Perjumpaan Dua Sahabat

Seperginya Mbak Mayang dari villa Mas Elang, Aku segera menghampiri Mas Elang yang nampak berbincang dengan salah satu Polisi, pembicaraan nya nampak serius. Tidak lama dari itu, Polisi tersebut berpamitan dan berlalu dengan mobil ambulans khas Kepolisian. Mas Elang menatap kepergian mobil polisi sampai menghilang.

Aku mendekat begitu Polisi tersebut berlalu. Mas Elang nampak sedikit meringis.

"Mas, ada yang terluka?" tanyaku cemas sambil memeriksa sekujur tubuhnya. Aku dapati luka bared di sikunya, mungkin gesekan siku entah dengan apa. Lalu Aku melihat Mas Elang mengusap kepala bagian belakangnya.

"Ayo Mas ke ruang tamu, biar Aku kompres lukanya," ucapku seraya menarik Mas Elang ke ruang tamu. Aku sebetulnya sangat sedih dengan keadaan ini, melihat Mas Elang yang begitu terluka atas tingkah Mbak Mayang, terlebih sekarang Mbak Mayang datang lagi merecoki Mas Elang. Aku merasakan luka hati Mas Elang yang belum sembuh makin menganga. Yang kedua sedih melihat kenyataan, bahwa Sya mempunyai ibu kandung yang begitu ambisius.

Aku dibantu Bi Narti menyiapkan air dingin untuk mengompres luka di sikunya. Mas Elang menghindar, tangannya terangkat memberi kode supaya Aku jangan mengompres. Aku tidak membantah, Aku tunggu sampai Mas Elang mau. Ku lihat Mas Elang duduk dengan wajah ditekuk menatap ke bawah, dia termenung, kaki diselonjorkan dengan tarikan nafas yang cepat. Hatiku sakit melihat keadaan Mas Elang seperti ini.

Mas Elang meraih kompres yang berada di baskom kecil lalu diperasnya, dan dia kompres sendiri. Dia tidak mau menerima bantuanku untuk mengompres.

Setelah selesai mengompres sendiri, Mas Elang berdiri dan merapikan sejenak kemejanya yang sedikit kusut.

"Aku pergi dulu, titip Sya. Jaga dia baik-baik!" titahnya dengan tatapan yang dingin dan menusuk. Aku menatapnya cemas, lalu bertanya, "Mas, mau kemana? Ini sudah malam, Aku takut terjadi apa-apa?"

Mas Elang tidak menjawab, dia hanya menatapku dengan tatapan yang dingin dan menusuk seperti tadi.

"Mang Udin...! Bi Neri..., saya pergi dulu. Titip anak dan istri saya!" ucapnya seraya beranjak meninggalkan Aku yang cemas dan bingung.

"Hati-hati Mas, dimanapun kamu berada semoga selalu dalam lindunganNya," batinku berdoa.

Seperginya Mas Elang, Aku segera masuk ke dalam kamar. Disana Sya masih tertidur pulas. Kutatap lekat wajah tampan pewaris Mas Elang itu, begitu syahdu dan tenangnya raut wajah bocah kesayanganku itu. Tidak terasa air mataku jatuh saat kutatap lekat wajah polos tak berdosa di hadapanku ini. Betapa malangnya nasib bocah ini. Kedua orang tuanya bercerai berai, dan kini hubungannya tidak membaik.

"Tapi Bunda tidak akan membiarkan Sya merasa kekurangan kasih sayang, sebab Bunda akan memberikan kasih sayang itu seperti Bunda menyayangi anak kandung." Tekadku dalam hati.

Sudah jam 12 malam, namun Mas Elang belum datang juga. Aku begitu khawatir, lalu Aku mencoba meneleponnya. Namun Hapenya tidak aktif. Aku gelisah dan hati tidak tenang. Dalam perasaan gelisah, akhirnya Aku tertidur saking lelah dan ngantuknya.

Saat Subuh menjelang Aku terbangun, namun Mas Elang belum kudapati di sisiku. Aku mendesah cemas. Segera Aku ke kamar mandi membersihkan diri dan berwudhu. Dalam sholatku, tidak lupa Aku memohonkan doa untuk keselamatan Mas Elang suami yang sangat Aku cintai.

Jam 7 pagi, orang yang kunantikan datang. Mas Elang datang dengan wajah yang lelah dan kusam. Aku menyambutnya hangat, kurangkul tangannya lalu ku ajak ke kamar untuk mandi di kamar mandi dalam.

