Pagi ini Anang bangun lebih cepat, mendahului ocehan keributan ibu-ibu tetangga penghuni kost.
Anang mengalahkan kecepatan suara ibu-ibu, dan ayam peliharaan tetangganya.
Entah karena lebih semangat untuk bekerja, atau karena perutnya yang lapar.
Anang mengganti pakaiannya semalam, dengan memakai atribut kebangsaan, dan kebanggaannya untuk bekerja.
Sepatu boots karet terpasang sempurna di kedua kakinya. Anang tersenyum lega, karena kali ini jari kakinya tidak perlu menyentuh jalanan lagi. Tertutup rapat, aman, dan hangat di dalam sepatu barunya.
Anang menyalakan aplikasi musik kemudian memasukkan ponsel ke dalam saku belakang celananya, sambil memasang sebelah earphone ke salah satu daun telinganya.
Anang sudah siap untuk bekerja lagi hari ini.
Anang sudah berjalan menyusuri gang sempit di antara bangunan darurat kost liar, barulah terlihat tetangga-tetangganya membuka jendela dan pintu rumah mereka.
Anang menyapa dengan menganggukkan kepalanya sesekali, saat melihat ibu-ibu yang baru saja berjalan keluar dari tempat tinggalnya masing-masing.
Anang mempercepat langkahnya, kali ini cahaya matahari belum terlihat. Matahari ternyata juga kalah cepat bangunnya dari Anang.
Ketika melewati portal perumahan, Satpam di situ seperti biasanya menyapa Anang.
"Gitu dong! Makin keren sekarang, bro! Semangat!" Satpam muda itu, terlihat terkagum-kagum dengan Anang. Entah karena kecepatannya, atau karena penampilannya.
Anang sampai di tempat kerja serabutannya, saat pekerja yang lain banyak yang belum hadir.
Tapi, sebuah ceret kopi panas, dan kue jajanan pasar sudah tersedia di situ.
Lambung Anang berbahagia menyambut kedatangan donat yang ditaburi meses coklat dari mulut, dan tenggorokan Anang.
Lebih dari cukup.
Sebuah donat sebesar kepalan tinju Anang, habis digiling gigi-gigi Anang, dan didorong dengan cairan kopi, masuk tanpa penghalang ke dalam perut Anang.
Oke, sebentar lagi pekerjaan akan segera dimulai.
Anang tidak melepas earphone yang dipakainya tadi, melainkan bekerja dengan benda itu masih tetap terpasang di sebelah telinganya.
Belum waktunya jam istirahat makan siang, pekerjaan Anang dan rekan-rekan seperjuangannya terhenti.
Pekerjaan mereka ditunda, karena kehabisan bahan bangunan. Anang mendengar dari salah satu rekannya, kalau mereka masih harus menunggu bahan bangunan yang dikirim pemilik rumah.
Sambil menunggu pekerjaan mereka dilanjutkan, Anang duduk di bawah pohon di luar bangunan rumah, bersama pekerja-pekerja yang lain.
Anang mengeluarkan ponselnya, dan melihat lirik-lirik lagu yang dia dengarkan.
"Lagi dengar lagu ya? Mau dengar juga dong! bosan, nih!" kata salah satu rekan kerja Anang.
Anang lalu melepas sambungan earphone dari ponsel, agar semua bisa mendengar suara lagu yang keluar dari ponselnya.
"Ah! Payah! Masa cuma dengar lagu, doang?!" celetuk Mandor, yang biasa mengawasi pekerjaan pembangunan di situ tiba-tiba.
"Ada paket?" tanya Mandor itu kepada Anang, sambil menatapnya lekat-lekat.
Paket?
Paket apa?
Anang tidak merasa mengirim apa-apa. Jadinya Anang hanya terdiam termangu sambil menatap balik sang mandor.
"Nggak ngerti?" tanya Mandor itu lagi kepada Anang.
"Iya," Sahut Anang.
"Paket Internet biar bisa online. Itu yang kamu dengarkan lagu online?" tanya Mandor, sambil menjelaskan kepada Anang apa maksudnya.
"Oh, Iya ... Ini lagu online. Kata penjual ponsel kemarin, ini gratis internet sampai tiga bulan ke depan," sahut Anang.
"Mantap!" kata Mandor itu, yang kemudian duduk di samping Anang, lalu menjulurkan tangannya seolah meminta ponsel dari tangan Anang.
"Sini aku carikan tontonan dengan suara yang lebih bagus, daripada cuma dengar lagu doang!" kata Mandor itu, sambil menerima ponsel yang sudah disodorkan Anang.
