Perut Anang sudah kenyang, ayamnya juga sudah diberi makan, sekarang Anang hanya ingin berbaring di kasur kapuk tuanya.
Anang mengutak-atik layar ponsel sambil berbaring. Dia penasaran dengan f*cebook yang baru dia pelajari.
Dengan jempolnya menggeser-geser layar ponsel, dari atas sampai ke bagian bawah layar yang digeser naik oleh jempol Anang, yang terlihat di situ hanya postingan dari satu orang yang sama.
Gadis muda yang mengajarkan f*cebook kepada Anang.
Gita Putri itu ternyata nama gadis muda itu, dan dia bukan abege, hanya penampilan dan wajahnya saja yang imut membuatnya terlihat awet muda, seperti anak SMA.
Dari semua postingannya Anang jadi tahu kalau wanita bernama Gita itu sudah bekerja. Gita sudah mendapat gelar sarjananya sejak beberapa bulan lalu.
Anang melihat foto wisuda dengan keterangan yang tertera di situ, kalau Gita adalah sarjana ekonomi, dan dari postingan yang lain, Gita ternyata sudah bekerja di salah satu kantor swasta.
Gita wanita yang cantik, berpendidikan, dan sudah mandiri keuangan.
Anang tidak bisa berhenti memperhatikan tampilan f*cebook tentang Gita.
Rasa kagum melihat wanita yang lebih muda darinya, tapi sudah bisa mandiri, dengan pekerjaan yang baik.
Sebagai seorang wanita, Gita adalah paket lengkap, yang hanya bisa didapatkan lelaki rendah seperti Anang di dalam mimpi saja.
Luar biasa!
Anang tidak bisa berhenti menatap kagum, wanita yang hanya fotonya saja yang muncul di layar ponsel Anang, dengan berganti-ganti pose.
Tidak sengaja, Anang menekan sebuah lambang bertanda jempol di postingan Gita, sampai beberapa kali saat menggeser-geser layar ponselnya.
Tiba-tiba, ponsel Anang berdenting, dan muncul gambar seperti balon, di tengah-tengah layar ponsel.
Anang menekan gambar balon itu.
'Abang belum tidur?'
Tertulis di situ dengan gambar dan nama Gita yang jadi pengirimnya.
Anang terheran-heran melihat layar ponselnya, ternyata bisa untuk saling mengirim pesan juga lewat f*cebook.
Anang kemudian mencoba mengetik balasan untuk Gita.
'Belum ngantuk'
Anang lalu menekan tulisan 'Kirim' di situ.
'Sama, bang, aku belum ngantuk. Besok juga aku libur, tapi bingung mau ngapain, jadinya f*cebookan saja.'
Begitu tulisan balasan dari Gita.
'Sambil belajar ya, Bang? Banyak banget 'Like'nya di postinganku,'
Kembali masuk pesan dari Gita.
'Maksudnya?' Balas Anang.
'Itu loh Bang yang ada gambar jempolnya terus ada tulisan 'suka', di bawah postingan, Apa Abang sengaja mencoba menekannya, atau hanya terpencet begitu saja?' Balas Gita lagi.
Anang memperhatikan tampilan f*cebook. Oh, memang ada gambar tangan yang mengacungi jempol. Berarti Anang tidak sadar sudah menekan lambang itu.
'Maaf, Dek. Saya tampaknya tidak sengaja menekannya saat menggeser-geser layar ponsel.' Balas Anang.
'Tidak usah minta maaf Bang. Aku malah senang kalau Abang suka postinganku.' Balas Gita lagi.
Anang bingung membaca tulisan balasan Gita.
Memangnya, seberapa berarti, kalaupun Anang sengaja menekan tanda suka di postingan Gita, sampai dia bisa merasa senang?
'Adek mau saya menekan tanda suka, di semua postingan adek?' Balas Anang.
'Nggak gitu juga, Bang. Hanya yang mana postinganku yang bagus menurut Abang saja.' Balas Gita.
'Abang mau coba pakai video call?' pesan dari Gita masuk lagi di ponsel Anang.
Video Call? Apalagi itu?
'Maksudnya bagaimana, dek?' Balas Anang.
Tiba-tiba ponselnya berdering, dan bergetar. Anang melihat tanda 'Terima' dan 'Tolak' muncul di layar ponselnya.
Anang menekan gambar 'Terima', dan tak lama, wajah Gita terlihat di layar ponselnya.
Mata Anang terbelalak. Dia bisa melihat kalau itu bukan cuma foto, tapi lebih seperti mereka sedang bertatap muka secara langsung.
