Part 10

Sore ini, Anang mandi dengan memakan waktu cukup lama. Perlengkapan mandi lengkap dipakainya, meski semua barang-barang itu berharga murah, dan tidak seperti punya aktor-aktor ibukota.

Shampoo, sabun khusus wajah, obat gigi yang harum, lengkap dengan sabun mandi harum, yang memang untuk badan, dan bukan yang serba guna.

Ibu-ibu yang saat itu bersamanya, tampak terheran-heran melihat Anang. Entah kagum, atau cuma kebingungan, karena rambut Anang yang kusut panjang sudah menghilang.

Sampai Anang selesai mandi dan mencuci pakaiannya, sesekali Anang bisa melihat ibu-ibu di situ meliriknya, sambil berbisik-bisik. Kali ini mereka benar-benar berbisik-bisik, hingga Anang tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

Baru kali ini, Anang bisa mandi dan mencuci dengan tenang, tanpa harus merasa sebal dengan ocehan ibu-ibu itu. Anang bisa menyelesaikan semua kegiatannya di atas rakit sungai dengan tenang.

Anang buru-buru menyelesaikan kesibukkannya di situ. Dia sudah janjian dengan Santi, untuk belajar menggunakan ponsel lagi sore ini.

Anang merapikan semua barang-barangnya dari atas rakit, kemudian pergi dari situ, dengan diikuti pandangan mata ibu-ibu kepo.

Memakai deodoran, dan sedikit parfum, Anang jadi segar dan harum. Sambil melihat di cermin kecil, dia menyisir rambutnya yang masih agak basah. Ok, Anang sudah siap menemui Santi, sebelum pergi mengamen.

Anang dengan percaya diri, melangkah dengan pasti mendatangi kamar petakan Santi.

"Santi!"

Tok.. tok.. tok.

"Santi!" seru Anang sambil mengetuk pintu kamar tempat tinggal Santi.

Tidak lama, pintu kamar itu terbuka. Santi terlihat sudah berdandan dengan riasan tebal, dan pakaian minim yang kekurangan bahan kain.

Seksi....

"Sebentar saja ya! Aku harus cepat cari uang lagi," kata Santi, yang terlihat kurang bersemangat.

Anang lalu masuk ke kamar Santi. Ukurannya dua kali lebih besar, dibandingkan dengan kamar petakan Anang.

Kamar Santi terisi hampir penuh dengan lemari pakaian, meja rias lengkap dengan cermin besar, dan kasur yang terlihat empuk, yang sekarang sedang Santi duduki.

Anang membayangkan sesuatu yang membuatnya menelan ludah.

"Sini duduk dekat aku!" kata Santi, sambil menepuk kasur empuk, dengan tangan lentiknya.

"Eh! Oh! Iya, di situ ya?!" kata Anang gelagapan.

Anang berjalan pelan menghampiri Santi, lalu ikut duduk disampingnya, di atas kasur....

Jangan berpikiran aneh-aneh!

Tolong jangan!

Celana yang Anang pakai sekarang sudah ketat dari sananya. Jangan membuat Santi marah. Nanti tidak diajari, malah melakukan sesuatu. Contohnya mungkin mengusir Anang saat itu juga.

Anang menarik nafas panjang, dan menarik kausnya juga, agar melindungi sesuatu yang bisa merusak ritsleting celana tuanya.

"Hmm ... Kamu sekarang juga wangi, ya?!" celetuk Santi.

"Ehhem!" Anang membersihkan tenggorokannya yang kering dan agak gatal.

"Yang ini—" Anang menunjuk layar ponsel Santi.

Tapi, tiba-tiba Santi berdiri, dan tangan Anang tidak berhasil menyentuh ponsel Santi.

Tangan Anang malah menyentuh paha Santi, dan kata-kata Anang langsung terhenti saat itu juga.

Santi menoleh kepada Anang, yang buru-buru menarik telunjuknya menjauh dari paha Santi.

"Maaf ... Nggak sengaja. Aku mau menunjuk ponselmu tadi. Tapi kamu malah berdiri," kata Anang, sambil menundukkan kepalanya.

Tamatlah riwayat Anang kali ini.

