Sya nampak semangat malam ini, dia berceloteh riang sambil sesekali melihat gaya coolnya di cermin. Wah... tampan mirip Papanya. Aku tidak habis pikir dengan bocah menggemaskan satu ini, ketampanan jelas menurun dari Papanya, namun sifat dan perwatakan beda banget.
Sya itu pribadi yang ceria, ramah dan baik, lemah lembut dalam bertutur kata, serta cerdas. Siapapun akan gemas apabila berdekatan dengannya. Hanya tampan dan cerdaslah mungkin benar menurun dari Mas Elang, namun ceria, ramah dan baik, lembut dalam bertutur kata, aku rasa bukan dari Mas Elang. Sebab Mas Elang yang aku kenal dari awal, adalah pribadi yang dingin dan kaku.
Tapi ada kalanya romantis. Romantis kala itu sedang melamar dan menyatakan cintanya padaku, atau romantis ketika ada maunya. Selain itu dia selalu nampak dingin dan wataknya keras tidak bisa dibantah. Kadang sikap posesif lebih dominan. Aku selalu punya aturan tidak boleh begini tidak boleh begitu tanpa alasan yang jelas. Posesif, tapi aku rasa bukan cemburu. Kalau bisa disimpulkan lebih kepada rasa takut.
Tentang Sya, yang punya sifat mengagumkan dan menggemaskan itu, aku pernah mengorek informasi dari Bi Narti. Siapa Baby sitternya? siapa yang ngurus mandi dan menyiapkan peralatan sekolahnya, dan siapa yang berperan besar membentuk karakter Sya selama ini, sehingga tumbuh menjadi Sya yang sangat menggemaskan?
Sya tidak mempunyai baby sitter sejak ditinggal Ibunya. Bi Narti bilang, Sya sudah terbentuk dengan sifat dan watak seperti itu. Tapi itu tidak mungkin, watak seseorang ataupun karakteristik seseorang bisa dipengaruhi oleh orang lain, bisa pengasuhnya, orang tuanya atau malah Gurunya.
"Den Sya lebih banyak menghabiskan waktu sama Pak Elang. Pagi-pagi sebelum ke kantor, Pak El yang mengantar sekolah maupun menjemput," jedanya. "Setelah Den Sya pulang sekolah, Pak El tidak pernah kembali ke kantornya lagi," jelas Bi Narti.
"Lantas, siapa Bi yang mengurus keperluan sehari-hari Sya?" tanyaku lagi penasaran.
"Dulu sebelum Pak El menikahi Non Nada, ada seorang lagi ART namanya Bi Ijah. Bi Ijah masih saudara jauhnya Bibi. Namun berhubung Bi Ijah punya anak yang mau melahirkan, dan tidak tega dengan anaknya apabila harus ngurus bayi merah sendiri, akhirnya Bi Ijah mengundurkan diri."
"Tugas Bi Ijah di rumah ini hanya beres-beres rumah, memandikan Den Sya, dan menyiapkan makannya. Selain itu, Pak Elang yang bertanggungjawab. Kalau sifat dan watak, Bibi yakin itu menurun dari Pak Elang. Semua mewarisi Pak Elang," pungkas Bi Narti membuatku tak percaya.
"Benarkah pria kaku dan dingin itu punya sifat yang hampir persis dengan Sya si bocah menggemaskan itu?" tanyaku dalam hati, ahh... rasanya tak percaya.
"Pak Elang sebenarnya sangat baik. Persis seperti Den Sya, ibaratnya Den Sya itu fotocofyannya Pak Elang," lanjut Bi Narti seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan.
"Hanya saja sejak Pak Elang ditinggalkan mantan istrinya, Pak Elang sedikit berubah," timpal Bi Narti lagi.
"Sayang... kok bengong? Sya sudah siap lho," sentaknya mengagetkan lamunanku.
"Oh..., Iya Mas. Aku masih berdandan sedikit lagi," jawabku kikuk.
