Di sepanjang perjalanan pulang kembali ke kost'an liar di bawah kolong jembatan, Santi terus saja senyum-senyum kepada Anang.
Apa Anang harus ikut tersenyum, atau Anang harus takut?
Semakin aneh saja rasanya, saat melihat Santi tidak menatap layar ponselnya, tapi malah terus-terusan melirik Anang.
Anang jelas merasa senang, tapi sayang Anang tidak tahu caranya bicara dengan wanita yang tampak menyukainya seperti itu.
Anang memang kurang pengalaman.
Waktu masih memakai seragam putih biru, Anang pernah mengajak seorang gadis untuk menjadi pacarnya, tapi ditolak mentah-mentah.
Dengan alasan, gadis itu lebih menyukai laki-laki dengan seragam putih abu-abu.
Ketika Anang sudah memakai seragam putih abu-abu, Anang mencoba peruntungannya dengan menembak gadis yang sama, yang saat itu juga jadi teman sekelasnya.
Dia ditolak lagi.
Kini alasannya, gadis itu lebih suka laki-laki yang sudah pakai jas dan celana bahan.
Kalau sampai sekarang bertemu lagi, Anang sudah tidak tahu apalagi alasan gadis itu menolaknya. Mungkin dia lebih suka laki-laki yang sudah botak.
Aaah ... Anang ingin sekali memegang tangan halus Santi dengan tangannya yang kasar, bergandengan tangan sambil menikmati perjalanan kembali ke kolong jembatan, disinari lampu jalan yang temaram.
Tapi bagaimana caranya? Apa Anang langsung mengambil tangan Santi begitu saja?
Anang kemudian mencoba menangkap tangan Santi.
Berhasil!
Senyum Santi makin lebar.
Anang terpikir sesuatu yang membuatnya khawatir.
Jangan-jangan karena lembaran kertas merah di kantongnya, yang menjadi target Santi!
Anang berusaha menepis pikiran buruknya. Tapi, pikiran itu terus saja muncul. Berhubung Santi memang biasanya tidak perduli, meski pelanggannya sudah tua dan jelek, asal bisa membelikan dia bedak.
Anang secara tidak sengaja, pernah melihat Santi menggoda laki-laki dengan perut buncit yang mengendarai mobil.
Pasti ini karena lembaran kertas merah milik Anang. Tapi tidak apa-apa, asal cuma selembar. Jangan sampai Santi mau seekor ayam plastik di rumahnya, utuh-utuh.
Menyenangkan. Memegang tangan Santi memang sangat menyenangkan, dibandingkan memegang tangan ember semen.
Sesekali, Anang melirik Santi yang sekarang lengannya menempel di lengan Anang, sambil tersenyum.
"Santi kenapa senyum-senyum terus?" tanya Anang, yang tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
"Kamu ternyata ganteng ya," ujar Santi.
"Beneran?" tanya Anang memastikan.
"Iya!" sahut Santi, sambil menarik poni rambutnya yang terjatuh di wajahnya, ke belakang telinga.
Anang rasanya mau terbang dibuat Santi malam ini.
Begini rasanya kalau mendapat pujian dari seseorang yang kita suka, ya? Bikin kesengsem seperti ibu-ibu komplek dengan drakor 'li min ho'nya.
Apalagi saat Santi memperbaiki poninya, astaga, cantiknya nggak ketulungan. Sayangnya, belum tentu Santi mau jadi pacarnya Anang.
Anang masih berangan-angan saja untuk ...
Tiba-tiba terdengar suara lagu dari ponsel Santi, dan membuyarkan lamunan Anang, tentang gadis cantik itu.
Santi lalu terlihat memencet sesuatu di layar ponselnya, lalu menempelkan benda itu ke telinganya.
"Halo!" kata Santi.
"Iya."
"Sekarang?"
"Ooh... Oke, sebentar aku dandan dulu."
"Oke, aku tunggu."
Anang melihat Santi bicara dengan ponselnya selama beberapa waktu. Sayup-sayup Anang bisa mendengar suara lelaki yang berat, keluar dari ponsel Santi, yang bersahutan dengan suara Santi.
Kemudian, Santi terlihat memencet layar ponselnya lagi.
"Mas! Aku duluan ya?! Ada yang akan menjemputku sekarang. Besok sore sebelum Mas Anang pergi ngamen, bisa aku ajarkan pakai ponsel lagi....
... Nanti datangi saja kamarku! Udah ya?! Aku buru-buru," kata Santi tergesa-gesa, kemudian dia setengah berlari menerobos gang sempit kost'an liar di depan mereka.
