Ghibah di Arisan Ibu

Hari Jumat ini kebetulan akan diadakannya acara arisan Ibu di rumah kami. Sebetulnya Aku tidak srek dengan acara yang diadakan Ibu di rumah ini. Mas Elangpun demikian, seperti setengah hati. Sebab Mas Elang memang kurang suka ada acara rame-rame di rumah dengan mengundang banyak orang, dia lebih suka mengadakan acara seperti itu diluar rumah atau *booking* suatu tempat.

Kebetulan Sya hari Jum'at masih sekolah, pagi ini dia diantar Mas Elang. Entah kenapa Sya tadi pengen banget diantar sama Aku, namun berhubung kemarin Ibu meminta tolong padaku untuk dibuatkan Batagor buat acara arisan hari ini, akhirnya Aku menolak halus permintaan Sya.

"Bunda, ada tugas dari Nene hari ini Sya. Jadi Bunda tidak bisa antar. Lain kali ya!" Bujukku pada Sya yang merajuk tadi pagi.

"Sekali ini saja Bunda, ini kan hari Jum'at. Senin sampai Jumat depannya Sya tidak perlu diantar Bunda. Mau ya Bunda!" Rayunya memintaku untuk mengantar sekolah. Sebenarnya Aku tidak tega, namun Ibu sudah dari kemarin berpesan supaya Aku membantu membuatkan Batagor untuk menu arisannya.

Sebetulnya, Ibu sudah pesan makanan ketring untuk acara arisannya, termasuk Batagor. Namun owner Batagor langganan Ibu, sudah jauh hari kebanjiran pesanan termasuk untuk hari ini, jadi jika hari ini menerima lagi satu orderan, ditakutkan tidak bisa kehandel. Akhirnya Aku yang mengalah, lagipula dulu saat di kampung pernah bikin Batagor. Namun karena lupa lagi langkah-langkahnya, jadi saat Aku membuat adonan harus melihat panduannya dari Kiutub.

Selepas Subuh tadi, Aku langsung berkutat di dapur dibantu Bi Narti. Bahan-bahan pembuatan Batagor sudah lengkap semua. Dari mulai buat adonan, bumbu dan lain-lain sudah siap, tinggal eksekusi.

Acara yang dinantikan Ibu akhirnya tiba, makanan ketring pesanan Ibupun sudah datang. Aku masih berkutat di dapur, sebab sesuai permintaan Ibu, adonan Batagor yang tadi sudah dibuat dan disimpan di kulkas, digoreng saat tamu arisan Ibu berdatangan.

Aku mulai menggoreng satu persatu adonan Batagor itu, ketika tamu Ibu berdatangan. Bumbu kacang yang satu jam lalu sudah dihangatkan Bi Narti kini telah siap di toples plastik besar lengkap dengan kecap dan timunnya, serta jeruk purut.

Setengah jam kemudian acara arisan itu dimulai, terdengar dari bunyi riuh di ruang tengah. Ibu segera menghampiri ke dapur dan memberi perintah supaya Aku segera menghidangkan Batagornya. Aku dibantu Bi Narti menghidangkan Batagor ke ruang tengah. Tidak perlu menyiapkan air minum, sebab Ibu sudah order lengkap dengan minumannya.

Suara riuh semakin menggema, berbarengan dengan kedatangan Mas Elang menjemput Sya dari sekolah. Mas Elang maupun Sya terperanjat saat mendengar bunyi riuh di ruang tengah. Aku melihat kedatangan Mas Elang dari balik pintu dapur yang menghubungkan langsung ke ruangan tengah. Raut wajahnya seperti kurang suka. Lalu dengan cepat, Mas Elang membawa Sya ke atas.

"Pemenang arisan bulan ini adalah Jeng...Miiiraa....!" Tepuk tangan dan suara riuh saling bersahutan, ada juga yang teriak- teriak.

"Aduh Jeng... harusnya saya dulu yang menang, saya butuh banget buat beli cincin blue Safir yang ditawarkan di Toko berlian Jeng Mirna."

"Ihh... harusnya saya yang menang itu, saya mau beli tuh rumah di ujung jalan itu, tempatnya strategis lho." Serobot yang lain saling mengakui ingin dirinya yang memenangkan arisan itu.

