Part 4

Entah mimpi apa Anang semalam, sejak terbangun dari tidurnya, Anang bisa mendapat rentetan rejeki yang tidak terduga.

Satpam perumahan yang kemarin sempat menghadangnya, hari ini membagi dua potong pisang goreng yang jadi bekalnya untuk sarapan. Katanya, sekalian permohonan maafnya, karena mempersulit Anang kemarin pagi.

Dengan begitu, Anang tidak perlu berebutan kue lagi dengan pekerja bangunan lain. Meski hanya ampas kopi dengan sedikit cairan yang tersisa, itu bukan masalah bagi Anang.

Pekerjaannya hari ini juga, dari pagi sampai ke sore hari, selain melukai bahunya seperti biasa, sisa tubuhnya aman dan selamat dari segala bahaya.

Mungkin juga itu semua karena Anang bekerja tanpa terlalu banyak pikiran, tentang tempat mengamen nanti malam.

Tenang ... Jadi kuncinya agar Anang bisa berkonsentrasi dalam bekerja.

Sepulangnya dari perumahan, Anang sempat terpikir untuk membeli sendal jepit baru, tapi dia teringat sendal yang ada di bawah tiang lampu jalan.

Mudah-mudahan itu bisa jadi miliknya, kalau tidak diambil lagi oleh pemiliknya atau dipungut tukang sapu jalanan.

Anang terburu-buru mengejar matahari yang hampir tenggelam. Tempat mengamen barunya yang jauh membutuhkan banyak waktu berjalan kaki, agar Anang bisa tiba di sana.

Rakit di pinggir sungai dengan sedikit lantai terbuka, tampak penuh dengan ibu-ibu dan anak-anak yang sedang mandi. Tapi, ada sedikit sela di antara mereka yang bisa jadi tempat Anang mandi, dan mencuci bajunya.

Sesekali ibu-ibu di situ mengajak Anang mengobrol.

"Mestinya menikah saja. Biar ada yang mencucikan bajunya."

"Apa nggak kesepian, kalau tidur malam selalu sendirian?"

Anang hanya bisa tersenyum terpaksa, dan mengangguk-angguk, tanpa tahu harus bicara apa dengan ibu-ibu cerewet itu.

"Mana ada yang mau, kalau penampilan aja kayak gitu?!"

"Tapi kalau 'kuat' di ranjang, pasti ada aja tuh yang mau. Hihihi!"

Ada juga ibu-ibu yang berbisik-bisik di belakang Anang. Memang berbisik-bisik, tapi Anang masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Pedasnya perkataan emak-emak gaje, memang tidak ada lawan.

Dari pada Anang saling jambak dengan ibu-ibu itu, Anang memilih mempercepat kegiatan mencuci dan mandinya, agar bisa cepat pergi dari rakit itu.

Anang sudah siap untuk pertunjukannya malam itu. Dengan langkah sigap, Anang menyusuri trotoar jalanan menuju sisi lain pinggiran kota.

Saking cepatnya langkah Anang, gitar yang menggantung membentur-bentur bawah punggungnya, sampai menghasilkan suara, seperti gendang yang ditabuh saat malam takbiran.

Anang tidak perduli, meski mungkin nanti ada yang akan berteriak takbir di belakangnya. Anang harus cepat tiba di tujuan, demi celengan ayam yang menunggu untuk diisi lagi malam ini.

Suasana ditempat Anang berencana untuk mengais rejeki, tampaknya malam ini lumayan ramai.

Apa karena sekarang malam minggu atau karena orang-orang baru menerima gaji mereka, dan tidak berniat memasak di rumah. Atau hanya karena bosan memakan sayur dan makanan yang sama setiap hari.

Mungkin juga Ibu-ibu sekarang terlalu sering memegang ponsel dan menonton drakor, sampai tidak berminat memasak lagi, jadinya lebih memilih untuk makan di luar.

Saat Anang sedang mengaduk adonan semen tadi pagi, dia sempat melihat dan mendengar beberapa ibu-ibu perumahan yang bercerita tentang drakor 'li min ho', sambil memilih sayuran di gerobak tukang sayur.

