Hampir semua yang dikatakan wanita penjaga toko, atau mungkin dia lah si pemilik toko itu jelaskan, tidak dimengerti oleh Anang.
Tapi, Anang berusaha menyimaknya dengan baik, sambil mengingat-ingat lembaran uangnya yang dia masukkan, dan yang sudah dia keluarkan dari celengan ayamnya.
Kalau tidak salah, sisa uang pemberian Miss Jordan, tinggal sedikit ditambah dengan tabungan Anang, bisa untuk membeli ponsel itu.
"Mbak! Aku mau yang ini. Tapi saya tidak mengerti sama sekali cara pakainya. Apa kalau saya membeli ini, Mbak bisa ajarkan cara pakainya?" tanya Anang malu-malu, sambil mengembalikan ponsel keatas etalase kaca.
Ini akibatnya, semestinya Anang memperhatikan yang diajari Santi kemarin. Tapi karena terlalu sibuk memikirkan yang aneh-aneh, tidak ada satupun yang masuk di kepala Anang.
Tadi sore pun begitu. Bukannya belajar memakai ponsel, malah sibuk menyusu di dada Santi, dan menikmati tangan Santi yang ada di dalam celananya.
Aaarrrghh! Mulai lagi!
Semestinya Anang fokus. Kenapa malah memikirkan itu lagi?
Anang mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali, berusaha fokus dengan saat sekarang, dan berusaha menghentikan bayangan kejadian tadi sore bersama Santi.
"Bisa Mas! Jadi mau yang ini? Warnanya mau yang ini juga?" tanya wanita itu.
"Iya, Mbak! Tapi aku pergi ambil uangnya dulu. Tokonya belum akan tutup, kan?" ujar Anang, yang sudah terkumpul kesadarannya kembali.
"Belum, Mas! Saya lagi nggak ada kemana-mana. Jadi, bukanya mungkin sampai jauh malam nanti," sahut Wanita itu, sambil tersenyum.
"Kalau begitu saya pulang dulu!" kata Anang, lalu berbalik hendak keluar dari toko.
Anang lalu teringat kalau tempatnya lumayan jauh. Kalau gitarnya masih menggantung di punggungnya, dia tidak bisa bergerak cepat untuk pergi dan kembali ke toko itu tepat waktu, sebelum tokonya tutup.
Anang berbalik, lalu menghampiri wanita pemilik toko.
"Mbak! Saya titip gitar saya, ya?! Kalau saya bawa, nanti saya tidak bisa berlari," kata Anang malu-malu.
"Iya, bisa! Mas letakkan di situ saja!" kata wanita itu, sambil menunjuk dinding di ujung etalase kaca.
"Sekalian saya siapkan ponselnya kalau begitu, ya?! Jadi, waktu mas kembali, saya tinggal ajarkan cara pakainya," sambung wanita itu lagi.
"Oh, Iya ... Makasih Mbak!" kata Anang, sambil buru-buru melepas tali gantungan gitar dari bahunya, kemudian meletakkan gitarnya di dalam toko, di tempat yang ditunjuk wanita pemilik toko tadi.
Setelah meletakkan gitarnya, Anang tergesa-gesa sampai setengah berlari keluar dari toko. Anang benar-benar mengejar waktu, untuk cepat sampai di tempat tinggalnya.
Sesekali Anang berlari, agar dia bisa lebih cepat untuk pulang.
Anang mencungkil uang dari celengan ayam plastiknya.
Benar perhitungan Anang, uang pemberian Miss Jordan tinggal ditambah sedikit dengan uang tabungannya yang berwarna lain, nilai uangnya yang ada sudah genap dua puluh lembar uang kertas merah.
Buru-buru Anang berlari kembali ke toko tempatnya memesan ponsel tadi. Anang tidak perduli dengan keringatnya yang membasahi kausnya, karena lelah berlari.
Ketika Anang sampai di toko yang menjual ponsel itu tadi, tokonya masih buka. Tampaknya memang masih menunggu Anang.
Karena saat Anang datang, dan masuk ke dalam, pintu toko lalu ditarik wanita itu, sampai hampir menutup habis pintu masuk ke dalam toko. Hanya tersisa sedikit sela untuk Anang keluar nanti.
"Ini uangnya, Mbak!" kata Anang, dengan suara nafasnya yang masih terengah-engah. Anang lalu meletakkan uang ke atas etalase kaca, di depan wanita pemilik toko itu berdiri.
Wanita itu lalu menghitung lembaran uang, yang disodorkan Anang kepadanya.
