Santi seorang perempuan yang cantik. Dengan Body bahenol, macam gitar spanyol. Tinggi semampai dengan kulit putih pucat, karena jam kerjanya di malam hari, dan hampir tidak pernah terkena sinar matahari.
Kalau hanya melihat fisiknya saja, lelaki normal seperti Anang jelas menelan liur.
Tapi, biaya penampilan Santi untuk sehari, tidak mampu di ongkos gaji Anang, meski sebulan penuh dia bekerja.
Anang memandangi Santi dari ujung rambut sampai kakinya, sambil mengerutkan alisnya. Santi tidak memakai riasan, hanya memakai kaus longgar dengan celana pendek biasa, dipadankan dengan sendal jepit.
"Nggak mangkal?" tanya Anang tanpa berpikir panjang, sebelum dia menyesali pertanyaannya saat melihat wajah Santi berubah jadi sangar.
"Maaf! Aku nggak bermaksud untuk bilang begitu. Aku hanya heran karena kamu nggak berdandan." Anang benar-benar menyesali pertanyaannya tadi, sampai Anang menjulurkan tangan kasarnya kepada Santi.
Santi hanya memandangi Anang sebentar, lalu menyentuh tangan Anang begitu saja. Entah karena marah, rasa enggan atau jijik, Anang tidak tahu.
"Ada perlu apa?" tanya Santi dengan suara datar.
"Itu!" kata Anang, menunjuk ponsel yang dipegang Santi.
"Maksudnya apa?" tanya Santi yang tampak bingung.
"Apa kamu mau mengajariku memakai itu? Terus itu bisa untuk apa aja?" tanya Anang. Kali ini dia memasang tampang memelas di wajahnya yang memang menyedihkan.
Santi hanya melihat Anang. Lama. Tanpa langsung menjawab pertanyaan Anang.
Anang tidak tahu apa yang dipikirkan wanita itu. Apalagi wajah cantiknya tampak datar tanpa ekspresi. Iya ... Cantik, meski tanpa riasan, Santi tetap cantik, meski tidak secantik Miss Jordan.
Aaahh ...! Apa hak Anang membanding-bandingkan wanita yang hanya akan tertarik dengannya, di dalam mimpinya saja.
"Kamu mau diajari bagaimana?" Pertanyaan Santi membuyarkan lamunan Anang.
"Bagaimana caranya kamu memakai itu? Apa pakai bayaran bulanan seperti sewa'an?" Anang benar-benar tidak mengerti. Dia sendiri bingung mau bertanya apa.
Anang melihat wajah Santi tampak lebih santai, sebelum wanita itu berkata,
"Kita cari tempat duduk dulu. Pegal kakiku kalau berdiri terus begini."
Perkataan Santi bagai hembusan angin segar dari pegunungan, yang menyapu wajah kusut Anang, sampai merasuk ke dalam telinganya.
Anang memasang wajah senang, atau mungkin seram, yang jelas, saat Anang menunjuk bangku tua yang sudah miring di dekat jalan, Santi tampak ketakutan.
Tapi Santi mau saja duduk di situ, bersebelahan dengan Anang.
Anang melihat layar ponsel yang bergambar seorang pria tampan nan rupawan, dengan banyak kotak-kotak di atasnya yang bisa digeser jari-jari Santi yang lentik, dengan cat kuku berwarna merah menyala.
Anang konsentrasi!
Tidak ada yang bisa dipelajari, kalau sibuk memikirkan apa yang bisa dibuat tangan Santi, di atas ranjang.
Aaahh ...! Terpikir lagi.
Apalagi paha Santi yang mulus terlihat jelas, saat celana pendek wanita itu yang terlalu pendek, tertarik naik sampai memperlihatkan kulitnya hampir sampai ke pangkal paha Santi.
Rasanya, Anang mau menghangatkan paha Santi dengan kedua tangannya.
Pasti dingin kan, kalau malam-malam begini?
Anang menelan ludah, sampai jakunnya naik turun di lehernya.
Santi tampak sabar mengajari Anang yang bertanya. Meski terkadang Anang mengulang pertanyaan yang sama.
Bagaimana nggak mengulang, kalau mata melihat ponsel tapi pikiran selalu tertuju ke kasur kapuk tua, yang bisa jadi harum dengan aroma parfum Santi yang sedari tadi berputar-putar di dalam hidung Anang.
Bakalan hilang keperjakaan Anang kalau begini terus.
Anang melirik Santi sesekali. Dia harus memastikan mata Santi hanya melihat layar ponsel, dan tidak ke mana-mana.
Sambil Anang mencubit pahanya sendiri, sesuatu yang menonjol akan membuat Santi menamparnya tanpa ragu. Dia harus bisa mengontrol pikirannya ... Atau mungkin sesuatu di dalam celananya? Pokoknya semua harus terkontrol.
