Setibanya di rumah, Sya langsung Aku bawa ke kamarnya. Mas Elang mengikuti dengan perasaan khawatir. Raut mukanya benar-benar diliputi marah, sangat ngeri. Aku sudah sering melihat muka seperti ini, dalam seminggu terakhir ini.
"Cepat bersihkan tubuh Sya dengan air hangat, Aku takut Sya kenapa-kenapa!" perintah Mas Elang keras. Tanpa membantah Aku segera membawa Sya ke dalam kamar mandi, menampung air hangat dari shower lalu membilas tubuh Sya pelan. Sya nampak rewel dan berulang kali menolak Aku bilas.
Aku jadi prustasi, Sya tetap menolak Aku bilas. Sementara diluar kamar mandi Mas Elang menunggu dengan tidak sabar.
"Ya Allah bagaimana ini, Sya tiba-tiba rewel dan tidak mau dimandikan! "
Dengan sedikit Aku paksa, Sya aku mandikan pelan-pelan sambil dirayu-rayu dengan sebuah cerita. Dengan perjuangan yang sedikit keras, akhirnya Sya bocah imut dan tampan itu berhasil Aku mandikan.
Saat Aku keluar kamar mandi, Mas Elang sudah tidak ada di kamar Sya. Aku segera mengambil baju tidur Sya. Ku baluri dulu tubuhnya dengan minyak Kayu Putih dan ku pijit-pijit pelan sekujur tubuhnya. Sya nampak menikmati, matanya mulai mengantuk. Segera ku pakaikan baju tidur.
"Sayang, bobo ya! Biar Bunda temani!" bujukku sambil menepuk-nepuk pantat bocah tampan itu, dan ku lantunkan doa sebelum tidur.
Kejadian tadi yang masih baru itu, terngiang-ngiang diingatanku. Mataku dengan jelas melihat wajah wanita dewasa di restoran tadi. Cantik, dengan postur tubuh tinggi dan langsing bak seorang model. Usianya kalau dikira-kira 30 tahunan. Aku dapat menyimpulkan dari pembicaraan Mas Elang tadi, bahwa perempuan tadi adalah Ibu kandung Sya, anak sambungku yang sangat menggemaskan.
Tapi mengapa dia datang tiba-tiba dan membuat ulah? Aku pikir yang dia lakukan adalah kesengajaan. Dia tahu Mas Elang sedang makan di restoran itu, namun kenapa Aku ikut jadi sasaran kemarahannya, sedangkan Aku tidak punya masalah sebelumnya dengan perempuan itu? Bertemu saja baru tadi, itupun karena perempuan itu datang berulah.
Aku jadi kasihan dengan Sya, mengapa dia mempunyai Ibu seperti perempuan tadi yang dengan tidak tahu malunya membuat ulah di tempat umum.
Saat Aku mendengar perempuan itu mau merebut Sya dari Mas Elang, rasanya Aku tidak tega. Tidak tega kalau Sya jatuh ke tangan perempuan seperti itu, perempuan yang tempramen.
Ku tepuk-tepuk pantat bocah itu. Rupanya dia sudah terlelap. Tanpa terasa Akupun merasakan ngantuk. Sebelum Aku benar-benar ikut tertidur disebelah Sya, ku cium keningnya dan berharap bocah tampan ini mimpi yang indah. Betapa Aku menyayangi Sya, rasanya Sya bukan anak sambung bagiku. Dia adalah anak pertama bagiku.
"Bunda akan terus menjaga dan menyayangi Sya semampu Bunda. Bunda sayang Sya seperti Bunda sayang ke Papa," bisikku pelan. Dan akhirnya Aku ikut terlelap disamping Sya, sambil memeluk tubuh bocah tampan itu.
Entah jam berapa Mas Elang datang, tiba-tiba sudah berada disampingku dan mengusik tidurku. Dia memencet hidungku kuat, sehingga Aku terbangun. Mas Elang meletakkan telunjuknya di bibir, memberi kode supaya jangan berisik.
Mas Elang menarik tanganku menuju kamar kami. Aku punya firasat Mas Elang meminta sesuatu. Saat ku lihat wajahnya, Mas Elang nampak sangat lelah ada sedikit lebam di pelipis matanya.
"Mas, ini kenapa?" tanyaku khawatir sambil menunjuk pelipisnya. Mas Elang menepis tanganku, dengan cepat dia meraup wajahku dengan kedua tangannya dan menciumi wajahku dan bibirku. Mas Elang sepertinya merindukanku. Lama kami berdiri sambil menautkan masing-masing bibir kami. Akupun sama sangat merindukan kehangatan Mas Elang, yang akhir-akhir ini sering dilanda marah.
Mas Elang melepaskan ciuman kami hanya untuk mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu meja yang temaram, tidak lupa mengunci pintu.
"Ayo sayang, Mas merindukan kamu!" bisik Mas Elang sambil memapah tubuhku ke atas ranjang.
"Sudah diminum tadi Mas sepulang makan malam!" kataku tanpa ditanya, sebab sudah kuduga Mas Elang akan menanyakan hal yang sama setiap sebelum kami berhubungan.
Tanpa menunggu lama, seperti biasa Mas Elang melancarkan aksinya penuh gairah dan mendebarkan, selalu diawali dengan sikap romantis dan lembut lalu garang tapi menyenangkan.
