Grab Onlinepun berhenti di depan gerbang rumah yang sedikit terbuka, Aku segera turun dan membayar ongkosnya.
"Terimakasih Pak!" Ucapku. "Sama-sama Mbak!" Aku langsung masuk dan menyelinap melewati celah gerbang.
"Ehh... Non Nada, sudah pulang Non?" Tanya Pak Nandang Satpam di rumah kami, ramah. "Sudah Pak. Saya masuk dulu ya." Ucapku seraya ngeloyor menjauhi pos Satpam. Pak Nandang tersenyum dan mengangguk hormat.
Aku tertegun saat melihat mobil Ibu dan Mas Elang berjejer di garasi. "*Ohhh... rupanya ada Ibu*. *Mas Elang juga sudah ada*." Bisikku.
Aku masuk disertai ucapan salam. "Assalamu'alaikum....!" ucapku walau tanpa sahutan. Aku langsung menuju dapur karena tenggorokanku terasa haus.
"Non Nada, baru pulang Non?" Bi Narti menyapaku sambil menjinjing sapu.
"Iya Bi," sahutku sambil meneguk air putih.
"Glek... glek....!" Terasa segar air putih tanpa es itu menyapa kerongkonganku.
"Saya ke atas dulu ya, Bi!" pamitku pada Bi Narti yang kini sibuk merapikan piring yang tadi habis dicuci.
Saat Aku berjalan menuju tangga, Aku berpapasan sama Ibu mertua bawelku. Mau Aku salami, namun dia menghindar. "Ibu....!" Sapaku basa basi sambil melengos menghampiri tangga tanpa pamit pada mertua sayangku itu.
"Ihh....!" desisnya seakan geram. Aku tidak mengerti kenapa Ibu berdesis seperti itu, yang jelas Ibu memang seakan alergi denganku.
Tiba di pintu kamar, Aku segera membuka pintu perlahan. "Assalamu'alaikum!" Ucapku. Tidak Aku jumpai Mas Elang, rupanya dia berada di Balkon. Sedang telponan, entah dengan siapa.
Aku segera ke kamar mandi dan mencuci muka serta gosok gigi, siang ini Aku merasa ngantuk. Pertemuan tadi dengan Mbak Marisa menyisakan. ngantuk. Huhhh... beginilah pengangguran, siang bolong sudah mengantuk. Pekerjaan rumah sudah settel sama Bi Narti. Jadi apa lagi yang mesti Aku lakukan? Ingin bekerja di Kafe Mas Elang demi membunuh kejenuhan, Mas Elang melarang. Ya sudahlah... Aku patuh pada apa yang dikatakan Mas Elang.
Aku rebahkan tubuhku di ranjang, saat itu jam menunjukkan pukul 12.30 siang. Sebentar lagi juga Mas Elang bersiap menjemput Sya.
"Dari mana saja kamu?" Suara ngebass Mas Elang tiba-tiba menyurutkan rasa kantukku.
"Mas Elang....!" Kejutku salah tingkah.
"Kamu mulai berani tanpa seijinku pergi keluyuran begitu saja, bukankah selama ini Aku tidak pernah mengijinkan kamu keluar?" Sentak Mas Elang marah.
"Nada bukan keluyuran Mas, Nada bertemu Mbak Marisa. Dia meminta ketemuan, lagian kita sudah lama tidak bertemu. Dan Mbak Marisa sengaja ingin bertemu Nada karena dia kangen dan ingin memberikan kartu undangan!" Alasanku membela diri.
"Alasan, bukankah dia bisa datang sendiri kesini untuk memberikan kartu undangannya? Aku yakin ini hanya akal-akalan kamu saja untuk bisa keluar rumah." Tuding Mas Elang.
"Emmm... bukankah Aku sudah meminta ijin sama kamu Mas, tadi Aku sudah berusaha telpon tapi tidak diangkat lalu Aku kirim pesan WA," belaku lagi.
"Aku tidak membalas pesan WA kamu, Nada Irama! Itu artinya kamu tidak mendapat ijin dariku!" Tandas Mas Elang menekan.
"Aku pikir, hanya bertemu dengan Mbak Risa kamu tidak akan apa-apa. Jadi Aku langsung pergi tanpa menunggu balasan WA darimu." Balasku lagi.
"Terus, teruslah membela diri. Aku tidak suka jika istri sudah membantah!" Tekannya sembari menepis tanganku yang sedang memegang HP. Lalu HP itu terbanting di atas kasur.
Aku diam tanpa kata, sakit rasanya dengan sikap Mas Elang barusan. Hanya bertemu Mbak Marisa yang notabene sepupu Mas Elang, dia marah seolah Aku keluyuran tidak jelas. Mas Elang keluar kamar, lalu membanting pintu dengan keras. Aku terhenyak, baru kali ini Aku melihat Mas Elang marah.
