Bertemu Mbak Marisa

Tubuhku tiba-tiba bergetar dan merosot ke bawah sofa setelah Aku berpakaian lengkap kembali. Aku menangis, kecewa dan sedih tiada terkira.

Mas Elang kembali menuju sofa dan memakai kembali bajunya, dia melihatku menangis di bawah sofa. Dia meraih bahuku lalu mengangkat tubuhku.

"Ayo, kita ke kamar!" Aku ditariknya menuju kamar dengan melewati Ibu dan Mbak Sonia yang ternganga melihat kami.

"Mama pulanglah, bawa perempuan calon mantu idaman Mama itu jauh dari rumah Elang. Dan Elang tegaskan jangan injakkan kaki di rumah ini jika hanya ingin mencemooh istri Elang. Pergilah Ma!" Usir Mas Elang seraya menarik tubuhku. Ibu terbelalak mendengar ucapan Mas Elang.

"Berani kamu mengusir Mama El, demi istri jalangmu itu. Durhaka kamu Elang berbuat seperti itu pada Mama. Ini semua gara-gara perempuan miskin itu. Kamu selalu membelanya. Awas ya, kamu tidak akan aku biarkan hidup bahagia bersama Elang. Dasar sundal!" Hardik Ibu bertubi-tubi tanpa rasa malu.

"Cukup Ma, jangan sebut lagi Nada dengan sebutan kotor dari mulut Mama itu. Sekarang pergilah! Dan ingat, jangan injakkan kaki Mama disini jika hanya ingin menghina dan mencemooh Nada!" Teriak Mas Elang membelaku. Pembelaan apapun dari Mas Sakti rasanya percuma, sebab Aku sudah terlanjur sakit hati dan kecewa dengan ucapan Ibu.

"Huhhh... kamu akan menyesal Elang telah berani mengusir Mama!" Timpal Mama seraya berjingkat pergi diikuti Mbak Sonia di belakangnya.

Mas Elang membawaku ke kamar dan mendudukkan Aku di ranjang, sementara Aku masih shock dan menangis. Rasa malu ini benar-benar membuat Aku merasa hilang muka. Sudah bisa ku tebak, kejadian ini pasti akan keluar dari mulut Ibu mertua untuk disampaikan ke orang lain, entah itu teman arisannya atau teman sosialitanya.

Aku menepis saat Mas Elang mau meraih tubuhku, Aku beranjak ke kamar mandi menenggelamkan rasa sedih dan maluku.

"Sayang..., maafkan Mas!" Ucapnya di balik pintu kamar mandi.

Shower Aku nyalakan untuk meredam suara tangisku. Kali ini perkataan Ibu dan kepergok yang sengaja ditonton Ibu selama 15 menit menurut pengakuan Ibu itu, benar-benar membuat Aku semakin sedih dan terluka. Kenapa Ibu bisa tega membiarkan kejadian memalukan itu untuk sengaja ditontonnya, bukan pergi menghindar saja pura-pura tidak tahu?

Kata yang pantas apa seharusnya disematkan buat Ibu yang seperti itu? Wajarkah perbuatan anak menantunya sengaja dijadikan tontonan, yang pada akhirnya jadi bahan cemoohannya? Aku tidak habis pikir dengan sikap Ibu. Sakit hati ini.

Gedoran Mas Elang di pintu kini terdengar makin jelas, dia berteriak merayuku untuk membuka pintu, namun tidak Aku hiraukan. Akupun terlanjur marah sama Mas Elang. Kejadian kepergok yang kedua kali ini juga akibat Mas Elang yang menolak ku ajak di kamar. Tempo hari Mas Elang yang sengaja tidak mengunci pintu kamar saat Mbak Sonia yang memergoki kami. Itu kesengajaan Mas Elang, dia berpura-pura mengunci pintu, namun rupanya tidak.

