Sesuai rencana Anang.
Ketika dia sudah di dalam kamar petakannya, dia kemudian memasang satu earphone ke sebelah telinganya, dan membiarkan yang sebelah lagi tetap terbuka, dan bisa mendengar suara gitar yang dia mainkan.
Anang mulai mempelajari salah satu lagu, yang dia rasa menarik perhatiannya.
Mungkin karena memang sudah menjadi talentanya. Kesukaannya dengan musik, membuatnya dengan mudah mempelajari, bahkan menghapal satu lagu, mulai dari nada sampai ke lirik-liriknya.
Anang bisa mengikuti dengan baik, nada lagu dengan petikan gitarnya.
Saat mematikan musik di ponsel dan melepas earphone, kemudian mendengarkan langsung suara petikan gitar dan suaranya sendiri, justru lagu itu terdengar lebih bagus lagi.
Petikan gitar akustik terdengar lebih menarik, dari pada satu set alat musik yang dibunyikan sekaligus, karena dengan begitu vokal Anang akan lebih menonjol.
Anang jadi ingin menguji coba hasil latihannya.
Anang keluar dari kamarnya, dan melihat kesana kemari. Di dekat kamarnya, ada sekumpulan bapak-bapak yang sedang duduk berkumpul, sambil bermain kartu.
Anang kemudian mendatangi kumpulan itu.
"Pak, Maaf mengganggu! Tapi aku mau mencoba lagu yang baru aku pelajari. Bisa sambil dengarkan, kah? Tolong kasih tahu, bagus atau tidaknya," kata Anang hati-hati.
Meskipun Anang ingin sekali agar ada yang menilainya, tapi dia takut kalau-kalau dia hanya mengganggu konsentrasi bapak-bapak itu yang sedang asyik berjudi.
"Boleh! Lumayan jadi hiburan," kata salah satu laki-laki yang tampak sudah berumur, dengan badan gemuk, dan perutnya yang buncit, dan hanya memakai kaus dalaman dan sarung.
"Bagaimana wal?" kata laki-laki itu lagi, kepada teman-temannya yang bermain kartu bersamanya, yang rata-rata sudah berumur, dan hanya memakai sarung sebagai pengganti celana.
"Iya. Nyanyi aja! Yang penting nggak minta bayaran, kan?" kata salah satu teman laki-laki yang gemuk tadi.
"Nggak, Pak! ... Kalau begitu, saya coba nyanyikan ya?!" sahut Anang.
"Ok! ... Lanjut!" kata beberapa laki-laki yang ada di situ hampir bersama'an.
Anang menarik nafas panjang, kemudian mulai menyanyikan lagu yang baru saja dia hapalkan.
Sampai lagu selesai dinyanyikan, tidak ada satupun laki-laki di situ yang mendengarkan Anang bernyanyi, yang protes dengan suara Anang dan suara gitarnya.
Mereka semua terlihat menikmati lagu yang dibawakan Anang, sambil diiringi suara gitarnya. Kepala dan badan mereka ikut bergoyang-goyang ke kiri ke kanan, mengikuti irama lagu Anang.
Setelah lagu usai, mereka lalu serempak berseru,
"Bagus!!"
"Ada lagu lain lagi?" tanya salah satu laki-laki lain, yang pada awalnya hanya berdiam diri, kini dia yang paling bersemangat ingin mendengar Anang bernyanyi.
"Maaf! Baru satu lagu itu saja yang aku hapal. Tapi, bagus aja ya?" kata Anang bersemangat.
"Iya. Bagus kok! Sayangnya orang-orang seperti kita ini sulit untuk terkenal. Padahal kalau ada kesempatan, kamu bisa jadi penyanyi tenar. Suaramu bagus, dan pintar juga bermain gitar," kata laki-laki yang gemuk tadi.
"Makasih, Pak! Kalau begitu aku pergi dulu. Aku mau coba belajar lagu lain lagi," kata Anang, yang bersemangat, karena mendapat pujian dari orang-orang di situ.
"Nanti kalau ada lagu baru, dan kamu mau mencoba nyanyikan, ke sini saja. Kami mau mendengar nyanyianmu sambil kami bermain," kata laki-laki gemuk, yang sedari tadi mau memberi perhatiannya kepada Anang, meski matanya tetap menatap kartu-kartu yang tersusun di tangannya.
"Baik, Pak! Aku permisi dulu!" kata Anang, sambil berjalan kembali ke kamarnya.
Bagus!
Respon bapak-bapak tadi, benar-benar membangkitkan semangat Anang untuk belajar lebih banyak lagu lagi.
