Belum lama setelah matahari tenggelam, Anang sudah segar setelah mandi dan merasa tampan memakai kaos andalan dengan celana panjang, dan seperti biasa, dengan gitar yang menggantung di punggungnya.
Dari kejauhan, Anang melihat tempat bersantai di pinggir pantai, yang sudah dipenuhi pengunjung.
Belajar dari pengalaman kenalan sesama pencari uang di jalanan, Anang mencari-cari anggota pengemis atau pengamen di daerah itu.
Daerah baru, Anang tidak bisa mengamen dan mencari uang begitu saja.
Anang harus melapor kepada bos preman yang biasanya menguasai tempat-tempat yang potensial seperti itu. Kecuali dia mau menerima bogem mentah dan pulang dengan gitar yang hancur.
Anang bertemu dengan seorang pengemis yang masih bocah.
"Apa bisa ngamen di sini?" tanya Anang ketika bocah itu sudah didekatnya.
"Laporan dulu!" bocah itu tampak ketakutan, segera berlari menjauh dari Anang.
"Hey! Di mana bosnya?" Anang berlari mengejar bocah itu sambil berteriak.
Bocah itu hanya berbalik sebentar, lalu menunjuk ke arah gang di belakang ruko yang sudah tutup.
Anang berhenti berlari.
Tampaknya bos di sini cukup menyeramkan, sampai membuat bocah itu ketakutan.
Perlahan tapi pasti Anang berjalan memasuki gang yang gelap.
Asap rokok yang mengepul, memaksa keluar dari tempat sempit, yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.
Anang melihat samar-samar, jauh disana bayangan beberapa orang yang sedang duduk berhadap-hadapan. Suara bentakkan keras dan tangisan anak kecil, campur aduk memecah keheningan tempat itu.
"Hanya segini?"
"Kamu mau aku patahkan kakimu?"
Suara bentakkan itu semakin nyaring terdengar oleh Anang, juga tidak kalah nyaring suara tangisan anak-anak yang meminta ampun.
Anang menghentikan langkahnya. Dia berbalik arah, Anang mengurungkan niatnya untuk mencari nafkah di daerah itu.
Meski Anang mau mencari uang lebih, tapi tidak dengan bos yang terlalu kejam, sampai kaki anak kecil mau dipatahkannya. Bisa bayangkan apa yang akan dilakukan bos preman kepada orang dewasa?
Anang kembali berjalan menyisir jalanan. Kiri-kanan jalan berjejer rumah makan yang ramai pengunjung.
Tidak, Anang tidak bisa di situ. Pokoknya dia harus mencari tempat yang tidak terlalu ramai, agar tidak perlu berurusan dengan bos preman.
Sampai hampir ke pinggiran kota, Anang melihat warung makan lesehan, yang hanya berjualan dengan bergelar tikar di atas trotoar.
Pengunjungnya tidak terlalu ramai, tapi tampaknya cukup kalau semua mau membagi sedikit rejeki mereka kepada Anang.
Anang mencoba peruntungannya disitu.
Seperti biasa, Anang akan melakukan ritual mengatur nafas, seolah-olah dia adalah seorang penyanyi profesional.
Suara Anang memang cukup merdu. Buktinya saat dia bernyanyi, masih banyak mata yang memandangnya dengan rasa kagum. Atau mungkin kesal, karena perbincangan mereka sambil makan yang terganggu.
Anang tetap bernyanyi lagu-lagu favoritnya, dari salah satu grup band ternama di zamannya masih SMA dulu. Diiringi senar gitarnya yang masih mau bergetar, dan mengeluarkan suara indah, saat dipetik jari-jari tangan kasar Anang.
Satu lagu berakhir seperti sedang konser. Anang mendapat tepuk tangan dari beberapa pengunjung yang menontonnya. Untung saja, berarti mereka menikmati pertunjukan Anang.
Anang lupa membawa kantong yang biasa dipakai untuk memungut harga tiket konsernya. Hanya dengan membuka kedua tangannya, dia meminta sedikit rejeki dari orang-orang di situ.
Lumayan!
Bisa untuk membeli dua porsi bakso.
Anang lalu membagi sedikit hasil mengamennya kepada yang berdagang makanan di situ, tapi mereka menolak. Pedagang yang rata-rata tampak sudah berumur.
"Tidak apa-apa anak muda, kami sudah ada rejekinya." Pria tua dengan rambut penuh uban, sampai tidak ada lagi yang bagian rambutnya terlihat masih hitam, menolak dengan halus pemberian Anang.
"Terimakasih, pak. Apa saya besok bisa mengamen di sini lagi?" tanya Anang berhati-hati. Dia khawatir nanti akan merepotkan, atau mengganggu usaha dagang orangtua yang baik itu.
