Sambil senyum-senyum sendiri, Anang berjalan dengan diiringi bunyi gitarnya yang seperti gendang, memukul-mukul punggung Anang.
Kali ini dia tidak memasang earphone di telinganya, hanya membiarkan ponselnya terdiam di saku belakang celananya saja.
Anang merasa percuma menyalakan musik di telinganya, tidak ada yang bisa dia dengar dengan baik.
Terngiang-ngiang di telinga Anang suara keluhan Santi yang terdengar merdu, melebihi suara suling sakti grup band dangdut, sebelum Santi setengah berteriak meminta ampun kepada Anang.
Memang tidak melelahkan, justru membuat Anang merasa makin bertenaga.
Meskipun Anang sudah sempat berhasil menembak Santi dengan pelurunya, tapi masih ada rasa penasaran untuk mencoba berperang lagi.
Huuufft! ... Padahal kata Santi tadi siang, mau lama-lama.
Tapi sayangnya, Anang baru mencoba dua gaya tempur, Santi sudah menyerah, dan tidak sanggup lagi.
"Besok lagi! Keterlaluan besarnya, rasanya aku mau pingsan. Nanti aku tidak bisa bekerja malam ini."
Anang teringat perkataan Santi.
Wajah Santi terlihat lemas, dengan alisnya berkerut, seolah sangat kesakitan sambil memegang perut Anang, ketika Anang masih menungganginya, dan ingin menggempur Santi lagi.
Anang sempat mengira, kalau Santi akan jera bertarung dengannya. Ternyata yang anehnya, dia masih meminta Anang untuk melakukannya lagi besok.
Oke!
Selama Santi memintanya, Anang dengan senang hati meladeninya.
Anang masih sanggup, kok!
Jadi masalahnya apa? Tidak ada masalah, kan?
Sama-sama mau.
Santi masih sempat berbisik, kalau dia nanti membelikan karet dengan ukuran yang lebih besar untuk Anang, sebelum Anang keluar dari kamar Santi tadi.
Terserah kamu saja deh, Neng! Yang penting sama-sama enak saja.
Tidak lama, Anang sudah sampai di pinggiran kota, tempat dia biasa mangkal beberapa hari belakangan.
Memang kalau berjalan dengan hati senang, membuat perjalanan yang jauh tidak terasa lelahnya.
Anang masih segar, dan bersemangat untuk bernyanyi malam ini.
Seperti biasanya, Anang meminta restu pedagang, dan pengunjung terlebih dahulu.
Kali ini Anang menyanyikan lagu-lagu baru, yang dia dengarkan di online.
Hasil mengamennya kembali meningkat. Lumayan untuk kembali mengisi ayam plastik tersayang, yang mulai kelaparan.
"Bang! Abang punya akun f*cebook?" tanya seorang pemudi, yang tampaknya masih abege.
"Apa itu dek?" tanya Anang yang kebingungan.
"Abang ada ponsel?" tanya pemudi itu kepada Anang lagi.
"Ada," sahut Anang, sambil mengeluarkan ponsel dari kantong celananya.
"Ini loh, Bang!" kata pemudi itu, sambil menunjuk kotak berlambang huruf 'F', di layar ponsel Anang.
"Ooh...! Saya baru saja membeli ponsel. Belum tahu gunanya yang itu seperti apa," sahut Anang, ikut menunjuk ke layar ponselnya.
"Abang mau nggak, kalau aku bantuin bikinkan akun f*cebook? Nanti Abang bisa posting video Abang bernyanyi di situ," kata pemudi itu, menawarkan bantuannya kepada Anang.
"Ooh...! Saya mau. Tolong, ya?!" sahut Anang.
"Kalau begitu, aku pinjam ponsel Abang!" kata pemudi itu lagi.
Anang kemudian menyodorkan ponselnya, kepada gadis muda itu.
Anang lalu menjawab apa saja yang ditanyakan pemudi itu, sambil menatap layar ponsel, melihat bagaimana cara gadis muda itu membuat akun untuknya.
Pemudi itu juga terlihat sibuk mengetik sesuatu di layar ponsel Anang, sambil dia bertanya banyak sekali pertanyaan kepada Anang.
Mungkin pemudi itu sudah merasa cukup, gadis muda itu lalu tidak bertanya apa-apa lagi kepada Anang. Hanya kedua jempol tangannya saja yang terlihat sibuk di layar ponsel, sambil matanya tidak lepas menatap ponsel itu.
"Sudah nih, Bang! Sudah aku buat kita berteman juga di situ. Nanti Abang minta berteman dengan orang lain. Begini caranya!" kata pemudi itu, sambil menunjukkan pada Anang, apa yang perlu Anang tekan.