Ponsel tidak lepas dari tangan mereka, saling menunjukkan layarnya kepada satu sama lain, sambil senyum-senyum kesengsem.

Kemudian semua ibu-ibu itu terlihat pulang dengan tangan kosong.

Tampaknya 'li min ho' lebih menarik dibandingkan dengan suami-suami mereka yang nanti pulang dengan perut lapar.

Anang tidak mau menghakimi ibu-ibu itu.

Wajar saja kan kalau merasa bosan, saat melihat wajah suaminya yang itu-itu saja setiap hari?

Anang bersiap-siap untuk melakukan konser terbuka. Sebelum dia mulai menyanyikan lagu pembuka, dia terlebih dahulu meminta ijin dengan pedagang, dan para pengunjung.

Setelah mendapat restu, Anang menarik nafas panjang, sambil memejamkan mata sebentar.

Anang mengeluarkan suara terbaiknya yang dia bisa. Menghayati lirik-lirik indah lagu-lagu tembang kenangan, sampai membuatnya merinding kedinginan.

Kaus Anang yang basah dengan keringat, terasa seperti kompres dingin saat dihembus angin malam. Tapi Anang sudah profesional, dia bisa menahan rasa dingin agar suaranya tidak bergetar, cukup lututnya saja yang gemetar.

Satu lagu berakhir dengan tepukkan meriah penontonnya. Anang belum memungut tarif, dia menyanyikan satu lagi lagu yang cukup untuk mengguncang hati pendengarnya.

Kali ini kantong plastik bekas keripik andalannya, sudah dia pastikan agar tidak tertinggal. Dengan ucapan terimakasih dia menyodorkan kantong kepada para pengunjung di situ.

Luar biasa!

Hasilnya malam ini lebih banyak lagi. Bisa untuk membeli empat porsi bakso. Tapi, untuk apa Anang membeli bakso, kalau tahu tek-tek di situ lebih menarik.

Anang memesan seporsi tahu tek-tek yang dibuat sang pedagang tua dengan sepenuh hati. Anang menikmati makan malamnya, sambil melihat ke sana kemari.

Perasaan seperti ada yang sedang memperhatikannya. Tapi siapa?

Pandangan matanya terhenti pada seorang gadis atau wanita, entahlah, yang jelas seorang perempuan dengan kulit putih yang berbeda dengan ras Anang.

Rambutnya pirang lengkap dengan hidung mancung seperti penggaris segitiga yang ditempel di wajahnya.

Hallo cantik!

Tapi ... Apa ada yang salah dengan penampilan Anang malam ini?

Kenapa wanita itu tidak berhenti menatapnya?

Anang jadi grogi, sampai hampir tidak bisa mengunyah makanannya. Untung lontong buatan pedagang tua itu sangat lembut, jadi Anang bisa langung menelannya utuh tanpa tersedak.

Anang menundukkan kepalanya. Sesekali dia mencuri-curi pandang ke arah wanita yang masih saja menatapnya.

Sembunyi-sembunyi, Anang memeriksa ritsleting celananya. Jangan-jangan benda itu rusak, dan memamerkan pakaian dalamnya yang sudah tipis menerawang, dan tembus pandang.

Masih aman.

Benda itu masih menutup rapat-rapat rahasia gelap Anang.

Lalu apa?

Apa Anang harus menghampirinya? Apa nanti dia tidak akan terkena tamparan keras dari tangan lembut wanita itu di wajahnya?

Tolong jangan menatap seperti itu!

Kalau sampai tersedak sambal kacang yang pedas, Anang tidak akan bisa lanjut mengamen, dan harus pulang dengan tenggorokan sakit.

Walau cantik, wanita itu tidak akan bisa dimasukkan ke dalam celengan ayam milik Anang.

Tidak lama, wanita itu tampak berbisik-bisik dengan seorang lelaki yang memiliki ras yang sama dengan Anang.

Kemudian laki-laki itu berjalan ke arah Anang yang sudah mulai gemetar, khawatir kalau dia disangka sedang melecehkan wanita itu dengan matanya.

Hey, tidak seperti itu bambang!