Setelah wanita itu terlihat yakin kalau uang yang diberikan Anang itu cukup, wanita itu lalu memasukkan uang Anang ke dalam laci yang ada di meja besar di bagian belakang toko.
Kemudian, wanita itu terlihat kembali menghampiri Anang.
"Uangnya pas, ya, Mas! Sekarang saya jelaskan, ya?! ... Yang ini kartu garansinya, sudah saya isi dengan nomor imei, dan data toko." Wanita itu memperlihatkan selembar kertas kepada Anang.
Anang memperhatikan sebentar.
"Itu disimpan baik, sama-sama dengan kotaknya, ya, Mas?! ... Sekarang yang ini! Saya sudah buat kwitansi pembeliannya. Sama juga disimpan dengan kartu garansinya," kata wanita itu, kembali menyodorkan selembar kertas, yang baru saja dia coret-coret kepada Anang.
"Cara pakai ponselnya, Mas lihat tombol ini?" tanya wanita itu menunjuk salah satu tombol yang ada di ponsel kepada Anang, yang sedari tadi memperhatikan semua yang dikatakan wanita itu.
Anang menganggukkan kepalanya.
"Nah, ini untuk menyalakan ponselnya! Tadi sudah saya masukkan kartu perdananya, juga sudah saya registrasi dengan data toko. Jadi bisa langsung Mas pakai," kata Wanita itu.
"Tadi saya dengar Mas mau mendengar lagu online. Sudah saya pasangkan aplikasi untuk musik online. Yang ini, ya!" Kembali wanita itu menunjukkan tanda aplikasi di ponsel.
"Ponselnya sudah bisa langsung dipakai. Tapi kalau ada yang Masnya kurang mengerti, Mas bisa menghubungi toko. Nomornya sudah saya masukkan di kontak. Yang ini, Mas!" Wanita itu tampak menjelaskan dengan sabar kepada Anang.
"Nanti Mas sambil pakai, bisa sambil belajar, kok! Nggak sesulit kelihatannya." Wanita itu kemudian merapikan barang-barang perlengkapan ponsel, ke dalam kotaknya lagi.
"Ini pengisi dayanya baterainya! ... Ini earphone, untuk mendengar lagu dan suara dari ponsel. Colokkannya di sini masing-masing. Sudah, ya! Terima kasih sudah membeli ponselnya di toko kami!" ujar wanita itu, yang masih menambahkan penjelasannya kepada Anang.
Wanita itu lalu menyodorkan kotak ponsel yang dibeli Anang yang sudah dimasukkan ke dalam sebuah kantong plastik, berlambang nama toko ponsel itu.
"Terimakasih banyak, Mbak!" sahut Anang, kemudian mengambil kantong plastik, dan ponselnya yang sudah menyala dari tangan wanita si pemilik toko.
"Saya permisi dulu, Mbak!" kata Anang lagi, sambil menggantung gitarnya lagi ke punggungnya.
Kemudian Anang berjalan keluar dari toko, saat wanita itu mengangguk, lalu ikut menyusul Anang untuk menutup rapat pintu tokonya.
Anang melihat ponsel barunya. Dengan rasa penasaran, dia ingin langsung mencoba aplikasi musik yang dikatakan si pemilik toko.
Anang lalu memasang earphone ke telinganya, setelah disambungkan di ponsel, kemudian memencet gambar kotak kecil yang ditunjukkan wanita tadi.
Anang merasa takjub, saat musik mulai mengalun di telinganya.
Sesekali, dia menggeser-geser layar untuk melihat judul lagu yang lain.
Memang benar kata anak kecil tadi waktu Anang mengamen di tempat penjual tahu tek-tek berdagang, lagu-lagu yang ada di online banyak yang baru, yang tidak pernah didengar Anang.
Sepanjang perjalanan kembali ke tempat tinggalnya, Anang tidak merasa terlalu lelah, dia asyik berjalan sambil mendengarkan lagu-lagu yang berkumandang di telinganya.
Tidak sia-sia rasanya mengeluarkan begitu banyak uang demi membeli benda itu. Anang jadi bisa mendengar, dan belajar banyak lagu baru.
Dan juga lebih mudah bagi Anang untuk menghapal lirik lagunya, karena teksnya muncul di layar ponsel.
Anang senyum-senyum sendiri.
Rencananya, kalau dia sampai di kamarnya, dia akan mempelajari beberapa lagu baru dengan gitarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
VirtualAjaYa
Next thorrrr.....smpai saat ini bgus critany...smngt💪💪
2022-06-01
2