Karena Sya

"Kamu jangan besar kepala dulu Nada, aku kesini memang karena Narti menelpon aku memberitahu bahwa kamu lari dari rumah karena diusir Elang. Cucuku Sya menangis terus dan mencari kamu, walaupun aku tidak dekat dengan cucuku, tapi aku tidak tega kalau sampai dia sedih dan menangis. Kebetulan aku ini sedang berada diluar saat Narti memberitahu. Jadi kesempatan ini sekalian aku pakai untuk mencari kamu."

"Jadi, Ibu sengaja mencari Nada hanya karena kasihan sama Sya, bukan karena Ibu benar-benar mengharapkan Nada kembali sebagai menantu?"

"Sudah aku bilang aku kesini karena kebetulan sedang diluar, saat Narti nelpon. Jadi mata aku sekalian aku gunakan untuk melihat-lihat kamu, dan tadi saat di jalan mataku tertuju padamu. Jadi aku turun dan menyusulmu. Jadi nggak usah besar kepala kalau kamu pikir aku benar-benar mengharapkan kamu kembali. Tidak, itu tidak mungkin. Hanya karena Syalah aku rela menjatuhkan harga diri aku di depan kamu," ucap Ibu panjang lebar.

"Lagipula, apakah kamu tidak sadar bahwa aku ini tinggal hanya beberapa kilometer dari taman ini, jadi taman ini sudah menjadi tempat permainanku. Dan tanpa aku harus mencari kamu, rasanya dengan mudah bisa menemukan kamu begitu saja," lanjut Ibu lagi seakan tidak mau Aku potong.

Sejenak Aku hanya mampu diam dengan semua omelan Ibu, Aku tidak mengerti dengan orang tua satu ini, dalam keadaan seperti ini saja masih bisa membicarakan tentang harga diri, padahal Aku adalah menantunya sendiri.

Aku baru menyadari, bahwa Ibu memang tinggal tidak jauh dari taman ini. Dan taman ini termasuk tempat favorit yang sering Ibu jumpai ketika ada acara bersama teman-teman sosialita atau arisannya.

Perlahan Aku menjauh dari Ibu dengan berlari kecil. Aku sudah tidak mau mendengar lagi ocehan Ibu yang membuat Aku sakit kepala.

"Nada... mau kemana kamu...? Tahu begini, dari dulu aku cegah pernikahan kamu bersama Elang. Aku menyesal mempunyai menantu tidak berguna seperti kamu. Nada... jangan pernah menyesal kamu. Awas kamu ya....!" begitu Ibu masih mengomel. Aku sudah tidak tahan dengan perkataannya buat apa Aku kembali juga jika perlakuan Ibu masih seperti itu.

Aku berhenti sejenak mengistirahatkan lelahku, nafasku yang tersengal dan rasa haus yang mendera memaksaku untuk berhenti di bawah pohon Kersen yang masih tidak jauh dari taman itu.

Aku benar-benar menyesal kenapa Aku tadi tidak membawa tas dan HPku dulu. Ya ampun, sekarang Aku benar-benar kesusahan. Untuk membeli air mineral saja tidak ada uang sama sekali. Aku benar-benar terpuruk dan nelangsa.

Rasa pusing di kepalaku yang tiba-tiba menyerang memaksaku untuk duduk dan menumpu kepalaku dengan kedua tanganku.

"Ohh... Ya Allah pusing banget," bisikku pelan seraya memijit-mijit pelan kedua pelipisku.

"Ayo pulang....!" ucap seseorang dengan Nada memaksa lalu memegang tanganku dan menariknya. Aku sontak terkejut.

"Hah... Mas Elang.... !" kejutku seraya berusaha melepaskan genggaman tangannya. Namun Mas Elang malah semakin kuat memegangku.

"Bundaaa....!" teriakan lucu dan menggemaskan khas suara anak kecil itu tiba-tiba nyaring terdengar di telingaku. "Sya....!" ucapku lirih.

Mas Elang terus menarikku sampai pada sebuah mobil. "Pulanglah... Sya menginginkanmu," ucapnya lagi penuh bujukan.

Sejenak Aku hanya diam, ternyata hanya Sya yang menginginkanku pulang, bukan karena Mas Elang yang masih mencintai Aku dan menginginkanku. Aku merasa sangat sedih masih mengharapkan cinta Mas Elang.

"Bunda....!" teriakan Sya menyadarkanku dari lamunan dan rasa kecewaku. Lalu Sya merangkul ku kuat ingin Aku menggendongnya. Dia menangis dan nampak sedih.