Aku menjadi bingung, maksud Mas Elang apa berbuat itu? Ingin mempermalukan Aku di depan Ibu mertua dan Mbak Sonia atau apa? Aku sungguh tidak paham. Yang jelas perbuatan Mas Elang ini membuat hatiku terluka.

Satu jam sudah Aku menangis di kamar mandi, suara Mas Elang yang menggedor pintupun sudah hilang. Aku rasa Mas Elang pergi karena akan menjemput Sya pulang sekolah.

Aku segera membersihkan diri untuk mandi besar dan berwudhu. Aku harus bisa menghilangkan sembab dan bengkakku didepan Sya. Bagaimanapun Sya, tidak boleh tahu Aku sedang terluka. Tapi bagaimana Aku bisa menyembunyikan perasaan marah pada Mas Elang di hadapan Sya?

Jam 13.30 siang Sya pulang, dia nampak berlari kecil menuju tangga seraya memanggilku.

"Bunda... Bunda....!" Teriaknya, disusul Mas Elang. menuju tangga.

"Hati-hati Sya, jangan lari dong!" peringat Mas Elang lembut. Mas Elang belum menyadari bahwa Aku berada di dapur, Aku sengaja ingin menghindari Mas Elang karena Aku marah.

Mas Elang baru menyadari Aku tidak berada di atas, terlihat dia yang menuruni tangga dan menuju dapur. Aku berbalik dan berpura-pura tidak menyadarinya. Namun seketika tubuhku sudah dipeluknya dari belakang.

"Sayang, maafkan Mas. Mas salah tidak mengikuti ajakanmu untuk ke kamar. Sekali lagi Mas minta maaf. Ayolah kita ke kamar dulu, Sya menunggumu dan mencari kamu Bundanya!" Bujuk Mas Elang merayu dan meminta maaf padaku. Aku diam dan tidak menyahut ucapan Mas Elang. Kemudian Mas Elang menuntunku ke atas menaiki tangga.

"Sayang... di depan Sya, Mas mohon berpura-puralah bersikap baik terhadap Mas, demi Sya. Tolonglah." Mohonnya sungguh-sungguh.

"Bunda....!" Teriaknya sambil memelukku erat. Ya ampun... bagaimana bisa Aku menunjukkan sikap sedih, kecewa dan marah kepada Mas Elang di hadapan Sya, anak sambung yang sangat Aku sayangi. Aku balas memeluknya erat, sisa-sisa kesedihan saat tadi mendapat cemoohan dari Mama mertua perlahan terjun bebas tanpa bisa Aku tahan.

"Bunda kok menangis?" tanyanya saat menyadari Aku menangis.

"Oh... emm... Bunda menangis karena saking sayangnya Bunda sama Sya. Ayo, kita ke bawah makan siang dulu," ajakku seraya meraih tangan Sya.

Dua minggu sejak kejadian itu, sikapku pada Mas Elang sedikit dingin dan Mas Elang menyadarinya. Bagaimana tidak, perkataan Ibu yang sangat pedas waktu itu. sungguh masih terngiang-ngiang di telinga.

Entah bagaimana awalnya, Ibu yang sejak kejadian kami dipergoki melakukan "itu" di ruang tengah belum pernah ke rumah Mas Elang lagi, tiba-tiba datang dan memohon pada Mas Elang untuk tidak mengusirnya. Katanya Ibu kangen pada Sya. Mas Elang termakan rayuannya, sehingga Ibu dibiarkan kembali leluasa berada di rumah ini semaunya. Semoga saja untuk kali ini Ibu benar-benar berubah menjadi Ibu mertua yang baik, harapku.

Besoknya, saat Mas Elang sudah mengantar Sya sekolah. Ibupun pergi. Sikapnya di depan Mas Elang kini sedikit ada perubahan. Tidak lagi ceplas ceplos menyindirku, namun di belakang Mas Elang masih saja sinis dan menatapku dengan tidak bersahabat. Tapi Aku tidak peduli, Aku memang terlanjur sakit dengan omongan Ibu, sehingga sikapku menjadi sedikit dingin terhadapnya.

