang menarik nafas panjang, untuk menenangkan dirinya.
Dia kemudian melanjutkan perjalanannya kembali ke kamarnya, yang sudah terlihat dari tempatnya berdiri sekarang.
Anang kemudian pergi ke rakit di atas sungai, tempat biasanya dia mandi.
Anang sibuk mencuci pakaiannya terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia mulai mandi, dengan menyiramkan tubuhnya menggunakan aliran air sungai.
Saat Anang sedang ayik menggosok tubuhnya dengan sabun, dia melihat di rakit yang ada di bagian hulu sungai, ada Santi yang sedang mandi, dan hanya menggunakan sarung batik.
Tumben!
Anang baru kali ini melihatnya mandi di situ. Atau mungkin saat Santi mandi, Anang sedang tidak ada di situ?
Sejak siang tadi, goda'an demi goda'an memang merusak otak Anang, membuatnya kehilangan kepolosannya.
Santi dengan kainnya yang basah, lekuk tubuhnya terlihat jelas, seperti tidak memakai apa-apa.
Duh, Gusti ...!
Untung di rakit tempat Anang mandi sekarang hanya anak-anak kecil saja yang sedang mandi, dan berenang. Ibu-ibu tukang gosip belum pada datang.
Bayangkan kalau mereka melihat gemetarnya Anang, menahan boxer olahraga tipisnya yang menonjol....
Entah apa yang akan mereka bicarakan lagi.
Anang menyiram kepalanya dengan air sungai yang dingin. Dia ingin mencuci pikirannya yang kotor sebelum menyelesaikan mandinya.
Akhirnya Anang berhasil menyelesaikan mandinya, tepat saat rombongan ibu-ibu itu turun ke rakit.
Buru-buru Anang pergi dari sana lalu kembali ke kamarnya.
Anang melihat wajahnya di cermin. Memastikan tidak ada sesuatu yang bisa membuatnya tampak lebih buruk dari pada biasanya.
Deodoran sudah, parfum sudah, rambutnya sudah disisir, baju kaus, dan celana panjangnya juga sudah.
Anang hampir saja keluar dari kamarnya, sebelum akhirnya dia berbalik masuk lagi.
Anang mengambil ponselnya, kemudian memasukkannya di saku belakang celananya.
Berjaga-jaga, kalau batal melakukan sesuatu, Anang masih bisa belajar tentang hal di ponsel yang belum dia ketahui, dari Santi.
Paling tidak, Anang ada alasan untuk mendatangi Santi. Mana tahu, Santi nanti tiba-tiba berubah pikiran.
Anang berjalan keluar, dan tanpa mengalami kesulitan berarti di perjalanannya, dia bisa tiba di rumah Santi yang berjarak kurang lebih lima puluh meter dari kamarnya.
Tidak jauh....
Tapi kalau berjalan dengan otak yang tidak berfungsi normal, Anang bisa saja tersandung, atau dengan tinggi tubuh Anang yang di atas rata-rata penghuni di situ, dia bisa saja menabrak atap bangunan kost yang rendah, kalau dia lupa menunduk.
Coba saja kalau tidak percaya!
Karena dengan proporsi tubuh Anang, kalau dia tidak tersangkut tali jemuran saja, sudah bersyukur.
Harus ekstra hati-hati kalau Anang tidak mau terluka, atau terlilit pakaian dalam orang, di lehernya.
Anang mengetuk pintu kamar Santi.
Hanya sekali ketuk, tanpa sempat memanggil nama Santi, pintu kamar Santi sudah terbuka.
Santi hanya melilitkan handuk di separuh tubuhnya, dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai, dan masih basah meneteskan air.
Anang termangu didepan pintu Santi.
"Masuk! Ngapain kamu berdiri di situ saja?!" kata Santi yang sudah duduk dipinggir ranjang.
Anang kemudian melangkah masuk ke dalam kamar Santi.
"Tutup pintunya!" kata Santi lagi.
Anang kemudian menutup pintu kamar Santi.
"Kesini! Berdiri di sini!" kata Santi, sambil menunjuk ke depan tempat dia duduk.
Anang berjalan lalu berdiri diam tepat di depan Santi.
Seperti robot yang dikontrol pemiliknya, Anang menuruti semua perintah Santi tanpa mengeluarkan suara apa-apa.
"Mendekat ke sini lagi!" kata Santi, yang terlihat tidak sabaran menarik Anang, sampai berdiri dekat sekali dengannya.
Santi terlihat tanpa ragu, membuka kancing, dan ritsleting celana Anang.
"Aku mau melihatnya dulu!" kata Santi.
Celana Anang yang sudah terbuka, ditarik Santi sampai melorot turun ke kaki Anang, berikut juga pakaian dalam tipis Anang.
Jantung Anang berdebar-debar, saat wajah Santi sejajar dengan pangkal paha Anang yang terbuka, sambil menatap ke situ. Santi tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.
Apa yang mau dilihat Santi?
Bentuknya? Ukurannya? Atau apa?
Saking gugupnya, Anang tidak bisa mengingat menariknya film tadi siang, yang sempat dia bayangkan akan dia lakukan dengan Santi.
Santi melepas handuknya, lalu menahan badannya yang hampir terlentang dengan kepala terangkat, dia masih melihat ke arah kaki Anang.
Mata Anang terbelalak, ternyata di balik handuk, Santi tidak memakai apa-apa lagi. Anang merasa ada bagian tubuhnya yang mengeras.
"Nah, gitu dong!" celetuk Santi, yang terdengar senang.
Santi kembali duduk, lalu mengambil sebuah plastik kecil dari bawah bantalnya. Santi membuka bungkusan seperti permen berukuran besar lalu mengeluarkan isinya, kemudian memasangkan ke tongkat intim Anang.
"Ckckck! ... Kekecilan. Sakit nggak?" tanya Santi, sambil mendongakkan kepalanya, melihat wajah Anang.
Anang merasa terjepit, tapi tidak sampai terlalu sakit.
Anang menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, kamu tunggu apa?" tanya Santi, sambil dia terlentang, dan menarik Anang bersamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
heum author jahat..
kasihsn kn s Anang..
masih perjaka ting nong..
dapat karung bolong
2023-01-08
1
Ganuwa Gunawan
hahahaha😅😅😅
bisa ae aah
2023-01-08
1
Ichwan
bodoh kali si Anang
2022-08-02
0