Aku jadi penasaran, sebenarnya jumlah arisannya berapa sampai-sampai Ibu-ibu itu ada yang ingin beli Blue Safir, rumah, dan lain-lain. Aku menghela nafas sejenak saat suara riuh itu semakin menggema. Aku sedikit khawatir dengan Mas Elang, apalagi Aku belum ke atas menemui Sya.

Aku segera membuka Celemek yang sejak pagi tadi melekat di tubuhku.

"Bi Narti saya ke atas dulu ya, tolong siapkan saja makan siangnya seperti biasa!" Titahku pada Bi Narti seraya beranjak meninggalkan dapur.

"Waduh Jeng... Batagornya enak banget, ikannya kecium segar nggak amis dan bau kaya Batagor lain yang sering saya jumpai, ini benar-benar fresh. Dan bumbu kacangnya, wuihhh mantap surantap." Puji salah satu Ibu yang berjilbab geblus.

"Iya dong Jeng, ini kan bahan-bahan kualitas nomer wahid, saya itu tidak mungkin menyuguhkan makanan dari bahan yang sudah busuk atau kualitas rendah. Kalau kualitasnya rendah, bisa-bisa kalian yang keracunan." Balas Ibu bangga.

"Ini yang buat siapa sih Jeng, dari mulai Batagor ikannya, bumbu kacangnya, pelengkapnya plit plit kumplit, berkelas banget?" Timpal yang lain. Aku yang melewati ruang tengah yang tidak sengaja mendengar pujian mereka, tersenyum bahagia dalam hati.

"Ini yang buat menantu saya, si Nada. Tapi ini bukan masalah siapa yang buatnya, tapi dilihat kualitas bahannya dong. Kalau bahannya bagus, maka dibuatnya juga bakal enak." Jawab Ibu dengan sedikit membusungkan dada, jelas banget Ibu tidak mau mengakui bahwa Batagor hasil olahanku memang enak.

"Tapi syukurlah, Batagor buatanku yang dibantu Bi Narti terpakai oleh Ibu dan teman-temannya."

"Bunda....!" Teriak Sya seraya menghampiriku lalu merangkulku, ketika Aku sudah sampai di kamar Sya. "Ihhh... Bunda kok lama? Sya kan nunggu Bunda?" Protesnya cemberut, bikin gemas dan lucu mirip Mas Elang banget saat marah.

"Kamu kemana saja sih, sudah tahu Sya jam segini pulang, tapi tidak disambut. Lama... ! Kamu pasti belum mandi. Ya ampun bau amis ikan dan kotor!" Protes Mas Elang jengkel, mukanya jutek banget dan ketus, lalu dengan paksa meraih Sya dari rangkulanku.

"Iya Mas, Aku minta maaf. Tadi baru beres goreng Batagornya, beberapa menit yang lalu baru selesai disuruh Ibu antar ke ruang tengah." Ucapku memberi alasan. Mas Elang tidak menyahut.

"Ya sudah Aku ke kamar mandi dulu. Sya, Bunda ke kamar mandi dulu ya!" Pamitku pada Sya yang duduk diam di Sofa.

Dengan aksi super quick, cukup lima belas menit saja aktivitas mandiku selesai. Sedikit berdandan, wajah Aku poles skinker, alas bedak tipis, dan bedak tabur lalu lipstik merah marun. Mas Elang suka jika Aku memakai lipstik merah marun, kesannya berani dan seksi katanya. Aku selalu patuh selama itu bisa Aku lakukan dan bisa membuat Mas Elang senang.

"Ayo...!" Seruku membuyarkan fokus kedua jagoanku. Keduanya menoleh dan menatap takjub ke arahku terutama Mas Elang.

"Bunda cantik....!" Sya memujiku dengan gemas. Aku kadang tidak habis pikir, seusianya sudah pandai memuji wanita dewasa. Tapi cuma Aku yang selalu dibilang cantik olehnya. Ya Tuhan, betapa Aku sangat menyayanginya, Sya makin gemas dan pintar saja.

Mas Elang sekilas menatapku dengan menyunggingkan seulas senyum. Aku sedikit tersipu malu. Ohhh rasanya Aku ingin bergelayut manja di bahunya. Tapi ini tidak boleh dilakukan, sebab ada Sya di samping kami.

Aku berjalan duluan bersama Sya yang Aku tuntun, diikuti Mas Elang di belakang kami. Riuh Ibu-ibu arisan masih terdengar jelas. Saat Aku mendekati tangga masih ada terdengar orang memuji Batagor buatanku. Mungkin teman arisan Ibu yang satu ini baru mencicipi Batagornya.