Waktu menunjukkan pukul 9.30 WIB, tiba-tiba telpon WAku berdering. Aku dengan santai mengambil HPku dan melihat siapa yang menelpon, tumben banget. Rupanya Mbak Risa, sepupunya Mas Elang sekaligus mantan Supervisorku saat Aku bekerja dulu di Supermarket kenamaan di kotaku.

"Assalamu'alaikum! Iya Mbak Risa, tumben nelpon. Ada angin apa nih?" [Aku]

"Iya nih Nad, Mbak kangen pengen ketemu kamu sambil ada hal yang mau Mbak sampaikan. Kamu bisa datang tidak ya?" [Mbak Risa]

"Kurang tahu Mbak, Nada harus minta ijin dulu sama Mas Elang. Nada juga kangen pengen ketemu Mbak Risa." [Aku]

"Minta ijinlah dulu, kalaupun kamu pergi Kak El pasti tidak akan marah, sebab kamu akan ketemuan sama Mbak." [Mbak Risa]

"Ya udah deh, Nada ijin dulu sama Mas Elang. Mbak mau janjiannya dimana?" [Aku]

"Ditempat biasa, di Kafe samping Supermarket" [Mbak Risa]

"Ok deh Mbak, ditunggu ya!" [Aku]

Kamipun mengakhiri sambungan telpon. Aku seger menghubungi Mas Elang, meskipun Aku masih bersikap dingin pada Mas Elang, namun untuk urusan pergi, wajib minta ijin terlebih dahulu. Telpon rupanya tidak diangkat, lalu Aku mengirimkan pesan WA. Tanpa menunggu pesanku dibalas, Aku bersiap-siap akan pergi menemui Mbak Risa. Tidak lupa Aku pamit pada Bi Narti.

Saat ojek onlineku sudah sampai di tempat janjian kami. Akhirnya Aku bertemu Mbak Risa setelah berbulan-bulan tidak bertemu. Kami saling melepas rindu. Dan ada kabar yang menggembirakan, rupanya Mbak Risa akan segera menikah. Dia memberikanku surat undangan pernikahan. Aku turut bahagia mendengarnya. Setelah kami puas melepas kangen dan makan yang ditraktir Mbak Risa, kami mengakhiri perjumpaan kami. Dan Aku kembali ke rumah dengan menggunakan ojek online lagi.

Terpopuler

Comments

Diana Safitri

Diana Safitri

mertua nggak ada akhlak 🤣🤣🤣

2022-12-15

2

Lena Sari

Lena Sari

nada wanita tangguh,hebat.

2022-11-10

1

🤗🤗

🤗🤗

bagus, tegas.

