Part 8

Laki-laki gemulai itu, ternyata tidak selemah lembut yang Anang kira.

Dengan kasarnya dia menarik rambut gimbal Anang masuk ke dalam bak, sampai rasanya batok kepala Anang akan terlepas, dan jadi cadangan pelapis helm.

Mau saja Anang memaki laki-laki jadi-jadian itu.

Tapi, mau mau bagaimana lagi? Nasi sudah jadi bubur, atau lebih tepatnya, rambut Anang sudah jadi ijuk.

Saat mencuci rambut Anang, tangan lentik lelaki itu mengacak-acak rambut Anang yang memang sudah acak-acakkan, dengan shampoo yang harum atau sabun pencuci piring.

Entahlah yang jelas busanya terasa pedih, saat tidak sengaja masuk ke mata Anang.

Lelaki atau perempuan itu kemudian membilas sisa busa di rambut Anang, dengan semprotan air di pencucian mobil hidrolik.

Bayangkan saja kencangnya....

Jangankan kutu atau kecoak, kepala Anang bisa lepas kalau semprotannya diarahkan ke leher Anang.

Kain pelapis di bahu Anang, tidak mampu menahan banyaknya air yang tersangkut di rambut Anang. Sampai-sampai kaus yang dipakai Anang juga ikut basah.

Kaus andalan ... Itu kaus andalan!

"Aku buka kausku dulu ya. Dingin!" kata Anang dengan suara pelan.

"Terserah kamu saja, Jantan!" ujar teman Santi.

Anang lalu masuk ke kamar mandi yang ada di bagian belakang salon. Melepas kausnya lalu menggantungnya di pintu. Anang berharap setelah selesai rambutnya dirapikan, kaus kesayangannya sudah kering.

Anang hanya memakai kain pelapis untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Kemudian duduk di kursi, di depan cermin besar.

Anang shock melihat wajahnya sendiri.

Pantas saja kalau teman Santi terus-terusan memanggilnya 'jantan'.

Anang dengan wajah sangar dan rambut surai kusut mengembang, memang terlihat seperti singa jantan yang hampir mati saking tua usianya.

Tapi, bekas cukuran janggut dan kumisnya, masih tampak menarik. Berwarna biru kehitaman di kulit Anang yang eksotis, coklat sawo matang. Perasaan Anang, itu sudah cukup keren.

Anang perlu membeli cermin, tidak perlu sebesar cermin di salon itu. Tapi paling tidak, bisa untuk melihat bulu hidung Anang yang menjuntai keluar dari hidungnya.

Lelaki itu kemudian mulai memotong rambut Anang, yang berlebihan panjangnya.

"Mau di model bagaimana ini, Jantan?" tanya lelaki itu sambil menatap Anang di pantulan cermin di depan mereka.

Anang melirik Santi yang terlihat sibuk dengan ponselnya.

"Santi! Mana gambar model rambut tadi? Bisa kamu perlihatkan kepada temanmu ini?" tanya Anang setengah berteriak, agar Santi bisa memperhatikan ucapan Anang.

"Eh, Sebentar!" sahut Santi. Dia lalu terlihat berjalan menghampiri si tukang salon.

Anang melihat mereka berdua sedang menatap gambar di ponsel, sampai liur mereka hampir menetes dari mulut masing-masing.

"Ehhem! ... Ehhemm!"

Anang mau tak mau harus pura-pura batuk. Karena kalau tidak, mereka berdua akan lupa kalau Anang hanya memakai kain tipis untuk badannya, saking sibuk menjilat gambar lelaki tampan di layar ponsel.

Anang berhasil menarik perhatian mereka berdua.

"Oke cyin, Ku kerjakan rambut si jantan dulu!" kata lelaki gemulai itu.

Anang bingung mau menyebutnya apa, jadi suka-suka sajalah. Daripada Anang menanyakan namanya, lalu dia mengira Anang akan merayunya, 'kan nggak lucu!

Gunting dan pencukur listrik, berjalan-jalan di kepala Anang. Sat, set, rambut Anang yang tersambar mulai jatuh bergelimpangan kelantai.

Anang menatap mahkota kusutnya yang jatuh tepat di atas kain pelapis badannya. Hanya menatap, bukan mencari kutu atau kecoak yang mungkin terjatuh bersama potongan rambut itu.

