Masih subuh, tapi keributan di luar kamar Anang mengalahkan keramaian pasar malam, yang penuh dengan wahana ekstrim.
Teriakan dan gosip ibu-ibu tetangga Anang, mampu membangunkan ayam-ayam jantan yang masih tertidur, dan terlambat berkokok.
Anang mengucek matanya yang kering. Hari ini dia harus pergi ke rumah salah seorang langganan bosnya yang sedang direnovasi. Harus pergi pagi-pagi sekali, demi menikmati segelas kopi panas, dan kue jajanan pasar.
Kalau sampai dia kesiangan lagi, dan terlambat tiba di sana, yang akan dia dapatkan hanya segelas air putih dengan sisa remahan kue.
Tanpa perlu mandi, Anang mengganti celana panjangnya dengan celana pendek yang sudah berat dan keras dengan debu semen. Begitu juga kausnya, kini berganti dengan kaus dengan lambang partai politik yang dibagikan saat kampanye.
Pakaian kerja Anang itu, sekarang lebih kokoh daripada dinding kamar sewaannya.
Memakai sepatu yang dipakai dari jaman masih sekolah, sudah sempit dan menganga seperti mulut buaya yang kelaparan. Jari-jari kakinya menyembul keluar dari ujung sepatu.
Perut Anang sama laparnya dengan sepatunya.
Terburu-buru Anang berjalan di antara orang-orang penghuni kolong jembatan, yang sudah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Semua penghuni kost liar, berprofesi serabutan. Kesulitan ekonomi mereka sama dengan Anang jika dibandingkan di atas timbangan.
Ada satu petakan yang terlihat lumayan. Anang melewati petakan sang juragan pemilik kost-kost'an. Petakan cukup besar lengkap dengan perabotan rumah tangga.
Didalam situ, sudah banyak anak-anak yang menumpang menonton televisi, meski siaran yang ditayangkan hanya berita pagi.
Mungkin anak-anak itu lebih tahu tentang informasi keadaan di masyarakat daripada pejabat kota yang berwenang.
Cahaya matahari sudah mulai terlihat dari ufuk timur, Anang mempercepat langkah kakinya. Suara gesekkan celana pendeknya, sudah seperti suara amplas tukang kayu yang bekerja terburu-buru.
Ketika Anang tiba di perumahan tempat dia bekerja jadi pembantu tukang, dia sempat dihadang sekuriti baru, karena dikira orang dengan gangguan jiwa.
Sekuriti perumahan, tiba-tiba menjadi dokter jiwa yang bisa mendiagnosa tingkat kewarasan Anang.
Setelah melalui perdebatan yang cukup alot, Anang akhirnya diijinkan masuk ke dalam perumahan.
Anang mau saja memaki satpam muda itu, tapi dia mengurungkan niatnya. Kalau dia sampai tidak bisa mengendalikan emosinya, maka hasil diagnosa satpam baru itu akan membuatnya dijemput satpol pp, saat itu juga.
Dari kejauhan, Anang bisa melihat lokasi kerja yang sudah ramai dengan pekerja. Anang kemudian berlari.
Tolong sisakan, walau hanya sepotong kue!
Untung saja ada yang berbaik hati membiarkan Anang mengambil potongan kue terakhir. Atau mungkin karena orang itu jijik melihat tangan Anang yang kotor, memegang erat-erat sepotong kue yang tersisa di atas piring.
Tangan Anang dengan urat yang timbul di sepanjang punggung tangan sampai ke lengan, dengan kulitnya berwarna kecoklatan karena terbakar sinar matahari.
Bukan itu masalahnya, tapi karena kukunya yang hitam kebiruan seperti kuku nenek sihir buruk rupa, yang baru saja selesai membuat ramuan beracun. Tampak sangat menakutkan kalau harus berebutan makanan dengannya.
Sepotong kue dadar gulung, cukup untuk mengganjal perutnya sementara. Dicukup-cukupkan saja, sambil dibantu dengan kopi yang langsung diminum Anang dari ceretnya.
Tidak ada lagi gelas yang tersisa. Sedikit cairan yang bercampur dengan ampas kopi lumayan saja untuk ditelan.
Bubur kopi yang pahit manis, mengalahkan rasa nikmatnya bubur ayam yang biasa dijual tetangganya, dan dibagi-bagikan percuma saat tidak habis terjual.
Anang sudah siap dan bertenaga untuk bekerja sampai gemetar.
Gula dan kafein berlebihan, membuatnya bersemangat mengangkat beban ember di bahunya, sambil menaiki tangga rumah tiga lantai yang jadi tempatnya mencari nafkah utama.