"Tidak jadi masalah. Kita sama-sama mencari rejeki." Pria tua itu memang baik. Sambil menghaluskan cabai dalam sambal kacang untuk tahu tek-tek dagangannya, dia memberi kesempatan bagi Anang untuk mencari nafkah di situ.
Anang memesan tahu tek-tek dagangan pria tua itu, sekedar berbagi rejeki karena pria itu tidak mau kalau diberi uang cuma-cuma.
Enak!
Pantas saja ... Tampak pelanggannya di situ sudah banyak yang berumur. Mungkin sudah jadi pelanggan lama, dan tetap jadi pelanggan setia di tempat itu.
Anang menikmati satu porsi makanan pesanannya dengan rasa syukur. Harga seporsi tahu tek-tek, hanya separuh harga bakso.
Kenyangnya? Lebih kenyang makan itu daripada bakso.
Rejeki malam itu jauh melebihi harapan Anang. Perut kenyang, dengan sisa uang lumayan untuk tambahan isi celengan ayamnya.
Sebelum Anang pulang ke tempat tinggalnya, Anang masih menyumbang beberapa lagu lagi, tanpa memungut bayaran. Dengan ucapan terimakasih, yang sempat berulang-ulang Anang ucapkan.
Langkah Anang terasa ringan. Rasa syukur membuat kehidupannya yang sulit, bisa lebih bermakna.
Anang mencoba peruntungannya lagi disebuah tempat makan yang hampir sama seperti tempat dia tadi datangi.
Hasilnya? Sama.
Sepertinya di daerah pinggiran kota itu, jadi tempat berkumpulnya orang-orang yang sudah berumur.
Mereka menikmati suara Anang, yang menyanyikan lagu-lagu lawas nostalgia yang pernah dia dengar di radio tua, di pondok yang ada di atas sawah ayahnya, waktu dia masih kecil.
Kalau begini keadaannya, Anang bisa membeli sendal jepit baru. Warna tali sendal yang sudah seperti siang dan malam itu, akan terganti dengan pasangan baru yang serasi dan cocok untuk kaki Anang.
Lumayan jauh perjalanan yang ditempuh Anang, sudah waktunya dia kembali ke kolong jembatan. Jalanan sudah mulai sepi, dan jadi arena balap liar anak-anak muda kumpulan geng motor.
Anang sempat menonton sebentar, aksi valentino rosi, dan aksi akrobatik yang mereka pertunjukkan ditengah jalan. Sebelum sirine patroli polisi berbunyi nyaring mendatangi lokasi itu, dan membuat mereka semua kocar-kacir.
Pandangan mata Anang terpaku pada benda yang disinari lampu jalan yang kekuningan.
Hey! itu sepasang sendal jepit yang tertinggal di tengah jalan.
Anang mencoba memasangnya di kakinya. Cocok. Tapi, itu bukan miliknya, Anang meletakkan sandal tepat di bawah tiang lampu jalan.
Kalau besok malam masih ada di situ, berarti itu memang akan menjadi miliknya.
Anang kembali melanjutkan perjalanannya. Sesekali dia membunyikan sendi bahunya bergantian, dengan memutar-mutar lengannya ke satu arah.
Pegal ototnya hari ini, tidak seberapa. Besok, pekerjaan renovasi naik ke lantai empat. Anang menatap jempol kakinya yang hanya berbalut perban kecil, yang dia beli di warung seharga satu koin.
Besok, jangan sampai mencium sesuatu yang tidak berguna lagi. Akibatnya nanti bukan hanya berdebar-debar, bisa-bisa jantung Anang copot, dan berpindah ke kaki.
Masih cukup jauh Anang harus berjalan, baru Anang bisa tiba ke tempat tinggalnya. Jembatan layang hanya bisa terlihat seperti bayang-bayang, dari tempatnya sekarang.
Anang mempercepat langkah kakinya. Dia harus cepat tidur malam ini, pekerjaan besok akan membutuhkan banyak tenaga. Tidak ada yang akan tertawa, kalau melihatnya tidak mampu lagi menaiki anak tangga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
duh gusti..kenapa aku bisa tertawa diatas penderitaan s Anang sih..
maaf kn aku ya Nang
2023-01-08
1
Ganuwa Gunawan
d mana Nang kmu beli sandal jepit yg warna tali nya siang dan malam.aku mau dong
2023-01-08
0
Ganuwa Gunawan
kya nya sih enek thor denger s Anang nyanyi..sebelas dua belas sama suara aku yg kya kaleng rombeng
2023-01-08
1