Part 7

Santi seorang perempuan yang cantik. Dengan Body bahenol, macam gitar spanyol. Tinggi semampai dengan kulit putih pucat, karena jam kerjanya di malam hari, dan hampir tidak pernah terkena sinar matahari.

Kalau hanya melihat fisiknya saja, lelaki normal seperti Anang jelas menelan liur.

Tapi, biaya penampilan Santi untuk sehari, tidak mampu di ongkos gaji Anang, meski sebulan penuh dia bekerja.

Anang memandangi Santi dari ujung rambut sampai kakinya, sambil mengerutkan alisnya. Santi tidak memakai riasan, hanya memakai kaus longgar dengan celana pendek biasa, dipadankan dengan sendal jepit.

"Nggak mangkal?" tanya Anang tanpa berpikir panjang, sebelum dia menyesali pertanyaannya saat melihat wajah Santi berubah jadi sangar.

"Maaf! Aku nggak bermaksud untuk bilang begitu. Aku hanya heran karena kamu nggak berdandan." Anang benar-benar menyesali pertanyaannya tadi, sampai Anang menjulurkan tangan kasarnya kepada Santi.

Santi hanya memandangi Anang sebentar, lalu menyentuh tangan Anang begitu saja. Entah karena marah, rasa enggan atau jijik, Anang tidak tahu.

"Ada perlu apa?" tanya Santi dengan suara datar.

"Itu!" kata Anang, menunjuk ponsel yang dipegang Santi.

"Maksudnya apa?" tanya Santi yang tampak bingung.

"Apa kamu mau mengajariku memakai itu? Terus itu bisa untuk apa aja?" tanya Anang. Kali ini dia memasang tampang memelas di wajahnya yang memang menyedihkan.

Santi hanya melihat Anang. Lama. Tanpa langsung menjawab pertanyaan Anang.

Anang tidak tahu apa yang dipikirkan wanita itu. Apalagi wajah cantiknya tampak datar tanpa ekspresi. Iya ... Cantik, meski tanpa riasan, Santi tetap cantik, meski tidak secantik Miss Jordan.

Aaahh ...! Apa hak Anang membanding-bandingkan wanita yang hanya akan tertarik dengannya, di dalam mimpinya saja.

"Kamu mau diajari bagaimana?" Pertanyaan Santi membuyarkan lamunan Anang.

"Bagaimana caranya kamu memakai itu? Apa pakai bayaran bulanan seperti sewa'an?" Anang benar-benar tidak mengerti. Dia sendiri bingung mau bertanya apa.

Anang melihat wajah Santi tampak lebih santai, sebelum wanita itu berkata,

"Kita cari tempat duduk dulu. Pegal kakiku kalau berdiri terus begini."

Perkataan Santi bagai hembusan angin segar dari pegunungan, yang menyapu wajah kusut Anang, sampai merasuk ke dalam telinganya.

Anang memasang wajah senang, atau mungkin seram, yang jelas, saat Anang menunjuk bangku tua yang sudah miring di dekat jalan, Santi tampak ketakutan.

Tapi Santi mau saja duduk di situ, bersebelahan dengan Anang.

Anang melihat layar ponsel yang bergambar seorang pria tampan nan rupawan, dengan banyak kotak-kotak di atasnya yang bisa digeser jari-jari Santi yang lentik, dengan cat kuku berwarna merah menyala.

Anang konsentrasi!

Tidak ada yang bisa dipelajari, kalau sibuk memikirkan apa yang bisa dibuat tangan Santi, di atas ranjang.

Aaahh ...! Terpikir lagi.

Apalagi paha Santi yang mulus terlihat jelas, saat celana pendek wanita itu yang terlalu pendek, tertarik naik sampai memperlihatkan kulitnya hampir sampai ke pangkal paha Santi.

Rasanya, Anang mau menghangatkan paha Santi dengan kedua tangannya.

Pasti dingin kan, kalau malam-malam begini?

Anang menelan ludah, sampai jakunnya naik turun di lehernya.

Santi tampak sabar mengajari Anang yang bertanya. Meski terkadang Anang mengulang pertanyaan yang sama.