"Mas... begitu lelah. Mandi dulu ya!" ajakku sambil menarik lengannya. Mas Elang mengikuti langkahku, namun wajahnya begitu dingin. Biasanya menyapa Sya, namun kali ini tidak sama sekali.

"Papah...!" sapa Sya saat melihat Mas Elang masuk kamar mandi. Aku menghampiri Sya dan mengajak Sya keluar kamar, setelah Aku menyiapkan pakaian Mas Elang di atas kasur.

Aku dan Sya tengah menunggu kedatangan Mas Elang di meja makan, namun Mas Elang tak kunjung datang, terpaksa Aku menghampirinya menuju kamar. Di kamar tidak ada, rupanya Mas Elang sedang di balkon menerima telpon dari seseorang.

"Ok Mas Bintang, siang nanti Aku tunggu kedatangannya. Ini hari Minggu kan, pasti libur tidak ada agenda. Pejabat rakyat juga manusia perlu liburan, masa ngurus rakyat terus! Hahahah....!" tawa Mas Elang menggema mengakhiri perbincangannya di telpon dengan seseorang.

"Mas....!" sapaku ragu saat Mas Elang menutup telponnya. Mas Elang menatapku. Lalu dia berjalan perlahan mendekat. Dan tiba-tiba memelukku begitu erat.

"Nada... jangan pernah tinggalkan Mas dan Sya, Mas mohon!" ucapnya disela pelukannya. Aku perlahan mengurai pelukan Mas Elang, ku tatap lekat mata Elang yang tiba-tiba sendu itu.

"Mas, selama Mas menginginkan Nada di samping Mas Elang, maka Nada tidak akan pernah meninggalkan Mas dan Sya, itu janji Nada Irama!" tegasku.

Mas Elang menatap kedua manik mataku mencari sebuah kesungguhan. Karena disitu memang ada kesungguhan, lalu guratan senyum itu perlahan mengembang dari bibir Mas Elang. Kemudian Mas Elang merangkulku kembali diiringi usapan lembut di rambutku.

"Ayo kita sarapan pagi, Mas sudah lapar nih!" ajaknya sembari menarik tanganku.

"Halo Sya..., jagoan Papa sudah menunggu lama ya? Kasihan....!" sapanya diakhiri ejekan mesra seraya mengusap lembut rambut Sya yang sudah digolf.

"Papah..., rambut Sya jadi kusut lagi. Ini sudah digolef sama Bunda!" protesnya tidak senang. "Haduh... anak Papa, marah ya? Nanti habis sarapan minta golf lagi sama Bunda." ujarnya.

Perdebatan kecil disaat sarapan, berlangsung sampai sarapan selesai. Mas Elang tidak biasanya begitu hangat saat di meja makan, membuat suasana tambah ceria.

Setelah sarapan, Sya ku ajak berenang di kolam renang belakang villa. Aku kagum dengan villa milik Mas Elang ini, ada fasilitas kolam renang yang bisa menyenangkan anak-anak. Sya begitu senang dan menikmati aktifitas berenangnya.

Jam makan siang tiba, Mas Elang kedatangan tamu. Bi Narti mengatakan bahwa tamunya Mas Elang adalah tamu penting. Bi Narti dan Pak Udin serta pelayan di restoran ikut sibuk menyiapkan jamuan makan siang di ruang makan villa. Aku ingin membantu, namun Mas Elang melarang.

"Cukup awasi mereka dan Sya!" ucapnya.

"Dan jangan lupa, dandan yang pantas!" peringatnya.

Tamu yang ditunggu Mas Elang datang, Aku tidak tahu siapa tamu penting yang dimaksud Bi Neri.

"Selamat datang Mas Bintang, apa kabar? Semakin berwibawa saja?" sapa Mas Elang pada tamunya yang disapa Mas Bintang tersebut sambil berpelukan. "Mari, mari, kita langsung ke meja makan saja," ajaknya begitu akrab. Tamu tersebut menuju meja makan sesuai arahan Mas Elang.

"Halo Sya... apa kabar kesayangan Om?" tamu itupun menyapa Sya sok akrab. Sya meraih rangkulan Mas Bintang tanpa ragu. Keakraban mereka kelihatannya begitu kental. Kemudian tamu tersebut melihat ke arahku dan ku sambut dengan senyuman ramah seraya mengatupkan kedua tanganku tanda perkenalan diri.

