Alasan Kenapa Ibu Benci

Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Mas Elang, entah sengaja atau bagaimana. Kejadian kepergok tengah berhubungan tadi membuat aku sangat malu, seperti tidak punya muka. Padahal setahuku, tadi sebelum kami melakukan hubungan, Mas Elang mengunci pintu terlebih dahulu. Tapi alih-alih mengaku tidak dikunci, jadi maksud Mas Elang apa?

Walau hubungan yang kami lakukan adalah hubungan sah, namun aku merasa malu setengah mati karena telah kepergok orang lain.

Aku segera bangkit, untuk membersihkan diri padahal waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Beruntung kamar mandi di kamar kami ada showernya, jadi aku tidak segan segera mandi besar saat itu juga.

"Sayang..., tidak perlu ke kamar Sya. Bi Narti sudah menemaninya, Mas sudah suruh tadi!" cegah Mas Elang menghentikan langkahku menuju pintu. "Benar Mas, Bi Narti sudah di kamar Sya?" tanyaku mencoba meyakinkan. "Sudah... tidurlah," ucapnya sambil menepuk ranjang disebelahnya. Aku patuh dan segera membaringkan tubuhku disisi Mas Elang.

Mas Elang dengan cepat memeluk tubuhku erat, padahal dia belum membersihkan diri setelah pertempuran tadi. Nyaman banget rasanya dipeluk suami saat tidur. Batinku.

Pagi-pagi sekali Ibu mertuaku sudah datang, tidak salah lagi pasti menemui Mbak Sonia perempuan yang digadang-gadang akan dijodohkan dengan Mas Elang oleh Ibu mertua.

Suara cemprengnya memenuhi seisi ruangan, Aku yang sedang berada di kamar Sya, terkejut dibuatnya.

Aku bersyukur Sya demamnya sudah sembuh, sekarang Sya sudah kelihatan membaik. Tiba-tiba Mas Elang datang menghampiri kamar Sya.

"Halo sayang, jagoan Papa.. gimana demamnya sudah sembuh?" tanya Mas Elang seraya memeluk Sya lalu memangkunya.

"Sudah dong Pah!" jawab Sya gemas. Mas Elang mencium seluruh wajah Sya begitu gemas.

"Ayo, kita ke bawah! Kita sarapan pagi dulu!" ajak Mas Elang.

Setibanya di bawah, Ibu dan Mbak Sonia tampak sudah berada di meja makan, dengan kompak mereka menatap ke arah kami, lalu yang terakhir ke arahku dengan tatapan sinis. Aku menghampiri Ibu berniat menyalaminya, namun tangannya menepis seakan sibuk menuangkan lauk nasi ke piring. Aku sedikit kaget, untuk menyembunyikan kekagetanku aku mencoba berbasa-basi.

"Ibu jam berapa dari rumah?" tanyaku. "Tolong dong Sonia sayang, sodorkan mangkuk sayur itu!" kelit Ibu. Aku yang berbasa-basi, tapi Ibu sibuk sendiri dengan Mbak Sonia. Mas Elang hanya sibuk memainkan HPnya, entah sadar atau tidak dengan situasi barusan.

"Bagaimana Mbak Sonia, tidurnya nyenyak?" Aku mengalihkan kekakuanku di depan Ibu dengan berbasa-basi pada Mbak Sonia. "Mana mungkin bisa nyenyak kalau melihat orang yang dicintainya malah dipaksa memuaskan hasrat wanita bodoh....!"

"Ibu...!" tegur Mas Elang tiba-tiba dengan suara yang meninggi, seraya meletakkan HPnya di meja. Wajahnya kini sejurus menatap lekat Ibu.

"Oh rupanya Mas Elang menyadari perbincangan kami barusan," batinku.

Ucapan Ibu barusan sejujurnya menyakiti hatiku, kejadian kepergok semalam, dengan gamblang dibahas jelas oleh sindiran Ibu. Tapi apa yang Ibu katakan tidak benar, bahwa aku yang memaksa Mas Elang untuk memuaskan hasratku. Dan yang paling menyakitkan Ibu menyebutku wanita bodoh di depan orang lain, di depan Sya serta Mas Elang yang tidak mampu membelaku di depan Ibu dan Mbak Sonia.

"Saat di meja makan tolong jangan bahas masalah lain selain makan!" tegas Mas Elang.

"Eh... Sya cucu oma, sudah sembuh sayang?" tiba-tiba Ibu menyapa Sya seakan mengalihkan pembicaraan Mas Elang. Padahal sejak tadi Sya sudah berada di meja makan.

Sebetulnya Aku merasa malas berada di meja makan ini, terlebih ada Ibu dan Mbak Sonia yang secara gamblang membahas kejadian aku kepergok semalam, itu artinya Mbak Sonia sudah menceritakan "penemuannya" pada Ibu. Alangkah malunya Aku.