Anang teringat kata salah satu pengunjung yang ingin mendengar lagu rock barat. Lagu berbahasa Inggris, Anang mau mempelajarinya, tapi masih ragu dengan artinya yang dia tidak mengerti.
Tapi Anang tidak bisa menolak, untuk belajar lagu-lagu berbahasa asing.
Bagaimana kalau ada lagi yang meminta lagu begitu, lalu tidak ada satupun yang Anang tahu?
Nanti dia akan ditolak untuk bernyanyi di depan mereka, dan Anang jelas tidak akan mendapatkan apa-apa.
Anang berbaring di kasurnya lalu menatap layar ponsel barunya. Dia mencoba-coba menggeser-geser layar ponsel, dan menekan kotak-kotak kecil di layar ponsel itu satu persatu.
Tampaknya memang benar yang dikatakan wanita pemilik toko ponsel yang menjual ponsel itu kepadanya. Belajar menggunakan ponsel itu tidak sesulit kelihatannya.
Tidak butuh waktu sampai berjam-jam, Anang sudah banyak mengerti kegunaan semua kotak-kotak yang bisa digeser di layar ponselnya.
Ada yang untuk bermain, meski Anang masih belum tahu cara bermainnya, dan masih harus membaca petunjuk di situ, tapi lama-kelamaan Anang mengerti cara bermain permainan di situ.
Ada juga yang untuk mengubah-ubah layar, mulai dari gambar, warna, sampai suara yang dikeluarkan dari ponsel itu.
Ada beberapa kotak lagi yang Anang belum mengerti sama sekali apa kegunaannya.
Kotak berlambang huruf 'F', ada yang bergambar seperti telepon tapi bukan untuk menelpon, ada yang bergambar burung, ada yang bergambar not lagu tapi tidak ada lagunya, ada juga yang bergambar seperti kamera foto tapi tidak bisa untuk dipakai berfoto.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Macam-macam saja yang ada di dalam ponsel itu.
Anang kemudian mencoba kotak kecil yang ternyata bisa untuk mengambil gambar, bahkan bisa untuk melihat gambar wajahnya sendiri seperti cermin.
Sesekali Anang menekan tombol, sampai gambar wajahnya tersimpan di dalam ponsel.
Anang tersenyum sendiri, mengingat jaman-jaman dulu, waktu dia masih sekolah di kampungnya.
Kalau ingin mengambil foto diri, harus mendatangi sebuah tempat yang khusus untuk berfoto, dengan harga yang cukup mahal, dibuat ke atas selembar kertas. Itupun tidak ada warnanya, hanya hitam putih saja.
Karena itu, Anang hanya memiliki beberapa foto wajahnya waktu dulu, itupun hanya untuk ditempel di lembaran ijazah dan raportnya saja.
Dengan ponsel ini, Anang bisa mengambil gambar wajahnya sendiri dengan gratis, dan bagus berwarna seperti aslinya.
Bahkan ada sesuatu di pengaturan kamera ponsel, yang bisa membuat wajahnya tampak putih mulus, dan terlihat makin tampan.
Anang mencoba lagi untuk mengambil gambar wajahnya.
Ternyata Anang lumayan tampan, meski belum setampan artis Mandarin yang sering Anang lihat di film-film aksi jaman dulu di televisi.
Anang masih mengutak-atik layar ponsel, sebelum akhirnya dia kembali ke kotak yang bisa dia pakai untuk mendengar lagu lagi.
Anang duduk lagi, dan sama seperti tadi, hanya memakai satu earphone, sambil menghapal lirik dan memainkan gitarnya.
Malam itu Anang sempat mempelajari beberapa lagu lokal, dan dua lagu barat, sebelum dia kelelahan dan merasa mengantuk.
Anang menyimpan ponsel barunya, kemudian berbaring di kasur tuanya.
Cukup saja dulu untuk malam ini. Lumayan saja tambahan daftar lagu untuk persiapannya mengamen besok.
Anang melihat colokan lampu yang selama ini tidak pernah dia pakai. Kali ini, di situ bisa dia pakai untuk menambah daya ponselnya.
Anang tersenyum lebar, lalu memejamkan matanya. Berharap besok perjalanan hidupnya akan jadi baik dan lebih baik lagi nanti.
Anang tertidur dengan tenang, meski dia malam itu tidak mengisi perutnya meski hanya dengan sedikit makanan, tapi rasa puas hatinya, membuatnya tidak merasa lapar, dan dia tidak bermimpi tentang makanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
semoga saja s Anang kga celab celub teh sm s Santi ...
bahaya Nang ...dosa dosa Nang.
2023-01-08
1
VirtualAjaYa
Next thor...
2022-06-02
2