Miss Jordan terlihat berdiri dari atas tikar yang jadi lapisan trotoar selama dia duduk. Begitu juga Peter, lelaki tampan dengan penampilan rapi, dan bersih dengan rambut ala-ala pemain film mandarin.
Peter memberi jalan bagi Miss Jordan untuk berjalan di depannya, sambil Peter menyusul pelan di belakangnya.
"Ayo!" Kata Peter kepada Anang yang masih duduk termangu.
Anang memang takjub melihat Peter yang tampak serasi dengan Miss Jordan, saat berdiri tadi, lalu berjalan melewati Anang.
Anang membayangkan kalau dia bisa serapi Peter, mungkin dia juga tidak kalah tampan.
Anang baru tersadar dari lamunannya, ketika ditegur Peter.
Anang kemudian berdiri, lalu menyusul langkah pasangan itu, yang meninggalkan aroma harum parfum dari tubuh mereka ketika dihembus angin, saat berjalan di depan Anang.
Mereka berdua berhenti di sebuah van yang tampak lebih besar dari kamar petakan milik Anang. Kemudian setelah Peter membukakan pintu untuk Miss Jordan masuk, dia lalu mengajak Anang untuk ikut masuk ke dalam situ.
Aroma harum menyerbak keluar dari dalam kendaraan itu, ketika Anang melewati pintunya.
Di dalam situ sangat bersih, sampai membuat Anang merasa enggan untuk menginjakkan kakinya. Sandal jepit warna-warni Anang dia tinggalkan di depan pintu.
"Pakai saja sendalnya," ujar Peter.
"Tidak usah. Sendalku kotor," Anang bersikeras melangkah masuk dengan bertelanjang kaki.
Anang benar-benar takjub melihat bagian dalam kendaraan itu. Empat buah kursi besar, dengan berbahan kulit mewah. Terang seperti pasar malam, meski dari luar van tidak terlihat apa-apa.
Tempat duduk yang empuk membuat Anang seolah-olah tidak bisa mensyukuri kasurnya yang selama ini dia pakai untuk meredakan rasa lelahnya.
"Sebentar!" kata Peter sambil berjalan ke bagian depan kendaraan itu, saat dia sudah ikut masuk bersama Miss Jordan, dan Anang.
Anang melihat Miss Jordan, duduk manis sambil memangku kaki di salah satu kursi di depannya.
Tidak lama, Peter terlihat kembali, kemudian menyodorkan sebuah amplop kepada Anang.
"Ini untukmu," kata Peter.
Anang melihat peter, lalu melihat ke arah Miss jordan yang menganggukkan kepalanya. Anang kemudian menerima amplop dari tangan Peter.
Lalu tanpa membukanya, Anang hanya memasukkan benda itu ke dalam saku celananya bagian belakang.
"Kalau kami mau menemuimu. Kami harus mencarimu di mana?" tanya Peter sambil duduk di salah satu kursi.
"Hmm... Aku tinggal di petakan di bawah kolong jembatan layang. Juga kalau pagi sampai sore, aku kerja di berbagai tempat yang ada pekerjaan pembangunan....
... Kalau malam, bisa kalian datang ke daerah ini saja," kata Anang, menjelaskan tanpa malu-malu.
Bukan untuk mencari belas kasihan, dia hanya lebih suka bicara jujur, daripada nanti saat orang mengetahui kebenarannya lalu dia akan dipermalukan dan jadi bahan tertawaan.
Peter mengerutkan alisnya. Raut wajahnya berubah. Kemudian dia berbisik-bisik dengan Miss Jordan.
"Baik! Kalau begitu saat kami ingin menemuimu, kami akan datang ke sini lagi. Terimakasih, Mas Anang," kata Peter, sambil menjulurkan tangannya kepada Anang.
Anang kemudian menyambut tangan Peter yang ingin berjabat tangan dengannya. Sebelum akhirnya dia keluar dari kendaraan itu.
Tidak lama, dari jendela depan bagian supir van yang terbuka, Peter masih menyempatkan untuk melambaikan tangan kepada Anang, saat kendaraan itu mulai melaju di jalanan.
Sampai Anang tidak bisa lagi melihat belakang kendaraan itu, barulah dia mengambil amplop dari saku celananya. Anang kemudian membuka amplop itu lalu melihat isinya.
Mata Anang terbelalak. Dia tidak pernah melihat uang sebanyak itu dalam sekali pegang. Uang yang banyak, sebanyak empat kali gaji bulanan Anang saat bekerja sebagai pembantu tukang.