Anang menyimak dengan baik, apa yang diajarkan gadis muda itu. Tidak sulit, Anang bisa mengerti, dan mengikuti penjelasan gadis muda itu.
"Kalau ada yang mau berteman dengan Abang, nanti Abang tinggal tekan yang ada tulisan 'Terima' ini, ya, Bang!" kata gadis muda itu, masih sambil menunjukkan yang dia maksud di layar ponsel.
Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau mau posting sesuatu, foto, video, atau cuma tulisan saja, ini semua pilihannya!" Gadis muda itu, sabar sekali mengajarkan Anang.
"Kita pasang foto Abang untuk foto profil akun ya, Bang?!" kata gadis muda itu.
"Iya," sahut Anang.
Gadis muda itu lalu memposisikan kamera ponsel, sampai dia merasa hasilnya bagus, barulah dia memotret Anang.
"Ini, bagus nggak, Bang?" tanya gadis muda itu sambil memperlihatkan hasil jepretannya kepada Anang.
"Bagus! Itu saja!" sahut Anang bersemangat.
"Nah! Sekarang Abang coba pakai," kata gadis itu sambil menyodorkan ponsel Anang kembali kepada Anang.
Anang melihat-lihat sebentar layar ponselnya.
"Kalau Abang mau coba, Abang bernyanyi, nanti saya yang video-kan. Nanti Abang bisa posting di situ," celetuk gadis muda itu.
"Boleh!" sahut Anang. Dia kembali memberikan ponselnya, kepada gadis muda itu.
Tidak lama, Anang mulai bernyanyi diiringi petikan gitarnya, sambil direkam gadis muda tadi.
Setelah satu lagu usai, gadis itu memperlihatkan hasilnya kepada Anang.
"Coba Abang posting," kata gadis muda itu.
Anang, dengan perlahan tapi pasti, mengikuti cara yang sudah diajari gadis muda itu tadi.
Dan berhasil. Anang bisa membuat video saat dia bernyanyi, terpasang di situ.
"Nah sekarang Abang tandai ke akunku. Nanti aku bantu sebarkan. Begini caranya!" Gadis muda itu kembali mengajarkan Anang, apa yang dia maksud.
"Gampang aja, kan, Bang?" tanya gadis muda itu, sambil tersenyum.
"Iya. Makasih banyak, Dek! Abang nyanyikan satu lagi lagu untuk Adek ... Gratis!" kata Anang, sambil ikut tersenyum.
Anang kembali memperdengarkan suaranya kepada mereka di situ, terlebih khusus bagi gadis muda yang sudah membantu mengajarinya.
Setelah satu lagu selesai dinyanyikan Anang, kembali Anang berterimakasih kepada gadis muda itu.
"Terimakasih banyak, Dek!"
"Sama-sama, Bang! Ingat ya Bang, kalau Abang posting video baru, tandai akunku, ya, Bang?!" ujar gadis muda itu bersemangat.
"Siap, bos!" sahut Anang, yang membuat gadis muda itu tertawa.
Anang kemudian melanjutkan mengamennya. Setelah beberapa meja sudah didatangi Anang semua, Anang kemudian memesan tahu tek-tek langganannya di situ.
Sambil memakan makanannya, Anang sesekali melihat akun f*cebook, yang baru saja dia dan gadis muda tadi buat.
Anang sempat juga melihat gadis muda itu melambaikan tangannya, sebelum gadis muda itu pergi dengan sepeda motornya.
Sebelum Anang berpindah tempat bernyanyi, dia lalu teringat Miss Jordan. Mungkin begini caranya. Miss Jordan merekam lalu mempostingnya di online.
Sudah beberapa lama ini berlalu, tapi tidak pernah lagi Anang lihat Miss jordan, atau Peter di daerah itu.
Anang tetap harus berterima kasih kepada mereka, karena uang yang diberikan mereka, membantu Anang untuk bisa merawat dirinya jadi lebih baik, juga bisa untuk membeli ponsel, yang bisa dipakainya untuk belajar hal baru.
Termasuk hal yang diajarkan Mandor, di tempat kerja Anang.
Lumayanlah kalau Anang sedang bosan, menonton film aksi begitu sekali-sekali, nggak apa-apa, kan?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
oh Anang kok kmu jdi heum......tau ah gelap dunia
2023-01-08
1
Siboro Putra
kuda poninya mna
2022-08-28
1
Penulis Jelata
Mulai pinter ni MC, pinter yg terkontaminasi
2022-08-16
1