Anang bukan pemuda bodoh, hanya saja di sekolah Anang, tidak pernah diajarkan bagaimana caranya untuk membuat bangunan. Mau tidak mau, meski berat, Anang hanya jadi pembantu tukang dengan gaji tidak masuk akal.
Lebih tepatnya gaji yang hanya bisa untuk membayar sewaan dan sabun untuk mandi, yang juga dipakai untuk mencuci tiga pasang baju yang masih muat di badannya.
Sambil bolak-balik naik dan menuruni tangga, Anang memikirkan di mana lagi dia akan mengamen nanti malam.
Terlalu sibuk berpikir, membuat Anang tidak memperhatikan lagi langkahnya. Kaki dengan jari-jarinya yang terbuka mencium sesuatu dengan keras. Rasa ngilu menyentuh sampai ke ubun-ubun.
Bukan ciuman yang nikmat dan menyenangkan.
Anang berdebar-debar, tapi bukan merasa berdebar-debar karena cantiknya wanita yang mengungkapkan cinta untuknya.
Melainkan debaran ketegangan saat melihat ke bawah kakinya, yang lebih dari dua meter ketinggian sampai ke dasar, tanpa penghalang untuk memperlambat jatuhnya.
Anang tidak patah semangat, meski kuku kakinya patah dan terangkat dari jarinya, saat tersandung potongan beton yang belum disingkirkan dari anak tangga.
Hanya patah kuku, itu bukan masalah bagi Anang, 'kan hanya sedikit berdarah di pinggir jari kakinya. Apalagi, jari-jarinya tidak perlu terjepit di dalam sepatu.
Yang penting, dia tidak sampai jatuh terguling-guling dari lantai dua, sampai ke lantai dasar.
Kalau sampai terjadi begitu, bukan cuma kukunya yang patah, bisa-bisa dari ujung jari sampai ujung rambut gimbalnya juga ikut patah. Lalu Anang akan jadi penghuni lampu merah, selamanya.
Jam makan siang adalah waktu yang paling membahagiakan bagi lambung Anang. Meski hanya berlauk tempe atau ikan asin, dengan sedikit sayur, Anang pasti bisa makan kenyang dengan porsi nasi yang tidak dibatasi.
Saat itulah tenaga dan semangat hidup Anang kembali ada.
Anang benar-benar mensyukuri makanan dari langit untuknya.
Sesederhana itu permohonan Anang kepada Tuhannya. Tidak muluk-muluk, hanya agar Tuhan mengijinkan dia bisa merasakan perutnya kenyang meski hanya sekali dalam sehari.
Setiap perutnya kenyang, Anang menghitung dan menyisihkan meski hanya sebagian kecil gajinya untuk diberikan ke rumah ibadah.
Mungkin itu juga sebabnya, sehingga sejak Anang datang ke kota itu, dia tidak pernah merasa kelaparan sampai seharian penuh. Pasti ada saja yang bisa mengenyangkan perutnya meski hanya sekali dalam sehari.
Bahunya kini tidak ada lagi yang tidak lecet. Ember dipindah-pindahkan ke kiri ke kanan bahunya.
Semakin ke atas pembangunan renovasi rumah, semakin berat pekerjaan Anang. Semakin banyak anak tangga yang harus dia lewati.
Sampai sore, Anang masih berlalu-lalang di tangga, sampai akhirnya jam kerja berakhir.
Anang hari ini semestinya sudah waktunya menerima upah untuk tenaga dan waktu hidupnya yang dia pakai untuk bekerja.
Anang dan pekerja lain dengan sabar menunggu lembaran uang kertas yang dibagikan mandor yang mengawasi pekerjaan, atas perintah sang empunya rumah.
Giliran Anang menerima bagiannya. Seperti biasa, dalam perjalanan pulang, Anang sudah memikirkan pembagian uang di tangannya.
Beberapa lembar untuk membayar sewaan, beberapa lembar untuk membeli sabun, dan sisanya untuk disinggahkan ke rumah ibadah di dekat tempat tinggalnya.
Anang melangkahkan kakinya dengan semangat. Tidak ada lagi rasa sakit yang tersisa dari ujung jarinya yang menyentuh aspal, saat dia berjalan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
itu mh bukan minum kopi..
tpi makan ampas nya thor
2023-01-08
1
Ganuwa Gunawan
thoooooor sadis nemen kamu sm s Anang..kga ada bagus bagus nya dikit ..kasihan s Anang..
2023-01-08
1
Ganuwa Gunawan
eat dah aah nih pak satpam..ga tau pa orang dah lapar
2023-01-08
1