"Aku juga masih menginginkanmu... jadi pulanglah untuk aku dan Sya!" bisik Mas Elang pelan di telingaku.

Aku tidak tega rasanya membiarkan Sya memohon ingin ku gendong, lalu dengan penuh rasa kerinduan Aku berjongkok dan meraih tubuh Sya yang mungil itu ke pelukanku.

Tiba-tiba Mas Elang membukakan pintu mobil belakang, dan memberi kode supaya Aku masuk. Bersyukur sekali Mas Elang paham betul bahwa Aku untuk saat ini tidak mau berdekatan dengannya.

Sepanjang jalan Sya berceloteh saat tangisannya tadi mereda. Sya menatapku lekat dan terkadang memegang kedua pipiku.

"Bunda... kenapa tadi Bunda pergi? Padahal Sya ingin bermain bersama Bunda." Aku tidak segera menyahutnya, Aku bingung apa yang harus Aku katakan pada bocah itu.

Tadi... Bunda mencari angin," jawabku sekenanya.

"Cari angin kok jauh banget, kenapa tidak di taman belakang biasanya kan Bunda selalu disitu?"

celotehnya lagi seakan sedang mengintograsi.

Aku sudah tidak bisa menjawab lagi celotehan Sya, sakit kepala dan rasa ngantukku berbaur menjadi satu dan akhirnya lamat-lamat Aku memejamkan mata. Kepalaku memang benar-benar sangat sakit.

Aku tersadar saat tubuhku diguncang sebuah tangan, tapi entah kenapa tubuhku sulit untuk bangkit. Sakit di kepalaku malah semakin terasa dan saat Aku berusaha bangun maka sakitnya bertambah. Mungkin karena Aku telat makan siang, efeknya seperti ini.

Tubuhku tiba-tiba seakan melayang, rupanya Mas Elang membawa tubuhku dan menggendongnya. Lalu membawaku ke kamar, Aku terbaring disitu dan benar-benar tidak sadarkan diri.

"Bunda... bangun Bunda....!" samar-samar Aku mendengar tangisan Sya yang khawatir padaku. Sesaat setelah itu tercium harum kayu putih disekitar hidungku. Kepalaku sedikit lebih ringan dan rasa sakitnya mulai mereda.

Perlahan mataku mulai terbuka, dan orang yang pertama kali Aku lihat adalah Mas Elang. Padahal Aku tidak ingin melihat Mas Elang saat sadar.

"Sya....!" panggil kau spontan.

"Bunda....!" teriaknya dekat banget. Rupanya Sya memang sejak tadi dekat denganku, namun tubuhnya masih kecil jadi Aku tidak melihat Sya duduk disamping Mas Elang.

"Bangkitlah..., kamu harus makan. Kamu kelelahan. Aku sudah siapkan bubur. Aku suapkan buburnya ya?" Bujuk Mas Elang.

Aku menggeleng pelan tanpa berani menatap mata Mas Elang.

"Ya sudah kalau kamu tidak mau aku suapin, biar Bi Narti yang suapin," ucap Mas Elang seraya mendekati wajahku dan semakin dekat, lalu mengecup keningku. Jantungku tiba-tiba berdegup sangat kencang. Entah apa maksudnya Mas Elang memperlakukan Aku seromantis itu?

Saat Mas Elang keluar dari kamar, bersamaan dengan itu Bi Narti masuk dan menghampiriku.

"Non Nada... , sudah sadar Non? Mari Bibi suapin buburnya," ucap Bi Narti seraya mengambil nampan yang berisi semangkuk bubur yang masih hangat.

"Ayo Bunda... makan buburnya biar cepat sembuh, kalau sudah sembuh Bunda bisa temani Sya main dan belajar lagi," serunya memberiku semangat.

Bi Narti mulai menyuapkan bubur sesuap demi sesuap ke dalam mulutku, dan Akupun tidak membantah lagi. Lagipula Aku memang benar-benar merasa lapar, terlebih sejak Aku kabur tadi aku tidak makan sesuap nasi pun.

Terpopuler

Comments

☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ

☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ

sungguh part ini bikin nyesek banget dan mewe'maning 😭😭😭🤧
hampir seharian nggak makan dan minum, pasti sangat lapar, letih dan lelah... tapi masih untung ditemukan oleh ibu mertua, walau tetap jutek..

2022-12-15

1

Anita Jenius

Anita Jenius

Aku sambung baca 5 bab hari ini.
5 like mendarat buatmu.
Salam dari "Anakku bukan Anakku"

2022-11-12

2

🤗🤗

🤗🤗

apa sih mau el.

