Entah mimpi apa Anang semalam, sejak terbangun dari tidurnya, Anang bisa mendapat rentetan rejeki yang tidak terduga.
Satpam perumahan yang kemarin sempat menghadangnya, hari ini membagi dua potong pisang goreng yang jadi bekalnya untuk sarapan. Katanya, sekalian permohonan maafnya, karena mempersulit Anang kemarin pagi.
Dengan begitu, Anang tidak perlu berebutan kue lagi dengan pekerja bangunan lain. Meski hanya ampas kopi dengan sedikit cairan yang tersisa, itu bukan masalah bagi Anang.
Pekerjaannya hari ini juga, dari pagi sampai ke sore hari, selain melukai bahunya seperti biasa, sisa tubuhnya aman dan selamat dari segala bahaya.
Mungkin juga itu semua karena Anang bekerja tanpa terlalu banyak pikiran, tentang tempat mengamen nanti malam.
Tenang ... Jadi kuncinya agar Anang bisa berkonsentrasi dalam bekerja.
Sepulangnya dari perumahan, Anang sempat terpikir untuk membeli sendal jepit baru, tapi dia teringat sendal yang ada di bawah tiang lampu jalan.
Mudah-mudahan itu bisa jadi miliknya, kalau tidak diambil lagi oleh pemiliknya atau dipungut tukang sapu jalanan.
Anang terburu-buru mengejar matahari yang hampir tenggelam. Tempat mengamen barunya yang jauh membutuhkan banyak waktu berjalan kaki, agar Anang bisa tiba di sana.
Rakit di pinggir sungai dengan sedikit lantai terbuka, tampak penuh dengan ibu-ibu dan anak-anak yang sedang mandi. Tapi, ada sedikit sela di antara mereka yang bisa jadi tempat Anang mandi, dan mencuci bajunya.
Sesekali ibu-ibu di situ mengajak Anang mengobrol.
"Mestinya menikah saja. Biar ada yang mencucikan bajunya."
"Apa nggak kesepian, kalau tidur malam selalu sendirian?"
Anang hanya bisa tersenyum terpaksa, dan mengangguk-angguk, tanpa tahu harus bicara apa dengan ibu-ibu cerewet itu.
"Mana ada yang mau, kalau penampilan aja kayak gitu?!"
"Tapi kalau 'kuat' di ranjang, pasti ada aja tuh yang mau. Hihihi!"
Ada juga ibu-ibu yang berbisik-bisik di belakang Anang. Memang berbisik-bisik, tapi Anang masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Pedasnya perkataan emak-emak gaje, memang tidak ada lawan.
Dari pada Anang saling jambak dengan ibu-ibu itu, Anang memilih mempercepat kegiatan mencuci dan mandinya, agar bisa cepat pergi dari rakit itu.
Anang sudah siap untuk pertunjukannya malam itu. Dengan langkah sigap, Anang menyusuri trotoar jalanan menuju sisi lain pinggiran kota.
Saking cepatnya langkah Anang, gitar yang menggantung membentur-bentur bawah punggungnya, sampai menghasilkan suara, seperti gendang yang ditabuh saat malam takbiran.
Anang tidak perduli, meski mungkin nanti ada yang akan berteriak takbir di belakangnya. Anang harus cepat tiba di tujuan, demi celengan ayam yang menunggu untuk diisi lagi malam ini.
Suasana ditempat Anang berencana untuk mengais rejeki, tampaknya malam ini lumayan ramai.
Apa karena sekarang malam minggu atau karena orang-orang baru menerima gaji mereka, dan tidak berniat memasak di rumah. Atau hanya karena bosan memakan sayur dan makanan yang sama setiap hari.
Mungkin juga Ibu-ibu sekarang terlalu sering memegang ponsel dan menonton drakor, sampai tidak berminat memasak lagi, jadinya lebih memilih untuk makan di luar.
Saat Anang sedang mengaduk adonan semen tadi pagi, dia sempat melihat dan mendengar beberapa ibu-ibu perumahan yang bercerita tentang drakor 'li min ho', sambil memilih sayuran di gerobak tukang sayur.
Ponsel tidak lepas dari tangan mereka, saling menunjukkan layarnya kepada satu sama lain, sambil senyum-senyum kesengsem.
Kemudian semua ibu-ibu itu terlihat pulang dengan tangan kosong.
Tampaknya 'li min ho' lebih menarik dibandingkan dengan suami-suami mereka yang nanti pulang dengan perut lapar.
Anang tidak mau menghakimi ibu-ibu itu.
Wajar saja kan kalau merasa bosan, saat melihat wajah suaminya yang itu-itu saja setiap hari?
Anang bersiap-siap untuk melakukan konser terbuka. Sebelum dia mulai menyanyikan lagu pembuka, dia terlebih dahulu meminta ijin dengan pedagang, dan para pengunjung.
