Pagi menjelang, Sya nampak masih terlelap. Mungkin efek obat demam yang tadi subuh diberikan. Aku bermaksud menghubungi Guru kelas Sya, untuk memberitahukan bahwa Sya hari ini tidak bisa masuk sekolah karena sakit.
Bi Narti menghampiri, seraya membawa sebuah nampan berisi semangkok bubur. "Non, bagaimana dengan Den Sya, masih belum bangun?"
"Belum Bi! simpan saja di meja buburnya. Siapa tahu nanti sebentar lagi Sya bangun."
"Kenapa Den Sya tiba-tiba demam Non? Tadi malam sebelum pergi makan malam, Den Sya baik-baik saja dan ceria?"
"Ada insiden saat makan malam di sana Bi, seorang wanita dewasa sengaja menabrak saya, lalu tubuh saya tidak seimbang sehingga oleng ke arah Sya dan mengenai jus yang saat itu baru saja Sya minum. Jus hampir jatuh dan tumpah mengenai mulut Sya. Sya terbatuk-batuk seakan tersedak, dan juga ada sebagian jus yang masuk ke hidung Sya, karena Sya mengeluh hidungnya sakit. Saat di kamar mandi hidung Sya berdarah, dan Sya mimisan," terangku pada Bi Narti.
"Ya ampun..., kok bisa terjadi insiden itu Non?"
"Saya tidak tahu Bi, kejadian itu direncakan atau tidak saya tidak paham. Yang jelas saat Mas Elang kedapatan adu mulut dengan wanita itu, Mas Elang terdengar menyebut wanita itu " tidak pantas menjadi Ibu bagi Sya", Mas Elang sangat marah." Bi Narti nampak ternganga tak percaya.
"Bibi tahu seperti apa Ibu kandungnya Sya?" tanyaku. "Bisa jadi yang tadi malam adalah Ibu kandungnya Den Sya. Sebab yang saya dengar, Bu Mayang telah kembali ke kota ini setelah tiga tahun menghilang," ujar Bi Narti.
"Saya juga pernah mendengarnya Bi secara tidak sengaja dari mulut Ibu mertua saya!" imbuhku. "Hati-hati Non, kayaknya Bu Mayang datang kembali ke kota ini hanya ingin menghancurkan kembali Den Elang!" peringat Bi Narti was-was. "Kenapa Bi, kok bisa?" tanyaku penasaran.
"Firasat Bibi kayaknya Bu Mayang kembali hanya ingin merebut Den Sya!" ujar Bi Narti membuat Aku sedikit takut. "Kenapa ingin merebutnya, padahal dulu mantan istrinya Mas Elang pergi saat Sya umur dua tahun?" tanyaku heran. "Itulah Non, Bu Mayang memang tidak ada insyaf-insyafnya untuk mengganggu Den Elang."
"Ya ampun...!" ucapku geleng-geleng kepala. Beberapa menit kemudian Sya bangun dan memanggilku. "Bunda...!" panggilnya. Aku segera merangkulnya dan mencium keningnya yang mulai turun panasnya.
"Alhamdulillah, demamnya turun Bi!" syukurku sembari menoleh Bi Narti. Bi Narti tersenyum gembira.
"Sya, ke kamar mandi dulu yuk! Cuci muka dan gosok gigi. Setelah itu makan bubur ya?" bujukku. Sya nampak masih malas-malasan. Namun Aku berusaha membujuknya supaya bersih-bersih dulu. Akhirnya Sya mau diajak ke kamar mandi.
Sya makan bubur dengan perlahan, dia nampak malas makan. Aku membujuknya supaya makan bubur sesuap lagi. Sya menggeleng. Ya sudahlah, yang penting Sya sudah sarapan walaupun cuma beberapa sendok.
Tiba-tiba Ibu mertua dan seorang perempuan cantik datang menyerobot kamar Sya, dari atas suara berisiknya sudah terdengar.
"Aduhhh... cucu Nene, kenapa bisa sakit sayang. Bagaimana, sekarang demamnya sudah mendingan?" celoteh Ibu sembari merangkul Sya.
Sya balas memeluk Neneknya. Sementara perempuan yang bersama Ibu, nampak menatapku dari atas ke bawah. Matanya mendelik-delik tak bersahabat.
"Oh sayang, tante ikut sedih dengan keadaan Sya. Cepat sembuh ya!" ucap perempuan itu sambil menghampiri Sya dan memeluknya meniru gaya Ibu. "Gara-gara perempuan ini tidak bisa jaga Sya, Sya jadi demam. Harusnya kamu Sonia yang berada di sana makan malam bersama Elang, bukan perempuan biasa ini. Buktinya dia tidak bisa menjaga Sya, saat Sya mau diganggu wanita ular itu," kata Ibu mertua mengumpatku.