Bagaimana nggak mengulang, kalau mata melihat ponsel tapi pikiran selalu tertuju ke kasur kapuk tua, yang bisa jadi harum dengan aroma parfum Santi yang sedari tadi berputar-putar di dalam hidung Anang.

Bakalan hilang keperjakaan Anang kalau begini terus.

Anang melirik Santi sesekali. Dia harus memastikan mata Santi hanya melihat layar ponsel, dan tidak ke mana-mana.

Sambil Anang mencubit pahanya sendiri, sesuatu yang menonjol akan membuat Santi menamparnya tanpa ragu. Dia harus bisa mengontrol pikirannya ... Atau mungkin sesuatu di dalam celananya? Pokoknya semua harus terkontrol.

Dan yang pasti, Anang harus bisa mengerti kegunaan ponsel, sebelum Santi menyadari sesuatu yang mendongak, dan mendesak naik di sela paha Anang, yang diterangi cahaya remang-remang lampu jalan.

Santi menunjukkan sebuah gambar lelaki, yang ketampanannya tidak akan mudah ditemui Anang, di jalanan.

"Coba kamu potong rambutmu seperti ini. Bagus loh! Lagi tren sekarang. Mungkin kamu akan dapat lebih banyak uang saat mengamen," kata Santi yang terdengar bersemangat.

Anang terpikir, kalau mungkin benar yang dibilang Santi.

"Mahal nggak potong rambut model begitu?" tanya Anang, yang sudah tergoda dengan omongan Santi.

"Ayo ikut denganku! Nggak jauh dari sini ada tempat potong rambut kenalanku. Nggak akan dia minta bayaran mahal-mahal. Mumpung aku nggak kemana-mana, aku bisa mengantarmu kesana. Mau?" kata Santi, sambil menatap wajah Anang lama-lama.

Anang merasa jantungnya berpindah ke bawah perutnya, karena terasa berkedut saat Santi menatapnya seperti itu.

Dengan cepat Anang berdiri, lalu membelakangi Santi. Dia bersiap melangkahkan kakinya, sekalian untuk menutupi kegagalannya dalam mengontrol pikirannya.

"Tunggu di sini sebentar! Aku ambil uang dulu!" Anang buru-buru berjalan kembali ke kamar petakannya.

Anang mencungkil dua lembar uang dari perut ayam kesayangannya, yang dipikirnya mungkin cukup, untuk harga memotong rambutnya. Kalau ada sisanya, mungkin bisa mentraktir Santi makan sate di pinggir jalan.

Mumpung Santi sedang tidak bekerja, dan mau berjalan-jalan dengannya.

Tergesa-gesa, Anang berjalan lagi ke tempat Santi duduk.

Wanita cantik itu masih di situ, sambil menatap layar ponselnya.

Anang mempercepat langkahnya, jangan sampai nanti Santi berubah pikiran kalau terlalu lama menunggunya.

"Bisa kita pergi sekarang?" tanya Anang, sambil sok-sokan menjulurkan tangannya seolah sedang mengajak Santi untuk berdansa dengannya.

Santi tampak tertawa geli, tapi dia menyambut tangan Anang. Kemudian berjalan bersama Anang bersebelah-sebelahan.

Tidak jauh? Jangan bercanda.

Mereka sudah berjalan sampai hampir dua kilometer dari kost-kostan mereka, tapi belum sampai juga di tujuan.

Untung Santi setia menemani Anang. Kalau tidak, Anang sudah berbalik arah, dan membatalkan perubahan rambutnya malam ini.

Rasa lelah Anang saat harus kembali berjalan jauh lagi, terhapus oleh senyuman Santi yang tampak senang, dengan sesuatu yang dilihat Santi, di layar ponselnya.

Akhirnya mereka berdua tiba di tempat yang dimaksud Santi.

"Sayang, Kenapa kamu membuatku kerja keras di malam begindong. Nanti aku nggak bisa melayani brondongku," kata teman Santi, sambil memegang rambut Anang yang digulung Anang dengan asal-asalan.

Teman Santi yang tampaknya pemilik tempat itu, seorang lelaki bertulang lunak, dengan tangan lentik seperti tangan perempuan. Begitu juga di wajahnya yang memakai riasan tebal.