Memang dalam hal ini, Mas Elang selalu menunjukan sisi romantis dan lembutnya.
Kata-kata sayang selalu meluncur dari mulutnya disela-sela aksinya. Bahkan yang sering diucapkan setiap kami bercinta adalah, "jangan pernah tinggalkan Mas sampai kapanpun". Dan itu diucapkan dengan begitu sendu dan sedih. Aku selalu terharu mendengarnya.
Saat menyudahi pergumulan hangat dan menyenangkan kami di malam ini, Mas Elang menciumi seluruh wajahku termasuk bibirku, diciumnya begitu lama dan seperti enggan dilepaskan. Setelah merasa puas, lalu Mas Elang memeluk tubuhku erat.
"Kembalilah ke kamar Sya, temani dia tidur." perintahnya.
"Tapi Mas, Mas tidak apa-apa Aku tinggal. Luka di pelipis Mas ini harus di kompres dulu," ujarku khawatir.
"Sudahlah, Mas tidak apa-apa. Kamu sudah lebih dari cukup mengobatiku malam ini. Segeralah ke kamar Sya. Nanti jika Mas kangen, Mas susul kamu kesana!" ujarnya lagi tidak bisa dibantah, padahal Aku begitu khawatir dengan lukanya.
Sebetulnya Aku ingin bertanya lebih banyak mengenai kejadian tadi saat makan malam, tapi melihat Mas Elang sepertinya lelah, segera ku turuti perintahnya.
Subuh menjelang, Aku terbangun dan segera beranjak menuju kamar mandi Sya. Membersihkan diri dan berwudhu. Menjalankan kewajibanku lalu menghampiri Sya. Sya begitu lelap, ku tatap wajah sendunya yang teduh saat tidur. Sangat mirip Mas Elang tampan rupawan.
Keduanya adalah kesayanganku walaupun berbeda watak.
Tiba-tiba Sya terbangun dan memanggilku.
"Bunda....!" Aku segera menghampiri Sya, dan saat Aku tidak sengaja menyentuh dahinya. Hawa panas langsung terasa di telapak tanganku. Ini bukan hawa panas karena habis tidur, namun Aku meyakini ini adalah hawa panas akibat demam. Sya demam tinggi, dan kini memanggil-manggil Aku seakan tidak ingin jauh dariku.
Aku panik, segera ku raih tubuhnya dan ku peluk.
"Ini Bunda, sayang. Sya kenapa... tiba-tiba demam? Bunda ambilkan obat penurun panas dulu ya!" ucapku membujuk Sya. Namun Sya tidak mau melepaskan Aku, dia memeluk erat tanganku. Hawa panas dari tangannya menjalar ke tanganku, begitu panas.
Aku begitu khawatir, sementara Aku tidak bisa kemana-mana karena Sya memeluk erat tanganku. Akhirnya Aku mengirimkan pesan via WA ke HP Mas Elang, memberitahukan keadaan Sya. Pesan terkirim, tak berapa lama Mas Elang datang dengan khawatir.
"Kenapa dengan Sya?" tanyanya khawatir.
"Sya tiba-tiba bangun dan memanggilku, saat tanganku mengenai dahinya, rupanya dahinya sangat panas, Sya demam tinggi Mas. Aku berusaha mengambil obat penurun panas, namun Sya tidak mau lepas. Akhirnya Aku WA kamu Mas untuk minta tolong ambilkan obat penurun panas di lemari obat!" jelasku.
Mas Elang beranjak menuju lemari obat dan mencari obat penurun panas yang ku maksud. Kami memang selalu sedia obat, sebelum sakit yang diderita belum parah betul, maka kami obati dulu di rumah dengan obat yang ada dan sesuai gejala. Jika memang keterusan, maka Mas Elang akan segera membawa ke RS terdekat.
Sya ku bantu bangun untuk diberi obat. Perlahan ku dekatkan sendok takar yang sudah berisi obat penurun panas berupa sirup itu ke mulutnya.
"Aaa sayang, buka mulutnya dan minum obatnya!" bujukku. Sya tidak membantah. Dan dia memang anak yang penurut, obat yang ku sodorkan disambutnya dan diminumnya.
"Sya demam, cepat sembuh sayang!" ucapku sambil membaringkan kembali tubuh Sya.
"Tapi Bunda jangan pergi dari sisi Sya ya, Sya pengen ditemani Bunda!" pintanya memelas.
"Bunda akan temani Sya disini," ucapku setuju.
"Temani Sya disini, jangan tinggalkan dia. Ini semua gara-gara perempuan itu!" ucap Mas Elang geram.
"Mas mau kemana?" tanyaku khawatir. Dia hanya menatapku tajam seakan tidak ingin Aku bertanya lagi. Aku sedikit takut, jika Mas Elang akan menemui wanita tadi malam di restoran itu, dan pulang dengan keadaan yang lebam seperti semalam. Aku punya firasat seperti itu. Namun Aku segera menepisnya dan mendoakan Mas Elang selalu dilindungi Yang Maha Kuasa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
guntur 1609
nada seprti seorang jalang kalau malam. tapi kalau pagi samapai sore di buat sprti baby sister nya sya. dasar kau elang egois
2025-03-10
2
Lina Zascia Amandia
Lanjut Kak @Eda Yanti....
2023-09-12
0
anggita
trus brkarya 👍👏👌✌
2023-01-13
0