"Mas Elang salah pilih istri sih. Kalau ada aku, pasti ku jambak tuh wanita ular!" ucap perempuan bernama Sonia itu ikut nimbrung. "Memang tidak berguna istri baru Elang ini!" hina Ibu mertua sambil menatap galak ke arahku.
"Ibu maaf, jangan katakan kata-kata tidak baik di depan Sya, tolong Bu!" timpalku memohon. Ibu mendelik tanda tak suka. "Ayo, Sonia sebaiknya kita ke bawah saja. Kita sarapan dulu sebelum pergi," ajak Ibu pada perempuan bernama Sonia tersebut mesra.
"Sya, Nene ke bawah dulu ya. Cepat sembuh ya sayang!" pamit Ibu mencium Sya sebelum beranjak. Ibu dan Mbak Sonia berjalan beriringan keluar dari kamar Sya sambil tertawa-tawa bahagia. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Nengok cucu kok sebentar malah mau pergi lagi bersama Mbak Sonia.
Siang berganti sore, sore berganti malam, sampai jam menunjukkan pukul 8 malam, namun belum ada tanda-tanda Mas Elang akan pulang. Saat tadi ku coba kirim pesan WA saja tidak ada balasan sama sekali. Aku jadi khawatir. Yang bisa Aku lakukan hanyalah berdoa semoga Mas Elang dalam keadaan selamat.
Tiba-tiba aku mendengar deru mesin mobil di depan rumah. Aku hafal bunyinya, segera aku berlari menuju pintu depan. Saat ku buka pintu rumah, nampak Mas Elang keluar dari mobil, aku pikir sendiri rupanya Mbak Sonia keluar juga dari mobil, aku bingung kenapa Mas Elang mengajak Mbak Sonia ke rumah, ada apa? Tanyaku dalam hati.
"Mas...!" sapaku sambil mengecup tangan Mas Elang. Mas Elang menatapku dan menarik tanganku. "Mas kenapa Mbak Sonia ikut pulang?"
"Itu yang Mas mau bilang. Sonia mau nginap disini atas permintaan Mama. Mama bilang di rumah Sonia terjadi perampokan. Sonia takut untuk kembali pulang. Jadi sementara Sonia tinggal disini," terang Mas Elang. "Apa... kerampokan? kenapa tidak nginap di rumah saudaranya saja sih Mas. Mbak Sonia punya saudara kan?" tanyaku heran.
"Mas gak tahu alasan Mama kenapa, yang jelas Mama minta Sonia untuk beberapa hari tinggal disini!" jawab Mas Elang lagi. "Kenapa tidak di rumah Ibu saja Mas?" tanyaku lagi. "Udahlah sayang jangan dijadikan masalah, ini cuma sementara. Kamu kenapa sih begitu amat. Kamu cemburu ya?" ucap Mas Elang sambil memijit hidungku.
"Ya sudah, biarkan Sonia istirahat di kamar tamu saja! Ayo kita ke atas!" Ajak Mas Elang sambil menggandeng tanganku.
"Mas..., kok Aku ditinggal? Aku tidur di mana?" teriak Sonia nampak kesal. "Tanya Bi Narti di mana letak kamar tamu. Kamu istirahat di sana, kalau lapar makanlah dulu," balas Mas Elang sambil terus berjalan menuju tangga dan menggandeng tanganku.
Mbak Sonia nampak masam atas jawaban Mas Elang, terlebih melihat kami yang berjalan di tangga sambil bergandengan.
"Sayang, gimana keadaan Sya?"
"Sya sudah tidur Mas tadi setelah minum obat." Mas Elang berjalan menuju kamar Sya, melihat anak kesayangannya yang sejak subuh tadi belum bertemu dengannya, sebab Mas Elang baru pulang. Sebetulnya dari Subuh tadi Mas Elang kemana? Aku heran dan bertanya-tanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ
ck, bodoh 🙄🙄🙄
kamu memberi ijin ular keket masuk ke rumah mu , Elang..
2022-12-08
2
☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ
hilliih 🤨, alasan yang dibuat-buat 🙄🙄😠😡😡😡
2022-12-08
1
☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ
astaga 🙄🙄🤦🏻🤦🏻🤦🏻😠😡😡😡
lidah nya tidak bertulang, ngomong saenak'e dewe'
2022-12-08
1