Anang hanya bisa terdiam memandangi bagian belakang Santi, yang menghilang di antara bangunan triplek yang berjejer tidak karu-karuan.
Apa mau dikata, Anang bukan apa-apanya Santi. Tidak mungkin dia melarang Santi dijemput orang lain.
Kalau Anang memiliki sepuluh ayam yang penuh berisi, pasti Anang akan menahan Santi, untuk tetap bersamanya malam itu.
Anang mau tidak mau, kembali ke petakan sempitnya sendirian. Malam ini dia akan tidur bertelungkup, agar bisa merasa seakan sedang menindih sesuatu, atau seseorang. Kurang lebih seperti itu.
Untuk sekarang, Anang hanya bisa bermimpi saja, kalau Santi akan menghangatkan dinginnya tubuh Anang, di dalam kamarnya.
Sudahlah, Anang belum bisa terlalu memikirkannya. Butuh banyak perjuangan, barulah wanita cantik seperti Santi, mau bersamanya sepanjang malam sampai pagi.
Lumayan saja kalau Santi sudah mau memegang tangannya tadi.
Anang mencium tangannya. Aroma parfum yang Santi menempel di situ ... Harum.
Itu sudah cukup untuk membuat Anang bisa tidur nyenyak malam ini.
Anang melangkah pelan menuju petakannya.
Untuk memotong rambut saja, sudah menguras selembar uang biru. Tapi, itu tidak masalah. Hasilnya, Anang bisa memegang tangan Santi, meski sebentar.
Sambil berbaring di kasur tuanya, Anang menatap langit-langit kamarnya. Tampaknya dia harus mencoba merawat dirinya dulu. Siapa tahu jalan hidupnya juga bisa berubah lebih baik.
Besok, Anang akan membeli sedikit keperluan dasar untuk dirinya. Paling tidak peralatan mandi yang bisa membuatnya bersih dan harum. Sekalian dengan cermin, dan sisir kecil.
Mungkin juga rejekinya malam itu, memang agar Anang mengubah penampilannya menjadi lebih baik.
Asal jangan berlebihan belanjanya, tampaknya tidak akan menguras banyak uang.
Tiba-tiba, Anang merasa tidak sabar untuk bisa melewatkan malam itu.
Anang memejamkan matanya, dan tidak lama, dia akhirnya tertidur, saking lelahnya.
***
Seperti biasa, keriuhan ibu-ibu tetangga Anang, menjadi alarm terbaik untuk membangunkannya di pagi hari.
Setelah mengganti pakaiannya dengan seragam kerjanya, Anang berangkat ke perumahan tempat dia bekerja, dengan penuh semangat.
Anang sempat menyapa beberapa tetangganya yang dia temui, dan yang menatapnya dengan tatapan heran.
Tadi, Anang juga sudah mencungkil beberapa lembar uang dari perut ayam, untuk dia pakai belanja kebutuhannya, sepulangnya bekerja nanti.
Ketika dia melewati portal perumahan, kalau bukan karena pakaian kerja dan sepatunya yang menganga, Satpam yang sekarang sudah menjadi temannya, hampir tidak bisa mengenalinya lagi.
"Semangat bro! Keren!" teriak Satpam muda itu, saat Anang melewati pos jaganya.
"Siap bos!" sahut Anang, sambil buru-buru mengejar waktu untuk bekerja, juga untuk sarapannya pagi itu.
Saking bingungnya rekan-rekan kerja Anang melihatnya, Anang bisa mendapatkan sarapan normal seperti orang biasanya.
Sepotong kue cucur, dan segelas kopi, sempat didapatkan Anang.
Dan sambil menikmati sarapannya, Anang terpikir kalau sekarang ini, semua tampak jauh lebih baik.
Pekerjaan Anang yang berat saat menaiki tangga sampai ke lantai empat, tidak lagi terasa berat baginya. Tenaganya tidak lagi berlebihan sampai gemetar, seperti biasanya saat dia memakan bubur kopi.
Sampai jam kerja berakhir, Anang tetap bersemangat. Tanpa ada cedera, tanpa ada luka tambahan.
Setelah jam kerja usai, Anang melangkah dengan pasti untuk singgah di toko kelontong. Kemudian dia mulai memilih barang-barang, yang dia pikir akan dia butuhkan untuk merawat dirinya.
Anang pulang dengan memegang sebuah kantong plastik sedang, juga sepatu yang menganga, sudah terganti dengan sepatu boots karet yang memang biasa dipakai rekan-rekannya, di tempat kerjanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Penulis Jelata
Hasil dr perbaikan penampilan, belom lagi perbaikan dompetnya, seribu Santi pun bakalan nempel ampe pagi, Nang
2022-08-16
1