Gita masih berdiri melihat Anang yang terduduk di kursi plastik.
"Abang tinggal di mana?" tanya Gita dengan wajah serius.
"Di bawah jembatan layang (menyebut salah satu perkampungan). Kenapa Dek?" tanya Anang, yang merasa heran.
Anang kemudian berdiri berhadap-hadapan dengan Gita.
"Abang mau aku antar pulang? Bisa kita sambil ngobrol. Atau Abang masih harus mengamen lagi?" tanya Gita dengan wajah serius, dan dengan tatapan seakan memaksa, kalau dia mau mengantar Anang, agar bisa mengobrol dengannya.
Anang terdiam sebentar, sambil memikirkan, kalau dia sudah mendapat cukup lumayan hasil mengamen malam itu.
Kalau pulang sekarang juga, rasanya tidak apa-apa.
"Adek mau mengantar saya? Jauh loh?" tanya Anang dengan rasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Aku pakai motor kok, Bang," ujar Gita.
"Kalau Abang sudah mau pulang, ayo ikut aku!" sambung Gita.
Anang kemudian menganggukkan kepalanya.
"Oke," sahut Anang.
Mereka kemudian pergi dari situ.
Gita yang mengendarai motornya, sedangkan Anang membonceng dibelakang Gita.
Karena Anang biasanya hanya berjalan kaki, makanya terasa lama, jauh, dan melelahkan saat pulang pergi ke tempat tinggalnya.
Tapi saat mengendarai motor seperti sekarang ini, hanya membutuhkan waktu beberapa menit, mereka sudah tiba di bawah jembatan layang.
Gita menghentikan motornya di pinggir jalan yang sudah sepi, dan diterangi lampu jalan yang temaram.
Anang langsung turun dari atas motor Gita, lalu berdiri di samping wanita itu yang masih terduduk di motornya.
"Tempat tinggal, Abang di mana?" tanya Gita.
"Itu! Di dalam sana! Hanya saja, Adek tidak bisa membawa motornya ke dalam. Terlalu sempit," kata Anang, sambil menunjukkan perkampungan kumuh yang terlihat padat dengan bangunan liar, tanpa malu-malu.
"Oh, iya. Adek mau ngobrol apa? Tadi di jalan, Adek hanya diam saja," celetuk Anang.
Gita terlihat menoleh ke sana kemari, seakan-akan sedang mencari sesuatu.
"Kenapa, Dek? Adek cari apa?" tanya Anang heran.
"Apa tidak ada tempat duduk di sekitar sini?" Gita balik bertanya.
"Ooh...! Ada. Di sebelah sana!" kata Anang, menunjuk sebuah bangku tua ,yang sudah agak miring di dekat tiang lampu jalan.
"Kita ke situ saja kalau begitu," kata Gita, membawa motornya ke tempat yang ditunjuk Anang, yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.
Anang duduk duluan, lalu Gita juga ikut duduk di samping Anang.
"Anu, Bang. Apa Abang bisa nyanyikan lagi lagu yang tadi? Aku mau merekamnya," kata Gita, terdengar ragu-ragu.
"Hmm ... Lagu yang mana, Dek?" tanya Anang bingung. Tadi, dia sempat menyanyikan beberapa lagu, dan dia tidak tahu yang mana lagu yang dimaksud Gita.
"Itu ... Yang Abang nyanyikan untuk pacarnya orang tadi," kata Gita menjelaskan maksudnya.
"Oh, itu ... Bisa!" kata Anang santai.
"Nyanyinya seperti tadi ya, Bang! Yang serius!" kata Gita, sambil membuka tas kecil yang menggantung di badannya.
Gita terlihat mengeluarkan ponsel, lalu seakan-akan sudah siap untuk merekam Anang bernyanyi.
Anang juga mempersiapkan diri, dan gitarnya yang sempat dia berdirikan di samping tiang lampu jalan.
"Sudah siap, Bang?" tanya Gita, sambil mengangkat ponselnya, dan mengarahkannya kepada Anang.
"Ehhem! ... Ehhem!" Anang batuk-batuk untuk membersihkan jalur pernafasan, dan suaranya.
"Oke!" sahut Anang.
"Jangan lupa! Nyanyinya harus persis seperti tadi," pinta Gita seolah-olah sedang memelas.
"Siap, bos!" sahut Anang.
Gita lalu merekam Anang dengan kamera ponselnya.