"Wahhh... benar juga apa yang dikatakan Jeng Susi, Batagor buatan menantunya Jeng Sri memang endos. Ikannya tidak bau busuk dan tahunya juga tidak masam. Beruntung Jeng Sri punya menantu yang sekarang ini, selain menjadi istri dia pandai memanjakan lidah orang." Pujinya sambil menyuapkan kembali Batagor yang ada di piring kecilnya.

"Ihhh... Jeng Mira ini suka berlebihan deh kalau memuji, gimana tidak enak coba Batagor olahan menantu saya, kan tadi sudah saya bilang. Bahan olahannya nomer wahid dengan qulitas yang tidak rendahan. Lagi pula masa iya tidak enak, menantu saya kan pandai memuaskan anak saya di ranjang, dia bagi anak saya hanya sekedar pemuas ranjang semata, hahaha....!" Seloroh Ibu mengejekku tanpa rem, membuat Aku mematung di tempat. Terkesima dengan semua ucapan yang barusan diucapkan Ibu.

Tiba-tiba air mataku mulai basah menetes ke pipi yang tadi sudah ku poles tipis skinker.

"Aduh Jeng... gimana tidak enak coba, si Nada kan pandai bergoyang dan memuaskan anak saya. Sampai-sampai nih ya, dia ngajak anak saya bercinta di ruang tengah ini. Sampai kepergok saya dan Sonia calon menantu idaman saya. Kan sudah saya bilang, menantu saya itu bagi anak saya hanya sekedar pemuas ranjangnya saja, jadi mana mungkin olahannya tidak enak." Ucap Ibu berlanjut, tanpa rem dan rasa malu menggibahi Aku menantunya di depan teman-teman arisannya. Rupanya sejak tadi Ibu menggibahi Aku. Ya Ampun, ini benar-benar menyakiti hati Aku. Tak kuasa air mata makin deras saja.

Tiba-tiba Mas Elang yang tepat berada di belakangku, dengan langkah cepat menghampiri Ibu dan teman-teman arisannya. Rupanya Mas Elang mendengar juga ocehan Ibu yang kedua. Sedangkan Aku yang sejak tadi mematung sambil mencucurkan air mata, berlari ke atas kembali ke kamarku tanpa menghiraukan Sya. Sya menatap keheranan.

"Mama... apa yang Mama katakan barusan? Tidak pantas seorang Ibu mencela menantunya didepan orang-orang, silahkan bubar dari tempat ini!" Sentak Mas Elang marah. Mas Elang menatap nyalang ke arah Ibu. Sementara Ibu-ibu arisan itu satu persatu mulai beranjak keluar, dan pamit ke Ibu dengan menepuk bahu Ibu. Ibu nampak tertunduk merasa ucapan kejinya ketahuan Mas Elang. Ada gurat takut di wajah Ibu melihat Mas Elang marah.

Terpopuler

Comments

💞Nia Kurnaen💞

💞Nia Kurnaen💞

g usah nangis nada...itu batagor ada sambalnya jg kan...jejelin dah kemulut mertuamu...🤣🤣🤣

2023-03-14

3

☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ

☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ

ck .. 😫😫seorang ibu kok tega bener ya, mengumbar aurat anak dan menantunya...
mana kk onel, petasan yang aku suruh beli waktu itu... ini benar-benar saat yang tepat untuk mengeksekusi nya... sudah nggak sabar melihat mulut em-ber mak mertua nya Nada, hancur berkeping-keping.. 😖😖😠😠😠😡😡😡😡😡

2022-12-15

1

@Kristin

@Kristin

masa si urusan ranjang di bicarakan dasar mulut ember bocor...