"Pantaskan dirimu untuk mendampingi Mas dan Sya makan malam hari ini, supaya kamu atau Mas bahkan Sya tidak dipermalukan oleh orang lain," tegas Mas Elang sambil memberikan gaun lengan panjang di bawah lutut pilihannya padaku.
"Berdandanlah yang cantik untukku, hanya untukku!" tegasnya lagi. Pernyataan seperti itu sering Mas Elang lontarkan apabila kami akan pergi keluar. Bukan sering tapi selalu. Kadang aku heran, kenapa selalu saja mewanti-wanti akan hal itu "pantaskan", padahal aku sendiri tidak mau seumpama pergi keluar dengan Mas Elang dalam acara apapun terlihat biasa. Minimal berdandan sedikit untuk menghargai kehormatan suami. Itu pikirku.
Polesan tipis telah menghiasi wajahku yang menurutku tidak jelek, bahkan kalau dipoles begini aku merasa lebih cantik dari biasanya. Mas Elang menatapku tajam saat aku menyelesaikan riasanku, tak sengaja aku berlenggok di depan cermin mematut diri. Ya ampun rasanya beda, pangling.
Mungkin ada yang bertanya dari mana aku bisa berias? Sebelum aku menikah dengan Mas Elang, aku bekerja di sebuah Supermarket besar di kota ini di bagian pangawasan gudang. Aku tidak terlalu dituntut dandan menor, hanya riasan biasa. Cukup alas bedak, bedak padat, dan lipstik.
Namun, sejak menikah dengan Mas Elang, justru Mas Elang menuntutku untuk resign dari kerja dan menuntutku agar selalu tampil cantik meskipun saat berada di dalam rumah.
Meskipun Mas Elang melimpahkan urusan rumah padaku setelah Bi Ijah keluar, namun dia menekankan bahwa, "kamu harus tetap menjaga penampilanmu meskipun di dalam rumah," tegasnya tempo hari.
Dari sana aku mulai belajar tutorial Make up dari berbagai Youtuber terkenal maupun yang biasa, sebab Mas Elang tidak mengijinkan aku untuk mengikuti kelas kursus kecantikan. Meskipun demikian, hasil belajarku di YouTube tidak buruk. Selain gratis, belajarnya semau kita, tinggal download saja dari YT, asal kuota data cukup.
Mas Elang masih menatapku tajam, entah kagum atau bagaimana. Aku kurang PD lalu tersipu malu kedapatan tengah mematut diri berlenggok sedikit di depan cermin.
"Cantik..., pantas mendampingi Mas malam ini!" pujinya tapi datar.
POV Elang.
Nada tengah berlenggok di depan cermin setelah riasannya dirasa cukup. Memang cantik wanita yang ku nikahi dua bulan yang lalu itu. Selain masih muda, dia nampak fresh dan tidak membosankan jika ada yang melihat. Aku pilihkan gaun yang dulu aku belikan, gaun dibawah lutut lengan panjang merah marun senada dengan kemeja yang aku pakai.
Setelah aku bercerai dengan mantan istriku 3 tahun yang lalu, hanya perempuan di hadapanku inilah yang mampu meluluhkan hatiku yang sempat beku.
"Pantaslah untuk mendampingi aku malam ini keluar bersama Sya," gumanku dalam hati.
Nilai lebih lain yang dimiliki perempuan ini adalah, dia dekat dengan Sya dan nampak sayang banget dengan Sya, dan aku yakin kasih sayang Nada untuk anakku tulus.
PPV end
"Papa... Bunda ayokkk.... Sya sudah pegal ni! kalian, jadi tidak makan malamnya?" celoteh Sya membuyarkan lamunan kami.
"Ayokk... sayang, Papa sudah siap. Bunda juga!" jawab Mas Elang.