2022-10-09

1

lihat semua
Episodes
1 Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2 Sya Merajuk
3 Insiden Makan Malam
4 Sya Deman
5 Sonia Menginap
6 Kepergok Pengganggu
7 Alasan Kenapa Ibu Benci
8 Keluar Kota
9 Ancaman Mayang
10 Perjumpaan Dua Sahabat
11 Permohonan yang Berulang
12 Ketahuan Ibu
13 Bertemu Mbak Marisa
14 Kemarahan Mas Elang
15 Kedatangan Mbak Marisa
16 Ghibah di Arisan Ibu
17 Di Pernikahan Marisa
18 Kemarahan Mas Elang
19 Pergi dari Rumah
20 Karena Sya
21 Kecanggungan
22 Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23 Kamu Milikku Jauh Segalanya
24 Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25 Kedatangan Mbak Marisa
26 Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27 Bukti Cinta
28 Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29 Saat Mas Elang Pergi
30 Kejutan buat Elang
31 Pantesan Batagornya Kurang Enak
32 Disanjung lalu Dihempaskan
33 Merajuk ke Rumah Bapak
34 Itu Rencana Licik Mayang
35 Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36 Tuduhan Ibu
37 Jangan Berkata Kasar pada Mama
38 Terkuak
39 Terbuai Diantara Rasa Kesal
40 Mayang Datang
41 Mencari Sya
42 Menemui Tuan Zulfikar
43 Meyakinkan Tuan Lalim
44 Sya Kembali
45 Perjuangan Ibu Sambung
46 Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47 Hadiah Permintaan Maaf
48 Hasrat Dalam Mimpi
49 Ke Rumah Ibu
50 Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51 Kembali lagi ke Rumah
52 Pertengkaran
53 Pertengkaran 2 (Pergi)
54 Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55 Mulai Mencari Nada
56 Mencari Nada
57 Insiden....
58 Sya Masuk Rumah Sakit
59 Firasat
60 Menjemput Nada
61 Bertemu Nada
62 Candle Light Dinner
63 Sebagai Kewajiban Istri
64 Ketika Mas Elang Pergi
65 WA dari Mas Elang
66 Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67 Hamil dan Keguguran
68 Rasa Bersalah
69 Pulang dari Rumah Sakit
70 Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71 Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72 Trauma dengan Perkataan Ibu
73 Masih Negatif
74 Pura-pura tidak Melihat Ibu
75 Bertemu Teman Masa Kecil
76 Tangisan dan Penyesalan Nada
77 Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78 Tespek
79 Mama Masuk RS
80 Mengetahui Ibu Sakit
81 Sikap Ibu
82 Mendadak Sensitif dan Cengeng
83 Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84 Gelagat Ibu
85 Ulah Ibu Lagi
86 Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87 Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88 Kedatangan Elang
89 Mengajak Pulang
90 Penolakan Nada
91 Nasihat Bapak
92 Pulang
93 Adik yang Paling Membela
94 Kerinduan Mas Elang
95 Menjenguk Ibu
96 Bisikan Bu Sri
97 Rujak Cinta di Pagi Hari
98 Harus Mandiri
99 Nada Masuk Klinik
100 Morning Sickness
101 Sandiwara Nada
102 Watak Elang
103 Ingin Dimanja
104 Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105 Kecewa di Taman Bahagia
106 Ada Apa Dengan Ibu
107 Kenangan Pahit Mas Elang
108 Sama-sama Meminta Maaf
109 Membujuk Sya
110 Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111 Kepercayaan buat Nada
112 Bertemu Sonia
113 Perubahan Sikap Ibu
114 Obrolan Romantis Vidio Call
115 Surprise dari Elang
116 Menonton ke Bioskop
117 Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118 Keputusan dan Kesepakatan
119 Kabar dari Marisa
120 Marisa Melahirkan
121 Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122 Bertemu Mayang
123 Kemarahan Tuan Zul
124 Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125 Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126 Liburannya Diluar Kota
127 Pembukaan Nada Studio
128 Elang yang Merajuk
129 Arwana dan Hantu Cantik
130 Kumbang dan Bunga
131 Bali
132 Tiba di Penginapan
133 Launching Homestay n Cafe
134 Malam Indah dan Panjang di Homestay
135 Panggilan dari Masa Lalu
136 Kembali Pulang
137 Kesembuhan Ibu Sri
138 Bertemu Teman Bisnis
139 Mencari Nama Bayi
140 Oase di Tengah Padang Pasir
141 Tanda-tanda Melahirkan
142 Melahirkan 1
143 Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144 Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145 Malam Yang Penuh Hasrat
146 Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147 Promosi Novel Baru....
148 Promosi Karya Baru
149 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 149 Episodes