"Kalau berhubungan suami istri, pintu itu dikunci. Jangan sengaja menjadikan tontonan orang lain!" sindir Ibu. Alangkah malunya Aku, rasanya muka ini pengen ditaruh jauh banget tidak disini. Terlebih perkataan Ibu tidak disaring, mengingat di meja makan ada Sya, bocah yang masih 5 tahun.

"Jadi Ibu tahu? Kenapa juga Sonia main buka pintu kamar orang yang jelas-jelas sudah beristri? Lagipula kami suami istri, jadi kenapa juga harus malu, toh bukan kami yang sengaja mempertontonkan?" tegas Mas Elang seraya menatap nyalang ke arah Mbak Sonia dan Ibu.

Untuk kali ini aku merasa Mas Elang membelaku. Acara sarapan pagi yang diawali sedikit drama akhirnya berjalan tanpa suara, namun masih menyisakan tatapan sinis dari Ibu dan Mbak Sonia padaku. Berhubung Sya baru sembuh, maka hari ini Sya masih ijin untuk tidak masuk sekolah.

Habis sarapan, Mas Elang pamit untuk ke restoran, menerima laporan keuangan dari bendahara dan asisten pribadinya. Sedangkan Ibu dan Mbak Sonia masih ingin tinggal di rumah.

Setelah Mas Elang benar-benar pergi, Ibu dan Mbak Sonia mulai menampakan taringnya. Dia sengaja melontarkan kata-kata pedas dan menghinaku di depan Sya.

"Dasar wanita murah, nikah karena mengejar harta anakku. Tidak tahunya cuma dijadikan pemuas ranjang saja. Tidak ada harganya. Masih pantas Sonia, cantik, wanita sosialita, orang kaya dan berpendidikan tinggi," hina Ibu tanpa segan.

Aku terbelalak tak menduga dengan apa yang Ibu mertuaku katakan, kasar dan tanpa saringan. Didepan anak-anak, sekali lagi berbicara dengan sangat kasar.

"Tolong Bu jangan seperti itu, bicara Ibu tidak pantas dilontarkan di depan anak dibawah 6 tahun. Ini cucu kandung Ibu lho. Apa jadinya sikapnya bisa kasar seperti Ibu, meniru Ibu. Sedangkan masa ini adalah masa emas, dia bisa jadi peniru ulung, seumpama yang kita perlihatkan tidak baik, maka dikhawatirkan akan meniru tidak baik!" ucapku membela diri sambil menahan butiran bening di pelupuk mata.

"Alah banyak omong kamu, kamu hanya cari muka. Menyayangi cucuku karena ada maunya!" tuding Ibu semakin geram.

"Nene... kenapa Nene bicaranya marah ke Bunda, lihat Bunda sampai menangis?" tegur Sya tiba-tiba. Aku yang menyadarinya, langsung membawa Sya ke atas menuju kamar Sya.

Ibu hanya menatapku jengah dan entah ngomong apa lagi dengan Mbak Sonia, yang jelas mereka terdengar ketawa-ketawa bahagia.

Berada di kamar Sya, Aku berusaha menyembunyikan tangisanku dengan beralasan ke kamar mandi. Sya bocah imut itu patuh dan menungguku di sofa, sementara Aku menangis menumpahkan segala kesedihanku atas omongan Ibu.

Aku bukan tidak tahu mengapa Ibu mertuaku begitu tidak suka padaku, Ibu tidak suka karena Aku hanyalah anak orang biasa, anak seorang tukang las dan penjual kelontong. Menurut Ibu, aku tidak sepadan dengan keluarganya yang berada. Tapi namanya cinta, bukankah tidak memandang status? Seharusnya seperti itu, tapi bagi Ibu mertuaku, status begitu penting.

Aku keluar dari kamar mandi dengan mata yang sedikit sembab. Segera Aku mengambil bedak tabur yang berada di meja rias Sya, untuk menutupi sembab di mataku dari Sya, anak sambung yang benar-benar aku sayang seperti anak kandung.

Aku menemani Sya bermain di kamarnya. Dia anteng dengan mainannya, sesekali mengajakku ikut dalam permainannya.

"Bunda, Sya ngantuk!" ucap Sya sambil menatapku sayu. Benar saja bocah imut itu matanya sudah sayu dan merah, mungkin efek obat terakhir yang tadi diberikan setelah makan, makanya Sya ngantuk. Akhirnya Akupun ikut tertidur saat Aku mengelon dan menepuk-nepuk pantat Sya.

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

dasar elang kau laki2 pecundang.

