Laki-laki gemulai itu, ternyata tidak selemah lembut yang Anang kira.
Dengan kasarnya dia menarik rambut gimbal Anang masuk ke dalam bak, sampai rasanya batok kepala Anang akan terlepas, dan jadi cadangan pelapis helm.
Mau saja Anang memaki laki-laki jadi-jadian itu.
Tapi, mau mau bagaimana lagi? Nasi sudah jadi bubur, atau lebih tepatnya, rambut Anang sudah jadi ijuk.
Saat mencuci rambut Anang, tangan lentik lelaki itu mengacak-acak rambut Anang yang memang sudah acak-acakkan, dengan shampoo yang harum atau sabun pencuci piring.
Entahlah yang jelas busanya terasa pedih, saat tidak sengaja masuk ke mata Anang.
Lelaki atau perempuan itu kemudian membilas sisa busa di rambut Anang, dengan semprotan air di pencucian mobil hidrolik.
Bayangkan saja kencangnya....
Jangankan kutu atau kecoak, kepala Anang bisa lepas kalau semprotannya diarahkan ke leher Anang.
Kain pelapis di bahu Anang, tidak mampu menahan banyaknya air yang tersangkut di rambut Anang. Sampai-sampai kaus yang dipakai Anang juga ikut basah.
Kaus andalan ... Itu kaus andalan!
"Aku buka kausku dulu ya. Dingin!" kata Anang dengan suara pelan.
"Terserah kamu saja, Jantan!" ujar teman Santi.
Anang lalu masuk ke kamar mandi yang ada di bagian belakang salon. Melepas kausnya lalu menggantungnya di pintu. Anang berharap setelah selesai rambutnya dirapikan, kaus kesayangannya sudah kering.
Anang hanya memakai kain pelapis untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Kemudian duduk di kursi, di depan cermin besar.
Anang shock melihat wajahnya sendiri.
Pantas saja kalau teman Santi terus-terusan memanggilnya 'jantan'.
Anang dengan wajah sangar dan rambut surai kusut mengembang, memang terlihat seperti singa jantan yang hampir mati saking tua usianya.
Tapi, bekas cukuran janggut dan kumisnya, masih tampak menarik. Berwarna biru kehitaman di kulit Anang yang eksotis, coklat sawo matang. Perasaan Anang, itu sudah cukup keren.
Anang perlu membeli cermin, tidak perlu sebesar cermin di salon itu. Tapi paling tidak, bisa untuk melihat bulu hidung Anang yang menjuntai keluar dari hidungnya.
Lelaki itu kemudian mulai memotong rambut Anang, yang berlebihan panjangnya.
"Mau di model bagaimana ini, Jantan?" tanya lelaki itu sambil menatap Anang di pantulan cermin di depan mereka.
Anang melirik Santi yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Santi! Mana gambar model rambut tadi? Bisa kamu perlihatkan kepada temanmu ini?" tanya Anang setengah berteriak, agar Santi bisa memperhatikan ucapan Anang.
"Eh, Sebentar!" sahut Santi. Dia lalu terlihat berjalan menghampiri si tukang salon.
Anang melihat mereka berdua sedang menatap gambar di ponsel, sampai liur mereka hampir menetes dari mulut masing-masing.
"Ehhem! ... Ehhemm!"
Anang mau tak mau harus pura-pura batuk. Karena kalau tidak, mereka berdua akan lupa kalau Anang hanya memakai kain tipis untuk badannya, saking sibuk menjilat gambar lelaki tampan di layar ponsel.
Anang berhasil menarik perhatian mereka berdua.
"Oke cyin, Ku kerjakan rambut si jantan dulu!" kata lelaki gemulai itu.
Anang bingung mau menyebutnya apa, jadi suka-suka sajalah. Daripada Anang menanyakan namanya, lalu dia mengira Anang akan merayunya, 'kan nggak lucu!
Gunting dan pencukur listrik, berjalan-jalan di kepala Anang. Sat, set, rambut Anang yang tersambar mulai jatuh bergelimpangan kelantai.
Anang menatap mahkota kusutnya yang jatuh tepat di atas kain pelapis badannya. Hanya menatap, bukan mencari kutu atau kecoak yang mungkin terjatuh bersama potongan rambut itu.
Sejak datang ke perantauan, Anang tidak pernah menyentuh rambutnya dengan gunting.
Hampir lima tahun, kalau Anang tidak salah hitung, karena hanya berpatokan pada semur daging yang dibagikan pemilik kost, saat hari raya.
Anang rasanya tidak berani melihat wajahnya di cermin, tadi saja sudah hampir membuatnya jatuh pingsan.
Padahal rasa kepalanya sudah ringan, berarti sudah banyak rambutnya yang sudah menghilang.
"Sudah selesai!" seru lelaki teman Santi itu.
"Kita cuci lagi, baru di styling, biar kelihatan modelnya," sambung lelaki itu.