"Nada....," ucapku.

"Bintang, sebut saja Mas Bintang seperti yang suami Anda lakukan!" Ucapnya memperkenalkan diri.

Aku seakan diiingatkan dengan wajah ini saat pemilihan Walikota kota ini tahun kemarin. Apakah benar? Kemudian Aku mencoba bertanya.

"Pak Bintang Negara, bukan?" ujarku spontan setengah bertanya.

"Betul sekali, tapi disini jangan terlalu formal. Panggil saja saya Mas Bintang, atau Kak Bintang juga boleh!" ucapnya memperingatkan.

"Oh iya, Terimakasih Kak Bintang... silahkan dinikmati jamuan makan siangnya, tidak sangka saya bisa bertemu dengan pejabat negara," ucapku mempersilahkan.

Jamuan makan siang yang disertai obrolan ringan dan celotehan Sya, akhirnya selesai. Mas Elang melanjutkan obrolan santai mereka di ruang tamu, tanpa melibatkan Aku. Aku tidak masalah, sebab Aku merasa tidak punya kepentingan khusus apabila bergabung dengan mereka.

POV Penulis

Elang dan Bintang dua sahabat beda profesi itu, kini terlibat pembicaraan serius.

"Gimana Bro usaha restomu ini, masih direcoki mantan istrimu?"

"Itu dia Mas, semalam dia datang kesini dengan tujuan ingin merebut Sya dan resto ini. Jika tidak, dia mengancam akan menghancurkan usahaku ini sehancur-hancurnya. Padahal kurang gimana, hartaku yang sudah dia ambil melebihi resto ini. Tapi, masih saja dia menginginkan resto ini. Kayanya dia benar-benar ingin melihat hidupku hancur," jelas Elang emosi.

"Tenang Bro, tenangkan dirimu dan emosimu. Tidak perlu terbawa oleh permainannya. Kita main cantik saja. Masmu ini kenal siapa suaminya, kalau dia macam-macam dan mencelakai orang lain, tidak hanya Polisi yang bergerak, suaminya juga akan Aku beritahu. Kau tahu Masmu ini siapa, setiap rakyatnya di kota ini yang merasa terganggu stabilitas keamanannya, maka akulah orang pertama yang akan turun," terangnya.

"Aku tidak butuh dekeng atau beking Bro, namun aku butuh perlindungan jika sewaktu-waktu aku dapat masalah di kota ini atas usahaku. Mengingat sifat mantan istriku yang penuh obsesi,".

"Jangan khawatir Bro, bukan sebagai dekeng atau beking, aku ini penguasa kota ini. Setiap warganya yang merasa terancam pasti akan dilindungi, kan ada Polisi kenapa harus takut? Terlebih kamu bro, sebagai sahabat dan adik kelas yang taat pajak dan kewajiban-kewajiban lainnya pada negara, Insya Allah aman dari gangguan. Aku jamin itu," tekannya menenangkan hati Elang.

Elang sedikit lega dengan pernyataan sahabat sekaligus kakak kelasnya itu. Dulu ketika jaman sekolah SMA mereka sama-sama aktif di Paskibra dan OSIS. Bintang yang satu tingkat diatasnya, masih menjabat ketua OSIS saat itu sampai dia lulus dari SMA, tidak lama dari itu Elang terpilih menjadi ketua OSIS tahun berikutnya mengikuti jejak sahabatnya sekaligus Kakak kelasnya itu. Rupanya, persahabatan mereka berlanjut sampai sekarang. Sampai terjalin begitu baik.

Bintangpun berpamitan pada Elang saat mereka menyudahi perjumpaannya itu.

"El, calling, calling jika ada masalah," ujarnya sebelum beranjak pergi meninggalkan hunian villa milik Elang.