2025-03-10

1

💞Nia Kurnaen💞

💞Nia Kurnaen💞

keterlaluan ibunya elang

2023-03-14

0

☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ

☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ

bi Narti suruh menemani sya dulu, Nad... suruh bawa ke ruangan yang lain. agar sya tidak ikut mendengarkan celotehan neneknya yang nggak ngerti adab dan etika itu...

2022-12-08

0

lihat semua
Episodes
1 Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2 Sya Merajuk
3 Insiden Makan Malam
4 Sya Deman
5 Sonia Menginap
6 Kepergok Pengganggu
7 Alasan Kenapa Ibu Benci
8 Keluar Kota
9 Ancaman Mayang
10 Perjumpaan Dua Sahabat
11 Permohonan yang Berulang
12 Ketahuan Ibu
13 Bertemu Mbak Marisa
14 Kemarahan Mas Elang
15 Kedatangan Mbak Marisa
16 Ghibah di Arisan Ibu
17 Di Pernikahan Marisa
18 Kemarahan Mas Elang
19 Pergi dari Rumah
20 Karena Sya
21 Kecanggungan
22 Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23 Kamu Milikku Jauh Segalanya
24 Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25 Kedatangan Mbak Marisa
26 Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27 Bukti Cinta
28 Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29 Saat Mas Elang Pergi
30 Kejutan buat Elang
31 Pantesan Batagornya Kurang Enak
32 Disanjung lalu Dihempaskan
33 Merajuk ke Rumah Bapak
34 Itu Rencana Licik Mayang
35 Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36 Tuduhan Ibu
37 Jangan Berkata Kasar pada Mama
38 Terkuak
39 Terbuai Diantara Rasa Kesal
40 Mayang Datang
41 Mencari Sya
42 Menemui Tuan Zulfikar
43 Meyakinkan Tuan Lalim
44 Sya Kembali
45 Perjuangan Ibu Sambung
46 Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47 Hadiah Permintaan Maaf
48 Hasrat Dalam Mimpi
49 Ke Rumah Ibu
50 Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51 Kembali lagi ke Rumah
52 Pertengkaran
53 Pertengkaran 2 (Pergi)
54 Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55 Mulai Mencari Nada
56 Mencari Nada
57 Insiden....
58 Sya Masuk Rumah Sakit
59 Firasat
60 Menjemput Nada
61 Bertemu Nada
62 Candle Light Dinner
63 Sebagai Kewajiban Istri
64 Ketika Mas Elang Pergi
65 WA dari Mas Elang
66 Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67 Hamil dan Keguguran
68 Rasa Bersalah
69 Pulang dari Rumah Sakit
70 Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71 Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72 Trauma dengan Perkataan Ibu
73 Masih Negatif
74 Pura-pura tidak Melihat Ibu
75 Bertemu Teman Masa Kecil
76 Tangisan dan Penyesalan Nada
77 Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78 Tespek
79 Mama Masuk RS
80 Mengetahui Ibu Sakit
81 Sikap Ibu
82 Mendadak Sensitif dan Cengeng
83 Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84 Gelagat Ibu
85 Ulah Ibu Lagi
86 Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87 Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88 Kedatangan Elang
89 Mengajak Pulang
90 Penolakan Nada
91 Nasihat Bapak
92 Pulang
93 Adik yang Paling Membela
94 Kerinduan Mas Elang
95 Menjenguk Ibu
96 Bisikan Bu Sri
97 Rujak Cinta di Pagi Hari
98 Harus Mandiri
99 Nada Masuk Klinik
100 Morning Sickness
101 Sandiwara Nada
102 Watak Elang
103 Ingin Dimanja
104 Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105 Kecewa di Taman Bahagia
106 Ada Apa Dengan Ibu
107 Kenangan Pahit Mas Elang
108 Sama-sama Meminta Maaf
109 Membujuk Sya
110 Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111 Kepercayaan buat Nada
112 Bertemu Sonia
113 Perubahan Sikap Ibu
114 Obrolan Romantis Vidio Call
115 Surprise dari Elang
116 Menonton ke Bioskop
117 Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118 Keputusan dan Kesepakatan
119 Kabar dari Marisa
120 Marisa Melahirkan
121 Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122 Bertemu Mayang
123 Kemarahan Tuan Zul
124 Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125 Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126 Liburannya Diluar Kota
127 Pembukaan Nada Studio
128 Elang yang Merajuk
129 Arwana dan Hantu Cantik
130 Kumbang dan Bunga
131 Bali
132 Tiba di Penginapan
133 Launching Homestay n Cafe
134 Malam Indah dan Panjang di Homestay
135 Panggilan dari Masa Lalu
136 Kembali Pulang
137 Kesembuhan Ibu Sri
138 Bertemu Teman Bisnis
139 Mencari Nama Bayi
140 Oase di Tengah Padang Pasir
141 Tanda-tanda Melahirkan
142 Melahirkan 1
143 Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144 Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145 Malam Yang Penuh Hasrat
146 Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147 Promosi Novel Baru....
148 Promosi Karya Baru
149 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 149 Episodes