Anang sudah siap untuk dibentak, dan diusir Santi, sekarang.

Ternyata Santi tidak mengamuk dengan Anang.

Wanita itu hanya terdiam menatap Anang. Dia tidak juga berjalan, atau melakukan apa-apa. Benar-benar hanya terdiam untuk beberapa detik, meski Anang merasa sudah berjam-jam Santi tidak bersuara.

Anang mengangkat wajahnya, karena merasa diperhatikan Santi.

"Kamu marah?" tanya Anang, dengan wajah memelas. Anang benar-benar takut, saat melihat wajah Santi yang datar tanpa ekspresi, tapi Anang tetap melihatnya.

Anang tidak menyangka, Santi lalu berdiri di depannya, kemudian duduk di atas pangkuan Anang berhadap-hadapan.

Tangan Anang dipegang Santi, lalu diletakkan di dadanya.

Mata Anang terbelalak.

Ada apa ini?

Santi meremas tangan Anang yang menempel di dadanya yang menjulang, seolah membuat tangan Anang yang meremas dadanya.

"Enak nggak?" tanya Santi.

Anang mengangguk.

Santi membuka tanktopnya, begitu juga br* yang menutup dadanya.

Anang hampir tidak bisa bernafas. Dadanya berdebar-debar melihat pemandangan bukit yang tepat di depan matanya, sangat dekat sampai terlihat jelas semua lereng, dan lembahnya.

"Mau mencobanya?" tanya Santi.

"Nggak usah takut-takut," kata Santi, sambil menarik kepala Anang, sampai wajah Anang menempel di bukit yang berwarna putih, dengan puncaknya berwarna coklat muda kemerahan.

Anang mencium aroma yang harum di situ. Tanggung kalau hanya menciumnya. Anang memasukkan puncak bukit kedalam mulutnya.

Hmm....

Anang merasa nyaman, meski celananya semakin terasa sempit.

Anang memejamkan matanya, tapi dia bisa merasakan kalau Santi menggeser duduknya, sampai menindih pangkal paha Anang yang sudah menonjol, dan mendongak keras.

Santi membawa tangan kedua tangan Anang, memegang kedua dada Santi, lalu membuat Anang meremas keduanya bersamaan, sambil mulut Anang menikmati kedua belah dadanya bergantian.

"Aaarrrghh!" Santi mengeluh seperti orang kesakitan.

Anang menghentikan gerakannya, lalu mengangkat wajahnya. Anang cemas kalau-kalau dia sudah menyakiti Santi, sampai Santi mengeluh begitu.

"Jangan berhenti! Terus seperti tadi!" kata Santi sambil menarik kepala Anang agar menempel lagi di dadanya.

Anang melanjutkan kegiatannya di dada Santi, yang sempat terhenti tadi.

"Aaarrrghh!" Santi mengeluh lagi, dan kali ini Santi duduknya tidak tenang. Bergerak terus di atas pangkuan Anang.

"Sudah! Besok lagi," kata Santi tiba-tiba.

Santi mendorong kepala Anang menjauh dari dadanya, sampai puncak bukitnya agak tertarik di mulut Anang. Karena sedang dinikmati mulut Anang, lalu tiba-tiba didorong menjauh.

"Sebelum kesini besok, beli k*nd*m, ya! Biar kita bisa melakukannya," kata Santi.

Santi lalu berdiri dari pangkuan Anang. Tapi tidak menjauh, dia menunduk lalu membuka kancing, dan ritsleting celana Anang yang kebingungan.

"Kayaknya enak," kata Santi, sambil melihat ke dalam celana Anang. Dia lalu memasukkan tangannya ke dalam situ, dan memegangnya.

Kulit tangan halus Santi terasa lembut, saat merayap masuk ke dalam pakaian dalam Anang, dan memegang milik Anang erat-erat, sambil menggerakkannya sedikit berkali-kali.

Anang yang merasa seakan tertekan, dan terjepit dengan tangan Santi, akhirnya terasa berkedut, dan basah.

Aaah ... Anang merasa lega.

Santi lalu mengeluarkan tangannya, dan mengelapnya dengan lembaran tissue.