Hanya dengan ujung jari tangannya, tampak enggan memegang rambut Anang.

"Ayolah say! Kasian kami sudah jauh-jauh kesini," kata Santi, sambil bergelayut manja di bahu lelaki setengah perempuan itu.

"Oke! Demi kamu sayang," kata teman Santi itu, sambil mempersiapkan kain, yang kemudian dia pasangkan ke leher Anang.

"Kita cuci dulu ya, jantan!" kata teman Santi dengan suara tinggi.

Anang hanya menganggukkan kepalanya.

Meski merasa terhina, tapi Anang rela. Kali ini bukan untuk ayam plastiknya, tapi demi Santi yang sejak selesai membujuk temannya, sibuk menatap layar ponselnya lagi.

Terpopuler

Comments

Penulis Jelata

Penulis Jelata

Mendongak itu normal, Nang
Asal jan ampe salah parkir aja

2022-08-16

1

anggita

anggita

oke thor trus💪 berkarya, smoga sukses novelnya 👍

2022-08-15

0

Nur Suci Aeni

Nur Suci Aeni

kaya ayam jantan 🤣🤣🤣🤣 dasar banci 🤣🤣🤣🤣🤦

2022-07-03

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1
2 Part 2
3 Part 3
4 Part 4
5 Part 5
6 Part 6
7 Part 7
8 Part 8
9 Part 9
10 Part 10
11 Part 11
12 Part 12
13 Part 13
14 Part 14
15 Part 15
16 Part 16
17 Part 17
18 Part 18
19 Part 19
20 Part 20
21 Part 21
22 Part 22
23 Part 23
24 Part 24
25 Part 25
26 Part 26
27 Part 27
28 Part 28
29 Part 29
30 Part 30
31 Part 31
32 Part 32
33 Part 33
34 Part 34
35 Part 35
36 Part 36
37 Part 37
38 Part 38
39 Part 39
40 Part 40
41 Part 41
42 Part 42
43 Part 43
44 Part 44
45 Part 45
46 Part 46
47 Part 47
48 Part 48
49 Part 49
50 Part 50
51 Part 51
52 Part 52
53 Part 53
54 Part 54
55 Part 55
56 Part 56
57 Part 57
58 Part 58
59 Part 59
60 Part 60
61 Part 61
62 Part 62
63 Part 63
64 Part 64
65 Part 65
66 Part 66
67 Part 67
68 Part 68
69 Part 69
70 Part 70
71 Part 71
72 Part 72
73 Part 73
74 Part 74
75 Part 75
76 Part 76
77 Part 77
78 Part 78
79 Part 79
80 Part 80
81 Part 81
82 Part 82
83 Part 83
84 Part 84
85 Part 85
86 Part 86
87 Part 87
88 Part 88
89 Part 89
90 Part 90
91 Part 91
92 Part 92
93 Part 93
94 Part 94
95 Part 95
96 Part 96
97 Part 97
98 Part 98
99 Part 99
100 Part 100
101 Part 101
102 Part 102
103 Part 103
104 Part 104
105 Part 105
106 Part 106
107 Part 107
108 Part 108
109 Part 109
110 Part 110
111 Part 111
112 Part 112
113 Part 113
114 Part 114
115 Part 115
116 Part 116
117 Part 117
118 Part 118
119 Part 119
120 Part 120
121 Part 121
122 Part 122
123 Part 123
124 Part 124
125 Part 125
126 Part 126
127 Part 127
128 Part 128
129 Part 129
130 Part 130
131 Part 131
132 Part 132
133 Part 133
134 Part 134
135 Part 135
136 Part 136
137 Part 137
138 Part 138
139 Part 139
140 Part 140
141 Part 141
142 Part 142
143 Part 143
144 Part 144
145 Part 145
146 Part 146
147 Part 147
148 Part 148
149 Part 149
150 Part 150
151 Part 151
152 Part 152
153 Part 153
154 Part 154
155 Part 155
156 Part 156
157 Part 157
158 Part 158
159 Part 159
160 Part 160
161 Part 161
162 Part 162
163 Part 163
164 Part 164
165 Part 165
166 Part 166
167 Part 167
168 Part 168
169 Part 169
170 Part 170
171 Part 171
172 Part 172
173 Part 173
174 Part 174
175 Part 175
176 Part 176
177 Part 177
178 Part 178
179 Part 179
180 Part 180
181 Part 181
182 Part 182
183 Part 183
184 Part 184
185 Part 185
186 Part 186
187 Part 187
188 Part 188
189 Part 189
190 Part 190
191 Part 191
192 Part 192
193 Part 193
194 Part 194
195 Part 195
196 Novel baru
Episodes