Sejak datang ke perantauan, Anang tidak pernah menyentuh rambutnya dengan gunting.

Hampir lima tahun, kalau Anang tidak salah hitung, karena hanya berpatokan pada semur daging yang dibagikan pemilik kost, saat hari raya.

Anang rasanya tidak berani melihat wajahnya di cermin, tadi saja sudah hampir membuatnya jatuh pingsan.

Padahal rasa kepalanya sudah ringan, berarti sudah banyak rambutnya yang sudah menghilang.

"Sudah selesai!" seru lelaki teman Santi itu.

"Kita cuci lagi, baru di styling, biar kelihatan modelnya," sambung lelaki itu.

Anang hanya mengikuti langkah lelaki itu sambil menunduk, begitu juga saat sudah selesai mencuci ulang rambutnya, dan kembali lagi ke tempat duduknya yang tadi.

Kepala Anang ditiup memakai alat yang mengeluarkan angin panas, sambil dipegang-pegang jari-jari lentik lelaki pemilik salon.

"Oke, beres!" seru lelaki itu.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, lelaki itu melepas kain yang menjadi penutup tubuh bagian atas Anang.

Kemudian suasana jadi hening untuk beberapa waktu lamanya.

Ada apa?

Anang yang sejak tadi hanya menunduk, kemudian menoleh ke arah lelaki teman Santi.

Lelaki teman Santi itu, hanya terdiam menatapnya. Dipastikan bukan menatap wajah Anang, tapi ke dada dan perut Anang.

"Kenapa?" tanya Anang.

"Cyin! Coba kamu lihat ini!" kata teman Santi tanpa berkedip atau berpaling, dan tetap menatap Anang.

Anang melihat celananya. Dia memastikan kalau tidak ada yang menonjol.

Tidak. Rasanya masih terlihat seperti biasa.

Santi yang sudah ikut berdiri di samping teman lelakinya itu, juga terlihat menatap ke dada dan perut Anang berbarengan.

Apa yang mereka lihat? Apa mungkin ada panu lalu mereka takut terjangkit? Atau ada binatang kecil di perut Anang yang tidak bisa Anang lihat?

Teman lelaki Santi si pemilik salon lalu menjulurkan tangannya ke arah dada atau perut Anang. Tidak bisa dipastikan Anang, teman lelaki Santi itu mau memegang apa.

Meski kebingungan, Anang hanya membiarkan saja tangan lelaki itu mendekatinya.

Ternyata lelaki itu memegang otot perut Anang.

"Eeh! ... Ngapain?" teriak Anang, sambil berdiri dari tempat duduknya.

Satu dan setengah perempuan itu tampak semakin tertarik menatap perut Anang. Mata mereka berdua seakan lupa caranya berkedip.

"Wwooiiyy! Ada apa?" tanya Anang setengah berteriak.

Barulah keduanya terlihat seakan tersadar dari sesuatu.

Anang melihat Santi yang tersenyum manis kepadanya. Tapi, Anang rasanya tidak percaya.

Santi tersenyum padanya?

"Kamu jadi tampan!" ujar Santi.

Anang lalu melihat wajahnya di cermin yang ada di sebelahnya.

Benar kata Santi, Anang sekarang terlihat tampan dengan rambut pendek, sampai ke atas telinga, juga macho dengan dada yang padat, dan perutnya yang kotak-kotak.

"Kamu sudah punya pacar?" tanya si pemilik salon, dengan suara yang terdengar sengaja dilembut-lembutkan, sambil tersenyum menatap Anang.

Anang mengelengkan kepalanya.

"Mau jadi simpananku?" tanya si pemilik salon itu lagi.

Anang bergidik ngeri, senyuman si pemilik salon tampak mengerikan di mata Anang.

Anang menggelengkan kepalanya lagi. Anang lupa cara bilang tidak, saking takutnya melihat tatapan si pemilik salon yang tampak seakan ingin menggigit Anang.

Rroaarr!

Raut wajah pemilik salon itu berubah, terlihat seperti kecewa, dan marah.

Tapi, Anang tidak mau lama-lama fokus melihat si pemilik salon yang tidak menarik.