Anang hanya mengikuti langkah lelaki itu sambil menunduk, begitu juga saat sudah selesai mencuci ulang rambutnya, dan kembali lagi ke tempat duduknya yang tadi.
Kepala Anang ditiup memakai alat yang mengeluarkan angin panas, sambil dipegang-pegang jari-jari lentik lelaki pemilik salon.
"Oke, beres!" seru lelaki itu.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, lelaki itu melepas kain yang menjadi penutup tubuh bagian atas Anang.
Kemudian suasana jadi hening untuk beberapa waktu lamanya.
Ada apa?
Anang yang sejak tadi hanya menunduk, kemudian menoleh ke arah lelaki teman Santi.
Lelaki teman Santi itu, hanya terdiam menatapnya. Dipastikan bukan menatap wajah Anang, tapi ke dada dan perut Anang.
"Kenapa?" tanya Anang.
"Cyin! Coba kamu lihat ini!" kata teman Santi tanpa berkedip atau berpaling, dan tetap menatap Anang.
Anang melihat celananya. Dia memastikan kalau tidak ada yang menonjol.
Tidak. Rasanya masih terlihat seperti biasa.
Santi yang sudah ikut berdiri di samping teman lelakinya itu, juga terlihat menatap ke dada dan perut Anang berbarengan.
Apa yang mereka lihat? Apa mungkin ada panu lalu mereka takut terjangkit? Atau ada binatang kecil di perut Anang yang tidak bisa Anang lihat?
Teman lelaki Santi si pemilik salon lalu menjulurkan tangannya ke arah dada atau perut Anang. Tidak bisa dipastikan Anang, teman lelaki Santi itu mau memegang apa.
Meski kebingungan, Anang hanya membiarkan saja tangan lelaki itu mendekatinya.
Ternyata lelaki itu memegang otot perut Anang.
"Eeh! ... Ngapain?" teriak Anang, sambil berdiri dari tempat duduknya.
Satu dan setengah perempuan itu tampak semakin tertarik menatap perut Anang. Mata mereka berdua seakan lupa caranya berkedip.
"Wwooiiyy! Ada apa?" tanya Anang setengah berteriak.
Barulah keduanya terlihat seakan tersadar dari sesuatu.
Anang melihat Santi yang tersenyum manis kepadanya. Tapi, Anang rasanya tidak percaya.
Santi tersenyum padanya?
"Kamu jadi tampan!" ujar Santi.
Anang lalu melihat wajahnya di cermin yang ada di sebelahnya.
Benar kata Santi, Anang sekarang terlihat tampan dengan rambut pendek, sampai ke atas telinga, juga macho dengan dada yang padat, dan perutnya yang kotak-kotak.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya si pemilik salon, dengan suara yang terdengar sengaja dilembut-lembutkan, sambil tersenyum menatap Anang.
Anang mengelengkan kepalanya.
"Mau jadi simpananku?" tanya si pemilik salon itu lagi.
Anang bergidik ngeri, senyuman si pemilik salon tampak mengerikan di mata Anang.
Anang menggelengkan kepalanya lagi. Anang lupa cara bilang tidak, saking takutnya melihat tatapan si pemilik salon yang tampak seakan ingin menggigit Anang.
Rroaarr!
Raut wajah pemilik salon itu berubah, terlihat seperti kecewa, dan marah.
Tapi, Anang tidak mau lama-lama fokus melihat si pemilik salon yang tidak menarik.
Anang mengalihkan pandangan matanya kepada si cantik Santi, yang masih tersenyum menatap Anang, seolah-olah sedang terpesona dengan penampilan baru Anang.
Meski Anang senang melihat Santi yang tampak tertarik dengannya, lama-kelamaan Anang merasa semua itu jadi aneh.
Buru-buru, Anang berjalan melewati satu setengah perempuan itu, lalu menuju ke kamar mandi.
Anang memakai kaus yang tergantung di pintu, kemudian kembali ke depan.
"Berapa harga potong rambut ini?" tanya Anang kepada si pemilik salon.
"Kalau kamu mau menemaniku malam ini, Kamu nggak usah bayar," sahut lelaki itu.
"Eh, Nggak bisa! Aku harus pulang! Besok aku kerja dari subuh!" sahut Anang.
"Ya sudah! Bayarnya selembar uang biru!" kata si pemilik salon dengan ketus.
Anang menyerahkan selembar uang merah, lalu tidak lama, pemilik salon itu mengembalikan selembar uang biru kepada Anang.
"San, Ayo kita pulang!" ajak Anang kepada Santi.
Santi lalu terlihat menganggukkan kepalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Iif Rubae'ah Teh Iif
kerasnya kehidupan nyata...
2024-05-29
0
Mama Oya
🤣🤣
2022-12-05
0
Penulis Jelata
Jangankan Anang, gw aja yg baca bergidik
2022-08-16
1