Anang kemudian mulai bernyanyi, dan sesuai dengan permintaan Gita, dia bernyanyi dengan sepenuh hati, sambil diiringi petikan gitar tuanya.
Anang benar-benar menghayati kata demi kata lirik lagu yang dia nyanyikan itu, sambil memejamkan matanya. Seakan tidak perduli dengan dunia, atau mata yang menatapnya sampai hampir tidak bisa berkedip.
Setelah lagu cinta itu selesai dinyanyikan Anang, dia lalu membuka matanya, dan melihat Gita yang baru saja menurunkan ponselnya keatas pangkuannya.
Anang melihat Gita yang menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi, seperti tadi saat mereka di tempat pedagang tahu tek-tek.
Anang meletakkan gitarnya kembali ke dekat tiang lampu. Kemudian Anang melihat Gita yang masih tidak merubah raut wajahnya, sambil tetap menatap Anang.
Anang menatap Gita, lalu Anang tersenyum untuk menghilangkan groginya karena dilihat Gita seperti itu.
Entah berapa lama mereka bertatap-tatapan, meski Anang tersenyum tapi Gita hanya terdiam.
Tidak tahu siapa yang menghampiri duluan, wajah mereka berdua mendekat, dan semakin dekat, sampai bibir mereka bersentuhan dan bertautan.
Anang rasanya tidak percaya, dia sekarang sedang mencium bibir Gita. Kedua tangannya gemetar memegang kedua lengan gadis itu, begitu juga dia bisa merasakan, kalau tubuh Gita juga gemetar.
Perasaan apa ini? Perasaan yang aneh....
Jauh sekali perbedaannya, jika dibandingkan saat Anang sedang bersama Santi.
Kalau dengan Santi, Anang mau secepatnya menelanjangi, dan menggagahinya. Berbeda dengan saat ini. Saat Anang bersama Gita, Anang malah merasa ingin melindungi wanita itu, semampu yang dia bisa.
Meski hanya bibir mereka saja yang bertemu, tapi jantung Anang rasanya seakan hendak meloncat keluar dari dadanya, dan Anang akan memberikannya kepada Gita, meski Gita tidak memintanya.
Anang seakan tidak mau terpisah lagi dari Gita. Dia ingin Gita jadi miliknya. Anang ingin terus bersama wanita itu. Anang merasa kalau dia menyayangi wanita yang belum lama dikenalnya itu.
Apa ini Cinta?
Kalau memang benar ini cinta, berarti Gita adalah cinta pertama Anang.
Anang mencurahkan rasa sayangnya pada Gita melalui sentuhan bibirnya di bibir Gita, dan tampaknya Gita tidak menolaknya. Gita tampaknya menerima hati Anang untuknya.
Duh Gusti...!
Tolong sadarkan Anang sekarang.
Gita bukan wanita biasa, kalau dibandingkan dengan Anang yang bukan siapa-siapa, dan tidak punya apa-apa, selain hati yang tulus menyayangi, dan mencintai wanita itu.
Tapi seakan-akan tidak ada yang mau sadar, tidak ada yang mau berhenti, bibir keduanya tetap bertautan untuk beberapa waktu lamanya.
Anang menghentikan ciumannya di bibir Gita, saat dia merasa tubuh Gita sudah gemetar hebat.
Anang menatap Gita yang baru saja membuka matanya, kemudian ikut menatap Anang.
"Apa kamu marah?" tanya Anang, kehilangan formalitasnya lagi saat bicara dengan Gita.
Gita hanya terdiam menatap Anang, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Maafkan aku. Tapi aku rasa, aku mencintaimu," ujar Anang, tanpa bisa mengendalikan lagi mulutnya untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya.
Anang bisa melihat raut wajah Gita berubah, tapi dia tidak mengerti apa yang Gita rasakan sekarang.
"Aku pulang dulu. Sudah larut," ujar Gita sambil berdiri.
Gita kemudian terlihat berjalan ke motornya yang diparkir di dekat mereka, lalu menyalakan mesin motornya, sebelum akhirnya dia pergi dari situ, meninggalkan Anang yang tidak tahu apa yang dipikirkan Gita.
Anang menyesal telah menyentuh Gita, tanpa ijin darinya. Kali ini mungkin hati Anang akan hancur berkeping-keping karena cintanya yang tampaknya tidak berbalas.
Anang masih duduk terdiam sendiri di bangku itu, meski Gita sudah lama pergi dari situ.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
dementor
first kiss.. 🤭🤭🤭
2023-02-27
1