Updated 196 Episodes

1
Part 1
2
Part 2
3
Part 3
4
Part 4
5
Part 5
6
Part 6
7
Part 7
8
Part 8
9
Part 9
10
Part 10
11
Part 11
12
Part 12
13
Part 13
14
Part 14
15
Part 15
16
Part 16
17
Part 17
18
Part 18
19
Part 19
20
Part 20
21
Part 21
22
Part 22
23
Part 23
24
Part 24
25
Part 25
26
Part 26
27
Part 27
28
Part 28
29
Part 29
30
Part 30
31
Part 31
32
Part 32
33
Part 33
34
Part 34
35
Part 35
36
Part 36
37
Part 37
38
Part 38
39
Part 39
40
Part 40
41
Part 41
42
Part 42
43
Part 43
44
Part 44
45
Part 45
46
Part 46
47
Part 47
48
Part 48
49
Part 49
50
Part 50
51
Part 51
52
Part 52
53
Part 53
54
Part 54
55
Part 55
56
Part 56
57
Part 57
58
Part 58
59
Part 59
60
Part 60
61
Part 61
62
Part 62
63
Part 63
64
Part 64
65
Part 65
66
Part 66
67
Part 67
68
Part 68
69
Part 69
70
Part 70
71
Part 71
72
Part 72
73
Part 73
74
Part 74
75
Part 75
76
Part 76
77
Part 77
78
Part 78
79
Part 79
80
Part 80
81
Part 81
82
Part 82
83
Part 83
84
Part 84
85
Part 85
86
Part 86
87
Part 87
88
Part 88
89
Part 89
90
Part 90
91
Part 91
92
Part 92
93
Part 93
94
Part 94
95
Part 95
96
Part 96
97
Part 97
98
Part 98
99
Part 99
100
Part 100
101
Part 101
102
Part 102
103
Part 103
104
Part 104
105
Part 105
106
Part 106
107
Part 107
108
Part 108
109
Part 109
110
Part 110
111
Part 111
112
Part 112
113
Part 113
114
Part 114
115
Part 115
116
Part 116
117
Part 117
118
Part 118
119
Part 119
120
Part 120
121
Part 121
122
Part 122
123
Part 123
124
Part 124
125
Part 125
126
Part 126
127
Part 127
128
Part 128
129
Part 129
130
Part 130
131
Part 131
132
Part 132
133
Part 133
134
Part 134
135
Part 135
136
Part 136
137
Part 137
138
Part 138
139
Part 139
140
Part 140
141
Part 141
142
Part 142
143
Part 143
144
Part 144
145
Part 145
146
Part 146
147
Part 147
148
Part 148
149
Part 149
150
Part 150
151
Part 151
152
Part 152
153
Part 153
154
Part 154
155
Part 155
156
Part 156
157
Part 157
158
Part 158
159
Part 159
160
Part 160
161
Part 161
162
Part 162
163
Part 163
164
Part 164
165
Part 165
166
Part 166
167
Part 167
168
Part 168
169
Part 169
170
Part 170
171
Part 171
172
Part 172
173
Part 173
174
Part 174
175
Part 175
176
Part 176
177
Part 177
178
Part 178
179
Part 179
180
Part 180
181
Part 181
182
Part 182
183
Part 183
184
Part 184
185
Part 185
186
Part 186
187
Part 187
188
Part 188
189
Part 189
190
Part 190
191
Part 191
192
Part 192
193
Part 193
194
Part 194
195
Part 195
196
Novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!