Wanita itu yang menatap Anang dari tadi, Anang hanya mencuri-curi kecantikannya sedikit dengan ujung matanya.

"Maaf mengganggu ... Tapi Nona di sana ingin bicara denganmu." Lelaki itu ternyata tidak memukul Anang, hanya sekedar menyampaikan pesan dari si cantik.

Anang bisa sedikit bernafas lega.

"Kalau boleh tahu. Ada perlu apa ya?" Anang tetap belum berani langsung mendatangi wanita itu.

Bagaimana kalau dia dipanggil Nona cantik itu, hanya untuk ditempelkan lima jari, yang bisa memecahkan bibir Anang?

"Dia tertarik dengan suaramu. Dia memiliki studio rekaman. Mungkin dia mau mengajakmu kerja dengannya." Laki-laki itu benar-benar membuat Anang merasa sesak nafas, saat mendengar perkataannya.

Terpopuler

Comments

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

ealah Nang..
roman roman nya pengen d bagel ma kulit duren kli ya..noh laki kita lgi merengut tak bilang ngomong gitu

2023-01-08

1

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

seandai nya aku da d belakang kmu..
pasti aku nyanyi lagu MAGADIR

2023-01-08

1

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

udah kya pelakor ma istri SAH aja Nang maen jambak jambakan

2023-01-08

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1
2 Part 2
3 Part 3
4 Part 4
5 Part 5
6 Part 6
7 Part 7
8 Part 8
9 Part 9
10 Part 10
11 Part 11
12 Part 12
13 Part 13
14 Part 14
15 Part 15
16 Part 16
17 Part 17
18 Part 18
19 Part 19
20 Part 20
21 Part 21
22 Part 22
23 Part 23
24 Part 24
25 Part 25
26 Part 26
27 Part 27
28 Part 28
29 Part 29
30 Part 30
31 Part 31
32 Part 32
33 Part 33
34 Part 34
35 Part 35
36 Part 36
37 Part 37
38 Part 38
39 Part 39
40 Part 40
41 Part 41
42 Part 42
43 Part 43
44 Part 44
45 Part 45
46 Part 46
47 Part 47
48 Part 48
49 Part 49
50 Part 50
51 Part 51
52 Part 52
53 Part 53
54 Part 54
55 Part 55
56 Part 56
57 Part 57
58 Part 58
59 Part 59
60 Part 60
61 Part 61
62 Part 62
63 Part 63
64 Part 64
65 Part 65
66 Part 66
67 Part 67
68 Part 68
69 Part 69
70 Part 70
71 Part 71
72 Part 72
73 Part 73
74 Part 74
75 Part 75
76 Part 76
77 Part 77
78 Part 78
79 Part 79
80 Part 80
81 Part 81
82 Part 82
83 Part 83
84 Part 84
85 Part 85
86 Part 86
87 Part 87
88 Part 88
89 Part 89
90 Part 90
91 Part 91
92 Part 92
93 Part 93
94 Part 94
95 Part 95
96 Part 96
97 Part 97
98 Part 98
99 Part 99
100 Part 100
101 Part 101
102 Part 102
103 Part 103
104 Part 104
105 Part 105
106 Part 106
107 Part 107
108 Part 108
109 Part 109
110 Part 110
111 Part 111
112 Part 112
113 Part 113
114 Part 114
115 Part 115
116 Part 116
117 Part 117
118 Part 118
119 Part 119
120 Part 120
121 Part 121
122 Part 122
123 Part 123
124 Part 124
125 Part 125
126 Part 126
127 Part 127
128 Part 128
129 Part 129
130 Part 130
131 Part 131
132 Part 132
133 Part 133
134 Part 134
135 Part 135
136 Part 136
137 Part 137
138 Part 138
139 Part 139
140 Part 140
141 Part 141
142 Part 142
143 Part 143
144 Part 144
145 Part 145
146 Part 146
147 Part 147
148 Part 148
149 Part 149
150 Part 150
151 Part 151
152 Part 152
153 Part 153
154 Part 154
155 Part 155
156 Part 156
157 Part 157
158 Part 158
159 Part 159
160 Part 160
161 Part 161
162 Part 162
163 Part 163
164 Part 164
165 Part 165
166 Part 166
167 Part 167
168 Part 168
169 Part 169
170 Part 170
171 Part 171
172 Part 172
173 Part 173
174 Part 174
175 Part 175
176 Part 176
177 Part 177
178 Part 178
179 Part 179
180 Part 180
181 Part 181
182 Part 182
183 Part 183
184 Part 184
185 Part 185
186 Part 186
187 Part 187
188 Part 188
189 Part 189
190 Part 190
191 Part 191
192 Part 192
193 Part 193
194 Part 194
195 Part 195
196 Novel baru
Episodes