Anang hampir menangis. Rejekinya malam itu lebih dari luar biasa bagi Anang. Dia merasa kalau tidak boleh serakah, cukup mengamennya malam itu, dia harus pulang saat itu juga.
Dengan langkah penuh semangat Anang berjalan pulang, menyusuri trotoar. Saat di perjalanan, dia teringat sandal yang di bawah tiang lampu.
Anang melihat beberapa anak muda yang sudah berkumpul di jalan itu, tampaknya mereka akan kembali membuat atraksi di jalanan sepi itu.
Anang melihat ke bawah tiang lampu jalan. Sandal itu masih ada di situ, seakan tidak ada yang tertarik untuk mengambilnya. Anang memakai sandal barunya dengan hati yang gembira.
Anang sempat menonton sebentar, anak-anak muda yang berakrobat dengan motor mereka. Sambil menunggu kalau-kalau ada yang akan meminta sendal di kakinya itu, kembali.
Tapi sekian lama dia berada di situ, tidak ada yang tampak seakan mencari-cari sesuatu. Anang melanjutkan langkahnya untuk pulang. Dia sudah tidak sabar untuk memberi ayam merahnya makan.
Saat melewati rumah ibadah di dekat tempat tinggalnya, Anang menyisihkan uangnya untuk disumbangkan, sebelum dia melanjutkan langkahnya menuju petakan kamarnya.
Sesampainya di kamarnya, Anang melipat kecil lembaran kertas berharga itu kemudian memasukkan ke dalam ayam kesayangannya, satu persatu sampai habis dari tangannya.
Wanita cantik tadi, memang tidak muat kalau dimasukkan ke dalam celengan ayamnya, tapi isi amplop pemberiannya itu masih bisa masuk ke dalam situ.
Bukan hanya Anang yang kenyang, ayamnya juga kekenyangan, perut ayamnya hampir terisi penuh.
Kini dia tidak terlalu khawatir kalau-kalau dia sakit seperti dulu.
Kenangan buruk saat sakit di kampungnya, lalu tidak memiliki uang sepeserpun, Anang hampir mati kalau tidak dibantu tetangganya mengurus surat keterangan tidak mampu.
Di kota ini dia harus bisa merawat dirinya sendiri, meskipun ada tetangga yang mau membantu, belum tentu bisa, karena identitas Anang yang hanya sebagai pendatang di kota itu.
Dengan adanya tabungan untuk berjaga-jaga seperti itu, rasa tenang, dan senangnya hati Anang, tidak terkira.
Bukannya Anang tidak percaya kalau Tuhannya akan menjaganya, tapi dia tahu kalau saat dia masih mampu, dia harus berusaha semampu yang dia bisa, sisanya barulah dia pasrahkan kepada penciptanya.
Anang menatap langit-langit kamarnya, yang sesekali bergetar, saat ada suara yang cukup nyaring melintas di atasnya.
Kenapa Miss Jordan dan Peter sampai mau memberikan uang sebanyak itu, hanya untuk rekaman sederhana saat dia bernyanyi?
Memangnya rekaman seperti itu bisa menghasilkan uang?
Ditayangkan di mana nanti?
Anang semakin penasaran, dengan apa yang sebenarnya terjadi di dunia luar. Semakin ke sini, cara hidup orang semakin berbeda, dari jaman-jaman dulu.
Yang jelas, semua perbedaan itu tampaknya karena benda bernama ponsel. Karena di mana-mana, mulai dari ibu-ibu kompleks, sampai Miss Jordan, juga tampaknya mempergunakan ponsel untuk dunia hiburan.
Anang terpikir untuk membeli ponsel.
Anang melirik ayamnya yang baru saja diisi.
Ah, Jangan!
Apalagi dia belum tahu pasti apa gunanya benda itu, selain telepon, sms, menonton drakor, dan kameranya.
Anang berjalan keluar dari kamarnya. Setahu Anang ada satu penghuni di situ yang memiliki benda itu. Hanya saja kalau malam begini, dia pasti mangkal di pinggir jalan, di tengah-tengah kota.
Oh, Iya! Anang baru teringat, kalau orang itu tidak akan ada di kost-kostan sekarang.
Baru saja Anang akan berputar balik ke kamarnya, orang yang dia cari sedang berjalan di seberangnya.
"San... Santi!" teriak Anang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Penulis Jelata
Beeeh, sentilan lagi
2022-08-16
0
Siti Mukminah
semangat ayo thor, ceritamu bagus
2022-08-08
0