Dan yang pasti, Anang harus bisa mengerti kegunaan ponsel, sebelum Santi menyadari sesuatu yang mendongak, dan mendesak naik di sela paha Anang, yang diterangi cahaya remang-remang lampu jalan.
Santi menunjukkan sebuah gambar lelaki, yang ketampanannya tidak akan mudah ditemui Anang, di jalanan.
"Coba kamu potong rambutmu seperti ini. Bagus loh! Lagi tren sekarang. Mungkin kamu akan dapat lebih banyak uang saat mengamen," kata Santi yang terdengar bersemangat.
Anang terpikir, kalau mungkin benar yang dibilang Santi.
"Mahal nggak potong rambut model begitu?" tanya Anang, yang sudah tergoda dengan omongan Santi.
"Ayo ikut denganku! Nggak jauh dari sini ada tempat potong rambut kenalanku. Nggak akan dia minta bayaran mahal-mahal. Mumpung aku nggak kemana-mana, aku bisa mengantarmu kesana. Mau?" kata Santi, sambil menatap wajah Anang lama-lama.
Anang merasa jantungnya berpindah ke bawah perutnya, karena terasa berkedut saat Santi menatapnya seperti itu.
Dengan cepat Anang berdiri, lalu membelakangi Santi. Dia bersiap melangkahkan kakinya, sekalian untuk menutupi kegagalannya dalam mengontrol pikirannya.
"Tunggu di sini sebentar! Aku ambil uang dulu!" Anang buru-buru berjalan kembali ke kamar petakannya.
Anang mencungkil dua lembar uang dari perut ayam kesayangannya, yang dipikirnya mungkin cukup, untuk harga memotong rambutnya. Kalau ada sisanya, mungkin bisa mentraktir Santi makan sate di pinggir jalan.
Mumpung Santi sedang tidak bekerja, dan mau berjalan-jalan dengannya.
Tergesa-gesa, Anang berjalan lagi ke tempat Santi duduk.
Wanita cantik itu masih di situ, sambil menatap layar ponselnya.
Anang mempercepat langkahnya, jangan sampai nanti Santi berubah pikiran kalau terlalu lama menunggunya.
"Bisa kita pergi sekarang?" tanya Anang, sambil sok-sokan menjulurkan tangannya seolah sedang mengajak Santi untuk berdansa dengannya.
Santi tampak tertawa geli, tapi dia menyambut tangan Anang. Kemudian berjalan bersama Anang bersebelah-sebelahan.
Tidak jauh? Jangan bercanda.
Mereka sudah berjalan sampai hampir dua kilometer dari kost-kostan mereka, tapi belum sampai juga di tujuan.
Untung Santi setia menemani Anang. Kalau tidak, Anang sudah berbalik arah, dan membatalkan perubahan rambutnya malam ini.
Rasa lelah Anang saat harus kembali berjalan jauh lagi, terhapus oleh senyuman Santi yang tampak senang, dengan sesuatu yang dilihat Santi, di layar ponselnya.
Akhirnya mereka berdua tiba di tempat yang dimaksud Santi.
"Sayang, Kenapa kamu membuatku kerja keras di malam begindong. Nanti aku nggak bisa melayani brondongku," kata teman Santi, sambil memegang rambut Anang yang digulung Anang dengan asal-asalan.
Teman Santi yang tampaknya pemilik tempat itu, seorang lelaki bertulang lunak, dengan tangan lentik seperti tangan perempuan. Begitu juga di wajahnya yang memakai riasan tebal.
Hanya dengan ujung jari tangannya, tampak enggan memegang rambut Anang.
"Ayolah say! Kasian kami sudah jauh-jauh kesini," kata Santi, sambil bergelayut manja di bahu lelaki setengah perempuan itu.
"Oke! Demi kamu sayang," kata teman Santi itu, sambil mempersiapkan kain, yang kemudian dia pasangkan ke leher Anang.
"Kita cuci dulu ya, jantan!" kata teman Santi dengan suara tinggi.
Anang hanya menganggukkan kepalanya.
Meski merasa terhina, tapi Anang rela. Kali ini bukan untuk ayam plastiknya, tapi demi Santi yang sejak selesai membujuk temannya, sibuk menatap layar ponselnya lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 196 Episodes
Comments
Penulis Jelata
Mendongak itu normal, Nang
Asal jan ampe salah parkir aja
2022-08-16
1
anggita
oke thor trus💪 berkarya, smoga sukses novelnya 👍
2022-08-15
0
Nur Suci Aeni
kaya ayam jantan 🤣🤣🤣🤣 dasar banci 🤣🤣🤣🤣🤦
2022-07-03
0