"Jangan lupa! Besok bawa yang aku suruh beli, ya?!" kata Santi, terdengar enteng, tapi seolah-olah memaksa Anang.

Anang hanya menganggukkan kepalanya, lalu merapikan kancing dan ritsleting celananya.

"Kamu sudah mau pergi ya? Kalau begitu, aku juga pergi sekarang. Nggak apa-apa, kan?" tanya Anang hati-hati.

"Iya! Pergi sana! Aku masih harus bersiap-siap lagi," kata Santi, seolah mengusir Anang pergi dari kamarnya secepatnya.

Anang berjalan keluar dengan tergesa-gesa, kemudian kembali ke tempatnya sendiri. Anang menatap wajahnya di cermin kecil yang kini ditempel di dinding kamar petakannya.

Anang rasanya tidak percaya, dengan apa yang terjadi di kamar Santi tadi.

Begitu saja enak, bagaimana kalau....

Sudah!

Anang mengumpulkan kesadarannya lagi. Dia harus pergi mencari uang dengan suara, dan gitarnya lagi.

Terpopuler

Comments

Penulis Jelata

Penulis Jelata

Besok Jan lupa beli balon, Nang

2022-08-16

1

Penulis Jelata

Penulis Jelata

Melenguh, Thor

2022-08-16

0

Raysonic Lans™

Raysonic Lans™

aw... www....

2022-07-03

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1
2 Part 2
3 Part 3
4 Part 4
5 Part 5
6 Part 6
7 Part 7
8 Part 8
9 Part 9
10 Part 10
11 Part 11
12 Part 12
13 Part 13
14 Part 14
15 Part 15
16 Part 16
17 Part 17
18 Part 18
19 Part 19
20 Part 20
21 Part 21
22 Part 22
23 Part 23
24 Part 24
25 Part 25
26 Part 26
27 Part 27
28 Part 28
29 Part 29
30 Part 30
31 Part 31
32 Part 32
33 Part 33
34 Part 34
35 Part 35
36 Part 36
37 Part 37
38 Part 38
39 Part 39
40 Part 40
41 Part 41
42 Part 42
43 Part 43
44 Part 44
45 Part 45
46 Part 46
47 Part 47
48 Part 48
49 Part 49
50 Part 50
51 Part 51
52 Part 52
53 Part 53
54 Part 54
55 Part 55
56 Part 56
57 Part 57
58 Part 58
59 Part 59
60 Part 60
61 Part 61
62 Part 62
63 Part 63
64 Part 64
65 Part 65
66 Part 66
67 Part 67
68 Part 68
69 Part 69
70 Part 70
71 Part 71
72 Part 72
73 Part 73
74 Part 74
75 Part 75
76 Part 76
77 Part 77
78 Part 78
79 Part 79
80 Part 80
81 Part 81
82 Part 82
83 Part 83
84 Part 84
85 Part 85
86 Part 86
87 Part 87
88 Part 88
89 Part 89
90 Part 90
91 Part 91
92 Part 92
93 Part 93
94 Part 94
95 Part 95
96 Part 96
97 Part 97
98 Part 98
99 Part 99
100 Part 100
101 Part 101
102 Part 102
103 Part 103
104 Part 104
105 Part 105
106 Part 106
107 Part 107
108 Part 108
109 Part 109
110 Part 110
111 Part 111
112 Part 112
113 Part 113
114 Part 114
115 Part 115
116 Part 116
117 Part 117
118 Part 118
119 Part 119
120 Part 120
121 Part 121
122 Part 122
123 Part 123
124 Part 124
125 Part 125
126 Part 126
127 Part 127
128 Part 128
129 Part 129
130 Part 130
131 Part 131
132 Part 132
133 Part 133
134 Part 134
135 Part 135
136 Part 136
137 Part 137
138 Part 138
139 Part 139
140 Part 140
141 Part 141
142 Part 142
143 Part 143
144 Part 144
145 Part 145
146 Part 146
147 Part 147
148 Part 148
149 Part 149
150 Part 150
151 Part 151
152 Part 152
153 Part 153
154 Part 154
155 Part 155
156 Part 156
157 Part 157
158 Part 158
159 Part 159
160 Part 160
161 Part 161
162 Part 162
163 Part 163
164 Part 164
165 Part 165
166 Part 166
167 Part 167
168 Part 168
169 Part 169
170 Part 170
171 Part 171
172 Part 172
173 Part 173
174 Part 174
175 Part 175
176 Part 176
177 Part 177
178 Part 178
179 Part 179
180 Part 180
181 Part 181
182 Part 182
183 Part 183
184 Part 184
185 Part 185
186 Part 186
187 Part 187
188 Part 188
189 Part 189
190 Part 190
191 Part 191
192 Part 192
193 Part 193
194 Part 194
195 Part 195
196 Novel baru
Episodes