Anang buru-buru duduk.
"Halo, Bang!" ujar Gita sambil tersenyum manis.
"Ha-halo, dek!" sahut Anang terbata-bata.
"Ini yang namanya Video Call, Bang! Abang bisa bicara langsung, sambil melihat wajah orang yang Abang hubungi," kata Gita menjelaskan, masih dengan wajahnya yang tampak senang.
"Oh, gitu ya?! Maklum ya, Dek. Saya belum tahu banyak cara pakainya," ujar Anang, yang ikut tersenyum malu, karena merasa dirinya terlalu bodoh untuk semua hal baru ini.
"Nggak apa-apa, Bang. Biasa saja. Nggak usah malu-malu gitu. Semua pasti awalnya juga belajar dulu, nggak mungkin langsung tahu," kata Gita santai.
"Abang sudah pulang ke rumah, ya?!" tanya Gita.
"Hmm ... Saya hanya menyewa kamar petakan di bawah kolong jembatan layang," sahut Anang.
"Maaf, Bang! Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya mau berbicara dengan Abang saja. Jadinya aku asal bicara saja. Abang marah?" kata Gita, dengan wajahnya yang terlihat cemas.
"Nggak apa-apa, Dek. Saya nggak marah kok. Biasa saja. Saya senang adek mau bicara dengan saya. Di sini saya sendirian, tidak ada teman mengobrol," kata Anang menenangkan Gita, sambil tersenyum kepada wanita itu.
Di wajah Gita, Anang bisa melihat kalau dia sudah terlihat lebih tenang, dengan memasang senyum yang manis, dan sangat manis.
"Apa aku tidak mengganggu istirahat Abang?" tanya Gita, yang terdengar berhati-hati.
"Nggak kok! Santai saja. Kalau saya sudah ngantuk, saya pasti beri tahu," sahut Anang.
"Postingan video Abang tadi, sudah saya posting ulang, sambil menandai teman-temanku. Abang nanti terkenal dengan suara Abang yang merdu," ujar Gita, yang tampak tersipu malu saat mengatakan itu.
Entah hanya Anang yang ke ge-eran, atau memang benar kalau dia merasa Gita seolah-olah tertarik dengannya, atau hanya tertarik dengan suaranya saja.
Yang jelas Anang tertarik dengan Gita, dan bukan tertarik seperti dengan Santi.
Anang menyukai Gita dengan cara yang berbeda. Hatinya terasa tenang saat berbicara dengan Gita, apalagi bisa sambil melihat wajahnya seperti itu.
Tapi Anang berusaha menepis perasaan aneh itu. Anang mungkin sudah gila kalau berani menyukai wanita sekelas Gita.
Wanita itu jauh di angkasa, sedangkan Anang hanya laki-laki biasa yang terbenam di dalam lumpur.
Mereka masih mengobrol untuk beberapa waktu lamanya, sampai Anang tahu, kalau kepribadian Gita itu ceria dan menyenangkan. Gita juga humoris dan suka bercanda.
Pantas saja wanita itu awet muda.
Entah mengapa, Anang juga bisa bercerita kepada Gita dengan bebas, tanpa merasa terbeban atau merasa malu dengan keadaan hidupnya.
"Bang! ... Aku tidur dulu, ya?! Aku mulai ngantuk. Besok Abang akan pergi ke tempat tadi?" tanya Gita, sambil menguap.
"Iya. Asal saya sehat-sehat saja, besok pasti ke situ lagi. Mencari tambahan untuk tabungan ayam," sahut Anang enteng.
Gita tertawa lepas mendengar perkataan Anang.
"Kalau begitu, nanti kita ketemu di sana, ya?!" kata Gita.
"Siap bos!" ujar Anang, sambil tersenyum.
Gita kembali ikut tersenyum, sebelum dia berkata,
"Sudah ya, Bang! Besok kita ketemu lagi, aku senang bisa berkenalan dengan Abang," kata Gita.
"Saya juga senang bisa berkenalan dengan Dek Gita," ujar Anang.
Gita lalu terlihat melambaikan tangan ke arah Anang, sebelum wajahnya menghilang dari layar ponsel Anang.
Benar-benar menyenangkan, dan menenangkan bagi Anang saat berbicara dengan Gita.
Gita jadi wanita yang spesial bagi hati Anang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
semoga aja s Anang kga inget ma s Santi..
2023-01-08
1
Penulis Jelata
Jiaaa, ketemu bakal bini nih
2022-08-16
1
Raysonic Lans™
Cerita yang indah...
semangat terus thor.. sampai End ceritanya
2022-07-03
0