1
Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2
Sya Merajuk
3
Insiden Makan Malam
4
Sya Deman
5
Sonia Menginap
6
Kepergok Pengganggu
7
Alasan Kenapa Ibu Benci
8
Keluar Kota
9
Ancaman Mayang
10
Perjumpaan Dua Sahabat
11
Permohonan yang Berulang
12
Ketahuan Ibu
13
Bertemu Mbak Marisa
14
Kemarahan Mas Elang
15
Kedatangan Mbak Marisa
16
Ghibah di Arisan Ibu
17
Di Pernikahan Marisa
18
Kemarahan Mas Elang
19
Pergi dari Rumah
20
Karena Sya
21
Kecanggungan
22
Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23
Kamu Milikku Jauh Segalanya
24
Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25
Kedatangan Mbak Marisa
26
Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27
Bukti Cinta
28
Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29
Saat Mas Elang Pergi
30
Kejutan buat Elang
31
Pantesan Batagornya Kurang Enak
32
Disanjung lalu Dihempaskan
33
Merajuk ke Rumah Bapak
34
Itu Rencana Licik Mayang
35
Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36
Tuduhan Ibu
37
Jangan Berkata Kasar pada Mama
38
Terkuak
39
Terbuai Diantara Rasa Kesal
40
Mayang Datang
41
Mencari Sya
42
Menemui Tuan Zulfikar
43
Meyakinkan Tuan Lalim
44
Sya Kembali
45
Perjuangan Ibu Sambung
46
Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47
Hadiah Permintaan Maaf
48
Hasrat Dalam Mimpi
49
Ke Rumah Ibu
50
Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51
Kembali lagi ke Rumah
52
Pertengkaran
53
Pertengkaran 2 (Pergi)
54
Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55
Mulai Mencari Nada
56
Mencari Nada
57
Insiden....
58
Sya Masuk Rumah Sakit
59
Firasat
60
Menjemput Nada
61
Bertemu Nada
62
Candle Light Dinner
63
Sebagai Kewajiban Istri
64
Ketika Mas Elang Pergi
65
WA dari Mas Elang
66
Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67
Hamil dan Keguguran
68
Rasa Bersalah
69
Pulang dari Rumah Sakit
70
Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71
Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72
Trauma dengan Perkataan Ibu
73
Masih Negatif
74
Pura-pura tidak Melihat Ibu
75
Bertemu Teman Masa Kecil
76
Tangisan dan Penyesalan Nada
77
Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78
Tespek
79
Mama Masuk RS
80
Mengetahui Ibu Sakit
81
Sikap Ibu
82
Mendadak Sensitif dan Cengeng
83
Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84
Gelagat Ibu
85
Ulah Ibu Lagi
86
Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87
Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88
Kedatangan Elang
89
Mengajak Pulang
90
Penolakan Nada
91
Nasihat Bapak
92
Pulang
93
Adik yang Paling Membela
94
Kerinduan Mas Elang
95
Menjenguk Ibu
96
Bisikan Bu Sri
97
Rujak Cinta di Pagi Hari
98
Harus Mandiri
99
Nada Masuk Klinik
100
Morning Sickness
101
Sandiwara Nada
102
Watak Elang
103
Ingin Dimanja
104
Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105
Kecewa di Taman Bahagia
106
Ada Apa Dengan Ibu
107
Kenangan Pahit Mas Elang
108
Sama-sama Meminta Maaf
109
Membujuk Sya
110
Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111
Kepercayaan buat Nada
112
Bertemu Sonia
113
Perubahan Sikap Ibu
114
Obrolan Romantis Vidio Call
115
Surprise dari Elang
116
Menonton ke Bioskop
117
Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118
Keputusan dan Kesepakatan
119
Kabar dari Marisa
120
Marisa Melahirkan
121
Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122
Bertemu Mayang
123
Kemarahan Tuan Zul
124
Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125
Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126
Liburannya Diluar Kota
127
Pembukaan Nada Studio
128
Elang yang Merajuk
129
Arwana dan Hantu Cantik
130
Kumbang dan Bunga
131
Bali
132
Tiba di Penginapan
133
Launching Homestay n Cafe
134
Malam Indah dan Panjang di Homestay
135
Panggilan dari Masa Lalu
136
Kembali Pulang
137
Kesembuhan Ibu Sri
138
Bertemu Teman Bisnis
139
Mencari Nama Bayi
140
Oase di Tengah Padang Pasir
141
Tanda-tanda Melahirkan
142
Melahirkan 1
143
Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144
Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145
Malam Yang Penuh Hasrat
146
Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147
Promosi Novel Baru....
148
Promosi Karya Baru
149
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!