20.00 pm, Restoran Siap Saji Ramen
Restoran ini yang dipilih Sya, sesuai maunya dia. Sya katanya ingin makan Ramen. Walau sebetulnya restoran ini tidak saja menjual Ramen sebagai menu utamanya, ada menu ayam bakar dan lain sebagainya. Tadinya aku pikir, Mas Elang akan membawa kami ke salah satu restorannya. Berhubung Sya ingin makan Ramen, jadilah kami sekarang di sini.
Sya, nampak bahagia. Dia duduk menempati kursi yang ada. Mas Elang membantu Sya duduk yang nyaman menghadap meja.
Mas Elang segera memesan makanan pada pelayan yang menghampiri kami.
Saat Mas Elang duduk menunggu sambil memainkan HPnya, aku sekilas mencuri pandang dengan ujung mataku.
"Tampan....!" pujiku dalam hati. Makin berdesir rasanya jantung ini melihat ketampanan paripurna sang Dewa Asmara di hadapanku ini.
Pesanan telah datang, pelayan dengan ramah mempersilahkan pesanan kami untuk segera dinikmati.
"Sikahkan Pak, Bu...!" ucapnya seraya meninggalkan meja kami.
"Terimakasih...!" ucapku ramah.
Sya menyantap pesanan Ramennya dengan lahap dan suka cita. Bocah ini sudah pandai makan sendiri tanpa harus disuapi. Salut dengan kemandirian Sya. Jika benar apa yang Bi Narti katakan bahwa sifat baik itu menurun dari Mas Elang, jujur aku merasa bangga dan terharu.
Seorang lelaki yang ditinggal istrinya pergi dengan cara tak layak, tapi masih bisa merawat anaknya dengan baik dan mendidiknya dengan baik pula. Aku masih belum percaya akan hal ini sebetulnya, namun fakta yang terlihat memang seperti itu.
"Sya, jangan buru-buru dong sayang makannya!" peringatku yang melihat saos tomat belepotan di dagunya. Segera aku mengelapnya. Ahhh, muka belepotan saja Sya masih sangat imut menggemaskan. Membuat aku makin sayang sama Sya.
"Ayo minum dulu Sya jus wortelnya, ini kesukaan Sya, bukan?" kataku sambil mendekatkan gelas jus milik Sya. Entah kenapa Sya suka banget dengan jus, terutama jus non buah seperti jus wortel, jus sawi, dan timun. Agak aneh memang untuk ukuran anak seumuran Sya.
Tanpa terduga, dari arah yang tidak aku ketahui, tiba-tiba seorang wanita dewasa menyenggol kami, tepatnya menyenggolku. Entah sengaja atau tidak, sehingga membuat tubuhku oleng dan menimpa Sya yang sedang meminum jus wortelnya.
"Ya ampun....!" pekikku terkejut. Sya terbatuk-batuk, jus wortel yang tadi diminumnya kini gelasnya berubah posisi mengenai hidungnya dan oleng. Sebagian isi jus nampak mengenai hidungnya, jangan-jangan sudah masuk kedalam lubang hidung sehingga Sya terbatuk-batuk.
Dengan cepat ku tangkap gelas jus yang hampir saja jatuh itu, sehingga tidak jatuh dan mengenai Sya.
Mas Elang yang hampir menyudahi makannya, terlonjak dari tempat duduknya, dia nampak kaget dan geram dengan kejadian yang tidak kami duga-duga ini.
Sementara aku sibuk membersihkan mulut dan hidung Sya yang terkena tumpahan jus, spontan aku sangat geram dan berbalik ke arah wanita yang menyenggol kami tadi.
"Anda tidak melihat apa, di depan Anda ada meja yang ada penghuninya. Lihat anak saya, kesakitan karena ulah Anda!" sentakku sangat geram.
"Bunda....!" panggil Sya setengah menjerit. Aku segera fokus kembali dengan Sya, kayaknya Sya hidungnya kesakitan gara-gara jus tadi. Aku berinisiatif membawa Sya ke toilet restoran untuk menangani dan membersihkan Sya.