2022-12-10

0

lihat semua
Episodes
1 Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2 Sya Merajuk
3 Insiden Makan Malam
4 Sya Deman
5 Sonia Menginap
6 Kepergok Pengganggu
7 Alasan Kenapa Ibu Benci
8 Keluar Kota
9 Ancaman Mayang
10 Perjumpaan Dua Sahabat
11 Permohonan yang Berulang
12 Ketahuan Ibu
13 Bertemu Mbak Marisa
14 Kemarahan Mas Elang
15 Kedatangan Mbak Marisa
16 Ghibah di Arisan Ibu
17 Di Pernikahan Marisa
18 Kemarahan Mas Elang
19 Pergi dari Rumah
20 Karena Sya
21 Kecanggungan
22 Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23 Kamu Milikku Jauh Segalanya
24 Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25 Kedatangan Mbak Marisa
26 Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27 Bukti Cinta
28 Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29 Saat Mas Elang Pergi
30 Kejutan buat Elang
31 Pantesan Batagornya Kurang Enak
32 Disanjung lalu Dihempaskan
33 Merajuk ke Rumah Bapak
34 Itu Rencana Licik Mayang
35 Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36 Tuduhan Ibu
37 Jangan Berkata Kasar pada Mama
38 Terkuak
39 Terbuai Diantara Rasa Kesal
40 Mayang Datang
41 Mencari Sya
42 Menemui Tuan Zulfikar
43 Meyakinkan Tuan Lalim
44 Sya Kembali
45 Perjuangan Ibu Sambung
46 Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47 Hadiah Permintaan Maaf
48 Hasrat Dalam Mimpi
49 Ke Rumah Ibu
50 Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51 Kembali lagi ke Rumah
52 Pertengkaran
53 Pertengkaran 2 (Pergi)
54 Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55 Mulai Mencari Nada
56 Mencari Nada
57 Insiden....
58 Sya Masuk Rumah Sakit
59 Firasat
60 Menjemput Nada
61 Bertemu Nada
62 Candle Light Dinner
63 Sebagai Kewajiban Istri
64 Ketika Mas Elang Pergi
65 WA dari Mas Elang
66 Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67 Hamil dan Keguguran
68 Rasa Bersalah
69 Pulang dari Rumah Sakit
70 Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71 Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72 Trauma dengan Perkataan Ibu
73 Masih Negatif
74 Pura-pura tidak Melihat Ibu
75 Bertemu Teman Masa Kecil
76 Tangisan dan Penyesalan Nada
77 Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78 Tespek
79 Mama Masuk RS
80 Mengetahui Ibu Sakit
81 Sikap Ibu
82 Mendadak Sensitif dan Cengeng
83 Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84 Gelagat Ibu
85 Ulah Ibu Lagi
86 Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87 Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88 Kedatangan Elang
89 Mengajak Pulang
90 Penolakan Nada
91 Nasihat Bapak
92 Pulang
93 Adik yang Paling Membela
94 Kerinduan Mas Elang
95 Menjenguk Ibu
96 Bisikan Bu Sri
97 Rujak Cinta di Pagi Hari
98 Harus Mandiri
99 Nada Masuk Klinik
100 Morning Sickness
101 Sandiwara Nada
102 Watak Elang
103 Ingin Dimanja
104 Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105 Kecewa di Taman Bahagia
106 Ada Apa Dengan Ibu
107 Kenangan Pahit Mas Elang
108 Sama-sama Meminta Maaf
109 Membujuk Sya
110 Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111 Kepercayaan buat Nada
112 Bertemu Sonia
113 Perubahan Sikap Ibu
114 Obrolan Romantis Vidio Call
115 Surprise dari Elang
116 Menonton ke Bioskop
117 Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118 Keputusan dan Kesepakatan
119 Kabar dari Marisa
120 Marisa Melahirkan
121 Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122 Bertemu Mayang
123 Kemarahan Tuan Zul
124 Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125 Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126 Liburannya Diluar Kota
127 Pembukaan Nada Studio
128 Elang yang Merajuk
129 Arwana dan Hantu Cantik
130 Kumbang dan Bunga
131 Bali
132 Tiba di Penginapan
133 Launching Homestay n Cafe
134 Malam Indah dan Panjang di Homestay
135 Panggilan dari Masa Lalu
136 Kembali Pulang
137 Kesembuhan Ibu Sri
138 Bertemu Teman Bisnis
139 Mencari Nama Bayi
140 Oase di Tengah Padang Pasir
141 Tanda-tanda Melahirkan
142 Melahirkan 1
143 Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144 Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145 Malam Yang Penuh Hasrat
146 Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147 Promosi Novel Baru....
148 Promosi Karya Baru
149 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 149 Episodes

