Kali ini pedasnya sambal kacang, hampir tersembur keluar dari hidung Anang. Saluran pernafasannya terasa pedih untuk sementara waktu.
Anang terbatuk-batuk.
Studio rekaman?
Apa sekarang Anang akan jadi penyanyi terkenal?
Anang kemudian ikut berjalan dengan lelaki yang menjemputnya tadi. Hampir saja Anang melepaskan piring makannya, yang masih tersisa separuh yang belum habis dia makan, tapi dia mengurungkannya.
Anang membawa piringnya bersamanya, sambil menemui wanita cantik nan rupawan.
Bagaimana kalau hanya sekedar mengobrol doang? Sayang 'kan sisa makanannya? Masa Anang harus membeli porsi baru lagi?
Nanti berkurang lembaran, untuk mengisi perut ayam plastik berwarna merah di kamarnya.
Anang ikut duduk lesehan bersama lelaki tadi, berhadap-hadapan dengan wanita berkulit putih yang cantik itu.
Anang merasa jantungnya berdegup kencang. Saat semakin dekat dia melihat wajah nan cantik, macam bintang film di spanduk bioskop yang sering dilihat Anang.
Wanita itu menyapa Anang dengan bahasa yang hanya pernah didengar Anang, saat diucapkan oleh guru mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah dulu.
Yang Anang bisa mengerti, hanya 'Halo', 'Nama', dan 'Terimakasih'.
Anang pun dengan percaya diri menjawab sapa'an wanita itu.
"Hallo, Anang, thank you!"
Yang kemudian disambut dengan senyuman manis si cantik, dan suara tertawa yang tertahan di hidung lelaki di sampingnya.
"Namamu Anang?" Lelaki itu bersikap ramah, meski masih tampak menahan rasa tawanya.
Tolong ya! Jangan tertawa!
Anang memang tidak pernah menyimak dengan benar pelajaran bahasa Inggrisnya dulu. Apalagi yang mengajar, adalah lelaki tua yang kalau bicara tampak seperti hampir akan kehabisan nafas, dengan lidahnya yang dicadel-cadelkan
Bagaimana Anang bisa paham?
"Iya. Tapi, bisa kita mengobrol sambil aku makan? Sayang kalau makanannya hanya dibuang," kata Anang, sambil memperlihatkan piringnya yang masih banyak sisa tahu tek-tek, dengan lontongnya yang benyek.
"Oh, tidak apa-apa. Silahkan!" jawab lelaki itu. Dia juga menyuapkan sesendok makanannya ke mulutnya.
"Aku juga belum selesai makan," kata lelaki itu. "Oh, iya, namaku Peter ( Piter ), Nona ini namanya Miss Jordan."
Si cantik yang ternyata bernama Miss Jordan, kemudian menganggukkan kepalanya.
Anang ikut menganggukkan kepalanya.
"Halo, Miss Jordan!" Anang masih dengan percaya diri menyapa wanita yang sangat cantik di depannya itu.
Anang menyuapkan buru-buru makanannya sampai habis. Dia ingin konsentrasinya tidak terganggu dengan perut yang berbunyi, memprotes lambatnya makanan masuk ke lambungnya.
Anang sesekali melirik si cantik, yang sedang berbisik-bisik dengan Peter. Entah apa yang mereka bicarakan. Padahal tanpa mereka berbisik, Anang tetap tidak akan tahu pembahasan mereka.
"Sebenarnya ada apa ya? Bisa tolong jelaskan?" kata Anang saat sisa sebiji kacang yang masih kasar, tergilas habis oleh giginya.
Anang sudah selesai makan, dan bisa fokus memandang dengan bebas, keindahan Tuhan di depannya, tanpa ada pengalihan dari piring makannya lagi.
"Miss Jordan ingin merekam video saat kamu bernyanyi. Tapi, dia mau minta ijin dulu, kalau kamu tidak keberatan," kata Peter. Kini kondisi piringnya sekarang sudah sama seperti piring Anang.
"Rekam? Sekarang?" tanya Anang.
"Iya sekarang," jawab Peter.
Miss Jordan meletakkan ponsel yang tipis, tapi hampir selebar bata merah, di atas meja.
"Miss Jordan akan memberi sedikit bayaran untuk rekaman uji cobanya. Kalau kamu mau," kata Peter yang terdengar meyakinkan bagi Anang.
"Ok!" sahut Anang dengan bersemangat.
Anang lalu mempersiapkan suaranya untuk bernyanyi.
"Lagu apa?" tanya Anang sambil membuka matanya tiba-tiba.
"Terserah saja. Yang penting kamu bernyanyi saja," kata Peter, terlihat sudah siap merekam Anang, dengan kamera ponsel Miss Jordan.