Setelah mendapat restu, Anang menarik nafas panjang, sambil memejamkan mata sebentar.
Anang mengeluarkan suara terbaiknya yang dia bisa. Menghayati lirik-lirik indah lagu-lagu tembang kenangan, sampai membuatnya merinding kedinginan.
Kaus Anang yang basah dengan keringat, terasa seperti kompres dingin saat dihembus angin malam. Tapi Anang sudah profesional, dia bisa menahan rasa dingin agar suaranya tidak bergetar, cukup lututnya saja yang gemetar.
Satu lagu berakhir dengan tepukkan meriah penontonnya. Anang belum memungut tarif, dia menyanyikan satu lagi lagu yang cukup untuk mengguncang hati pendengarnya.
Kali ini kantong plastik bekas keripik andalannya, sudah dia pastikan agar tidak tertinggal. Dengan ucapan terimakasih dia menyodorkan kantong kepada para pengunjung di situ.
Luar biasa!
Hasilnya malam ini lebih banyak lagi. Bisa untuk membeli empat porsi bakso. Tapi, untuk apa Anang membeli bakso, kalau tahu tek-tek di situ lebih menarik.
Anang memesan seporsi tahu tek-tek yang dibuat sang pedagang tua dengan sepenuh hati. Anang menikmati makan malamnya, sambil melihat ke sana kemari.
Perasaan seperti ada yang sedang memperhatikannya. Tapi siapa?
Pandangan matanya terhenti pada seorang gadis atau wanita, entahlah, yang jelas seorang perempuan dengan kulit putih yang berbeda dengan ras Anang.
Rambutnya pirang lengkap dengan hidung mancung seperti penggaris segitiga yang ditempel di wajahnya.
Hallo cantik!
Tapi ... Apa ada yang salah dengan penampilan Anang malam ini?
Kenapa wanita itu tidak berhenti menatapnya?
Anang jadi grogi, sampai hampir tidak bisa mengunyah makanannya. Untung lontong buatan pedagang tua itu sangat lembut, jadi Anang bisa langung menelannya utuh tanpa tersedak.
Anang menundukkan kepalanya. Sesekali dia mencuri-curi pandang ke arah wanita yang masih saja menatapnya.
Sembunyi-sembunyi, Anang memeriksa ritsleting celananya. Jangan-jangan benda itu rusak, dan memamerkan pakaian dalamnya yang sudah tipis menerawang, dan tembus pandang.
Masih aman.
Benda itu masih menutup rapat-rapat rahasia gelap Anang.
Lalu apa?
Apa Anang harus menghampirinya? Apa nanti dia tidak akan terkena tamparan keras dari tangan lembut wanita itu di wajahnya?
Tolong jangan menatap seperti itu!
Kalau sampai tersedak sambal kacang yang pedas, Anang tidak akan bisa lanjut mengamen, dan harus pulang dengan tenggorokan sakit.
Walau cantik, wanita itu tidak akan bisa dimasukkan ke dalam celengan ayam milik Anang.
Tidak lama, wanita itu tampak berbisik-bisik dengan seorang lelaki yang memiliki ras yang sama dengan Anang.
Kemudian laki-laki itu berjalan ke arah Anang yang sudah mulai gemetar, khawatir kalau dia disangka sedang melecehkan wanita itu dengan matanya.
Hey, tidak seperti itu bambang!
Wanita itu yang menatap Anang dari tadi, Anang hanya mencuri-curi kecantikannya sedikit dengan ujung matanya.
"Maaf mengganggu ... Tapi Nona di sana ingin bicara denganmu." Lelaki itu ternyata tidak memukul Anang, hanya sekedar menyampaikan pesan dari si cantik.
Anang bisa sedikit bernafas lega.
"Kalau boleh tahu. Ada perlu apa ya?" Anang tetap belum berani langsung mendatangi wanita itu.
Bagaimana kalau dia dipanggil Nona cantik itu, hanya untuk ditempelkan lima jari, yang bisa memecahkan bibir Anang?
"Dia tertarik dengan suaramu. Dia memiliki studio rekaman. Mungkin dia mau mengajakmu kerja dengannya." Laki-laki itu benar-benar membuat Anang merasa sesak nafas, saat mendengar perkataannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
ealah Nang..
roman roman nya pengen d bagel ma kulit duren kli ya..noh laki kita lgi merengut tak bilang ngomong gitu
2023-01-08
1
Ganuwa Gunawan
seandai nya aku da d belakang kmu..
pasti aku nyanyi lagu MAGADIR
2023-01-08
1
Ganuwa Gunawan
udah kya pelakor ma istri SAH aja Nang maen jambak jambakan
2023-01-08
1