Anang melihat sang Mandor mengetikkan sesuatu di layar ponsel, setelah menekan salah satu kotak kecil di situ.
"Tunggu sebentar! Jaringan kayaknya kurang bagus," kata Mandor itu, sambil melihat layar ponsel Anang yang dia pegang.
Anang juga ikut melihat layar ponselnya. Dia ingin tahu apa saja yang dibuat sang Mandor di situ.
Tidak lama, beberapa gambar terlihat dilayar ponsel Anang. Senyum di wajah sang Mandor juga ikut terbuka, se-terbuka dada wanita yang ada di gambar.
"Ini baru seru!" kata sang Mandor, dengan suara bersemangat.
Anang melihat, jempol Mandornya menekan salah satu gambar di ponsel Anang.
Gambar pun bergerak seperti film yang tayang di televisi.
Mata Anang terbelalak.
Di film yang muncul di layar ponsel Anang, terlihat sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang bergantian berkuda.
Seperti film koboi Chuck Norris, tapi bukan menunggang kuda sambil berpakaian lengkap, dengan sepatu, dan topinya.
Melainkan kedua pemain filmnya tanpa busana, menungging, meloncat, dan bergoyang-goyang di atas pasangannya yang juga tanpa busana, berikut dengan suara yang mengeluh yang menyayat hati, dari kedua pemain film itu.
Sontak suara rintihan yang terdengar dari ponsel Anang, menjadi pusat perhatian pekerja yang lain.
Mereka semua berdesak-desakkan, mencari sela untuk melihat layar ponsel Anang. Mereka semua ingin melihat pertempuran yang terjadi antara laki-laki dan perempuan itu dari dekat.
Terdengar suara sorakan para pekerja yang rata-rata sudah berkeluarga itu kegirangan.
"Uuhhhuuyy! ... Mantap!"
"Assooiyy!"
Suara para pekerja bangunan di situ, benar-benar menimbulkan keributan.
Anang yang terhimpit tidak merasakan sesak di dadanya, yang bisa melebihi sesak di celananya.
Anang hampir tidak bisa mengedipkan matanya. Dia benar-benar lupa caranya menggerakkan kelopak matanya, sampai hampir kering karena terlalu lama terbuka lebar.
Rasanya Anang tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat.
Sehebat itu!
Ponselnya hebat, bisa untuk melihat pemain film yang juga hebat dalam melakukan aksinya.
Luar biasa!
Ponselnya luar biasa, bisa mengalahkan televisi milik tetangganya dikampung dulu. Pemain filmnya juga luar biasa, bisa mengalahkan kerennya film koboi Chuck Norris.
Sorakan demi sorakan, tidak mengganggu konsentrasi Anang menonton pertarungan yang sengit di layar ponselnya.
Anang kebingungan melihat para pemain film, laki-laki dan perempuan itu, yang terlihat seakan tidak bisa lelah, dan tidak ada yang mau kalah.
Anang benar-benar heran melihat kekuatan para pemain film itu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, tanpa mengeluarkan suara apa-apa.
Akhirnya suara knalpot racing truk yang menggelegar, dengan asapnya yang hitam mengepul, menutupi pandangan mereka semua yang sedang duduk, saat mundur ke halaman bangunan rumah itu, memecahkan konsentrasi semua orang yang sedang menonton.
Truk yang membawa bahan bangunan sudah datang.
Para pekerja kembali bersiap untuk lanjut bekerja.
Begitu juga Anang yang buru-buru mematikan layar ponsel, dan menyimpan ponselnya kembali ke saku belakang celananya, yang sekarang sudah kembali terasa longgar.
Sambil bekerja Anang memikirkan semuanya.
Iya, semuanya mulai dari apa saja yang bisa dia pakai dengan ponselnya itu, dan apa yang dilakukan sepasang pemain film tadi.
Bukan main kekuatannya....
Kekuatan ponsel mengubah cara orang menikmati hiburan, juga kekuatan pasangan yang bertahan selama itu. Sampai-sampai, Anang sudah matikan layar ponselnya, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang terkalahkan.
Anang jadi makin penasaran dengan semuanya. Dia kemudian teringat janjinya dengan Santi sore ini....
Cukup!
Anang harus fokus bekerja, kalau tidak mau diberhentikan sang Mandor, yang merusak otak Anang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
kaya nya s Anang otak nya bakal rusak gr gra s mandor..
jng coba coba jajal atau ngicipin teh celub k s Santi Nang...
2023-01-08
1
Penulis Jelata
Buajir, ngakak gw
2022-08-16
0