Nampak Mas Elang mendekat ke arah perempuan tadi, mukanya nampak diliputi marah. Aku segera membawa Sya ke toilet tanpa menunggu lama.
Di toilet, Sya menangis sambil mengeluh hidungnya sakit. Aku berusaha membersihkan jus yang mengenai hidung dan sedikit kena bajunya. Tiba-tiba hidung Sya mengeluarkan darah, Sya langsung mimisan. Aku panik, bingung dan hampir putus asa, beruntung di sana ada Ibu-ibu yang melihat dan iba melihat Sya kesakitan dan mimisan. Ibu-ibu itu membantu aku memberi banyak tisu untuk menghentikan darah di hidung Sya.
"Jangan menunduk Nak, usahakan tengadah!" ucapnya. "Mbak, ditahan kepala anaknya supaya jangan menunduk!" peringat Ibu-ibu yang umurnya sekitar setengah abad itu penuh perhatian.
Sekitar 15 menit Sya kami tangani, aku dan Ibu-ibu paruh baya itu saling bekerja sama berusaha menghentikan mimisan Sya. Aku bersyukur bertemu Ibu-ibu itu, saat panik beliau membantuku. Dari penampilannya beliau nampak seperti dari kalangan kelas menengah ke atas, seperti Ibu-ibu sosialita jaman sekarang.
"Bu, saya ucapakan terimakasih atas bantuannya!" ucapku seraya menangkup kedua tangan.
"Tidak apa-apa, itu sudah kewajiban kita membantu sesama. Oh iya, jika mimisannya masih berlanjut, coba diberi daun sirih yang dipintal lalu masukkan ke lubang hidung anaknya." balasnya sambil membungkuk meraih bahu Sya.
Rupanya resep obat tradisional yang disarankan Ibu ini, sama dengan resep yang selalu almarhumah Ibuku berikan dulu saat masih hidup.
"Anak bujangnya tampan ya, menggemaskan. Salim sama Oma!" ucap Ibu-ibu itu sambil meraih jemari Sya, lalu dengan pintarnya Sya langsung mencium punggung tangan Ibu-ibu itu yang menyebutnya "Oma" pada Sya. Aku tersenyum senang melihat adegan itu.
"Ayok... kita keluar, kebetulan saya masih ada acara, saya duluan ya Mbak!" ajaknya berpamitan seraya mengelus pundakku.
Aku tersenyum dan mengangguk lalu segera keluar dari toilet tersebut sambil menggendong Sya yang tiba-tiba manja.
Aku sampai lupa menanyakan nama Ibu tersebut, saking masih merasa panik dengan kejadian Sya tadi.
Beberapa langkah menuju meja kami, aku mendengar keributan seperti dua orang yang bertengkar.
"Kamu menyakiti anakmu sendiri, jangan harap kamu bisa menemuinya lagi. Kejadian ini cukup membuktikan bahwa kamu sama sekali tidak pantas menjadi Ibu bagi Sya!" tegas Mas Elang marah pada wanita dewasa yang tadi menyenggol aku. Aku tertegun dan berpikir, mungkinkah wanita ini Ibunya Sya.
"Aku akan merebutnya darimu Elang Perkasa!" tandasnya.
"Ayo sayang, bawa Sya ke mobil!" ujar Mas Elang kepadaku sambil berjalan menuju kami dan meraih pundakku lalu menariknya tanpa menoleh sedikitpun pada wanita itu. Mas Elang berjalan sangat cepat dengan muka yang sangat marah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
Dewi Ratnawati
Bukannya kl mimisan nggak boleh ditengadahin?khawatir darahnya masuk ke menutupi saluran napas apa ya kl gak salah aku pernah baca
2023-04-26
2
💞Nia Kurnaen💞
Oh...Elang trauma mungkin,takut kehilangan lg...jd sangat posesif...hmm...ibunya sya tega.
2023-03-14
1
☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ
ternyata ibunya sya...
kesan pertama sudah menjengkelkan, hufft 🤧🤧😤😤😤
2022-12-08
1