Anang mengalihkan pandangan matanya kepada si cantik Santi, yang masih tersenyum menatap Anang, seolah-olah sedang terpesona dengan penampilan baru Anang.

Meski Anang senang melihat Santi yang tampak tertarik dengannya, lama-kelamaan Anang merasa semua itu jadi aneh.

Buru-buru, Anang berjalan melewati satu setengah perempuan itu, lalu menuju ke kamar mandi.

Anang memakai kaus yang tergantung di pintu, kemudian kembali ke depan.

"Berapa harga potong rambut ini?" tanya Anang kepada si pemilik salon.

"Kalau kamu mau menemaniku malam ini, Kamu nggak usah bayar," sahut lelaki itu.

"Eh, Nggak bisa! Aku harus pulang! Besok aku kerja dari subuh!" sahut Anang.

"Ya sudah! Bayarnya selembar uang biru!" kata si pemilik salon dengan ketus.

Anang menyerahkan selembar uang merah, lalu tidak lama, pemilik salon itu mengembalikan selembar uang biru kepada Anang.

"San, Ayo kita pulang!" ajak Anang kepada Santi.

Santi lalu terlihat menganggukkan kepalanya.

Terpopuler

Comments

Iif Rubae'ah Teh Iif

Iif Rubae'ah Teh Iif

kerasnya kehidupan nyata...

2024-05-29

0

Mama Oya

Mama Oya

🤣🤣

2022-12-05

0

Penulis Jelata

Penulis Jelata

Jangankan Anang, gw aja yg baca bergidik

2022-08-16

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1
2 Part 2
3 Part 3
4 Part 4
5 Part 5
6 Part 6
7 Part 7
8 Part 8
9 Part 9
10 Part 10
11 Part 11
12 Part 12
13 Part 13
14 Part 14
15 Part 15
16 Part 16
17 Part 17
18 Part 18
19 Part 19
20 Part 20
21 Part 21
22 Part 22
23 Part 23
24 Part 24
25 Part 25
26 Part 26
27 Part 27
28 Part 28
29 Part 29
30 Part 30
31 Part 31
32 Part 32
33 Part 33
34 Part 34
35 Part 35
36 Part 36
37 Part 37
38 Part 38
39 Part 39
40 Part 40
41 Part 41
42 Part 42
43 Part 43
44 Part 44
45 Part 45
46 Part 46
47 Part 47
48 Part 48
49 Part 49
50 Part 50
51 Part 51
52 Part 52
53 Part 53
54 Part 54
55 Part 55
56 Part 56
57 Part 57
58 Part 58
59 Part 59
60 Part 60
61 Part 61
62 Part 62
63 Part 63
64 Part 64
65 Part 65
66 Part 66
67 Part 67
68 Part 68
69 Part 69
70 Part 70
71 Part 71
72 Part 72
73 Part 73
74 Part 74
75 Part 75
76 Part 76
77 Part 77
78 Part 78
79 Part 79
80 Part 80
81 Part 81
82 Part 82
83 Part 83
84 Part 84
85 Part 85
86 Part 86
87 Part 87
88 Part 88
89 Part 89
90 Part 90
91 Part 91
92 Part 92
93 Part 93
94 Part 94
95 Part 95
96 Part 96
97 Part 97
98 Part 98
99 Part 99
100 Part 100
101 Part 101
102 Part 102
103 Part 103
104 Part 104
105 Part 105
106 Part 106
107 Part 107
108 Part 108
109 Part 109
110 Part 110
111 Part 111
112 Part 112
113 Part 113
114 Part 114
115 Part 115
116 Part 116
117 Part 117
118 Part 118
119 Part 119
120 Part 120
121 Part 121
122 Part 122
123 Part 123
124 Part 124
125 Part 125
126 Part 126
127 Part 127
128 Part 128
129 Part 129
130 Part 130
131 Part 131
132 Part 132
133 Part 133
134 Part 134
135 Part 135
136 Part 136
137 Part 137
138 Part 138
139 Part 139
140 Part 140
141 Part 141
142 Part 142
143 Part 143
144 Part 144
145 Part 145
146 Part 146
147 Part 147
148 Part 148
149 Part 149
150 Part 150
151 Part 151
152 Part 152
153 Part 153
154 Part 154
155 Part 155
156 Part 156
157 Part 157
158 Part 158
159 Part 159
160 Part 160
161 Part 161
162 Part 162
163 Part 163
164 Part 164
165 Part 165
166 Part 166
167 Part 167
168 Part 168
169 Part 169
170 Part 170
171 Part 171
172 Part 172
173 Part 173
174 Part 174
175 Part 175
176 Part 176
177 Part 177
178 Part 178
179 Part 179
180 Part 180
181 Part 181
182 Part 182
183 Part 183
184 Part 184
185 Part 185
186 Part 186
187 Part 187
188 Part 188
189 Part 189
190 Part 190
191 Part 191
192 Part 192
193 Part 193
194 Part 194
195 Part 195
196 Novel baru
Episodes