1
Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2
Sya Merajuk
3
Insiden Makan Malam
4
Sya Deman
5
Sonia Menginap
6
Kepergok Pengganggu
7
Alasan Kenapa Ibu Benci
8
Keluar Kota
9
Ancaman Mayang
10
Perjumpaan Dua Sahabat
11
Permohonan yang Berulang
12
Ketahuan Ibu
13
Bertemu Mbak Marisa
14
Kemarahan Mas Elang
15
Kedatangan Mbak Marisa
16
Ghibah di Arisan Ibu
17
Di Pernikahan Marisa
18
Kemarahan Mas Elang
19
Pergi dari Rumah
20
Karena Sya
21
Kecanggungan
22
Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23
Kamu Milikku Jauh Segalanya
24
Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25
Kedatangan Mbak Marisa
26
Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27
Bukti Cinta
28
Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29
Saat Mas Elang Pergi
30
Kejutan buat Elang
31
Pantesan Batagornya Kurang Enak
32
Disanjung lalu Dihempaskan
33
Merajuk ke Rumah Bapak
34
Itu Rencana Licik Mayang
35
Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36
Tuduhan Ibu
37
Jangan Berkata Kasar pada Mama
38
Terkuak
39
Terbuai Diantara Rasa Kesal
40
Mayang Datang
41
Mencari Sya
42
Menemui Tuan Zulfikar
43
Meyakinkan Tuan Lalim
44
Sya Kembali
45
Perjuangan Ibu Sambung
46
Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47
Hadiah Permintaan Maaf
48
Hasrat Dalam Mimpi
49
Ke Rumah Ibu
50
Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51
Kembali lagi ke Rumah
52
Pertengkaran
53
Pertengkaran 2 (Pergi)
54
Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55
Mulai Mencari Nada
56
Mencari Nada
57
Insiden....
58
Sya Masuk Rumah Sakit
59
Firasat
60
Menjemput Nada
61
Bertemu Nada
62
Candle Light Dinner
63
Sebagai Kewajiban Istri
64
Ketika Mas Elang Pergi
65
WA dari Mas Elang
66
Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67
Hamil dan Keguguran
68
Rasa Bersalah
69
Pulang dari Rumah Sakit
70
Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71
Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72
Trauma dengan Perkataan Ibu
73
Masih Negatif
74
Pura-pura tidak Melihat Ibu
75
Bertemu Teman Masa Kecil
76
Tangisan dan Penyesalan Nada
77
Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78
Tespek
79
Mama Masuk RS
80
Mengetahui Ibu Sakit
81
Sikap Ibu
82
Mendadak Sensitif dan Cengeng
83
Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84
Gelagat Ibu
85
Ulah Ibu Lagi
86
Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87
Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88
Kedatangan Elang
89
Mengajak Pulang
90
Penolakan Nada
91
Nasihat Bapak
92
Pulang
93
Adik yang Paling Membela
94
Kerinduan Mas Elang
95
Menjenguk Ibu
96
Bisikan Bu Sri
97
Rujak Cinta di Pagi Hari
98
Harus Mandiri
99
Nada Masuk Klinik
100
Morning Sickness
101
Sandiwara Nada
102
Watak Elang
103
Ingin Dimanja
104
Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105
Kecewa di Taman Bahagia
106
Ada Apa Dengan Ibu
107
Kenangan Pahit Mas Elang
108
Sama-sama Meminta Maaf
109
Membujuk Sya
110
Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111
Kepercayaan buat Nada
112
Bertemu Sonia
113
Perubahan Sikap Ibu
114
Obrolan Romantis Vidio Call
115
Surprise dari Elang
116
Menonton ke Bioskop
117
Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118
Keputusan dan Kesepakatan
119
Kabar dari Marisa
120
Marisa Melahirkan
121
Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122
Bertemu Mayang
123
Kemarahan Tuan Zul
124
Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125
Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126
Liburannya Diluar Kota
127
Pembukaan Nada Studio
128
Elang yang Merajuk
129
Arwana dan Hantu Cantik
130
Kumbang dan Bunga
131
Bali
132
Tiba di Penginapan
133
Launching Homestay n Cafe
134
Malam Indah dan Panjang di Homestay
135
Panggilan dari Masa Lalu
136
Kembali Pulang
137
Kesembuhan Ibu Sri
138
Bertemu Teman Bisnis
139
Mencari Nama Bayi
140
Oase di Tengah Padang Pasir
141
Tanda-tanda Melahirkan
142
Melahirkan 1
143
Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144
Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145
Malam Yang Penuh Hasrat
146
Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147
Promosi Novel Baru....
148
Promosi Karya Baru
149
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!