Sore ini, Anang mandi dengan memakan waktu cukup lama. Perlengkapan mandi lengkap dipakainya, meski semua barang-barang itu berharga murah, dan tidak seperti punya aktor-aktor ibukota.
Shampoo, sabun khusus wajah, obat gigi yang harum, lengkap dengan sabun mandi harum, yang memang untuk badan, dan bukan yang serba guna.
Ibu-ibu yang saat itu bersamanya, tampak terheran-heran melihat Anang. Entah kagum, atau cuma kebingungan, karena rambut Anang yang kusut panjang sudah menghilang.
Sampai Anang selesai mandi dan mencuci pakaiannya, sesekali Anang bisa melihat ibu-ibu di situ meliriknya, sambil berbisik-bisik. Kali ini mereka benar-benar berbisik-bisik, hingga Anang tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Baru kali ini, Anang bisa mandi dan mencuci dengan tenang, tanpa harus merasa sebal dengan ocehan ibu-ibu itu. Anang bisa menyelesaikan semua kegiatannya di atas rakit sungai dengan tenang.
Anang buru-buru menyelesaikan kesibukkannya di situ. Dia sudah janjian dengan Santi, untuk belajar menggunakan ponsel lagi sore ini.
Anang merapikan semua barang-barangnya dari atas rakit, kemudian pergi dari situ, dengan diikuti pandangan mata ibu-ibu kepo.
Memakai deodoran, dan sedikit parfum, Anang jadi segar dan harum. Sambil melihat di cermin kecil, dia menyisir rambutnya yang masih agak basah. Ok, Anang sudah siap menemui Santi, sebelum pergi mengamen.
Anang dengan percaya diri, melangkah dengan pasti mendatangi kamar petakan Santi.
"Santi!"
Tok.. tok.. tok.
"Santi!" seru Anang sambil mengetuk pintu kamar tempat tinggal Santi.
Tidak lama, pintu kamar itu terbuka. Santi terlihat sudah berdandan dengan riasan tebal, dan pakaian minim yang kekurangan bahan kain.
Seksi....
"Sebentar saja ya! Aku harus cepat cari uang lagi," kata Santi, yang terlihat kurang bersemangat.
Anang lalu masuk ke kamar Santi. Ukurannya dua kali lebih besar, dibandingkan dengan kamar petakan Anang.
Kamar Santi terisi hampir penuh dengan lemari pakaian, meja rias lengkap dengan cermin besar, dan kasur yang terlihat empuk, yang sekarang sedang Santi duduki.
Anang membayangkan sesuatu yang membuatnya menelan ludah.
"Sini duduk dekat aku!" kata Santi, sambil menepuk kasur empuk, dengan tangan lentiknya.
"Eh! Oh! Iya, di situ ya?!" kata Anang gelagapan.
Anang berjalan pelan menghampiri Santi, lalu ikut duduk disampingnya, di atas kasur....
Jangan berpikiran aneh-aneh!
Tolong jangan!
Celana yang Anang pakai sekarang sudah ketat dari sananya. Jangan membuat Santi marah. Nanti tidak diajari, malah melakukan sesuatu. Contohnya mungkin mengusir Anang saat itu juga.
Anang menarik nafas panjang, dan menarik kausnya juga, agar melindungi sesuatu yang bisa merusak ritsleting celana tuanya.
"Hmm ... Kamu sekarang juga wangi, ya?!" celetuk Santi.
"Ehhem!" Anang membersihkan tenggorokannya yang kering dan agak gatal.
"Yang ini—" Anang menunjuk layar ponsel Santi.
Tapi, tiba-tiba Santi berdiri, dan tangan Anang tidak berhasil menyentuh ponsel Santi.
Tangan Anang malah menyentuh paha Santi, dan kata-kata Anang langsung terhenti saat itu juga.
Santi menoleh kepada Anang, yang buru-buru menarik telunjuknya menjauh dari paha Santi.
"Maaf ... Nggak sengaja. Aku mau menunjuk ponselmu tadi. Tapi kamu malah berdiri," kata Anang, sambil menundukkan kepalanya.
Tamatlah riwayat Anang kali ini.
Anang sudah siap untuk dibentak, dan diusir Santi, sekarang.
Ternyata Santi tidak mengamuk dengan Anang.
Wanita itu hanya terdiam menatap Anang. Dia tidak juga berjalan, atau melakukan apa-apa. Benar-benar hanya terdiam untuk beberapa detik, meski Anang merasa sudah berjam-jam Santi tidak bersuara.
Anang mengangkat wajahnya, karena merasa diperhatikan Santi.
"Kamu marah?" tanya Anang, dengan wajah memelas. Anang benar-benar takut, saat melihat wajah Santi yang datar tanpa ekspresi, tapi Anang tetap melihatnya.