2022-10-03

1

lihat semua
Episodes
1 Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2 Sya Merajuk
3 Insiden Makan Malam
4 Sya Deman
5 Sonia Menginap
6 Kepergok Pengganggu
7 Alasan Kenapa Ibu Benci
8 Keluar Kota
9 Ancaman Mayang
10 Perjumpaan Dua Sahabat
11 Permohonan yang Berulang
12 Ketahuan Ibu
13 Bertemu Mbak Marisa
14 Kemarahan Mas Elang
15 Kedatangan Mbak Marisa
16 Ghibah di Arisan Ibu
17 Di Pernikahan Marisa
18 Kemarahan Mas Elang
19 Pergi dari Rumah
20 Karena Sya
21 Kecanggungan
22 Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23 Kamu Milikku Jauh Segalanya
24 Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25 Kedatangan Mbak Marisa
26 Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27 Bukti Cinta
28 Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29 Saat Mas Elang Pergi
30 Kejutan buat Elang
31 Pantesan Batagornya Kurang Enak
32 Disanjung lalu Dihempaskan
33 Merajuk ke Rumah Bapak
34 Itu Rencana Licik Mayang
35 Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36 Tuduhan Ibu
37 Jangan Berkata Kasar pada Mama
38 Terkuak
39 Terbuai Diantara Rasa Kesal
40 Mayang Datang
41 Mencari Sya
42 Menemui Tuan Zulfikar
43 Meyakinkan Tuan Lalim
44 Sya Kembali
45 Perjuangan Ibu Sambung
46 Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47 Hadiah Permintaan Maaf
48 Hasrat Dalam Mimpi
49 Ke Rumah Ibu
50 Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51 Kembali lagi ke Rumah
52 Pertengkaran
53 Pertengkaran 2 (Pergi)
54 Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55 Mulai Mencari Nada
56 Mencari Nada
57 Insiden....
58 Sya Masuk Rumah Sakit
59 Firasat
60 Menjemput Nada
61 Bertemu Nada
62 Candle Light Dinner
63 Sebagai Kewajiban Istri
64 Ketika Mas Elang Pergi
65 WA dari Mas Elang
66 Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67 Hamil dan Keguguran
68 Rasa Bersalah
69 Pulang dari Rumah Sakit
70 Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71 Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72 Trauma dengan Perkataan Ibu
73 Masih Negatif
74 Pura-pura tidak Melihat Ibu
75 Bertemu Teman Masa Kecil
76 Tangisan dan Penyesalan Nada
77 Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78 Tespek
79 Mama Masuk RS
80 Mengetahui Ibu Sakit
81 Sikap Ibu
82 Mendadak Sensitif dan Cengeng
83 Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84 Gelagat Ibu
85 Ulah Ibu Lagi
86 Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87 Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88 Kedatangan Elang
89 Mengajak Pulang
90 Penolakan Nada
91 Nasihat Bapak
92 Pulang
93 Adik yang Paling Membela
94 Kerinduan Mas Elang
95 Menjenguk Ibu
96 Bisikan Bu Sri
97 Rujak Cinta di Pagi Hari
98 Harus Mandiri
99 Nada Masuk Klinik
100 Morning Sickness
101 Sandiwara Nada
102 Watak Elang
103 Ingin Dimanja
104 Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105 Kecewa di Taman Bahagia
106 Ada Apa Dengan Ibu
107 Kenangan Pahit Mas Elang
108 Sama-sama Meminta Maaf
109 Membujuk Sya
110 Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111 Kepercayaan buat Nada
112 Bertemu Sonia
113 Perubahan Sikap Ibu
114 Obrolan Romantis Vidio Call
115 Surprise dari Elang
116 Menonton ke Bioskop
117 Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118 Keputusan dan Kesepakatan
119 Kabar dari Marisa
120 Marisa Melahirkan
121 Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122 Bertemu Mayang
123 Kemarahan Tuan Zul
124 Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125 Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126 Liburannya Diluar Kota
127 Pembukaan Nada Studio
128 Elang yang Merajuk
129 Arwana dan Hantu Cantik
130 Kumbang dan Bunga
131 Bali
132 Tiba di Penginapan
133 Launching Homestay n Cafe
134 Malam Indah dan Panjang di Homestay
135 Panggilan dari Masa Lalu
136 Kembali Pulang
137 Kesembuhan Ibu Sri
138 Bertemu Teman Bisnis
139 Mencari Nama Bayi
140 Oase di Tengah Padang Pasir
141 Tanda-tanda Melahirkan
142 Melahirkan 1
143 Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144 Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145 Malam Yang Penuh Hasrat
146 Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147 Promosi Novel Baru....
148 Promosi Karya Baru
149 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 149 Episodes