Anang kemudian mulai memetik senar gitarnya, lalu bernyanyi dengan sepenuh hati, sambil direkam Peter.
'Senandung Lagu Cinta' dari Ada Band, jadi pilihannya untuk bernyanyi didepan kamera, dan untuk yang teristimewa, Miss Jordan.
Anang memang harus berterima kasih kepada Band idolanya itu, yang memberikannya semangat dalam bernyanyi dengan nada-nada, dan lirik yang indah.
Anang sesekali membuka matanya sambil bernyanyi.
Dia melihat Miss Jordan yang tersenyum manis, sambil menatap Anang. Wanita cantik itu terlihat menyukai dan menikmati suara petikan gitar, dan suara nyanyian Anang.
Saat lagu selesai dinyanyikan Anang, Miss Jordan bertepuk tangan untuknya. Kemudian wanita itu kembali berbisik-bisik dengan Peter.
"Miss Jordan mau tahu, apa kamu bisa menyanyikan lagu berbahasa Inggris, walau hanya satu lagu?" kata Peter yang jadi penyambung lidah Miss Jordan, yang tampaknya benar-benar tidak bisa berbahasa Indonesia.
Anang melihat Miss Jordan yang mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil melihat Anang.
Sepertinya Anang tahu satu lagu, entah masih dihapalnya atau tidak liriknya sekarang. Lagu berbahasa Inggris memang tidak terlalu menarik bagi Anang, karena dia tidak mengerti artinya.
Bayangkan kalau sampai dia menyanyikan dengan sepenuh hati, ternyata arti lagu itu untuk memaki orang....
Apa yang akan dia terima dari pendengarnya yang mengerti artinya?
Anang memetik-metik senar gitarnya, mencoba mengingat-ingat lirik lagu lama, yang sudah hampir terlupakan olehnya.
Akhirnya, Anang mampu meyakinkan dirinya, kalau dia masih bisa menyanyikan lagu 'November Rain' dari Gun's and Roses.
Seperti biasa Anang mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk bernyanyi.
Kali ini, bukan hanya Miss Jordan yang terkagum-kagum, pengunjung yang lain yang berada di tempat itu, ikut memandangi Anang.
Tanpa menyodorkan kantong plastik, setelah Anang mengakhiri nyanyiannya, para pengunjung bergantian meletakkan beberapa lembar uang kertas, keatas meja di depan Anang.
Ternyata penggemar lagu itu cukup banyak, sayang Anang tidak mengerti artinya meski dia bisa mengucapkan pelafalannya dengan baik.
Anang berkali-kali mengucapkan terimakasih atas penghargaan yang dia dapatkan saat itu.
"Oh My God! Your voice's so amazing!" Miss jordan tampak tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Dia berseru sambil bertepuk tangan dengan meriah. Senyum lebar mengembang di wajahnya yang cerah.
Anang hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Miss Jordan bilang apa?" tanya Anang kepada Peter, yang terlihat masih sibuk dengan ponsel Miss Jordan.
Peter mengangkat wajahnya, lalu melihat kearah Anang.
"Hah? Oh, Miss Jordan menyukai suaramu," jawab Peter. Dia kemudian sibuk lagi dengan ponsel Miss Jordan ditangannya.
Kemudian Anang melihat Miss Jordan juga terlihat sibuk dengan Peter, sambil melihat layar ponsel. Mereka berdua berbisik-bisik lagi, tanpa menoleh lagi ke arah Anang.
Itu saja? Lalu sekarang apa?
Anang memungut semua lembaran uang dari atas meja di depannya. Sepertinya rejeki Anang, sudah cukup di tempat itu. Dia harus berjalan lagi, mencoba peruntungan di tempat lain.
Tidak mungkin dia mengharapkan orang-orang yang sudah memberi uang untuknya sampai lebih dari sekali, untuk memberi lagi.
Rejeki yang ada saja sudah lebih dari harapan Anang. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba berusaha lagi di tempat lain, 'kan?
"Aku harus pergi sekarang," kata Anang, memecah perhatian Peter dengan Miss Jordan, yang sedari tadi tidak memperhatikan gerak-gerik Anang lagi.
"Tunggu dulu!" kata Peter, menahan Anang yang hampir saja berdiri dari tempat duduknya.
Peter berbicara dengan Miss Jordan sebentar, kemudian melihat ke arah Anang.
"Ikut dengan kami sebentar!" kata Peter.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Penulis Jelata
Sejauh ini gw masih menikmati alur cerita yg menarik, walaupun msh ada beberapa 'tata kepenulisan' yg mesti direvisi
2022-08-16
0
anggita
peter.. piter. klo salah ucap bisa jadi petir. duuaaarrr.. geledek.
2022-08-15
1
クロスケフジン:キツネ
yup semoga saja kehidupan Anang berubah dari titik ini
2022-06-13
1