Updated 196 Episodes

1
Part 1
2
Part 2
3
Part 3
4
Part 4
5
Part 5
6
Part 6
7
Part 7
8
Part 8
9
Part 9
10
Part 10
11
Part 11
12
Part 12
13
Part 13
14
Part 14
15
Part 15
16
Part 16
17
Part 17
18
Part 18
19
Part 19
20
Part 20
21
Part 21
22
Part 22
23
Part 23
24
Part 24
25
Part 25
26
Part 26
27
Part 27
28
Part 28
29
Part 29
30
Part 30
31
Part 31
32
Part 32
33
Part 33
34
Part 34
35
Part 35
36
Part 36
37
Part 37
38
Part 38
39
Part 39
40
Part 40
41
Part 41
42
Part 42
43
Part 43
44
Part 44
45
Part 45
46
Part 46
47
Part 47
48
Part 48
49
Part 49
50
Part 50
51
Part 51
52
Part 52
53
Part 53
54
Part 54
55
Part 55
56
Part 56
57
Part 57
58
Part 58
59
Part 59
60
Part 60
61
Part 61
62
Part 62
63
Part 63
64
Part 64
65
Part 65
66
Part 66
67
Part 67
68
Part 68
69
Part 69
70
Part 70
71
Part 71
72
Part 72
73
Part 73
74
Part 74
75
Part 75
76
Part 76
77
Part 77
78
Part 78
79
Part 79
80
Part 80
81
Part 81
82
Part 82
83
Part 83
84
Part 84
85
Part 85
86
Part 86
87
Part 87
88
Part 88
89
Part 89
90
Part 90
91
Part 91
92
Part 92
93
Part 93
94
Part 94
95
Part 95
96
Part 96
97
Part 97
98
Part 98
99
Part 99
100
Part 100
101
Part 101
102
Part 102
103
Part 103
104
Part 104
105
Part 105
106
Part 106
107
Part 107
108
Part 108
109
Part 109
110
Part 110
111
Part 111
112
Part 112
113
Part 113
114
Part 114
115
Part 115
116
Part 116
117
Part 117
118
Part 118
119
Part 119
120
Part 120
121
Part 121
122
Part 122
123
Part 123
124
Part 124
125
Part 125
126
Part 126
127
Part 127
128
Part 128
129
Part 129
130
Part 130
131
Part 131
132
Part 132
133
Part 133
134
Part 134
135
Part 135
136
Part 136
137
Part 137
138
Part 138
139
Part 139
140
Part 140
141
Part 141
142
Part 142
143
Part 143
144
Part 144
145
Part 145
146
Part 146
147
Part 147
148
Part 148
149
Part 149
150
Part 150
151
Part 151
152
Part 152
153
Part 153
154
Part 154
155
Part 155
156
Part 156
157
Part 157
158
Part 158
159
Part 159
160
Part 160
161
Part 161
162
Part 162
163
Part 163
164
Part 164
165
Part 165
166
Part 166
167
Part 167
168
Part 168
169
Part 169
170
Part 170
171
Part 171
172
Part 172
173
Part 173
174
Part 174
175
Part 175
176
Part 176
177
Part 177
178
Part 178
179
Part 179
180
Part 180
181
Part 181
182
Part 182
183
Part 183
184
Part 184
185
Part 185
186
Part 186
187
Part 187
188
Part 188
189
Part 189
190
Part 190
191
Part 191
192
Part 192
193
Part 193
194
Part 194
195
Part 195
196
Novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!