Terpopuler

Comments

Anwa

Anwa

Ih gemes elang dodol

2025-03-20

1

anggita

anggita

mas elang😘🦅

2023-01-25

0

💞Amie🍂🍃

💞Amie🍂🍃

kepooo

2022-12-31

2

lihat semua
Episodes
1 Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2 Sya Merajuk
3 Insiden Makan Malam
4 Sya Deman
5 Sonia Menginap
6 Kepergok Pengganggu
7 Alasan Kenapa Ibu Benci
8 Keluar Kota
9 Ancaman Mayang
10 Perjumpaan Dua Sahabat
11 Permohonan yang Berulang
12 Ketahuan Ibu
13 Bertemu Mbak Marisa
14 Kemarahan Mas Elang
15 Kedatangan Mbak Marisa
16 Ghibah di Arisan Ibu
17 Di Pernikahan Marisa
18 Kemarahan Mas Elang
19 Pergi dari Rumah
20 Karena Sya
21 Kecanggungan
22 Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23 Kamu Milikku Jauh Segalanya
24 Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25 Kedatangan Mbak Marisa
26 Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27 Bukti Cinta
28 Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29 Saat Mas Elang Pergi
30 Kejutan buat Elang
31 Pantesan Batagornya Kurang Enak
32 Disanjung lalu Dihempaskan
33 Merajuk ke Rumah Bapak
34 Itu Rencana Licik Mayang
35 Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36 Tuduhan Ibu
37 Jangan Berkata Kasar pada Mama
38 Terkuak
39 Terbuai Diantara Rasa Kesal
40 Mayang Datang
41 Mencari Sya
42 Menemui Tuan Zulfikar
43 Meyakinkan Tuan Lalim
44 Sya Kembali
45 Perjuangan Ibu Sambung
46 Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47 Hadiah Permintaan Maaf
48 Hasrat Dalam Mimpi
49 Ke Rumah Ibu
50 Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51 Kembali lagi ke Rumah
52 Pertengkaran
53 Pertengkaran 2 (Pergi)
54 Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55 Mulai Mencari Nada
56 Mencari Nada
57 Insiden....
58 Sya Masuk Rumah Sakit
59 Firasat
60 Menjemput Nada
61 Bertemu Nada
62 Candle Light Dinner
63 Sebagai Kewajiban Istri
64 Ketika Mas Elang Pergi
65 WA dari Mas Elang
66 Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67 Hamil dan Keguguran
68 Rasa Bersalah
69 Pulang dari Rumah Sakit
70 Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71 Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72 Trauma dengan Perkataan Ibu
73 Masih Negatif
74 Pura-pura tidak Melihat Ibu
75 Bertemu Teman Masa Kecil
76 Tangisan dan Penyesalan Nada
77 Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78 Tespek
79 Mama Masuk RS
80 Mengetahui Ibu Sakit
81 Sikap Ibu
82 Mendadak Sensitif dan Cengeng
83 Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84 Gelagat Ibu
85 Ulah Ibu Lagi
86 Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87 Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88 Kedatangan Elang
89 Mengajak Pulang
90 Penolakan Nada
91 Nasihat Bapak
92 Pulang
93 Adik yang Paling Membela
94 Kerinduan Mas Elang
95 Menjenguk Ibu
96 Bisikan Bu Sri
97 Rujak Cinta di Pagi Hari
98 Harus Mandiri
99 Nada Masuk Klinik
100 Morning Sickness
101 Sandiwara Nada
102 Watak Elang
103 Ingin Dimanja
104 Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105 Kecewa di Taman Bahagia
106 Ada Apa Dengan Ibu
107 Kenangan Pahit Mas Elang
108 Sama-sama Meminta Maaf
109 Membujuk Sya
110 Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111 Kepercayaan buat Nada
112 Bertemu Sonia
113 Perubahan Sikap Ibu
114 Obrolan Romantis Vidio Call
115 Surprise dari Elang
116 Menonton ke Bioskop
117 Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118 Keputusan dan Kesepakatan
119 Kabar dari Marisa
120 Marisa Melahirkan
121 Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122 Bertemu Mayang
123 Kemarahan Tuan Zul
124 Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125 Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126 Liburannya Diluar Kota
127 Pembukaan Nada Studio
128 Elang yang Merajuk
129 Arwana dan Hantu Cantik
130 Kumbang dan Bunga
131 Bali
132 Tiba di Penginapan
133 Launching Homestay n Cafe
134 Malam Indah dan Panjang di Homestay
135 Panggilan dari Masa Lalu
136 Kembali Pulang
137 Kesembuhan Ibu Sri
138 Bertemu Teman Bisnis
139 Mencari Nama Bayi
140 Oase di Tengah Padang Pasir
141 Tanda-tanda Melahirkan
142 Melahirkan 1
143 Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144 Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145 Malam Yang Penuh Hasrat
146 Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147 Promosi Novel Baru....
148 Promosi Karya Baru
149 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 149 Episodes