1
Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2
Sya Merajuk
3
Insiden Makan Malam
4
Sya Deman
5
Sonia Menginap
6
Kepergok Pengganggu
7
Alasan Kenapa Ibu Benci
8
Keluar Kota
9
Ancaman Mayang
10
Perjumpaan Dua Sahabat
11
Permohonan yang Berulang
12
Ketahuan Ibu
13
Bertemu Mbak Marisa
14
Kemarahan Mas Elang
15
Kedatangan Mbak Marisa
16
Ghibah di Arisan Ibu
17
Di Pernikahan Marisa
18
Kemarahan Mas Elang
19
Pergi dari Rumah
20
Karena Sya
21
Kecanggungan
22
Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23
Kamu Milikku Jauh Segalanya
24
Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25
Kedatangan Mbak Marisa
26
Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27
Bukti Cinta
28
Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29
Saat Mas Elang Pergi
30
Kejutan buat Elang
31
Pantesan Batagornya Kurang Enak
32
Disanjung lalu Dihempaskan
33
Merajuk ke Rumah Bapak
34
Itu Rencana Licik Mayang
35
Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36
Tuduhan Ibu
37
Jangan Berkata Kasar pada Mama
38
Terkuak
39
Terbuai Diantara Rasa Kesal
40
Mayang Datang
41
Mencari Sya
42
Menemui Tuan Zulfikar
43
Meyakinkan Tuan Lalim
44
Sya Kembali
45
Perjuangan Ibu Sambung
46
Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47
Hadiah Permintaan Maaf
48
Hasrat Dalam Mimpi
49
Ke Rumah Ibu
50
Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51
Kembali lagi ke Rumah
52
Pertengkaran
53
Pertengkaran 2 (Pergi)
54
Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55
Mulai Mencari Nada
56
Mencari Nada
57
Insiden....
58
Sya Masuk Rumah Sakit
59
Firasat
60
Menjemput Nada
61
Bertemu Nada
62
Candle Light Dinner
63
Sebagai Kewajiban Istri
64
Ketika Mas Elang Pergi
65
WA dari Mas Elang
66
Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67
Hamil dan Keguguran
68
Rasa Bersalah
69
Pulang dari Rumah Sakit
70
Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71
Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72
Trauma dengan Perkataan Ibu
73
Masih Negatif
74
Pura-pura tidak Melihat Ibu
75
Bertemu Teman Masa Kecil
76
Tangisan dan Penyesalan Nada
77
Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78
Tespek
79
Mama Masuk RS
80
Mengetahui Ibu Sakit
81
Sikap Ibu
82
Mendadak Sensitif dan Cengeng
83
Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84
Gelagat Ibu
85
Ulah Ibu Lagi
86
Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87
Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88
Kedatangan Elang
89
Mengajak Pulang
90
Penolakan Nada
91
Nasihat Bapak
92
Pulang
93
Adik yang Paling Membela
94
Kerinduan Mas Elang
95
Menjenguk Ibu
96
Bisikan Bu Sri
97
Rujak Cinta di Pagi Hari
98
Harus Mandiri
99
Nada Masuk Klinik
100
Morning Sickness
101
Sandiwara Nada
102
Watak Elang
103
Ingin Dimanja
104
Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105
Kecewa di Taman Bahagia
106
Ada Apa Dengan Ibu
107
Kenangan Pahit Mas Elang
108
Sama-sama Meminta Maaf
109
Membujuk Sya
110
Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111
Kepercayaan buat Nada
112
Bertemu Sonia
113
Perubahan Sikap Ibu
114
Obrolan Romantis Vidio Call
115
Surprise dari Elang
116
Menonton ke Bioskop
117
Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118
Keputusan dan Kesepakatan
119
Kabar dari Marisa
120
Marisa Melahirkan
121
Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122
Bertemu Mayang
123
Kemarahan Tuan Zul
124
Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125
Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126
Liburannya Diluar Kota
127
Pembukaan Nada Studio
128
Elang yang Merajuk
129
Arwana dan Hantu Cantik
130
Kumbang dan Bunga
131
Bali
132
Tiba di Penginapan
133
Launching Homestay n Cafe
134
Malam Indah dan Panjang di Homestay
135
Panggilan dari Masa Lalu
136
Kembali Pulang
137
Kesembuhan Ibu Sri
138
Bertemu Teman Bisnis
139
Mencari Nama Bayi
140
Oase di Tengah Padang Pasir
141
Tanda-tanda Melahirkan
142
Melahirkan 1
143
Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144
Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145
Malam Yang Penuh Hasrat
146
Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147
Promosi Novel Baru....
148
Promosi Karya Baru
149
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!