Updated 196 Episodes

1
Part 1
2
Part 2
3
Part 3
4
Part 4
5
Part 5
6
Part 6
7
Part 7
8
Part 8
9
Part 9
10
Part 10
11
Part 11
12
Part 12
13
Part 13
14
Part 14
15
Part 15
16
Part 16
17
Part 17
18
Part 18
19
Part 19
20
Part 20
21
Part 21
22
Part 22
23
Part 23
24
Part 24
25
Part 25
26
Part 26
27
Part 27
28
Part 28
29
Part 29
30
Part 30
31
Part 31
32
Part 32
33
Part 33
34
Part 34
35
Part 35
36
Part 36
37
Part 37
38
Part 38
39
Part 39
40
Part 40
41
Part 41
42
Part 42
43
Part 43
44
Part 44
45
Part 45
46
Part 46
47
Part 47
48
Part 48
49
Part 49
50
Part 50
51
Part 51
52
Part 52
53
Part 53
54
Part 54
55
Part 55
56
Part 56
57
Part 57
58
Part 58
59
Part 59
60
Part 60
61
Part 61
62
Part 62
63
Part 63
64
Part 64
65
Part 65
66
Part 66
67
Part 67
68
Part 68
69
Part 69
70
Part 70
71
Part 71
72
Part 72
73
Part 73
74
Part 74
75
Part 75
76
Part 76
77
Part 77
78
Part 78
79
Part 79
80
Part 80
81
Part 81
82
Part 82
83
Part 83
84
Part 84
85
Part 85
86
Part 86
87
Part 87
88
Part 88
89
Part 89
90
Part 90
91
Part 91
92
Part 92
93
Part 93
94
Part 94
95
Part 95
96
Part 96
97
Part 97
98
Part 98
99
Part 99
100
Part 100
101
Part 101
102
Part 102
103
Part 103
104
Part 104
105
Part 105
106
Part 106
107
Part 107
108
Part 108
109
Part 109
110
Part 110
111
Part 111
112
Part 112
113
Part 113
114
Part 114
115
Part 115
116
Part 116
117
Part 117
118
Part 118
119
Part 119
120
Part 120
121
Part 121
122
Part 122
123
Part 123
124
Part 124
125
Part 125
126
Part 126
127
Part 127
128
Part 128
129
Part 129
130
Part 130
131
Part 131
132
Part 132
133
Part 133
134
Part 134
135
Part 135
136
Part 136
137
Part 137
138
Part 138
139
Part 139
140
Part 140
141
Part 141
142
Part 142
143
Part 143
144
Part 144
145
Part 145
146
Part 146
147
Part 147
148
Part 148
149
Part 149
150
Part 150
151
Part 151
152
Part 152
153
Part 153
154
Part 154
155
Part 155
156
Part 156
157
Part 157
158
Part 158
159
Part 159
160
Part 160
161
Part 161
162
Part 162
163
Part 163
164
Part 164
165
Part 165
166
Part 166
167
Part 167
168
Part 168
169
Part 169
170
Part 170
171
Part 171
172
Part 172
173
Part 173
174
Part 174
175
Part 175
176
Part 176
177
Part 177
178
Part 178
179
Part 179
180
Part 180
181
Part 181
182
Part 182
183
Part 183
184
Part 184
185
Part 185
186
Part 186
187
Part 187
188
Part 188
189
Part 189
190
Part 190
191
Part 191
192
Part 192
193
Part 193
194
Part 194
195
Part 195
196
Novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!