1
Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2
Sya Merajuk
3
Insiden Makan Malam
4
Sya Deman
5
Sonia Menginap
6
Kepergok Pengganggu
7
Alasan Kenapa Ibu Benci
8
Keluar Kota
9
Ancaman Mayang
10
Perjumpaan Dua Sahabat
11
Permohonan yang Berulang
12
Ketahuan Ibu
13
Bertemu Mbak Marisa
14
Kemarahan Mas Elang
15
Kedatangan Mbak Marisa
16
Ghibah di Arisan Ibu
17
Di Pernikahan Marisa
18
Kemarahan Mas Elang
19
Pergi dari Rumah
20
Karena Sya
21
Kecanggungan
22
Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23
Kamu Milikku Jauh Segalanya
24
Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25
Kedatangan Mbak Marisa
26
Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27
Bukti Cinta
28
Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29
Saat Mas Elang Pergi
30
Kejutan buat Elang
31
Pantesan Batagornya Kurang Enak
32
Disanjung lalu Dihempaskan
33
Merajuk ke Rumah Bapak
34
Itu Rencana Licik Mayang
35
Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36
Tuduhan Ibu
37
Jangan Berkata Kasar pada Mama
38
Terkuak
39
Terbuai Diantara Rasa Kesal
40
Mayang Datang
41
Mencari Sya
42
Menemui Tuan Zulfikar
43
Meyakinkan Tuan Lalim
44
Sya Kembali
45
Perjuangan Ibu Sambung
46
Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47
Hadiah Permintaan Maaf
48
Hasrat Dalam Mimpi
49
Ke Rumah Ibu
50
Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51
Kembali lagi ke Rumah
52
Pertengkaran
53
Pertengkaran 2 (Pergi)
54
Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55
Mulai Mencari Nada
56
Mencari Nada
57
Insiden....
58
Sya Masuk Rumah Sakit
59
Firasat
60
Menjemput Nada
61
Bertemu Nada
62
Candle Light Dinner
63
Sebagai Kewajiban Istri
64
Ketika Mas Elang Pergi
65
WA dari Mas Elang
66
Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67
Hamil dan Keguguran
68
Rasa Bersalah
69
Pulang dari Rumah Sakit
70
Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71
Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72
Trauma dengan Perkataan Ibu
73
Masih Negatif
74
Pura-pura tidak Melihat Ibu
75
Bertemu Teman Masa Kecil
76
Tangisan dan Penyesalan Nada
77
Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78
Tespek
79
Mama Masuk RS
80
Mengetahui Ibu Sakit
81
Sikap Ibu
82
Mendadak Sensitif dan Cengeng
83
Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84
Gelagat Ibu
85
Ulah Ibu Lagi
86
Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87
Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88
Kedatangan Elang
89
Mengajak Pulang
90
Penolakan Nada
91
Nasihat Bapak
92
Pulang
93
Adik yang Paling Membela
94
Kerinduan Mas Elang
95
Menjenguk Ibu
96
Bisikan Bu Sri
97
Rujak Cinta di Pagi Hari
98
Harus Mandiri
99
Nada Masuk Klinik
100
Morning Sickness
101
Sandiwara Nada
102
Watak Elang
103
Ingin Dimanja
104
Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105
Kecewa di Taman Bahagia
106
Ada Apa Dengan Ibu
107
Kenangan Pahit Mas Elang
108
Sama-sama Meminta Maaf
109
Membujuk Sya
110
Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111
Kepercayaan buat Nada
112
Bertemu Sonia
113
Perubahan Sikap Ibu
114
Obrolan Romantis Vidio Call
115
Surprise dari Elang
116
Menonton ke Bioskop
117
Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118
Keputusan dan Kesepakatan
119
Kabar dari Marisa
120
Marisa Melahirkan
121
Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122
Bertemu Mayang
123
Kemarahan Tuan Zul
124
Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125
Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126
Liburannya Diluar Kota
127
Pembukaan Nada Studio
128
Elang yang Merajuk
129
Arwana dan Hantu Cantik
130
Kumbang dan Bunga
131
Bali
132
Tiba di Penginapan
133
Launching Homestay n Cafe
134
Malam Indah dan Panjang di Homestay
135
Panggilan dari Masa Lalu
136
Kembali Pulang
137
Kesembuhan Ibu Sri
138
Bertemu Teman Bisnis
139
Mencari Nama Bayi
140
Oase di Tengah Padang Pasir
141
Tanda-tanda Melahirkan
142
Melahirkan 1
143
Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144
Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145
Malam Yang Penuh Hasrat
146
Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147
Promosi Novel Baru....
148
Promosi Karya Baru
149
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!