Updated 196 Episodes

1
Part 1
2
Part 2
3
Part 3
4
Part 4
5
Part 5
6
Part 6
7
Part 7
8
Part 8
9
Part 9
10
Part 10
11
Part 11
12
Part 12
13
Part 13
14
Part 14
15
Part 15
16
Part 16
17
Part 17
18
Part 18
19
Part 19
20
Part 20
21
Part 21
22
Part 22
23
Part 23
24
Part 24
25
Part 25
26
Part 26
27
Part 27
28
Part 28
29
Part 29
30
Part 30
31
Part 31
32
Part 32
33
Part 33
34
Part 34
35
Part 35
36
Part 36
37
Part 37
38
Part 38
39
Part 39
40
Part 40
41
Part 41
42
Part 42
43
Part 43
44
Part 44
45
Part 45
46
Part 46
47
Part 47
48
Part 48
49
Part 49
50
Part 50
51
Part 51
52
Part 52
53
Part 53
54
Part 54
55
Part 55
56
Part 56
57
Part 57
58
Part 58
59
Part 59
60
Part 60
61
Part 61
62
Part 62
63
Part 63
64
Part 64
65
Part 65
66
Part 66
67
Part 67
68
Part 68
69
Part 69
70
Part 70
71
Part 71
72
Part 72
73
Part 73
74
Part 74
75
Part 75
76
Part 76
77
Part 77
78
Part 78
79
Part 79
80
Part 80
81
Part 81
82
Part 82
83
Part 83
84
Part 84
85
Part 85
86
Part 86
87
Part 87
88
Part 88
89
Part 89
90
Part 90
91
Part 91
92
Part 92
93
Part 93
94
Part 94
95
Part 95
96
Part 96
97
Part 97
98
Part 98
99
Part 99
100
Part 100
101
Part 101
102
Part 102
103
Part 103
104
Part 104
105
Part 105
106
Part 106
107
Part 107
108
Part 108
109
Part 109
110
Part 110
111
Part 111
112
Part 112
113
Part 113
114
Part 114
115
Part 115
116
Part 116
117
Part 117
118
Part 118
119
Part 119
120
Part 120
121
Part 121
122
Part 122
123
Part 123
124
Part 124
125
Part 125
126
Part 126
127
Part 127
128
Part 128
129
Part 129
130
Part 130
131
Part 131
132
Part 132
133
Part 133
134
Part 134
135
Part 135
136
Part 136
137
Part 137
138
Part 138
139
Part 139
140
Part 140
141
Part 141
142
Part 142
143
Part 143
144
Part 144
145
Part 145
146
Part 146
147
Part 147
148
Part 148
149
Part 149
150
Part 150
151
Part 151
152
Part 152
153
Part 153
154
Part 154
155
Part 155
156
Part 156
157
Part 157
158
Part 158
159
Part 159
160
Part 160
161
Part 161
162
Part 162
163
Part 163
164
Part 164
165
Part 165
166
Part 166
167
Part 167
168
Part 168
169
Part 169
170
Part 170
171
Part 171
172
Part 172
173
Part 173
174
Part 174
175
Part 175
176
Part 176
177
Part 177
178
Part 178
179
Part 179
180
Part 180
181
Part 181
182
Part 182
183
Part 183
184
Part 184
185
Part 185
186
Part 186
187
Part 187
188
Part 188
189
Part 189
190
Part 190
191
Part 191
192
Part 192
193
Part 193
194
Part 194
195
Part 195
196
Novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!