Anang tidak menyangka, Santi lalu berdiri di depannya, kemudian duduk di atas pangkuan Anang berhadap-hadapan.
Tangan Anang dipegang Santi, lalu diletakkan di dadanya.
Mata Anang terbelalak.
Ada apa ini?
Santi meremas tangan Anang yang menempel di dadanya yang menjulang, seolah membuat tangan Anang yang meremas dadanya.
"Enak nggak?" tanya Santi.
Anang mengangguk.
Santi membuka tanktopnya, begitu juga br* yang menutup dadanya.
Anang hampir tidak bisa bernafas. Dadanya berdebar-debar melihat pemandangan bukit yang tepat di depan matanya, sangat dekat sampai terlihat jelas semua lereng, dan lembahnya.
"Mau mencobanya?" tanya Santi.
"Nggak usah takut-takut," kata Santi, sambil menarik kepala Anang, sampai wajah Anang menempel di bukit yang berwarna putih, dengan puncaknya berwarna coklat muda kemerahan.
Anang mencium aroma yang harum di situ. Tanggung kalau hanya menciumnya. Anang memasukkan puncak bukit kedalam mulutnya.
Hmm....
Anang merasa nyaman, meski celananya semakin terasa sempit.
Anang memejamkan matanya, tapi dia bisa merasakan kalau Santi menggeser duduknya, sampai menindih pangkal paha Anang yang sudah menonjol, dan mendongak keras.
Santi membawa tangan kedua tangan Anang, memegang kedua dada Santi, lalu membuat Anang meremas keduanya bersamaan, sambil mulut Anang menikmati kedua belah dadanya bergantian.
"Aaarrrghh!" Santi mengeluh seperti orang kesakitan.
Anang menghentikan gerakannya, lalu mengangkat wajahnya. Anang cemas kalau-kalau dia sudah menyakiti Santi, sampai Santi mengeluh begitu.
"Jangan berhenti! Terus seperti tadi!" kata Santi sambil menarik kepala Anang agar menempel lagi di dadanya.
Anang melanjutkan kegiatannya di dada Santi, yang sempat terhenti tadi.
"Aaarrrghh!" Santi mengeluh lagi, dan kali ini Santi duduknya tidak tenang. Bergerak terus di atas pangkuan Anang.
"Sudah! Besok lagi," kata Santi tiba-tiba.
Santi mendorong kepala Anang menjauh dari dadanya, sampai puncak bukitnya agak tertarik di mulut Anang. Karena sedang dinikmati mulut Anang, lalu tiba-tiba didorong menjauh.
"Sebelum kesini besok, beli k*nd*m, ya! Biar kita bisa melakukannya," kata Santi.
Santi lalu berdiri dari pangkuan Anang. Tapi tidak menjauh, dia menunduk lalu membuka kancing, dan ritsleting celana Anang yang kebingungan.
"Kayaknya enak," kata Santi, sambil melihat ke dalam celana Anang. Dia lalu memasukkan tangannya ke dalam situ, dan memegangnya.
Kulit tangan halus Santi terasa lembut, saat merayap masuk ke dalam pakaian dalam Anang, dan memegang milik Anang erat-erat, sambil menggerakkannya sedikit berkali-kali.
Anang yang merasa seakan tertekan, dan terjepit dengan tangan Santi, akhirnya terasa berkedut, dan basah.
Aaah ... Anang merasa lega.
Santi lalu mengeluarkan tangannya, dan mengelapnya dengan lembaran tissue.
"Jangan lupa! Besok bawa yang aku suruh beli, ya?!" kata Santi, terdengar enteng, tapi seolah-olah memaksa Anang.
Anang hanya menganggukkan kepalanya, lalu merapikan kancing dan ritsleting celananya.
"Kamu sudah mau pergi ya? Kalau begitu, aku juga pergi sekarang. Nggak apa-apa, kan?" tanya Anang hati-hati.
"Iya! Pergi sana! Aku masih harus bersiap-siap lagi," kata Santi, seolah mengusir Anang pergi dari kamarnya secepatnya.
Anang berjalan keluar dengan tergesa-gesa, kemudian kembali ke tempatnya sendiri. Anang menatap wajahnya di cermin kecil yang kini ditempel di dinding kamar petakannya.
Anang rasanya tidak percaya, dengan apa yang terjadi di kamar Santi tadi.
Begitu saja enak, bagaimana kalau....
Sudah!
Anang mengumpulkan kesadarannya lagi. Dia harus pergi mencari uang dengan suara, dan gitarnya lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Penulis Jelata
Besok Jan lupa beli balon, Nang
2022-08-16
1
Penulis Jelata
Melenguh, Thor
2022-08-16
0
Raysonic Lans™
aw... www....
2022-07-03
0