1
Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2
Sya Merajuk
3
Insiden Makan Malam
4
Sya Deman
5
Sonia Menginap
6
Kepergok Pengganggu
7
Alasan Kenapa Ibu Benci
8
Keluar Kota
9
Ancaman Mayang
10
Perjumpaan Dua Sahabat
11
Permohonan yang Berulang
12
Ketahuan Ibu
13
Bertemu Mbak Marisa
14
Kemarahan Mas Elang
15
Kedatangan Mbak Marisa
16
Ghibah di Arisan Ibu
17
Di Pernikahan Marisa
18
Kemarahan Mas Elang
19
Pergi dari Rumah
20
Karena Sya
21
Kecanggungan
22
Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23
Kamu Milikku Jauh Segalanya
24
Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25
Kedatangan Mbak Marisa
26
Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27
Bukti Cinta
28
Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29
Saat Mas Elang Pergi
30
Kejutan buat Elang
31
Pantesan Batagornya Kurang Enak
32
Disanjung lalu Dihempaskan
33
Merajuk ke Rumah Bapak
34
Itu Rencana Licik Mayang
35
Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36
Tuduhan Ibu
37
Jangan Berkata Kasar pada Mama
38
Terkuak
39
Terbuai Diantara Rasa Kesal
40
Mayang Datang
41
Mencari Sya
42
Menemui Tuan Zulfikar
43
Meyakinkan Tuan Lalim
44
Sya Kembali
45
Perjuangan Ibu Sambung
46
Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47
Hadiah Permintaan Maaf
48
Hasrat Dalam Mimpi
49
Ke Rumah Ibu
50
Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51
Kembali lagi ke Rumah
52
Pertengkaran
53
Pertengkaran 2 (Pergi)
54
Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55
Mulai Mencari Nada
56
Mencari Nada
57
Insiden....
58
Sya Masuk Rumah Sakit
59
Firasat
60
Menjemput Nada
61
Bertemu Nada
62
Candle Light Dinner
63
Sebagai Kewajiban Istri
64
Ketika Mas Elang Pergi
65
WA dari Mas Elang
66
Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67
Hamil dan Keguguran
68
Rasa Bersalah
69
Pulang dari Rumah Sakit
70
Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71
Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72
Trauma dengan Perkataan Ibu
73
Masih Negatif
74
Pura-pura tidak Melihat Ibu
75
Bertemu Teman Masa Kecil
76
Tangisan dan Penyesalan Nada
77
Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78
Tespek
79
Mama Masuk RS
80
Mengetahui Ibu Sakit
81
Sikap Ibu
82
Mendadak Sensitif dan Cengeng
83
Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84
Gelagat Ibu
85
Ulah Ibu Lagi
86
Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87
Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88
Kedatangan Elang
89
Mengajak Pulang
90
Penolakan Nada
91
Nasihat Bapak
92
Pulang
93
Adik yang Paling Membela
94
Kerinduan Mas Elang
95
Menjenguk Ibu
96
Bisikan Bu Sri
97
Rujak Cinta di Pagi Hari
98
Harus Mandiri
99
Nada Masuk Klinik
100
Morning Sickness
101
Sandiwara Nada
102
Watak Elang
103
Ingin Dimanja
104
Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105
Kecewa di Taman Bahagia
106
Ada Apa Dengan Ibu
107
Kenangan Pahit Mas Elang
108
Sama-sama Meminta Maaf
109
Membujuk Sya
110
Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111
Kepercayaan buat Nada
112
Bertemu Sonia
113
Perubahan Sikap Ibu
114
Obrolan Romantis Vidio Call
115
Surprise dari Elang
116
Menonton ke Bioskop
117
Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118
Keputusan dan Kesepakatan
119
Kabar dari Marisa
120
Marisa Melahirkan
121
Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122
Bertemu Mayang
123
Kemarahan Tuan Zul
124
Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125
Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126
Liburannya Diluar Kota
127
Pembukaan Nada Studio
128
Elang yang Merajuk
129
Arwana dan Hantu Cantik
130
Kumbang dan Bunga
131
Bali
132
Tiba di Penginapan
133
Launching Homestay n Cafe
134
Malam Indah dan Panjang di Homestay
135
Panggilan dari Masa Lalu
136
Kembali Pulang
137
Kesembuhan Ibu Sri
138
Bertemu Teman Bisnis
139
Mencari Nama Bayi
140
Oase di Tengah Padang Pasir
141
Tanda-tanda Melahirkan
142
Melahirkan 1
143
Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144
Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145
Malam Yang Penuh Hasrat
146
Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147
Promosi Novel Baru....
148
Promosi Karya Baru
149
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!