"Tahu rasa dimarahin Elang, lagipula perempuan rendahan seperti kamu tidak pantas menjadi istri Elang, belum apa-apa sudah membantah." Ejek Ibu mertua yang tiba-tiba masuk kamar dan mengejutkanku. Aku menatap nyalang ke arah Ibu dengan tatapan tidak suka.
"Nada bukan keluyuran tidak jelas Bu, tapi Nada bertemu Mbak Marisa keponakan Ibu, lagipula Nada bukan pergi untuk berselingkuh seperti menantu kesayangan Ibu dahulu." Tandasku membela diri.
"Ihh... kurang ajar kamu ya, berani melawanku. Ibu mertuamu. Awas ya Aku adukan kamu sama Elang." Ancamnya seraya menatapku tajam.
"Silahkan, Nada tidak takut!" Tantangku seraya meninggalkan Ibu keluar.
"Ihhh... Nada! Tidak sopan, orang tua sedang memberi nasihat malah pergi. Tahu rasa jika kamu nanti diceraikan Elang, akan jadi janda muda yang dapat gunjingan dari orang-orang." Cetusnya geram membuat Aku menghentikan langkahku.
"Janda tidak selalu hina Bu, asal bukan jadi janda gatal. Contohnya Ibu, Ibu merasa digunjing tidak, karena status janda Ibu?" Selorohku melawan.
"Aku ini lain, aku sudah tua. Jadi buat apa mereka menggunjing janda tua seperti aku?"
"Ya baguslah, buat apa juga mereka menggunjing Ibu. Artis juga bukan." Tandasku sambil melengos pergi meninggalkan Ibu yang terlihat semakin dongkol. Baru kali ini Aku membalas tiap kata-kata Ibu mertua, dan Aku merasa puas membalasnya.
Jam setengah dua Mas Elang pulang menjemput Sya, karena Aku masih merasa sakit hati dengan ucapannya tadi, Aku tidak menyambut kedatangannya. Biarlah mereka heran mencariku.
Benar saja beberapa saat kemudian anak sambungku Sya, turun dari tangga seraya berteriak memanggilku. Aku yang tengah di taman belakang hanya menoleh ke atas balkon. Rupanya di sana ada Mas Elang menatapku. Aku membiarkan Sya mencariku tanpa berusaha Aku hampiri.
Aku berpura-pura menyiramkan bunga dengan air, Mas Elang terlihat menatapku dengan sorot tajam. Aku sengaja melakukan itu, demi membalas perlakuan Mas Elang tadi, yang menganggap Aku keluyuran tidak jelas saat menemui Mbak Marisa, sepupunya.
Tidak lama dari itu, Sya berhasil menemukanku. Dia merangkulku hangat. Ya ampun, mana tahan Aku mendiamkan Sya. Anak sambungku yang menggemaskan ini selalu menginginkan Aku di sampingnya. Sejenak Aku merasa berdosa membiarkan Sya mencariku sendiri. "Maafkan Bunda sayang!" Lirihku dalam hati seraya menciumi puncak kepala Sya.
"Bunda, ayo ke kamar. Sya mau ganti baju dan makan siang. Papa sudah menunggu." Rengeknya manja. "Iya, ayo sayang. Maafkan Bunda yang tadi tidak mendengar Sya pulang," ucapku meminta maaf dan berpura-pura tidak mendengar Sya saat pulang sekolah. "*Bunda minta maaf Sya*, *berbohong lagi*." Batinku dalam hati menyesal.
Aku masuk ke kamar Sya yang sudah terdapat Mas Elang. Mas Elang menatapku marah, kali ini Aku tidak berani menatap wajah yang selalu tampan itu. Aku fokus mengurus Sya dan segera membawanya ke bawah.
"Sya, kebawah duluan ya. Hati-hati turun tangganya jangan berlari. Papa mau bicara sebentar dengan Bunda." Ucap Mas Elang.
Mas Elang menghadangku, lalu menahan tubuhku di mulut pintu.
"Tolong, jangan perlihatkan aksi marahmu dihadapan Sya. Jangan pernah campur adukan marahmu dengan bersikap kurang ramah pada Sya, Aku tidak suka!" Tekannya. Aku menunduk tidak berani menatap mata Mas Elang yang tatapannya kini berubah persis tatapan elang.
"Ayo kebawah, tunjukkan bahwa kita tidak sedang perang dingin." Pungkasnya sembari menarikku menuju tangga. Di meja makan, Aku sudah melihat Ibu dan Sya yang sudah duduk rapi menunggu kami sembari tertawa-tawa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
🤗🤗
aish ikut campur saja.
2022-10-05
1
naumiiii🎈✨
Lanjutttt othorrrr
2022-07-31
0
⚞ል☈⚟ MymooN
up nya jangan lama2 dunks
2022-07-30
1